
Pagi-pagi sekali toko bunga ini sudah penuh dengan orang-orang, bukan untuk membeli ataupun memesan bunga, namun orang-orang yang sedang sibuk menyiapkan bunga-bunga pesanan AN Company.
“Asep tolong bawa bunga mawar merahnya kemobil ya.” perintah Prilly pada Asep, tanpa menunggu lama dengan bantuan Riki, Asep langsung mengangkat ember besar berisi puluhan tangkai mawar kedalam mobil.
Sedangkan Dilla dan Reno sedang menyiapkan bunga mawar berwarna putih serta kuning. Ya, mawar kuninglah pilihan Prilly untuk memenuhi pesanan AN Company, entah dari beberapa warna yang tersedia warna kuninglah yang menarik perhatian Prilly.
“Dilla nanti ikut aku ke AN Company ya, yang lainnya jaga toko.” ucap Prilly yang dihadiahi anggukan oleh semua karyawannya.
“Bos bunganya sudah siap nih, mau langsung berangkat sekarang atau nanti ?” tanya Dilla setelah semua bunga mawarnya siap. Sebelum menjawab Prilly mengamati semua bunga mawarnya dan berucap, "Sekarang saja mumpung masih pagi, nanti kalau kesiangan takut telat karna kejebak macet. Oiya Ren tolong bawa bunganya kemobil ya.”
“Siap bos.” Reno langsung mengangkat bunga-bunga itu kedalam mobil,
“Yuk Dill.” ajak Prilly seraya menyambar sebuah jaket dan tas selempangnya yang ia letakkan diatas meja kasir,
Dengan mobil bertuliskan “Fresh Flower” serta logo bunga besar pada samping mobil, Prilly siap mengantarkan bunga-bunga pesanan AN Company. Prilly memilih berangkat lebih pagi karna ia tahu bagaimana jalanan ibu kota, pasti akan sangat macet. Dengan kecepatan sedang Prilly mulai melajukan mobilnya membelah luasnya jalanan.
“Bos, kita mau ke AN Company ya?” tanya Dilla pada Prilly yang sedang sibuk menatap jalanan didepannya.
“Iyalah Dilla sayang, kan tadi udah dikasih tau, kenapa emang ?” jawab Prilly tanpa menolehkan kepalanya.
Bukannya menjawab, Dilla malah meraih ponselnya kemudian membuka sebuah aplikasi. Cukup lama Dilla mengotak-atik ponsel canggihnya, hingga kini ia berkata,
”Tuh kan bener dugaanku.” ucap Dilla membuat Prilly menatapnya aneh
“Bener ? yang bener apanya ?”
“AN Company itu sebuah perusahaan yang paling terkenal di Jakarta, terkenal karena kemajuannya dan pastinya terkenal karena pemilik perusahaannya.”
“Kalau kemajuannya wajarlah Dil, nah kalau pemilik perusahaannya kenapa ? dia masih saudaraan sama pak Jokowi ?”
“Bukan gitu, pemilik perusahaannya itu masih muda, ganteng, dan prestasinya itu bagus banget. Hampir semua cewek yang melihat dia itu pasti langsung terpesona deh. Masa bu bos tidak tau sih orangnya ?”
“Tidak.” jawab prilly singkat,
“Kayaknya pemilik perusahaannya tidak asing deh bos, aku pernah lihat dan kaya kenal juga dan kayaknya itu pernah datang ke toko deh bos.”
“Kenal ? kenal darimana ? jangan sok kenal deh. Kalau pernah datang ke toko masa iya sih ? kok gak tau ya aku.”
“Bos tau kok, tapi aku lupa deh sama orangnya, siapa ya ?” pikir Dilla sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuknya kepelipisnya,
“Ya sudahlah, nanti juga bakal tau orangnya kok.”
“iya juga ya.”
Mobil itu mulai melaju dengan kecepatan tinggi ketika jalanan mulai sepi, memutar music dengan volume sedang menjadi pilihan Prilly sekarang untuk menghilangkan kejenuhan. Jarak toko bunga dengan AN Company tak terlalu jauh, namun terkadang kemacetanlah yang membuat mobilnya harus berlama-lama dijalan.
***
Pagi yang cerah, duduk diatas sofa empuk dengan pemandangan padatnya kota Jakarta serta ditemani secangkir kopi panas membuat Ali enggan untuk beranjak dari zona nyamannya. Bersantai sejenak untuk menyegarkan otaknya sebelum kembali bergulat dengan berkas-berkas yang menunggunya.
Tangannya terulur untuk meraih secangkir kopi panas dan menyeruputnya pelan, terasa hangat diperut ketika kopi itu sudah mengalir melewati tenggorokan, saking nikmatnya Ali sampai menutup matanya. Namun, tiba-tiba mata Ali kembali terbuka ketika mendengar suara pintu yang terbuka.
