Dari Bunga Turun Ke Hati

Dari Bunga Turun Ke Hati
Hallo


__ADS_3

Ting tong…


Terlihat gadis cantik yang sedang berdiri sambil sesekali memencet bel yang tertempel disamping  pintu besar di depannya, kemudian ia mundur beberapa langkah saat ia samar – samar mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Dan benar tak selang beberapa detik pintu besar itu terbuka, menampilkan gadis kecil yang sangat cantik dengan rambut yang dikuncir dua lengkap dengan pita dirambutnya.


“Selamat pagi adek cantik, kakak dari Fresh Flowers ingin mengantar bunga. Apa benar ini rumah bapak Aliandra Putra ?” tanya gadis itu sambil mensejajarkan badannya dengan gadis kecil itu, memudahkan agar gadis kecil itu tak kesusahan untuk melihat wajahnya.


“Iya kak, ini rumah papah Kesya. Kakak siapa ?” ucap Kesya, gadis kecil dengan kuncir dua dirambutnya,


“Kakak mau antar bunga pesanan papah Kesya, papah Kesya ada di rumah tidak ?” gadis itu berucap sambil menunjuk keranjang disampingnya yang berisikan berbagai jenis bunga.


Setelah menatap keranjang itu pandangan Kesya kembali tertuju pada gadis didepannya, “Ada kok, sebentar ya kak Kesya panggil papah dulu.”ucap Kesya lalu masuk kembali ke dalam rumah. Sambil menunggu sang tuan rumah keluar, gadis itu mengambil satu buket bunga mawar dikeranjang yang tadi ia bawa. Mawar putih, bunga yang sering dilambangkan sebagai kesucian itu masih terlihat segar apalagi tadi tangan terampilnya telah merangkai bunga mawar itu menjadi buket yang sangat cantik. 


“Kakak itu yang nyari papah, katanya mau antar bunga.” ucap Kesya kepada laki-laki yang dibelakangnya, tak salah lagi pasti itu papah Kesya, karna terlihat sekali kemiripan pada wajah antara laki – laki itu dan Kesya.


“Selamat pagi pak, saya dari Fresh Flower ingin mengantarkan buket bunga pesanan bapak.” ucap gadis itu sambil menyerahkan buket bunga yang ada ditangannya.


Laki-laki itu menerima buket bunga dari gadis itu dan berucap, “Oh iya terima kasih banyak mbak, tadi uangnya sudah saya transfer apakah sudah masuk ?”


“Sama-sama pak, uangnya sudah masuk kok pak. Boleh ditandatangani dulu pak buat bukti kalau buket bunga ini sudah sampai dengan selamat kepelanggan.”ucap gadis itu sambil menyerahkan kertas kecil lengkap dengan bolpointnya.


Ali kemudian menandatangani kertas bukti terima itu lalu menyerahkan kembali kegadis itu.”Saya ingin mbak …” Ali menggantungkan ucapannya.


“Saya Amora Aprillya, panggil saja Prilly pak.”ucap Prilly menyebutkan nama lengkapnya.


“Oiya Prilly, saya mau kamu antar bunga seperti ini setiap hari kamis. Soal uang nanti saya akan datang ke toko dan membayar semuanya.”ucap Ali dengan nada suara yang terdengar dingin. 


“Baik pak,”


“Pah Kesya mau bunga itu.” tunjuk Kesya pada bunga berwarna kuning yang tertata rapi pada keranjang Prilly. Sambil menunjuk, Kesya juga menggunakan satu tangannya untuk menarik – narik ujung kemeja papahnya.


“Nggak boleh sayang itu punya orang, kalau mau besok papah beli buat Kesya ya.” tegur Ali supaya Kesya berhenti meminta dan menarik ujung kemejanya, namun nihil Kesya malah semakin merengek.


Dengan memasang wajah sendu andalannya serta mata yang berkaca-kaca Kesya berucap, “Tapi Kesya mau bunga cantik itu pah.”


Prilly yang tak tega melihat Kesya seperti itu lalu mengambil satu tangkai bunga mawar berwarna kuning yang ada dikeranjangnya kemudian menyerahkan pada Kesya, "Ini buat kamu sayang, kakak kasih ini buat kamu. Jangan nangis ya, nanti cantiknya hilang loh.” ucap Prilly dengan senyum manisnya, Sedangkan Kesya menerima bunga itu dengan senang hati.


