
Adelia, memungut pakaiannya yang berserakan di lantai. Baru saja selesai sarapan pagi, Bimo sudah mengajaknya bertempur.
Suara ketukan pintu kamarnya,bi Suriah memanggil karena ada tamu.
"Mas,bangun dong. Temanin aku loh,diluar ada bu Norma, Nabila dan suaminya". Adelia, menggoyangkan lengan suaminya yang masih memejamkan mata.
"Astaga! Ngapain dih, ganggu orang aja? Apa mereka itu, benar-benar gak punya malu. Sudah berapa kali,kita menolak tak mau mengurus bu Norma. Masih aja ke sini, sebenarnya bu Norma itu mikir gak sih?". Bimo, kesal dengan keluarga Alfan yang tak henti-hentinya mengganggu kehidupan sang istri.
"Maafkan aku yah,mas. Kamu jadi marah begini". Adelia,merasa tidak nyaman dengan perkataan suaminya.
"Sayang,aku tidak memarahi loh. Aku marah sama mereka itu,gak punya malu. Ayo,kita barengan keluar". Bimo, menggenggam jemari tangan istrinya.
Adelia, tersenyum manis dan merasa bahagia dengan sikap suaminya. Makasih banyak mas Bimo,dulu sempat trauma ingin menikah lagi. Setelah mengenali mu,aku tau kau sangat berbeda dengan yang aku pikirkan selama.Batin Adelia, bergelut manja.
Tiba di ruang tamu, Nabila geram melihat Adelia sangat beruntung memiliki suami yang mapan tak kekurangan apapun.
"Bagus yah,mbak! Kamu enak-enakan liburan, gak mikirin aku hamil besar dan mengurus ibu". Kata Nabila, menatap tajam.
"Adelia,ibu kangen sama kamu. Gimana kabar mu nak? Pasti banyak oleh-oleh yah,habis liburan. Mana mungkin kamu melupakan ibu,kan?". Bu Norma, tersenyum sumringah.
"Aku liburan kemana pun, kapanpun pulang. Yah, terserah aku". Adelia, mengangkat kedua bahunya.
"Benar sekali, asalkan denganku". Sahut Bimo , merangkul pinggang istrinya
"Kamu mikir gak sih,mbak? Aku capek mengurus ibu,belum lagi beberes lainnya dan mengurus suamiku. Ke sana kemari,membawa perutku yang besar ini". Ucap Nabila, lumayan keras.
"Iya,aku sebagai suaminya Nabila sangat terganggu dengan kehadiran ibu. Pengeluaran uang kami, semakin banyak karena bang Alfan tidak memberikan uang kepada kami". sambung Fadly,ikutan.
__ADS_1
"Cukup! Adelia, istri ku dan bukan menantu ibu Norma atau istrinya Alfan. Dia adalah istriku,kalian tidak ada hak apapun lagi. Apa kalian tidak memiliki rasa malu, sudah mencaci maki Adelia dan meminta untuk mengurus bu Norma. Dimana akal sehat kalian,ha?". Bentak Bimo, membuat mereka semua melonjak terkejut mendengarnya.
"Bu Norma, dengarkan perkataan mantu kesayangannya ibu. Begitu kasarnya Fadly,berkata kepada ibu yang sudah memujinya dulu. Apa lagi dulu, selalu membela". Adelia,memang geram terhadap Fadly,yang licik itu.
"Bimo, sebelum dia mengenali mu. Adelia, lebih dulu sama kami. Maka Adelia,juga hak kami". Kini bu Norma, menyahutinya.
"Ini adalah terakhir kalinya,kalian mengganggu kehidupan Adelia. Aku tidak segan-segan melaporkan kalian,karena sudah mengganggu ketenangan kami. Aku tidak main-main dengan ucapan ku,paham!". Bimo, sudah emosi dengan kelakuan mereka.
Bu Norma, Nabila dan Fadly, langsung ketakutan mendengar ucapan Bimo. Apa lagi, wajahnya begitu sangar dan menakutkan.
Adelia, mengelus lembut pundak suaminya untuk menenangkan perasaannya. "Sabar mas,aku tidak mau kok. Sudah cukup mengurus bu Norma, sekarang tidak lagi dan sampai kapanpun".
"Adelia, kamu jangan seenaknya yah. Gara-gara kamu,bang Alfan tak tau dimana. Dia kabur meninggalkan ibu di rumahku, pokoknya kamu harus bertanggung jawab. Kalau saja,kamu rujuk dengan bang Alfan. Bisa jadi,bang Alfan tidak kabur seperti ini". Teriak Nabila, dadanya naik turun mengontrol dirinya.