Ali menolehkan kepalanya melihat siapa yang datang dan mengganggu santai paginya, ternyata Mira lah orangnya, dengan lipstick merah meronanya ia melemparkan sebuah senyuman pada Ali sehingga mau tak mau Ali harus membalas senyum.
__ADS_1
“Selamat pagi pak Ali.”
“Pagi juga.” jawab Ali dan berdiri menghampiri Mira yang masih berdiam didekat pintu.
“Ada apa Mir?”
Mira membuka buku kecilnya dan membacanya sejenak, menutupnya kembali dan berucap, "Maaf saya sudah mengganggu santai pagi pak Ali, saya cuma mau memberitahu kalau hari ini pak Ali tidak ada janji dengan tamu, pak Ali hanya ada tugas mengecek laporan yang masuk dan menandatanganinya."
“Terimakasih sudah memberitahu, sekarang kamu bisa kembali bekerja.”
“Baik pak, saya permisi dulu.” pamit Mira dan pergi meninggalkan ruangan Ali,
Sekarang, disebuah ruangan mewah ini hanya ada Ali seorang diri dengan tumpukan berkas-berkas yang menunggu untuk dijamahnya.
Dengan gaya coolnya Ali berjalan menghampiri meja kebanggaannya dan duduk pada kursi berputarnya, meraih satu persatu berkas-berkasnya dan mulai mengeceknya. Kalimat demi kalimat Ali baca dengan seksama, berharap supaya tidak ada kesalahan agar bisa cepat menyelesaikan semua pekerjaannya dan pulang untuk menemui peri kecilnya.
“Sabar ya sayang, papah akan selesaikan pekerjaan ini dan papah akan pulang.” guman Ali pelan, entah kenapa sejak kejadian kemarin Ali tak bisa lama-lama meninggalkan Kesya di rumah. Ingin Ali hanya satu, melakukan apapun agar Kesya bisa bahagia, namun bagaimana lagi pekerjaan tetap pekerjaan dan kewajiban tetap kewajiban, tak bisa ia meninggalkannya seenaknya.
1 jam …
2 jam…
3 jam…
4 jam berlalu, hingga akhirnya Ali menutup berkas terakhirnya. Berjam-jam ia duduk dengan mata dan otak yang bekerja membuatnya sangat lelah. Pulang dan berendam air hangat sepertinya pilihan yang tepat untuk mengilangkan letihnya.
“Mira…” teriak Ali dengan suara sedikit keras, tak lama datanglah Mira dengan senyum centilnya. Ruangan yang bersebelahan membuat Mira akan mendengar teriakan Ali saat memanggilnya.
“Iya pak, ada yang bisa saya bantu ?”
“Baik pak,”
Dengan menggulung sedikit lengan jasnya, Ali berjalan keluar ruangan meninggalkan Mira. Anak demi anak tangga Ali lewati, semakin ia berjalan kebawah semakin harum pula wangi yang ia cium.
“Wangi apa ini ?” guman Ali.
Ketika Ali menginjak anak tangga terlihat deretan vas berisi bunga mawar yang tertata rapi ditiap-tiap meja dan sudut ruangan, "Pantas saja baunya harum, ternyata karna mawar ini toh.” ucapan Ali yang bersamaan dengan berderingnya ponsel yang ada dikantong jasnya.
Dengan cepat Ali merogoh ponselnya dan melihat siapa yang menelfonnya, setelah tahu siapa orang yang menelfonnya tanpa menunggu lama Ali langsung menggeser layarnya untuk mengangkatnya,
“Hallo, Assalamualaikum.”
“…”
“Ini Ali sudah mau pulang, emang kenapa?”
“…”
“Apa ? sekarang juga Ali akan pulang.” ucap Ali panik, dengan cepat Ali melagkahkan kakinya, tak peduli dengan sapaan-sapaan yang diuapkan oleh karyawannya, yang terpenting adalah sekarang juga ia harus pulang dan cepat-cepat sampai rumah, dan saking paniknya Ali sampai menabrak seseorang.
Bruk…
Dua orang yang saling bertabrakan itu terpental masing-masing, Ali yang kaget dengan kejadian itu langsung berdiri dan membantu orang yang terpental karnanya.
__ADS_1
“Maaf saya tidak sengaja,” ucap Ali dan mengulurkan tangannya untuk membantu perempuan itu, namun perempuan itu masih menunduk dengan memegangi pantatnya yang terbentur lantai sedikit keras.
“Mas kalau jalan hati-hati dong.” ucap perempuan itu sambil menerima uluran tangan Ali dan berdiri.
