Cukup Satu Kali

Cukup Satu Kali
Menagih


__ADS_3

"Adelia,jadi di sini tempat persembunyiannya kamu! Pantesan saja, kami mencari keberadaan mu di rumah Bimo tidak ada". Ucap pak Ramli, mengikuti Adelia pulang dari pasar.


"Keponakan kurang ajar kamu, membodohi orangtua". Sambung Irni, sang istri.


"Aku bersembunyi? Mana ada pak Ramli,ini rumahku. Di sana rumah suamiku,aku seringkali ke sini karena merawat perkebunan pete di belakang rumah". Kata Adelia,sengaja mengatakan semuanya. Ingin melihat paman dan bibinya,bak cacing kepanasan.


"Apa!Jadi kamu gunakan uang penjualan lahan kosong itu, membeli rumah dan kebun pete di belakang rumah ini". Tanya pak Ramli, nampak terkejut.


"Astaga! Jadi kalian sudah tau,kebun teh hangus terbakar dan sudah aku jual. Baguslah tidak perlu lagi,aku menyembunyikan semuanya. Asalkan pak Ramli tau, tempat tinggal ini. Aku mendapatkan dari warisan,oleh seseorang yang menyayangi dengan tulus. Masalah uang kebun itu, kalian tidak berhak sama sekali". Tegas Adelia, tersenyum kecil.


Rupanya Adelia, sudah sukses dan memiliki segalanya. Sialan, Wulan anakku kalah dengannya.Batin Irni, mengepalkan kedua tangannya.


"Tidak bisa! Kebun itu,milikku. Berikan uangnya,enak saja mau menikmati sendiri!". Bentak pak Ramli, sorotan mata tajam.


"Jangan harap pak Ramli,cukup sudah! Kalian rampas hakku,dari warisan kedua orangtuaku. Apa kalian mau,aku serahkan kepada pihak berwajib ha? Tanah kebun teh itu,atas nama bapakku paman! Kalian sama sekali, tidak ada hak apapun. Paham! Tidak tau malu,". Adelia, tak akan pernah mengalah lagi.


"Aaaarrgghh...Jangan sampai aku menggunakan kekerasan, Adelia. Berikan uang itu, cepat!". Pak Ramli, memaksakan kehendaknya.


"Jangan macam-macam,pak Ramli.Aku bisa berteriak-teriak memanggil para warga. Agar kalian bisa di amuk masa,ingat itu". Ancam Adelia, tersenyum smrik dan mampu membuat pamannya tak bisa berkutik lagi.


"Eeerrgg... Dasar serakah kamu, Adelia. Kami masih keluarga mu,ingat itu". Sambung Irni, yang geram.


"Semenjak kalian mengusirku,merampas harta orangtua ku. Sejak itulah, kita bukan keluarga lagi. Silahkan,pak Ramli dan bu Irni pergi! Atau tidak,aku berteriak sekencang mungkin". Tegas Adelia, dadanya naik turun mengontrol dirinya.


"Aaarghhh...Awas kamu Adelia,aku akan datang dan mengambil hakku. Ingat itu,jangan harap aku tinggal diam!". Pak Ramli, menunjukkan jarinya ke arah Adelia.

__ADS_1


Pak Ramli dan istrinya, meninggal perkarangan rumah Adelia dengan perasaan dongkol mereka tidak mendapatkan apapun.


Adelia, menghela nafas lega atas kepergian mereka. "Aku tidak menyadari mereka mengikuti ku sampai ke sini,ck. Ingin mengambil uang hasil penjualan kebun itu,jangan harap. Itu adalah milik orangtuaku,hak ku yang kalian rampas". Gumamnya Adelia,masuk kedalam rumah dan menguncinya pintu.


Sedangkan pak Ramli dan bu Irni,pulang ke rumah anaknya Wulan.


"Aaarghhh.... Sialan Adelia,dia berani melawan kita bu". Pak Ramli, beberapa kali memukul setir mobilnya.


"Nanti kita temui lagi mas, lebih tegas lagi. Enak saja,dia mau menikmati uang itu sendirian. Jangan lemah dong,sama Adelia. Uang itu,masa depan kita mas. Tanpa uang itu, bagaimana nasib tambak ikan di belakang rumah. Lalu, kebutuhan sehari-hari kita bagaimana? Berusaha mas,jangan lemah letoy dong". Irni,yang kesal dengan suaminya tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Adelia.


