
"Mas Alfan, tandatangani surat perceraian ini". Devi, mencegah Alfan di parkiran mobil kantor.
Mata Alfan, calingukan melihat sekeliling. Takut ada seseorang yang melihat,nanti malah curiga dan menjadi masalah besar.
"Baguslah, aku tidak capek-capek mengurus surat perceraian dan mengeluarkan uang". Alfan, mengambil surat perceraian itu. Wajahnya sangat bahagia, tersenyum sumringah.
"Bahagia lah mas,selagi masih bisa". Kata Devi, sebenarnya mengetahui jika Alfan mendapatkan masalah besar.
"Ck, aku selalu bahagia Devi.Tidak seperti dirimu, kehilanganku. Aku yakin sekali,kamu bersedih dan menangis meraung-raung". Alfan, sudah selesai menandatangani surat perceraian mereka berdua.
"Masa sih,mas? Aku sedih kehilangan mu, asalkan mas tau. Aku punya pengganti mas Alfan,di hatiku. Oh,ada surat panggilan di meja kerja dari atasan". Kata Devi,lalu meninggalkan mantan suaminya yang kebingungan.
"Surat panggilan dari bos? Tapi,aku tidak melakukan kesalahan apapun. Apa jangan-jangan aku naik jabatan atau naik gajih? Aaahh.... Sungguh beruntung sekali, nasibku". Alfan,melebar langkahnya naik lift dan masuk kedalam ruang kerjanya.
Memang benar ada surat panggilan dari atasannya,tak sabar untuk menemui bos.
Sepanjang lorong kantor,para staf karyawan memandang ke arahnya. Sungguh membuat Alfan,tak karuan dan berdebar-debar.
Devi dan Riko,saling kompak dan tidak sabar apa yang terjadi kepada Alfan.
Sedangkan Alfan, berlahan-lahan mendekati meja kerja sang bos. Dia sangat gugup sekali, perasaan campur aduk kakinya gemetaran sudah.
"Ada apa pak,manggil saya?". Tanya Alfan, tersenyum kecil dan sedikit mengangguk kepalanya.
Braakkkk...
Sang bos, menggebrak meja dengan keras. Sontak membuat Alfan, terkejut mendengarnya. Dia masih kebingungan karena tidak tahu,apa masalahnya saat ini.
"Kamu tanya ada apa,ha? Dasar tidak tau di untung dan tidak berterima kasih kamu. Saya sudah menaikkan jabatan, gajih lumayan besar. Nyatanya kamu diam-diam memalsukan data keuangan. Pantesan saja,uang selalu kurang dan kurang. Rupanya kamu berani korupsi,uang perusahaan saya". Bentak sang bos, dengan tatapan nyalang.
Alfan,syok berat mendengar ucapan bosnya dan menggelengkan kepala. "Pak Reno,saya tidak memalsukan data keuangan dan tidak korupsi uang perusahaan. Saya bersumpah demi Tuhan,saya tidak melakukan kecurangan pak". Alfan,membela dirinya.
Pak Reno, melempar data-data kecurangan Alfan dan serta bukti-bukti lainnya. "Pungut kertas itu,kamu baca baik-baik. Semuanya sudah jelas bukti kuat, tentang penggelapan uang di perusahaan saya".
__ADS_1
Alfan, bergegas memungutnya dan membaca baik-baik. Jantungnya berdegup kencang, tenggorokan tercekat seketika.
Dia meremas kertas di tangannya itu, kepalanya nyut-nyutan dimana letak kesalahannya. Siapa yang sudah melakukan hal ini, memfitnah dirinya.
"Pak,ini fitnah. Saya tidak melakukan kecurangan apapun, pasti ada seseorang menjebak saya. Pak,saya mohon sekali lagi. Berikan kesempatan untuk bekerja di perusahaan ini, sambil mencari bukti-bukti siapa yang melakukannya. Saya mohon pak, percayalah". Alfan, memohon-mohon kepada atasannya.
"Tidak ada kesempatan apapun,kau di pecat secara tidak hormat. Tidak ada pesangon untukmu,gajih juga tidak ada untuk menutupi seluruh ganti rugi uang yang kau ambil di perusahaan ini. Pergi dari sini,atau aku seret paksa". Bentak pak Reno, dengan tatapan tajam.
"Pak,saya mohon! Jangan pecat saya,pak. Saya janji akan membuktikan, bahwa saya bukan pelakunya. Berilah kesempatan lagi,pak". Alfan, memohon-mohon dan bersimpuh di hadapan sang bos.
Namun sang bos, meminta security-nya menyeret paksa keluar dari ruang kerjanya.