“Ali…”
“Prilly…” ucap Ali dan Prilly secara bersamaan. Ternyata Prillylah perempuan yang Ali tabrak, tiba-tiba wajah panik Ali berubah menjadi merah seperti menahan amarah membuat Prilly bingung menatap wajah tampan Ali.
“Pak Ali kok disini ?” tanya Prilly,
“Saya disini karena saya pemilik perusahan ini, seharusnya saya yang harus bertanya kenapa kamu ada disini.” jawab Ali dengan nada ketusnya.
“Saya sedang mengantar sekaligus menata mawar-mawar pesanan AN Company pak.” jawab Prilly,
“Oh mugkin karena bayaran disini sangat mahal jadi kamu mengambilnya dan menelantarkan pesanan yang lainnya ?” ucap Ali dengan menahan amarahnya membuat Prilly dilanda rasa bingung.”Maksud pak Ali apa ya, saya tidak mengerti ?”
“Masih belum jelas, demi UANG kamu rela menelantarkan pelanggan !”
“Menelantarkan ? maaf, saya tidak pernah menelantarkan pelanggan saya, saya selalu melayani pelanggan saya, dan saya selalu memberikan yang terbaik untuk pelanggan saya. Dan maaf, apakan ada kesalahan untuk mawar yang saya bawa kesini sehingga anda bisa berkata seperti itu?” ucap Prilly tak kalah ketus membuat satu persatu karyawan yang melintas berhenti sejenak menyaksikan dua orang yang saling beradu mulut itu.
“Tidak ada yang salah pada bunga yang kamu bawa kesini, namun salahnya pada bunga yang ada di tokomu!”
“Di toko saya? Apa masalahnya ?”
“Ya, di tokomu itu ada beberapa tangkai mawar milik seseorang yang belum sampai pada pemiliknya itu sehingga membuat pemiliknya itu menunggu lama!”
“Seseorang?” lagi-lagi Prilly tak mengerti arah pembicaraan Ali, senyum yang biasa ia tampilkan kini berubah menjadi wajah yang garang.
“Sangat susah ternyata berbicara dengan anda, saya perjelas lagi kalau beberapa tangkai bunga yang ada di tokomu itu milik gadis kecil yang belum kau antar, dan kau tau apa ? akibat hal itu gadis kecil yang menunggu beberapa tangkai mawar dari tokomu itu menangis seharian.”
“Gadis kecil ? menangis seharian ?"
“Kau tak lupakan untuk mengantar beberapa tangkai mawar untuk gadia kecil itu SETIAP HARI ?”
Kini Prilly tau maksud Ali. Kesyalah gadis kecil yang Ali bicarakan, ada apa emang ? kenapa dia menangis seharian ? apa maksudnya ?
Astaga !
Prilly menepuk jidatnya, ”Kemarin aku lupa mengantar mawar kuning ke Kesya.”
Ali tersenyum sinis mendengar ucapan Prilly, ”Sudah mengerti sekarang, kamu tau kan pembeli itu adalah raja ?”
“Maaf, kemarin saya terlalu sibuk menyiapkan bunga pesanan perusahaan pak Ali jadinya saya lupa.” sesal Prilly.
“Semua sudah terlambat, kamu pernah dengarkan waktu saya berucap kalau saya paling benci melihat putri kesayanan saya menangis, apalagi seharian . Saya rasa pasti kamu akan lupa untuk mengantar bunga mawar itu kegadis kecil itu hari ini!”
“Maaf pak, sumpah saya tidak bermaksud untuk membuat Kesya menangis seharian, saya benar-benar lupa. Saya hanya manusia biasa yang tak luput dari kata lupa pak,” ucap Prilly dengan nada penuh penyesalan,
“Semua sudah terlambat, maaf saya tidak punya banyak waktu.” ucap Ali lalu meninggalkan Prilly yang masih berdiam ditengah kerumunan, kerumunan para karyawan yang menyaksikan atasannya beradu mulut dengan seorang penjual bunga. Seperginya Ali, banyak karyawan yang menatap aneh pada Prilly bahkan adapun yang mencibirnya, sedangkan Dilla hanya mampu menatap bosnya itu dengan tatapan sendu, ingin rasanya ia membantu bosnya itu tapi ia takut dengan situasi itu.
Setelah kerumunan itu tak ada lagi Dilla menghampiri Prilly, "Maaf bos, Dilla tidak bisa bantu bos tadi.”
“Kamu telfon Asep dan Reno suruh kesini, Aku harus temui Kesya sekarang juga.” ucap Prilly lalu pergi tanpa menunggu jawaban Dilla terlebih dahulu.
__ADS_1
Kini pikiannya benar-benar kacau, ini salahnya dan ia juga yang harus menyelesaikannya.