
Ponsel Bimo, berdering tertera nama Wulan.
Karena Bimo,masih di kamar mandi. Adelia, mengangkat ponselnya dan penasaran seperti apa Wulan.
Degggg...
"Kok, mirip dengan anak paman dan bibi? Tapi, namanya Wulan. Tunggu dulu,a nama aslinya Wulandari. Terus panggilan di kampung, Andari. Iya,ini anaknya paman dan bibi di kampung". Kata Adelia, dia yakin sekali.
Walaupun dia sudah lama tidak bertemu dengan anak paman dan bibinya. Dia masih ingat wajah wanita itu, seringkali membulinya di sekolahan.
"Apa aku tanyakan saja, dengan mas Bimo. Dia menelpon lagi,apa aku angkat saja". Adelia, menekan tombol berwarna hijau.
(Huu...Huu...Hikss...Hiks). Terdengar suara isak tangisnya, Wulan.
(Bim,aku di taman kota. Kamu ke sini yah,aku galau berat. Huu...Huu... Cepetan ke sini,aku butuh teman curhat). Wulan,masih dengan tangisannya.
Adelia, memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam. "Maaf,mas Bimo di kamar mandi". Katanya, Adelia tidak perduli jika suaminya marah nanti. Ck, sifat aslinya persis dengan ibunya. suka sekali menggoda suami orang,awas kamu wulan.
(Apa! Kamu siapanya Bimo? Lancang sekali yah, mengangkat panggilan orang lain). Nada Wulan,mulai tinggi.
"E'ehmmm...Saya istrinya maa Bimo, wajarlah istrinya mengangkat panggilan dari ponsel suaminya". Kata Adelia, dengan santai. Bagaimana reaksinya Wulan? Jika aku adalah suaminya, Bimo. Aku yakin sekali, dia langsung jantungan.Huuu...Tidak sabar untuk bertemu dengan ulat bulu ini,bikin geram aja.
Degggg...
__ADS_1
Bimo, melingkar tangannya di perut Adelia. Sungguh membuat Adelia, gelabakan karena lancang mengangkat panggilan seseorang di ponselnya.
Apa-apaan ini? Kapan mas Bimo, masuk kedalam kamar. Mana meluk dari belakang lagi,gila! Mas Bimo,kenapa kamu seperti ini sih? Aku bisa jantungan lama-lama di dekat kamu,duhh.Batin Adelia, hampir saja ponsel di pegang jatuh karena terkejut.
"Hussssttttt...". Bimo, memberikan isyarat untuk diam dan lanjutkan teleponnya.
(Ck, rupanya kamu istri Bimo. Secantik apa sih, maunya Bimo menurut perkataan mu ha? Baru jadi istri,sok belagu banget dan mencegah suaminya nongrong dengan teman-teman. Asalkan kamu tau, sebelum kamu ada. Bimo, sudah bersamaku dan temannya. Tidak pantas kamu mencegah dia pergi,bersama aku dan yang lain). Ucap Wulan, membentak keras.
"Saya tidak pernah mencegah mas Bimo, untuk pergi nongrong dengan teman-temannya. Nyatanya mas Bimo,yang gak mau". Bantah Adelia,geram sekali dan mencubit lengan suaminya. Aaakkhh....Mas Bimo,tak segan-segan menyentuh aset pribadiku. dasar mesum!.
Tangan Bimo,mulai aktif dan bermain-main di gundukannya. Adelia, sampai tak konsentrasi karena belaian Bimo. kepalanya bersandar di bahu, Adelia dan memejamkan matanya. Tanpa ijin dari sang empunya, Bimo *******-***** dua gundukan itu.
(Ckckck.... Berikan telponnya kepada Bimo,aku ingin dia ke sini sekarang juga. Kamu tidak berhak mencegahnya,atau aku ke rumahnya sekalian).
"Ayo,kita kerumah mu mas. Aku ingin memberikan kejutan kepada, Wulan. Rupanya Wulan,anak paman dan bibi di kampung mas. Aku ingin membuat Wulan, semakin jantungan". Ucap Adelia, membuat Bimo bergidik ngeri melihat istrinya marah.
"Iy-iya,kita ke sana sekarang". Mau tak mau, Bimo langsung setuju. "Tapi, jangan marah sama aku dong. Aku jadi takut mendengar ucapan mu,". Kekehnya Bimo, tersenyum. Apa dia marah kepada ku, gara-gara menyentuh aset pribadinya. Sial, tanganku repleks ke situ.