"Apa kamu punya cara,ha? Jangan sok memarahiku segala, Irni. Apa kamu tidak mendengar ancamnya, Adelia? Sedangkan kamu apa,cuman diam dan sama kalah dengan saudara-saudara mu itu. Dapat jatah warisan cuman secuil,takut melawan". Pak Ramli,melirik ke arah istrinya yang diam tak bersuara lagi.


*****************


Wulan, tersenyum sumringah melihat Bimo mau pulang mengajar. Dia cepat-cepat mendekati Bimo,tak lupa membenarkan penampilannya.


Bimo, langsung menarik lengannya dan menghindari Wulan. "Maaf,aku tidak ada waktu pergi bersama mu Wulan. Kamu tau sendirilah,aku memiliki istri yang aku cintai".


"Bimo,kita teman ingat itu. Bukankah selama ini,kita seringkali pergi-pergi". Wulan, sangat kesal atas perubahan Bimo.


"Sudah aku bilang,dulu dan sekarang beda. Dulu aku belum menikah, sekarang sudah dan fokus dalam rumah tangga ku. Paham! Jangan merendahkan harga diri mu, mengejar pria yang beristri". Bimo, berusaha menasehati Wulan.


"Bim,apa yang kamu liat Adelia? Dia jauh berbeda dengan ku, status janda dan pernah menikah. Pasti ada sesuatu yang membuat mereka cerai, pasti ulahnya Adelia. Apa lagi,kamu baru sebentar mengenalinya Bimo. Pasti Adelia itu,bukan wanita baik-baik. Karena kamu kaya, makanya dia mau dan sok jual mahal". Wulan, tersenyum karena menjelekkan Adelia di depan suaminya.


"Jangan menjelekkan istriku, Wulan. Aku jauh lebih dalam mengenali Adelia, dibandingkan dirimu. Setahuku keluarga serakah merebut harta orangtuanya, Adelia. Kamu kira aku tidak tau ha, seharusnya kamu dan keluargamu malu bertemu dengan ku. Apa jadinya,guru lain mengetahui semuanya?". Bimo,puas melihat raut wajah Wulan gelisah gusar.

__ADS_1


Bimo,masuk kedalam mobil dan meninggalkan Wulan nampak diam sedari tadi.


"Aaaarrgghh...Aku harus memberi pelajaran terhadap, Adelia. Dia benar-benar membuatku sangat marah,awas kamu!". Wulan, menggerutu dan menghentakkan kakinya.


Prok... Prok... Prok


Seseorang di belakang Wulan, bertepuk tangan karena senang sekali. Melihat Wulan,di campakkan oleh Bimo dan memilih istrinya. "Kasian sekali yah, dulu membanggakan diri karena dekat dengan Bimo. Eeww.... Sekarang di abaikan begitu saja,gak sadar diri". Kata Tiara, seorang guru sekantor Wulan.


"Terserah akulah, selagi Bimo masih bernafas. Aku tak akan menyerah mendapatkan Bimo,paham!". Kata Wulan, dengan sombongnya.


"Astaga! Seharusnya,kamu sadar dirilah jangan memaksa kehendak mu. Aku mendengar semua percakapan kalian, sangat jelas sekali. Dimana Bimo berkata,kamu dan keluargamu merampas harta orangtua istrinya.Oups...Memalukan sekali". Ejek Tiara, penuh semangat.


"Ngomong apa sih,kamu? Ini urusan keluarga kami,jangan ikut campur. Paham!". Bentak Wulan, sedikit mendorong tubuh Tiara.


Wulan, langsung menghindari Tiara dan menyalakan mesin motornya. Membuang waktu saja, meladeni Tiara yang gelak tawa.


15 menit kemudian, Wulan sudah sampai di rumah. Mobil orangtuanya masih di halaman rumah, bukankah orangtuanya mau menemui Adelia.


"Loh, bapak sama ibu gak menemui Adelia? Kok,masih santai-santai di rumah". Wulan, menghempaskan bokongnya di atas sofa.


"Sudah tadi,baru pulang". Jawab sang ibu, sontak membuat Wulan tersenyum kecil.


"Terus, bagaimana pak,bu? Apakah, sudah dapat uangnya?". Tanya Wulan, matanya berbinar-binar dan tak sabar mendapatkan uang banyak.


"Uang aja,yang kamu pikirkan.Kami tidak mendapatkan uangnya, Adelia mengancam akan berteriak dan memanggil para warga. Gak mau lah,di amuk masa nanti". Sahut pak Ramli, dengan kesal.

__ADS_1


Wulan, menepuk keningnya karena tidak mendapatkan keinginannya itu. Matanya tertuju kepada orangtuanya, tak bisa melawan Adelia.


__ADS_2