Cukup Satu Kali

Cukup Satu Kali
Kampung Halaman


__ADS_3

Sesampai di kampung halaman, Adelia mengunjungi teman dekat orangtuanya dulu. Rumahnya paling ujung, sengaja agar paman dan bibinya tidak mengetahui keberadaannya. Termasuk para tetangganya dulu, mulutnya sangat ember dan suka bergosip ria.


Bertahun-tahun lamanya tidak pulang ke kampung halaman, sangat jauh berbeda dari dulu. Rumah saling berdempetan, semakin ramai.


Di sambut hangat oleh teman dekat orangtuanya, tidak menyangka Adelia datang. Mereka semua terharu,cukup lama tidak bertemu.


Hampir 1 jam Adelia, Menceritakan tentang dirinya kepada bu Wahdah dan memiliki menantu sudah.


Bu Wahdah,kasian sekali dengan kehidupan Adelia. Tidak menyangka anak temannya itu, menjalani kehidupan penuh dengan ujian dan penuh kesabaran.


"Sempat kami dengar-dengar,nak. Kebun teh orangtuamu,di sita sama juragan Karno. Paman dan bibi mu, tidak sanggup bayar. Uangnya buat biaya kuliah, Wulan. Mungkin penghasilan mereka saat ini,cuman tambak ikan di belakang rumah mereka dulu. Memang benar beberapa tahun lalu,paman dan bibimu lah orang kaya di sini sebelum juragan Karno datang. Begitulah nak, memakan dari hasil rampasan. Mana mungkin lama-lama berkah, pasti dapat karmanya". Kata bu Wahdah, menatap iba kepada Adelia.


"Jadi, mereka meminjam uang dan menggadaikan sertifikat kebun teh. Baguslah,aku akan menebusnya bu. Kebun teh itu, akan kembali kepada ku lagi. Itu salah satu harta orangtua ku,mana mungkin membiarkan saja. Setelah kebun teh,jatuh ke tanganku. Apakah ibu,mau merawat dan mengelolanya?". Tanya Adelia, berharap bisa membantu perekonomian keluarga teman ibunya.


"Bagaimana nak, Rafi? Kita cuman merawat,memetik,lalu menjual penghasilannya. Warga sekitar sini, pasti mau bekerja di kebun teh Adelia". Bu Wahdah,merasa senang mendengar ucapan Adelia.


"Kalau aku mau aja,malah bersyukur memiliki pekerjaan Mbak.Bekerja di bengkel, pas-pasan untuk sehari-hari. Kalau ada pekerjaan di tempat Mbak Adelia, pasti perekonomian ke bantu". Rafi, tersenyum sumringah.


"Baiklah,aku akan mendapatkan kebun teh itu. Setelahnya kita berunding lagi, ajaklah beberapa warga untuk memanennya nanti. Tapi,temanin aku yah bu? Ke tempat juragan Karno, sebenernya rada-rada takut. Hehehehe...". Kekehnya Adelia, tersenyum kecil.


"Juragan Karno, sebenernya baik kok. Ramah kepada orang-orang sekitar, asalkan jangan macam-macam dengan beliau. Ayo, kita ke sana". Bu Wahdah, langsung berangkat bersama Adelia.


Sepanjang perjalanan Adelia, calingukan melihat sekeliling. "Tidak menyangka bu, sekarang ada kemajuan di kampung kita". Kata Adelia, tersenyum.


"Alhamdulillah,nak. Cuman kasian dengan Rafi, awalnya bekerja di kebun teh juragan Karno. Karena ada masalah, membuat Rafi kehilangan pekerjaannya. Beruntung temannya,mengajak kerja di bengkel. Walaupun penghasilan, selalu kurang nak". Kata bu Wahdah, bercerita tentang anaknya.

__ADS_1


"Emangnya,apa masalahnya bu?". Tanya Adelia, penasaran sekali.


"Rafi, minder dengan anak juragan Karno. Anak juragan Karno, menyukai anak ibu. Tetapi, Rafi sudah berpacaran dengan Lila dan mana mungkin meninggalkan wanita yang di cintainya. Kata Rafi, tidak masalah kehilangan pekerjaan. Daripada bersama dengan wanita,yang tidak di cintainya nak". Bu Wahdah,menghela nafas panjang.


"Yang sabar bu, semoga saja. Uangku cukup untuk menebus sertifikat kebun teh,biar Rafi jadi mandor melihat pekerja di kebun nantinya. Aku serahkan semuanya kepada kalian, semoga berjalan dengan lancar". Bu Adelia, mencoba meringankan beban mereka. Walaupun membantu tak lebih,yang penting ada.


Tibalah di depan gerbang rumah, juragan Karno. Mata Adelia, berbinar seketika melihat rumah juragan Karno begitu besar dan mewah.