"Astagfirullah,maaf mas. Aku tidak bermaksud apa-apa, hehehe...". Adelia, menepuk jidatnya karena melampiaskan amarahnya kepada sang suami.
Akhirnya Adelia dan Bimo, meninggalkan perkarangan rumah. Sungguh Adelia,tak sabar memberikan kejutan kepada, Wulan.
Ketika melewati rumah mantan ibu mertuanya digembok, langsung meminta suaminya untuk berhenti.
__ADS_1
"Kenapa berhenti,mau ketemuan sama mantan suami?". Bimo, belum apa-apa sudah kesal. Lagi-lagi mantan suaminya,masih belum bisa melupakan pria brengsek itu. Dasar mata keranjang,nikah gontai-ganti lagi.
"Apaan sih,mas. Tuh,kamu liat gak? Rumah di gembok,lalu kemana mereka pergi. Tapi, baguslah kalau pindah dan aku bisa tenang". Kekehnya Adelia, penasaran kenapa di gembok rumah bu Norma.
"Baguslah, ayo kita lanjut lagi. Gak perlu turun, Adelia". Cegah Bimo,mencekal lengan istrinya.
"Iya,deh mas". Akhirnya Adelia,mengalah saja. "Mas,kamu kenal dengan Wulan darimana? Namanya Wulandari, panggilannya di kampung Andari. Seringkali loh,dia buli aku di sekolah SMP dulu". Adelia, mengerucut bibirnya.
Apa!jadi Wulan terkenal sifat lemah lembut di sekolahan. Rupanya dia seringkali membuli istri ku, ck wanita berkepala batinnya, Bimo."Karena kami satu kantor,". Jawan Bimo, cengir kuda.
"Apa,satu kantor? Astaga, kamu tidak bercanda mas". Tanya Adelia, langsung di geleng suaminya."Ck, menyebalkan sekali dan kalian sedekat itu. Seringkali jalan-jalan pula?. Maksudnya satu kantor apa,mas?". Adelia,merasa tidak senang mendengarnya. Jika sang suami,satu kantor dengan Wulan.
Bimo, menepuk jidatnya karena sang istri mulai marah. "Gimana lagi, sudah takdir. Yah..Satu kantor sekolahan, sama-sama mengajar". Katanya pelan, melirik ke arah Adelia. Kenapa dia,apa karena cemburu? Gak mungkin Adelia, secepat itu mencintai ku dan melupakan mantan suaminya. Aku tau,dia takut pernikahan ini gagal. Dia sangat takut,aku bermain dengan wanita lain. Insyaallah,aku bukan suami yang kamu pikirkan Adelia.
"Terus,dia PNS juga?". Tanya Adelia, membuat Bimo merasa lega mendengarnya. Uughhh... Pasti banyak lagi, wanita yang mengelilingi mas Bimo. Aaarghhh....Apa mas Bimo,bisa setia? Kenapa,aku meragukan itu.
"Cuman guru honor,". Jawab Bimo, tersenyum kecil."Aku dan dia, cuman teman kerja aja. Gak lebih kok, sering jalan-jalan emang benar. Tapi,waktu dulu dan sebelum nikah dan sekarang tidak lagi. Sumpah aku tidak pernah menyukainya, sekedar teman". Bujuk Bimo, agar sang istri tidak salah paham.
"Aku baru tau,mas ini guru. Sering kali jalan yah,cantik kan dia? Makanya mas,mau". Sudut matanya, melirik tajam ke arah Bimo. Masa sih,mas Bimo tidak memiliki perasaan dengan Wulan? Hahahaha...Gak percaya, omongan buaya darat memang seperti itu. Sudah lumrah apa yang di katakan pria,demi menutupi akal bulusnya.
Bimo, mengusap wajahnya dengan kasar. "Biasa aja, cantikan kamu". Jawabnya tersenyum kecil. Huuuff... Bagaikan bom, ucapan Adelia. Siap untuk meledakkan diri ku,harus hati-hati ini. Bodohnya aku dulu,kenapa mau aja menemani wanita lain jalan-jalan. Aku kira mereka tidak akan menggangu,katika menikah. Nyatanya salah besar, Wulan nekat dan menantang.
Sontak membuat wajah Adelia,merah merona mendengar pujian sang suami. "Omong kosong belaka,". Gumam Adelia, terdengar oleh Bimo.
__ADS_1
Wanita selalu benar dan para kaum pria selalu salah di mata mereka. Sabar Bim,sabar.Batin Bimo, sambil menyopir.