“Makasih kak Pirlly.” ucap Kesya dengan polosnya. Ia tak sadar jika salah menyebutkan nama Prilly, Prilly yang mendengar hanya tertawa. Memang banyak yang sering salah dalam menyebutkan namanya, karna menurut beberapa orang nama Prilly susah untuk diucapkan dengan benar.


“Kak Prilly sayang bukan kak Pirlly.” tegur Ali membenarkan ucapan Kesya.

__ADS_1


“Susah pah, Kesya bisanya panggil kakak Pirlly. Enggak apa-apakan kak Pirlly ?” ucap Kesya dengan pandangan yang tak lepas dari setangkai bungan mawar kuning ditangannya. Sepertinya kini tak ada objek yang lebih menarik dari bunga ditangannya


“Iya tidak apa-apa Kesya.”


“Yasudah terserah Kesya, Oiya Kesya suka tidak sama bunganya ? “ tanya Ali kepada Kesya yang masih asyik menatap bunga mawar ditangannya.


“Suka pah, Kesya suka warnanya. Warna kuning seperti warna kesukaan mamah. Pah Kesya mau bunga ini setiap hari, boleh tidak ?” ujar Kesya dengan tatapan meminta, Ali yang selalu memberikan apa yang Kesya maupun tak tega jika harus menolak keinginan putri kesayangannya.


“Boleh dong sayang, yasudah Prilly saya mau bunga mawar kuning ini dua tangkai setiap harinya dan buket mawar putih tiap hari kamis ya.” pinta Ali yang langsung dibalas anggukan oleh Prilly.


“Baik pak, mulai besok saya akan mengantar bunga pesanan bapak. Kalau begitu saya permisi dulu karena masih banyak bunga pesanan yang harus saya antar. Sayang, kak Prilly pamit dulu ya.” ucap Prilly pada Ali dan Kesya.


“Iya Kak Pirlly.” balas Kesya sambil melambaikan tangannya pada Prilly yang sudah berjalan meninggalkan halaman rumah Ali. Prillypun membalas lambaian tangan Kesya sebelum ia melajukan sepeda motornya.


Setelah Kesya menghilang dari balik pintu, Prilly melajukan motor maticnya meninggalkan pekarangan besar milik Ali. Ia mulai mengelilingi jalanan komplek untuk mengantar bunga – bunga segarnya. 


***


“Pah, kok kak Pirlly punya bunga cantik seperti ini ya? Apa kak Pirlly tanam sendiri?” ucap Kesya kepada Ali, kini mereka sedang bersantai di gazebo belakang rumahnya. Kesya yang duduk bersandar pada Ali dengan bunga mawar kuning ditangannya, sedangkan Ali memeluk Kesya sambil sesekali mencium pipi gembilnya.


“Kak Prilly tidak tanam sendiri sayang, kak Prilly beli bunga ini dari orang lain terus kak Prilly jual lagi deh. Kapan – kapan Kesya akan papah ajak ke toko bunga tempat kak Prilly bekerja ya, pasti Kesya suka karena disana banyak banget bunga yang cantik-cantik.” ucap Ali kepada Kesya,


 “Iya papah janji sama Kesya.”


“Asyik, Kesya sayang papah.”ucap Kesya lalu memeluk erat Ali.


“Papah juga sayang Kesya.”


Bagi Ali kebahagiaan Kesya adalah segalanya. Apapun akan ia lakukan untuk Kesya, walaupun nyawanya yang akan menjadi taruhan. Walaupun Ali selalu memberi apapun yang Kesya mau, tapi Ali tetap membatasinya, Ali tidak mau Kesya tumbuh menjadi gadis kecil yang manja.


Saat sedang asyik bermain dengan Kesya, seorang perempuan kira-kira berumur 60 tahun menghampiri Ali dan Kesya.


