
"Duhh... Ngapain bawa ibu ke sini,bang? Aku mana mampu ngerawat ibu dan tengah hamil besar ini". Wajah Nabila, cemberut melihat Alfan membawa ibunya ke rumah sang adik.
"Aduh...! Lihatlah, kondisi kami bang. Masa bawa ibu ke sini,yang ada malah merepotkan". Sambung Fadly, berdecak kesal.
"Beliau adalah ibumu dan ibu mertua mu juga. Di rumah tidak ada yang jaga,kalau kenapa-kenapa dengan ibu bagaimana? Aku sibuk bekerja untuk kebutuhan sehari-hari,ibu. Kamu mau, memberikan uang untuk ibu dan aku? Gak masalah aku jaga ibu, asalkan uang selalu mengalir". Tanpa ba-bi-bu lagi, Alfan membawa ibunya masuk kedalam.
"Enak saja,aku capek-capek kerja. Malah kasih uang untuk abang dan ibu,tau sendirilah gajihku berapa?". Sahut Fadly, adik iparnya yang tak suka kedatangan mereka.
"Alfan,pulang saja yuk. Jangan merepotkan mereka berdua,antar ibu kerumahnya Adelia. Pasti dia mau lama-kelamaan,gak tega liat ibu". Lagi-lagi bu Norma,masih membela anak dan mantunya. Alfan,kamu benar-benar membuat ibu malu di depan mantu. Tidak mengerti bagaimana, keadaan adikmu ini.
"Astaga! Apa kurang atas perilaku Adelia,yang kemarin. Dia tega menelantarkan ibu,di teras rumahnya tanpa memberikan makan dan minum. Sudahlah, Nabila bisa jaga ibu dengan baik. Asalkan ibu,jangan merepotkan Nabila. Mau buang air besar,bilang bu! Ganti pampers kalau penuh kencing, ganti sendirilah. Tangan ibu,masih bisa di gunakan. Jangan manja,kami lelah bu". Bentak Alfan, dadanya kembang kempes menahan diri.
"Menyebalkan sekali,". Gumam Nabila, menghentakkan kakinya. Apa jadinya,jika ibu di sini dan merawatnya. Membereskan rumah dan masak buat suami aja, kadang-kadang. Masa harus jaga ibu, gara-gara mbak Adelia ini.
"Ya sudah,aku berangkat kerja dulu. Jam 5 sore, bakalan bawa ibu pulang. Fadly, warung kecil di depan sana gak ada yang nyewakan. Aku mau nyewa 500 ribu perbulannya,biar gak bolak-balik dan murah sewa tempat tinggal". Mau tak mau, Alfan, harus menghemat uangnya.
Mendengar ucapan Alfan, Nabila menyenggol lengan suaminya. Asalkan uang, tentu saja mau.
"Gak mau! Ibu,gak mau tinggal di tempat sempit itu. Jangan macam-macam kamu, Alfan". Tolak bu Norma, langsung. Aarrrghh....Alfan,kamu benar-benar anak durhaka kepada ibu.
"Ya sudah,ibu yang bayar sewa rumahnya. Mau gak? Lagian ibu,gak ada uang sepersen pun. Jangan berlagak seperti orang kaya bu,ingat kondisi kita seperti ini. Mau gak Fadly,biar aku gak capek-capek ngantar ibu?". Tanya Alfan, dengan tatapan tajam. Aku tidak tau lagi, harus berhadapan dengan ibu. sikapnya selalu egois, ingin menang sendiri. Tanpa memikirkan perjuangan ku selamat ini,malah membela Nabila dan mantu kesayangannya itu.
"Iya, asalkan bayar dan jangan telat". Jawab Fadly, langsung. Lumayanlah untuk tambahan sehari-hari, daripada kosong melompong.
__ADS_1
Bu Norma, memasang wajah masam. Kesal dengan Alfan,yang tidak menuruti kemauannya.
"Bang,mana uang untuk jajan ibu? Biasanya ibu,jajan ini dan itu. 50 ribu,jangan membantah bang". Nabila, mengulurkan tangannya untuk meminta uang.