Adelia, mematikan motor mesinnya dan melihat seorang pria dan wanita. Tengah bersantai di bawah pohon,bersama seorang anak kecil.


"Itu, juragan Karno, istri dan cucunya. Sebenarnya ibu dan mereka, tidak akur karena masalah masa lalu". Kata bu Wahdah, langsung di angguki Adelia.


Adelia dan bu Wahdah, mendekati mereka yang duduk santai.


Juragan Karno dan istrinya, menatap tajam ke mereka berdua.


"Bu Wahdah, ngapain kemari? Oh,mau menanyakan lowongan pekerjaan. Maaf, tidak ada lowongan pekerjaan bu". Belum apa-apa,sang istri juragan Karno langsung bersuara.


"Maaf, tidak ada sangkut pautnya dengan bu Wahdah. Begini....". Adelia, kebingungan untuk memanggil istri juragan Karno.


"Maaf, permisi juragan Karno dan bu Mega. Kenalkan dia adalah Adelia, keponakannya pak Ramli". Bu Wahdah, langsung memperkenalkan Adelia.


"E'ehmmm... Duduklah,kita bicarakan baik-baik. Silahkan Adelia,mau berbicara tentang apa?". Akhirnya juragan Karno, memecah suasana tegang.


Sang istri nampak tak senang, melihat kedatangan Adelia Karena kecantikannya kalah. Matanya menelusuri mulai ujung kepala sampai ujung kaki, membuat dirinya merasa iri dan tersaingi.

__ADS_1


"Maaf, mengganggu kesenangan juragan Karno dan Mega. Atas kedatangan saya,yang tiba-tiba". Kata Adelia, tersenyum kecil."Langsung ke intinya saja,saya mau menebus sertifikat kebun teh milik orangtua saya. Yang sudah di gadaikan oleh paman Ramli, juragan".


"Uhuk... Uhukk....!". Juragan Karno, sampai terbatuk-batuk mendengar ucapan Adelia.


"Apa! Mau menebus sertifikat kebun teh, emangnya kamu sanggup?". Tanya bu Mega, tersenyum mengejek. "Walaupun saya tidak pernah melihatmu, tetapi tau tentang dirimu dari orang lain".


"Aku sih, tidak masalah kamu ingin menebus sertifikat kebun teh itu. Beberapa bulan yang lalu,kebun teh milik orangtua mu hangus terbakar". Kata juragan Karno, sontak membuat Adelia dan bu Wahdah terkejut.


"Apa! Kok bisa terbakar kebun tehnya? Juragan Karno, bohongkan". Adelia,nampak tak percaya dengan ucapannya.


"Aku tidak berbohong,polisi sudah menyelidiki kasus ini. Sangat di sayangkan,kebun teh itu hangus terbakar. Pasti ada seseorang sengaja, melakukannya. Bagaimana,masih mau menebusnya?". Tanya juragan Karno, sudah waktunya melepas kebun teh itu.


Beruntung sekali karena kebun teh itu, terbakar habis. Jika tidak,akan menjadi saingan beratku nantinya. Mana mungkin aku melepaskan kebun teh itu, karena sudah hangus terbakar untuk apa di pertahankan lagi.Batin juragan Karno, manggut-manggut.


"Tapi, kenapa kami tidak mengetahuinya juragan? Kalau kebun teh milik orangtuanya Adelia, hangus kebakar". Tanya bu Wahdah,masih syok berat.


"Mana aku tau, semuanya pada tau kok". Jawab juragan Karno, sambil melirik ke arah Adelia.


Adelia,menghela nafas beratnya dan memikirkan sesuatu. Kebun tehnya hangus terbakar, astaga! Yang penting sertifikat kebun itu,berada di tanganku. Nanti aku bicarakan dengan mas bimo,siapa tau lahannya bisa di manfaatkan untuk apa. Yah,aku harus menebus sertifikatnya. Batin Adelia, tersenyum kecil.


"Baiklah,berapa jumlah uangnya untuk menebus sertifikat kebun itu?" Tanya Adelia, langsung.


"Aku sangat menyukai karakter dirimu, Adelia. Mengambil keputusan langsung,tanpa mengulur waktu yang lama. 50 juta, bagaimana? Itu termasuk bunganya,yakin mau menebus". Tanya juragan Karno, sangat mengasikan berbisnis uang.


"lim-lima puluh juta! Sebanyak itu, juragan". Bu Wahdah, menutup mulutnya karena terkejut. "Nak Adelia, jumlah uangnya sangat banyak". Bu Wahdah, menggenggam erat jemari Adelia dan menggelengkan kepalanya

__ADS_1


"Saya transfer uangnya, bagaimana?". Tanya Adelia, langsung. Membuat juragan Karno dan istrinya, terkejut mendengar.


"Ha..!".


__ADS_2