“Ali ini sudah jam 10 nak, katanya mau ke Kantor ?” ucap perempuan itu mengingatkan Ali,


“Oh iya bu Ali lupa. Kesya sayang, papah mau ke kantor dulu Kesya di rumah sama nenek ya?” ucap Ali lalu menurunkan Kesya dari pangkuannya,


“Siap pah, nanti jadikan pah ketemu mamah ?” tanya Kesya mencoba mengingatkan ajakan Ali tadi pagi.


“Jadi dong sayang, nanti papah pulang cepat dari kantor terus ketemu mamah deh.”

__ADS_1


“Asyik… ”ucap Kesya sambil meloncat kegirangan.


“Yasudah Kesya papah berangkat dulu ya, jangan nakal dan jangan bikin nenek capek.” perintah Ali kepada Kesya, walaupun Ali tau Kesya adalah anak yang pandai dan tidak mungkin membuat repot sang nenek. Namun Ali tak bosan untuk selalu mengingatkan Kesya, karna itu juga untuk kebaikan Kesya.


“Siap bos.”


“Bu Ali berangkat dulu ya bu, Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalah.” ucap Kesya dan Ibu bersamaan.


Setelah Ali menghilang dari balik pintu besar, sang nenek mengajak Kesya masuk kedalam rumah karena jam 10 adalah waktunya dia bermain sebelum tidur siang. 


***


Siang ini Prilly baru saja sampai ke toko bunga setelah berjam-jam berkeliling menganar bunga, dengan langkah gontai ia berjalan memasuki toko dan menjatuhkan badannya pada sofa empuk yang tersedia disana. 


“Huh capek banget.” ucapnya sambil merenggangkan otot-ototnya,


“Eh bu bos baru pulang, capek ya ?”t tanya gadis cantik dengan seragam yang melekat ditubuhnya.


“Iya nih Dil, mana panas lagi. Tapi seru sih.” ucapnya dengan senyum yang mengembang,


“Kalau saya jadi bu bos, saya mah mending duduk manis aja sambil ngawasin karyawan kerja, nah bu bos malah kelayapan nganter bunga.” ucap Dilla yang tak lain adalah sahabat kecil Prilly,


Sebenarnya Prilly bukanlah karyawan di Fresh Flowers, namun ia adalah pemilik toko bunga ini. Dulu saat ulang tahunnya yang ke20 orang tuanya sepakat memberikan toko bunga ini kepada Prilly, karena kedua orang tuanya sangat tau jika putri kesayangannya itu adalah pecinta bunga.


Setelah menyelesaikan kuliahnya, Prilly memutuskan untuk fokus kepada toko bunganya, ia juga sering memakai seragam Fresh Flowers dan juga mengantar bunga-bunga kepelanggan. Jadi tak heran jika banyak yang menyangka Prilly bukan pemilik toko ini namun hanyalah karyawan biasa.


“Itu kalau kamu, kalau saya sih enggak. Yaudah saya mau pulang dulu. Seperti biasa nanti kamu tutup tokonya ya.” pesan Prilly sambil beranjak dari sofa empuknya.


“Siap bu bos.” ucap Dilla sambil memberi hormat layaknya anak SMA yang memberi hormat pada bendera upacara.


“Stop panggil saya bu bos, panggil saya Prilly.” perintah Prilly. Entah sudah berapa puluh kali Prilly menegur Dilla untuk tidak memanggilnya bu bos, namun tetap saja Dilla memanggilnya dengan sebutan bu bos, padahal Prilly tidak suka dipanggil dengan sebutan itu.


“Bagusan bu bos, hahaha. Udah sana pulang.” ucap Della sambil mendorong sahabatnya itu.


“Iya Iya.” ucapnya lalu melangkahkan kakinya keluar dari toko bunga, namun baru saja ingin membuka pintu kaca itu Prilly berhenti melangkah dan membalikkan badannya.”Dill nanti kalau ada yang mau bayar bunga suruh telfon saya ya, namanya pak Aliandra.”perintah Prilly.


“Siap bu bos.”

__ADS_1


Kemudian Prilly melanjutkan melangkahkan kakinya menuju parkiran. Bukan motor matic  lagi yang akan dia kendarai untuk pulang kerumahnya, namun sebuah mobil sport berwarna merahlah yang akan ia kendarai.


__ADS_2