"Jangan jadi anak durhaka, Nabila. Dulu,kamu selalu di manja oleh ibu tanpa membantah apapun. Sekarang waktunya,kamu membalas jasa ibu. Dulu sampai sekarang,mana pernah kamu memberikan uang kepada ibu". Alfan, langsung mengabaikan permintaan adiknya.
"Alfan! Jangan menyusahkan adikmu,apa susahnya kasih uang 100 ribu sekalian". Bu Norma, bersuara keras karena kesal dengan Alfan.
"Nah,benar apa yang di katakan ibu. Mana uangnya bang,enak saja mau menggunakan uangku". Kata Nabila, dengan ekspresi cemberut.
"Iya,uang kami cuman pas-pasan bang. Masa ngasih uang sama adik,gak mau". Sambung Fadly, tersenyum kecil.
"Cukup! Ibu, selalu berpihak kepada Nabila. Apa pernah ibu, memikirkan perasaan ku ha? Aku capek bu, selalu memenuhi keinginan ibu tanpa lelah. Kali ini,aku membantahnya". Alfan, langsung beranjak pergi meninggalkan rumah adiknya itu.
"Aaaarrgghh.... Lihat bu, bang Alfan sudah keterlaluan sekali" Gerutu Nabila, geram dengan sikap kakaknya.
******************
"Nabila,ibu laper nak. Mau makan ayam bakar". Bu Norma, menggoyangkan lengan anaknya yang terlelap tidur siang.
"Aduhh...Apa lagi sih,bu? Jangan bangunin aku dong,gak liat apa aku tidur siang". Bentak Nabila, dengan tatapan tajam.
"Ibu,laper nak". Kata bu Norma, sebenarnya dia terkejut mendengar bentakan sang anak.
__ADS_1
"Bu,mau makan ada di meja sana. Pasti ibu sampai lah,ambil sendiri di dapur. Jangan ganggu aku,paham!". Bentaknya lagi,tanpa memperdulikan perasaan sang ibu. Semua ini, gara-gara bang Alfan! Masa ibu,di antar ke sini dan bikin susah aja. Astaga! Kepalaku hampir pecah mendengar rengekan ibu,gak tadi,inilah.
"Ibu,gak mau ikan. Maunya ayam bakar,yang di ujung sana. Ibu,mau makan itu". Rengeknya bu Norma, perutnya sangat laper sekali mengingat ayam bakar yang di beli Adelia dulu.
"Astaga! Mana uangnya bu,mana ha? Bang Alfan, tidak memberikan uang kepada ku. Jangan ngelunjak minta aneh-aneh deh,makan yang ada. Masih untung ada, kalau gak mau kelaparan?". Nabila, mendengus dingin. Tidur siangnya,di ganggu oleh sang ibu yang permintaan gak jelas.
"Nabila,ibu pengen ayam bakar. Kamu belikan gih,nanti Alfan ganti uangnya 2x lipat. Mau yah,masa gak mau nurutin kemauan ibu". Bu Norma, memasang wajah sedihnya.
"Gak! Gak ada ayam bakar,sana keluar dari kamarku!". Bentak Nabila,keras dan langsung mendorong kursi roda ibunya.
Brakkk...!
Nabila, menutup pintu kamar lumayan keras. Membuat sang ibu, melonjak terkejut mendengarnya.
Bu Norma, terlihat sedih dan memutar roda kursinya menuju dapur. Air matanya luruh sudah, teringat dengan Adelia. Dia sepenuh hati merawat, tanpa mengeluh sedikitpun.
"Maafkan aku, Adelia. Aku salah selama ini, sebagai ibu mertua yang buruk di mata mu. Ibu, sangat kangen sama kamu Del. Mau di jaga kamu,di rawat seperti dulu lagi" Bu Norma,menyeka air matanya yang menangis kesegukan.
*************
Malam harinya, Adelia tengah memandang dirinya di pantulan cermin. Tak sabar menunggu sang suami, menjemput dirinya dan makan malam bersama di luar.
Ketukan pintu rumah, membuyar lamunan Adelia.Dia bergegas mengambil tas, menuju pintu luar dan membukanya.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam,mas Bi....". Adelia, menggantung ucapannya karena bukan suaminya yang datang.
Seseorang di ambang pintu, menyunggingkan senyumnya. Melipat kedua tangannya ke depan,ada tatapan sinis ke arah Adelia.