"Nabila,tak perlu kamu teriak-teriak. Ingatlah kamu hamil besar, takutnya malah brojol sekarang. Heran yah,punya suami tidak pernah menasehati istrinya". Decak Adelia, tersenyum kecil."Kepergian mas Alfan, tidak ada sangkut pautnya dengan ku".
Fadly,tak bisa menjawab pertanyaan Bimo. Tenggorokan tercekat seketika, bahkan membuang muka ke arah lain.
"Bimo, menantuku tak ada sangkut pautnya dengan masalah ini. Jangan bawa-bawa dia, ngerti kami". Bu Norma, langsung membela menantunya.
"Bela terus, menantu kesayangan mu ini. Dulu,ketika sakit atau kesusahan lari ke kami. Tetapi, ujung-ujungnya malah memuji menantu mu yang tidak memiliki perasaan apapun. Termasuk anakmu Nabila,tak mau mengurus mu dan selalu mengeluh. Nabila,bawa ibumu pulang dan jangan pernah menampakkan diri kalian dirumah ku ini". Tegas Adelia, sorotan mata memerah manahan amarahnya.
"Kamu gila yah,mbak. Setega itu,sama aku dan ibu. Tanpa kami dulu,mbak Adelia bukan siapa-siapa loh". Nabila, menatap sinis ke arah Adelia.
"Yah,jika waktu bisa terulang kembali. Aku tak akan pernah mau menikah dengan abangmu,yang brengsek itu". Sahut Adelia, langsung.
"Kurang ajar kamu, mengatakan Alfan seperti itu. Emangnya kamu sebagus apa,ha? Kamu itu, cuman anak kampung gak punya pendidikan". Teriak bu Norma, dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Kalian semua,keluar! Apa perlu aku seret paksa,ha? Kamu,bawa istri dan ibu mertua ini keluar. Kamu dengar tidak?". Teriak Bimo, ingin melangkah maju menghampiri Fadly. Tetapi, Adelia langsung menahan suaminya itu.
"Ayo,kita pulang Nabila. Biarkanlah ibu,tinggal di sini". Kata Fadly,menarik lengan istrinya.
"Oh,jangan harap kami mengurus ibumu ini. Apa kalian lupa, bagaimana aku memperlakukan ibumu ketika mas Alfan pergi? Silahkan, tinggalkan bu Norma dan jangan harap beliau di dalam rumahku. Melainkan diluar pagar, biar tau rasa". Ancam Adelia, tersenyum smrik.
"Tenang saja,aku akan membawa istriku ke suatu tempat. Ngapain ribet, melihat kesengsaraan ibu kalian". Sambung Bimo,satu pikiran dengan Adelia.
"Nabila,bawa ibu nak. Jangan tinggalkan ibu,gak mau seperti dulu lagi". Bu Norma, memalingkan kursi rodanya.
"Tega kamu,mbak. Suatu hari nanti,aku tidak akan pernah membantu kalian. Mas,ibu kita bawa lagi gak papakan?". Tanya Nabila, menatap iba kepada sang suami.
"Gak,aku gak mau ibumu tinggal di rumah kita. Kamu tau kan, ibumu selalu menyusahkan aku dan kamu. Mbak Adelia, katakan dimana bang Alfan? Jika mbak mengatakan semuanya,kami tidak akan menggangu mbak lagi". Fadly, terlihat memohon kepada Adelia yang diam saja.
"pengen tau,dimana Alfan ha? Carilah sendiri,kalian punya tangan kaki kan. Silahkan pergi, katanya bu Norma kamu menantu kaya. pasti bisakan, meminta bantuan kepada seseorang. Gampang lah,tinggal bayar". Malah Bimo, menjawab pertanyaan Fadly.
Akhirnya Nabila, mendorong kursi roda ibunya dan keluar dari rumah Adelia.
Masih samar-samar terdengar,jika Fadly memarahi ibu mertua dan istrinya itu.
Bimo, mengecup kening istrinya dan menutup pintu rumah. "Sudahlah sayang, jangan memikirkan macam-macam lagi. Sekarang kamu tenang yah, mereka tidak akan menggangu kamu lagi".
"Makasih banyak mas,aku senang mendengarnya". Adelia, memeluk erat tubuh suaminya. Maafkan aku bu, sudah cukup masa lalu penuh dengan luka di hati ini. Seandainya ibu, sangat baik kepadaku dulu. Kemungkinan besar,aku masih mau mengurus bu Norma. Batinnya Adelia,menyeka air matanya.
*****************TAMAT****************
Love you,sekebon yang sudah setia membaca sampai akhir. Makasih banyak yah, buat kakak-kakak yang sudah dukung ceritaku.
__ADS_1