"Aaarghhh... Berani sekali memfitnah diriku,siapa pelakunya? Apa jangan-jangan Devi,awas kamu". Alfan, langsung mencari-cari keberadaan mantan istrinya dan ingin memberikan pelajaran.
Alfan, menyunggingkan senyumnya karena mendapat sesosok Devi tengah sibuk bekerja di depan komputer.
"Aaaakkhh... Sakiiitttt... lepassss...Pak Alfan, lepassss...". Devi, meringis kesakitan karena alfan menjambak rambut panjangnya. "Toloong... Toloooong...Sella, tolooong! Aaaakkhh... Sssshhhttt....lepas pak Alfan, lepassss...!".
Seisi kantor jadi heboh,para karyawan kantor. Menonton aksi Alfan dan Devi,saling menjambak.
"Aaaakkhh...Aku tidak tahu, apa-apa pak. Lepassss...Sella, bantuin aku. Toloooong...! Bantuin aku,pak Alfan sudah gila". Devi,menangis karen rambutnya di tarik paksa ke belakang.
Sella,cuman menonton dan tidak bergerak sana sekali. Dia mulai renggang berteman dengan, Devi. Setelah Devi,dekat dengan Riko.
"Asalkan kalian tahu, Devi mantan istri saya. Dia menggoda dan merayu-rayu, bahkan memberikan tubuhnya secara percuma. Sampai pada akhirnya, istri saya salah paham dan meminta cerai. Devi, seorang pelakor di rumah tangga saya". Alfan, mencoba memfitnah Devi.
Sontak Devi, gelabakan mendengar ucapan mantan suaminya itu. "Tidaaaakkkk...Itu, tidak benar sama sekali". Bantahnya langsung.
"Apa Devi, pelakoooorrr....".
"Huuuu... Pelakoooorrr....".
"Benar itu, bahkan Devi seringkali curhat sama saya. Devi, sampai jampi-jampi menggunakan darah haid kepada pak Alfan. Devi, bersekutu dengan mbah Djan yang sudah meninggal. Membuat pak Alfan, bertekuk lutut kepadanya". Kata Sella, dengan lantangnya. Rasakan pembalasan ku Devi, itulah sudah berani merebut Riko pria yang aku sayangi.
__ADS_1
"Apa! Mengerikan sekali, bersekutu dengan dukun".
"Huuu... Murahan,murahan".
"Huuu... pelakoooorrr.... Devi,harus di usir dari perusahaan ini".
"Usir saja,pecat dia, pecat dia".
Banyak lagi olok-olok dari karyawan kantor, membuat Devi mati kutu jadinya. Sungguh tak menyangka, jika Sella membongkar rahasianya salama ini.
Alfan, semakin marah besar terhadap Devi. "Brengseeekk.... Rupanya kamu guna-guna pemikat, kepadaku Devi. Kurang ajar sekali, memisahkan antara aku dan Adelia".
Plakkkk... Plakkkk...
Dua tamparan keras mendarat di pipi, Devi.
"Aaaarrgghh....Ti-tidak, it-itu tidak benar, lepassss...". Devi,di cekik lehernya oleh Alfan.
Amarahnya Alfan, sudah memuncak dan ingin menghabisi nyawa Devi.
"Hentikaaaan.... Pisahkan Alfan dan Devi!". Perintah pak Reno, seketika semuanya membeku dan ketakutan.
Alfan dan Devi, langsung di pisahkan. Tak henti-hentinya Alfan, mengumpat Devi dan mencaci makinya.
Devi, tersungkur di lantai dan terbatuk-batuk habis di cekik lehernya. "Kau jahat Sella,aku salah apa sama kamu". Devi,menangis kesegukan dan menatap nanar ke arah temannya.
"Kamu pikir sendiri,apa salahnya kamu?". sahut Sella, tersenyum smrik.
"Tidak tau malu,mana sopan santun kalian ha? Ini adalah perusahaan, untuk bekerja. Bukan adu bertanding,apa yang kalian pikirkan? Alfan, Devi! Kalian sudah bikin malu nama perusahaan saja. Aku mendengar penjelasan dari mereka semuanya, rupanya kalian diam-diam menikah sirih. Perusahaan ini, menantang untuk menikah dengan sesama pekerja di kantor. Sudah pasti ada salah satu,harus berhenti bekerja. Tidak Alfan saja di pecat, tetapi kamu juga Devi. Sudah memalukan nama perusahaan,atas kelakuan kalian berdua". Tegas pak Reno, dengan keras.
Devi,cuman bisa menangis dan merasakan tubuhnya lemas dan sakit. Sedangkan Riko, mendekati Sella dan diam-diam menggenggam jemari satu sama lain.
Devi, tercengang melihat ke arah mereka berdua. Rupanya dia cuman di manfaatkan oleh Riko dan Sella.
__ADS_1