Cukup Satu Kali

Cukup Satu Kali
Tidak Tahu Malu


__ADS_3

Alfan, mondar-mandir mencari keberadaan Devi. Tetapi, tidak mendapatkan informasi tentang dirinya. Bahkan Riko dan Sella, bagaikan di telan bumi. Entah mereka berdua,dimana keberadaannya.


Ingin ke rumah orangtuanya Devi,mana mungkin itu terjadi. Bisa gawat darurat nantinya, pasti orangtuanya akan memarahi habis-habisan.


Lebih baik memutuskan untuk pulang saja, besok harus mencari pekerjaan dan mengantar ibunya ke tempat Adelia.


Harapan satu-satunya adalah Adelia,yang bisa mengurus ibunya secara gratis tanpa mengeluarkan uang banyak.


"Palingan mobil ini, bakalan aku jual bu. Ganti mobil yang biasa aja,". Kata Alfan, memandang mobil mewahnya.


"Loh, kenapa di ganti Fan? Bikin malu aja,kamu ini". Gerutu sang ibu.


"Kalau ganti mobil, lumayan uangnya bu. Untuk bertahan sehari-hari kita, sekarang aku masih belum ada pekerjaan. Enak kalau nikah sama Adelia,gak pusing-pusing memikirkan pekerjaan. Sialan,". Alfan,nampak frustasi.


"Ya sudah,tapi ganti mobilnya jangan jelek-jelek amat yah. Ayo,kita kerumahnya Adelia. Semoga kamu mendapatkan pekerjaan lebih bagus lagi,kurang ajar sekali perusahaan itu". Kata bu Norma, mendengus kesal.


"Iya, doakan saja bu. Kalau aku mendapatkan pekerjaan bagus, pasti Adelia mau meninggalkan suaminya dan balik kepadaku. Lumayanlah buat ngurus ibu,aku diam-diam main sama wanita lain. Tapi,main cantik gak ketahuan kaya dulu". Kekehnya Alfan, tersenyum membayangkan kebahagiaan yang akan datang nantinya.


"Terserah kamu, Alfan. Yang penting kehidupan kita kembali seperti dulu,gak kaya gini. Serba kekurangan,mana di campakkan mantan istri mu. Pokoknya rumah dulu, harus balik ke tanganku. Kamu kenapa sih,gak samperin Yuni ke kampungnya? Pasti dia sudah enak-enakan, menikmati uang hasil penjualan rumah ibu". Bu Norma, sangat murka kepada Yuni. Diam-diam mengambil sertifikat rumahnya,lalu menjualnya begitu saja.


"Nanti bu,aku pikir-pikir lagi. Sebenarnya aku rada takut ke kampung Yuni,apa lagi banyak keluarganya bu. Masa aku datang sendirian,yang ada jadi remahan peyek akunya nanti". Alfan, bergidik ngeri.


"Alahhh...Kamu ini,yah. Sama orang miskin aja, takutnya minta ampun. Payah kamu Alfan,". Ledek sang ibu, membuat Alfan kebingungan jadinya.

__ADS_1


"Terus,ibu mau menghadapi mereka semua. Itu loh,bu, kampung Yuni dan keluarganya. Pasti kita bakalan remahan peyek, jangan-jangan nyeker kita pulangnya. Ibu mau di gorok mereka,kalau tidak menuruti perintah keluarga Yuni. Aku sih,ogah banget bu. Mendingan gak usah lah, daripada nyawa melayang". Ucap Alfan, panjang lebar dan berharap sang ibu paham.


"Terus,kamu membiarkan semuanya Fan? Ibu,gak ikhlas apa yang di ambil Yuni. Itu rumah milik ibu, apapun caranya kembalikan milik ibu!" Pinta bu Norma,jangan ada membantah perkataannya.


"Oke, silahkan ibu pergi ke kampung halamannya Yuni. Pergilah bu, bersama Adelia sana. Silahkan ibu,hadapi mereka semua dan buktikan perkataan ibu. Lihatlah kondisi ibu, bagaimana ha? Sekali tendang saja, sudah tak bisa berbuat apa-apa. Jangan memakai bu, doakan saja aku bisa membeli rumah jauh lebih besar dari yang dulu". Kata Alfan, lumayan keras dan mengatur dirinya sudah terbawa emosi.


"Maafkan aku bu, berkata kasar seperti ini. Berharap ibu paham dengan keadaan kita,jangan memaksa kehendak ibu". Akhirnya Alfan, melemahkan suaranya.


