
Sudah 3 hari ini, Adelia tidak di ganggu oleh siapapun. Dia merasakan kehidupan tenang dan nyaman.
Bel rumah berbunyi, entah siapa bertamu di siang hari ini.
Ceklekk...
Adelia, nampak terkejut dengan kedatangan mantan istri Bimo. "Widya,kamu kok tau rumah ku di sini?". Tanyanya, dengan keheranan.
"Jawab pertanyaan ku, Adelia. Apa benar kamu dan Bimo, sudah menikah?" Tanya Widya, dengan tatapan tajam.
Adelia,menghela nafas panjang. "Hmmm...Kami sudah menikah,puas". Jawabnya tersenyum kecil.
"Gila yah,kamu! Sudah aku bilang kan,jangan mau menikah dengan Bimo. Ck, wanita tidak tahu diri kamu! Sudah berani merebut calon suamiku,ha! Lancang kamu, Adelia". Bentak Widya, mendorong tubuh Adelia.
Adelia,masih bisa menyeimbangi tubuhnya agar tidak jatuh. "Mas Bimo,yang bersikukuh untuk menikahi ku. Aku cuman pasrah dan mengikuti saja. Lagipula gak ada yang rugi sama sekali,aku menikah dengan mas Bimo".
"Kamu itu,sama aja kaya pelakor-pelakor di luar sana. Merebut milik orang lain,ck memalukan sekali". Decak Widya, tersenyum smrik dan akan memperlakukan Adelia.
"Ckckck...Sadar diri dong, bukankah kamu meninggal mas Bimo. Ketika mas Bimo, kehidupannya tidak seperti dulu ha! Lalu, mengemis untuk kembali. Ck, memalukan sekali kamu". Adelia,tak kalah dengan Widya.
"Asalkan kamu tahu,dia menikahi cuman menuruti surat wasiat terakhir bi Jum. Jadi,kamu gak perlu berharap lebih. Takutnya nyungsep ke bawah,aduhh...Gak kebayang deh, sakitnya seperti apa. Bimo, memiliki teman wanita banyak dan seringkali nongrong loh. Kasian yah, baru tau". Ejek Widya, tersenyum sumringah. "Lebih baik kamu tinggalkan Bimo, daripada sakit hati terus-terusan". Sambungnya lagi.
"Tidak apa,aku tidak masalah. Bahkan mas Bimo,tinggal di rumahnya sendiri. Kami tinggal berpisah,paham!". Adelia, mengulum senyumnya. Melihat raut wajah Widya, terkejut mendengar ucapannya.
"Apa! Kalian tinggal berpisah, hahahaha....Aku yakin sekali, pasti Bimo tidak sudi sati atap dengan mu yah? Kasian sekali kamu, wanita kampungan". Ejeknya Widya,merasa menang sudah.
"Terserah apa katamu, pergilah sana! Aku muak meladeni perkataan mu,jika menginginkan mas Bimo. Silahkan hampiri dia,ini malah ke sini segala". Adelia, langsung mengusirnya dan masuk kedalam rumah. Tak lupa menutup pintu,lalu menguncinya dari dalam.
Sontak membuat Widya, merasa jengkel dan menghentakkan kakinya.
"kalau menginginkan mas Bimo,sana temui dia. Ini malah ke sini, gak jelas banget". Gerutu Adelia, mendengar Ponselnya berbunyi ada pesan masuk.
[Adelia,kok kamu tidak ke rumah sakit. Sekedar untuk menjenguk keadaan ibu,beliau mencari-cari mu sejak kemarin]. Alfan.
__ADS_1
Adelia, menggeleng kepalanya dan mengabaikan pesan tersebut. Tidak mungkin dia memberitahu kepada mantan suaminya,jika dirinya sudah menikah. Bisa jadi mengamuk-ngamuk di rumah ini, sungguh memalukan baginya.
[Adelia,kenapa tidak balas pesanku? Ayolah,ke sini dan temui ibuku].
[Tidak punya hati nurani kamu, Adelia. Sungguh keterlaluan sekali, mengabaikan ibuku. Apa susahnya menuruti perkataan ku, cuman sebentar menemui ibu di rumah sakit].
Adelia, menghela nafas panjang dan mengetik untuk membalas pesan Alfan.
[Maaf,aku tidak bisa mas. Nanti di kira aku merusak rumah tangga mu, dengan Yuni. Aku gak mau di sebut, sebagai cap pelakor]. Balasnya Adelia, kemungkinan tidak akan membalas pesannya lagi.
[Alahhh... Ngapain sih, dengarin perkataan orang lain. Sekalian kita rujuk yah,aku dan Yuni sudah bercerai. Sekarang tidak ada lagi, menghalangi untuk kembali bersama]
[Ibuku, senang sekali mendengar kita rujuk. Beliau sampai tak sabar untuk pulang dan bersama kita lagi. Ke sini yah,Adelia ku sayang].
