
Beberapa minggu kemudian, Adelia berkunjung ke rumah mantan ibu mertuanya.
Sebenarnya dia sangatlah malas,kalau bukan bu Norma keadaannya semakin memburuk.
Adelia, menatap iba kepada bu Norma badannya kurus tidak seperti dulu lagi."Mas Alfan, Yuni,kenapa ibu kurus? Apa kalian berdua, tidak memperhatikan pola makan ibu dan jadwal makannya".
"Jangan menuduh macam-macam, Adelia. Ibu seringkali tidur berjam-jam,ketika bangun malas makan. Bahkan makan saja sedikit,katanya tidak selera". Sahut Yuni, memutarkan bola matanya.
"Benar Adelia, akhir-akhir ini ibu memang malas makan. Kami sempat kebingungan,membeli makanan kesukaan ibu. Malah tidak di makan,". Sambung Alfan,juga.
"Ibu,bangun! Bangun,bu!". Adelia, menggoyangkan lengan bu Norma.
"Biasanya ibu marah Del,kalau di bangunin kami berdua. Yakan mas,". Kata Yuni, memperlihatkan mimik wajah sedihnya.
"Iya,ibu seringkali marah-marah gak jelas Del. Bikin pusing aja,apa lagi Yuni tengah hamil. Maukah kamu mengurus ibu,aku bayar". Pinta Alfan, mengiba.
"Aku tidak bisa mas,karena sibuk". Tolaknya Adelia, langsung. Enak saja,mau aku yang ngurus ibunya.
"Sibuk apa, Adelia? Apakah sibuk, jalan-jalan dengan pria itu". Tanya Alfan, dengan nada tinggi.
"Bukan urusanmu mas,aku sibuk apa? Toh,kita bukan suami-istri paham! Kalau istrimu tidak sanggup mengurus ibu mu, carilah orang lain. Jangan aku mas, sudah pasti aku gak mau". Bantah Adelia, dengan tatapan tajam.
"Masalahnya ibu tidak mau diurus dengan orang lain,maunya kamu Del". Alfan, tidak paham dengan pikiran ibunya.
"Dipaksakan mas, pasti ibu mau kok". Sahut Adelia, tersenyum kecil.
__ADS_1
"Adelia,itu kamu Del?". Bu Norma, mengerakkan tubuhnya dan mulai membuka matanya.
"Iya,bu. Ini aku adelia,datang menjenguk keadaan ibu". Jawab Adelia, sebenarnya dia malas lama-lama di rumah ini.
"Mas,ayo temanin aku cek kandungan. Mumpung ada Adelia,jaga ibu sebentar". Rengeknya Yuni, membujuk suaminya.
Adelia, memandang ke arah mantan suaminya itu.
"Adelia, jangan pergi yah. Ibu mau kamu di sini, selalu di sisi ibu". Pinta bu Norma, tersenyum sumringah.
"Del,aku tinggal sebentar yah. Mau cek kandungan Yuni,pliss...". Pinta Alfan, memohon.
"Oke, pergilah jangan lama-lama. Kalau lama sampai berjam-jam,aku tak segan-segan meninggalkan ibumu". Ancam Adelia, penuh penekanan perkataan nya.
"Makasih banyak, Del. Ayo mas,jangan lelet". Pinta Yuni,membawa suaminya siap-siap. Ada senyuman smrik di sudut bibirnya, sesuatu yang di rencanakan Yuni.
Bu Norma, melahap bubur kacang hijau dan memuji Adelia."Makasih banyak, Del. Ibu,jadi selera makan dan nambah kacang hijau lagi. Adelia,ibu mau ikut ke rumah mu yah? Ibu,gak mau di urus Yuni. Karena dia serba malas, tidak seperti mu. Ketika ibu, tidak selera makan. Kamu malah masak yang lain, pasti badan terisi tidak kurus seperti ini". Pinta bu Norma, membujuk Adelia.
Adelia,menghela nafas panjang. "Mentang-mentang aku memasak bubur kacang hijau,menjaga sementara. Lalu,bu Norma ngulanjak gitu. Maaf,aku tidak bisa mengurus ibu".
"Kenapa Adelia? Apa karena kamu ingin menikah dengan Keponakannya,bi Jum. Ibu, tidak setuju kamu nikah nak. Tidak bisakah kembali kepada Alfan,anak ibu. Dia seorang PNS, Alfan bekerja di kantor. Pasti gajihnya kecil,di bandingkan anak ibu. Apa yang kamu lihat, Adelia?". Tanya bu Norma,masih bisa mengejek orang lain.