Bu Norma, langsung diam dan memang benar ucapan anaknya. Saat ini, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Ingin melaporkan Yuni, tetapi tidak ada bukti apapun.


Tiba di perkarangan rumah Adelia, tetapi nampak sepi. Membuat Alfan, nampak tak suka jadinya.


"Kok sepi yah, pintunya ke tutup". Kata Alfan, turun dari mobil dan mencek. Siapa tahu, Adelia bersembunyi di dalam.


"Makasih bu, tapi dimana rumah suaminya?". Tanya Alfan, tidak perduli baginya menitipkan sang ibu di rumah suaminya Adelia. Yang penting Adelia,mau mengurus dan dia bisa pergi mencari pekerjaan.


Akhirnya Alfan, mendapatkan alamat tinggal suaminya Adelia. Hatinya memanas mengingat Adelia, kerumah suaminya itu. Otaknya terngiang-ngiang, pasti Adelia dan suaminya sudah berhubungan suami-istri.


"kurang ajar sekali yah,dia enak-enakan punya tempat tinggal di sini dan di sana. Sedangkan kita,malah nyewa. Ibu,mau bicara sesuatu dengan Adelia. Daripada bayar sewa rumah, mendingan kita menepati rumah bi Jum. Iyakan,Fan?". Tanya bu Norma, membuat Alfan tersenyum sumringah.


"Benar sekali bu,bujuk rayu Adelia yah. Lumayanlah uang untuk bayar perbulannya,siapa tahu kita bisa menguasai seluruh warisannya bu". Alfan, langsung setuju dengan ide sang ibu.


Alfan, mematikan mesin mobil dan mengeluarkan kursi roda. Lalu, mengangkat tubuh ibunya. Dia yakin sekali, Adelia pasti ada.

__ADS_1


Pas sekali Bimo,tengah keluar dari rumah dan ingin berangkat kerja. Matanya menatap tajam, melihat kedatangan Alfan dan ibunya. Emosinya menggebu-gebu disaat itu,apa yang di inginkan sampai ke rumahnya.


"Ngapain kalian kesini? Tidak tahu malu!". Bentak Bimo, dengan lantangnya.


"Minggir kau, kau tidak ada urusan dengan mu. Yang aku inginkan Adelia, minggir!". Bentak Alfan, balik.


"Adelia! Adelia,keluar kamu nak! Ibu dan alfan,datang untuk mengunjungi mu. Kami minta maaf soal kemarin-kemarin, pasti kamu ada di dalam". Bu Norma, memanggil mantan menantunya itu.


"Lancang sekali kalian, ini rumah saya. Tanpa seizin saya,kalian tidak berhak masuk. Lagipula ngapain cari istri saya,ha? Adelia, tidak ada di rumah ini. Dia jalan-jalan ke mall, belanja, perawatan,beli barang mahal-mahal. Sangat bahagia menikah dengan saya,karena saya memberikan kartu atm kepadanya". Bimo, menyunggingkan senyumnya dan ingin memancing reaksi mantan suami sang istri.


"Ck, pembohong besar kamu. Pasti kamu sudah mengancamnya Adelia,agar dia tidak mau menemui kami. Cuiihh...Sok belagu!". Alfan, mengepalkan kedua tangannya.


"Silahkan kamu berteriak-teriak sampai kapan pun, nyatanya Adelia gak ada. Dia tengah bersenang-senang, lihatlah motor miliknya tidak ada kan". Akhirnya Bimo, meninggalkan dua orang itu. Apa lagi sudah waktunya pergi,muak meladeni mereka yang tidak memiliki rasa malu.


Beberapa kali Alfan dan ibunya, memanggil Adelia.Memang tidak ada, motornya juga tidak ada.


Mencoba menghubungi adleia, lagi-lagi nomornya di blokir. Membuat Alfan, semakin frustasi dan kebingungan. Bagaimana caranya, mencari pekerjaan? Sedangkan ibunya, tidak ada yang menjaganya.


"Aaaarrgghh... Adelia,memang kurang ajar bu. Lihatlah,dia baru mengunggah foto di Facebook. Kata suaminya memang benar,dia tengah berlibur dan kita sengsara bu". Alfan, tidak terima atas perlakuan Adelia.


"Sialan, dia sudah melupakan kita Fan. Besok kita temui dia,ibu akan memarahinya habis-habisan". Bu Norma, sangat iri dengan kehidupan mantan mantunya itu.


Dia tengah berbahagia, tanpa Alfan dan ibunya. Padahal Adelia,pulang ke kampung halamannya.

__ADS_1


__ADS_2