[Kalau ke sini,jangan lupa beli buah dan makanan enak. Kita lama tidak makan enak-enak bersama,cepat ke sini yah].
Banyak lagi pesan masuk dari Alfan, menghubungi Adelia memalui nomor telepon bu Norma. Karena Adelia, sudah memblokir nomor mantan suaminya itu.
"Mas..!". Lirih Adelia, terkejut karena Bimo langsung merampas ponselnya.
Bimo, langsung membaca pesan dari Alfan dan meremas benda pipih di tangannya. "Ck, masih berhubungan dengan mantan suamimu?".
"Mas,aku tidak menghubunginya. Lihatlah, dia menghubungi menggunakan nomor ibunya. Lalu, bagaimana bisa masuk kedalam mas?". Tanya Adelia, terkejut karena suaminya bisa masuk kedalam rumah.
"Aku memiliki kunci cadangan rumah ini, makanya bisa masuk. Apa mereka tau,kamu sudah menikah?". Tanya Bimo, langsung. Adelia, menggeleng kepalanya untuk menjawab.
Bimo, menghembuskan nafas beratnya. "JANGAN GANGGU ADELIA, KARENA DIA SUDAH JADI ISTRI SAYA".
Bimo, langsung mengirim pesan suara tersebut. Lalu, memblokir nomor telepon bu Norma. Menatap tajam ke arah Adelia, nampak diam saja.
"Mas,mau aku buatkan minuman atau makanan?". Tanya Adelia, mencairkan suasana canggung.
"Ayo,kita makan sama-sama. Bi Suriah, sudah masak dan aku bawa ke sini". Kata Bimo, langsung di angguki istrinya.
__ADS_1
Degggg...
Adelia, terkejut karena Bimo memeluknya dari belakang. Jantungnya berdegup kencang,meremas bajunya. "Ayo,kita makan mas. Aku menyiapkan makanannya,di meja". Berharap Bimo, melepaskan pelukannya.
"Kenapa buru-buru? Apa kamu tidak nyaman,aku peluk. Hemmm...". Bisik Bimo,menyela rambut panjang Adelia ke samping. Terlihatlah jenjang putih lehernya, hembusan nafas Bimo terasa di kulit Adelia.
Adelia, semakin menegang dan bingung berbuat apa-apa. Memejamkan matanya, menikmati sang suaminya mencium seluruh lehernya.
"Kau sangat menikmati, ciuman ku. Apakah kita melanjutkan, lebih panas lagi?". Bisik Bimo,sontak membuat Adelia langsung menjauhkan dirinya.
"Ayo, kita makan mas". Adelia, mengalihkan pembicaraan mereka berdua. Wajahnya sudah merah merona, menahan rasa malu.
Bimo, cengengesan melihat tingkah laku istrinya yang salah tingkah. Duduk di samping Adelia, membuat istrinya menegang saja.
Apa lagi Bimo, merangkul pinggang istrinya. Duduknya pun, sangat dekat sekali.
Adelia, berusaha semaksimal mungkin untuk santai dan biasa saja. Walaupun dadanya berdebar kencang, ingin sekali menghilang sekarang juga.
"Tadi,ada mantan istri mas datang". Ucap Adelia,melirik sekilas ke arah suaminya.
"Widya, maksudmu?". Tanya Bimo, langsung di angguki istrinya. "Ngapain dia ke sini,kamu gak kenapa-kenapa kan?". Tanya lagi,menoleh ke samping dan memandang wajah cantik istrinya.
"Dia terkejut mendengar kita menikah,lalu memintaku untuk meninggalkan mu". Jawab Adelia, sesungguhnya tak enak hati menceritakan semuanya.
"Ck,jangan dengarkan perkataan dia. Widya,cuman mau merusak rumah tangga kita". Decak Bimo, menyuapkan makanan ke mulutnya.
Dering ponselnya Bimo, berbunyi tertera nama Wulan.
Degggg...
Teringat perkataan Widya,jika Bimo banyak di kelilingi wanita. Memang benar Bimo, termasuk tipe kaum hawa dan tidak memiliki kekurangan apapun. Sudah pasti banyak wanita diluar sana, ingin memilikinya. Sekarang Adela,mulai paham dan tak mungkin berharap lebih dari Bimo. Apa lagi dia, pernah gagal dalam rumah tangga. Karena orang ketiga, sungguh menyakitkan baginya.
Bimo, meneguk air putih langsung. Sebelum mengangkat telpon dari seorang wanita, sebenarnya Adelia penasaran sekali apa yang mereka bicarakan nanti.
__ADS_1