"Tidak masalah dengan gajihnya kecil, asalkan peduli dengan ku. Tidak pelit,atau perhitungan sekali. Bu,mas Alfan memang kerja kantoran dan gajih besar. Selama aku berstatus istrinya dulu,apa pernah aku menikmati uang mas Alfan? Apakah mas Alfan, selalu memanjakan diri ku dan royal? Pernahkan mas Alfan, membawaku berlibur? Tidak pernah bu, bahkan aku menyia-nyiakan waktu bersama mu dan mengurus tanpa lelah dan mengeluh. Walaupun akhirnya,aku di khianati dan di sia-siakan. Itulah aku,bodoh sekali di manfaatkan tenagaku ini". Adelia,menyeka air matanya. Luka yang ditorehkan, oleh mantan suaminya terlalu dalam.
Bu Norma,terdiam dan menatap wajah mantan menantunya itu. Mengelus punggung tangan Adelia, menenangkan pikiran dan hatinya.
__ADS_1
"Belum lagi ibu, suka semena-mena terhadap ku dan memarahiku". Lanjutnya Adelia, tersenyum sumringah. "Jadi renungkan kesalahan kalian,bu. Kenapa aku tidak mau rujuk dengan mas Alfan? Jika ibu mengerti semuanya,tolong jangan memaksa ku untuk kembali".
"Tapi, Adelia...".
"Tidak ada tapi-tapian bu,ingat Yuni menantu dan tengah mengandung cucunya ibu. Anak dari mas Alfan, sayangilah Yuni dan jangan memarahinya. Apa lagi menyusahkan Yuni, pasti sangat sensitif terhadap apapun". Adelia, memotong perkataan bu Norma.
"Sampai kapan pun, ibu tidak rela kamu menikah lagi". Bu Norma, memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Terserah ibu, intinya terakhir kalinya aku menjenguk keadaan ibu. Semoga saja,ibu sehat-sehat terus. Tidak lama lagi,bu Norma akan menggendong cucu pertama. Jangan sia-siakan yah, sebentar lagi aku pamit pulang. semoga Alfan dan Yuni, langgeng selamanya bu. Sudah cukup Alfan, bermain-main dan menikah lagi". Adelia,tetap mendoakan kesehatan mereka. Walaupun mereka sudah menyakiti hatinya, bagi Adelia tidak baik menaruh rasa dendam.
*****************
"Mas,kita jalan-jalan yuk. Mau ke mall, belanja, makan-makan, nonton sekalian yah". Rengeknya Yuni, setelah selesai cek kandungannya.
"Aduhhh...Jangan berfoya-foya dengan uang ku,apa lagi lahiran memerlukan uang banyak". Bantah Alfan,muak dengan sikap istrinya.
"Iiihhh...Kamu perhitungan sekali mas, mumpung ibu ada yang jaga. Aku mana pernah jalan-jalan sama kamu,". Yuni, merajuk karena suaminya tidak memenuhi keinginannya.
"Aku gak suka dengan mu,kaya anak kecil aja. Sok belagu dan merajuk segala". Gerutu Alfan,fokus menyetir mobilnya.
"Kamu tega sekali mas,aku istrimu dan mengandung anakmu. Masa aku belanja dan jalan-jalan gak mau di turuti. Dulu waktu bersama Devi,mas selalu royal dan membiarkan dia bebas kemanapun". Bentak Yuni, menendang kakinya.
"Devi sama kamu bedalah,dia seorang wanita karir. Mau belanja dan jalan-jalan, pakai uang sendiri. Ada yang ngurus ibu,mana mungkin aku mencegahnya pergi. Lagipula di rumah ada Adelia, waktunya kesempatan untuk membujuk kembali kepada ku. Lumayanlah harta warisannya, jatuh ke tanganku semua". Alfan, semakin semangat untuk pulang ke rumah.
"Menyebalkan sekali kamu mas, masih saja mengharapkan Adelia yang mau nikah. Sudah pasti Adelia, memiliki pria itu. Jangan kepedean mas, mendekati Adelia. Takutnya kamu nyungsep ke bawah,lalu sakitnya luar binasa". Ejek Yuni,karena hatinya sangat kesal
__ADS_1
Bisa-bisanya Alfan,sang suami mengatakan untuk kembali dengan mantan istrinya. Tepat di hadapan Yuni, seakan-akan dirinya tidak berharga bagi Alfan. Hatinya terasa teriris-iris dan perih, pikirannya berkecamuk kemana-mana.