Dari Bunga Turun Ke Hati

Dari Bunga Turun Ke Hati
Surprise


__ADS_3

POV Prilly


Tidurku terusik karena suara aneh di luar sana, aku menggapai ponselku dan melihat jam. Pukul 23.40 tengah malam. Aku mengucek mataku kemudian menyibak selimutku, samar-samar terdengar suara dari arah dapur.


"Siapa sih jam segini, apa mungkin ibu?" aku membuka pintu kamar perlahan dengan senter ponsel sebagai penerangan.


Jujur tiba-tiba saja aku merinding dan takut, aku berjalan mengendap-endap ke arah dapur. Saat melewati kamar ayah dan ibu terlihat sangat gelap, mungkin sudah tertidur pikirku. Aku memberanikan diri mendekat ke dapur, cemas-cemas berharap agar tidak ada apa-apa disana.


"Siapa sih itu?" jantungku berdegub kencang ketika melihat seseorang di dapur, dengan penerangan yang minim aku hanya dapat melihat punggungnya. Terlihat seseorang itu sedang sibuk dengan sesuatu di depannya.


Aku meraih sapu yang terletak dipojokan, perlahan mendekat dan mendekat. Takut jika itu orang jahat yang mau mencuri.


"Siapa kamu." ucapku bersamaan dengan menyalakan lampu,


Orang itu berbalik dan terkejut, begitupun aku.


"Ayah..." ucapku ketika orang itu berbalik,


"Prilly kira siapa," aku menaruh sapu itu sembarangan, sedangkan ayah hanya tersenyum cengengesan.


"Ayah ngapain sih brisik banget." aku berjalan dan duduk dikursi makan, menopang dahu ku dengan kedua tangan.


"Ayah laper Prill." jawab ayah,


Duh bikin takut saja ayahku, ini mimpi atau bukan sih.


"Prilly itu ngantuk yah, denger berisik jadi kebangun. Prilly samperin sambil nahan takut coba, takut kalau ada penjahat masuk." adu ku sambil sesekali terpejam,


"Haha maaf sayang, ayah tidak tahu kalau suaranya sampai kamar kamu."


"Masak apa sih ayah." aku beranjak dan melihat apa yang dimasak ayah, baru dua langkah ayah sudah menghentikan aku.


"Kamu kembali ke kamar saja Pril." suruh ayah, aku menatap ayah bingung, kenapa ayah jadi gugup seperti itu. Aku hanya ingin tau apa yang ayah masak, itu saja.


"Prilly bantuin ya yah."


"Tidak usah Prill, ayah bisa sendiri kok." jawab ayah semakin gugup,


"Ayah kenapa gugup sih?"

__ADS_1


"Eh enggak kok, ayah biasa saja." elak ayahku,


Aku mundur dan kembali duduk, sambil sesekali menatap ayah bingung.


"Sana tidur lagi Prill, masih ngantuk kan?" usir ayah padaku,


Aku menggeleng dan menelungkupkan kepalaku diatas meja. Rasanya malas sekali untuk kembali ke kamar, lagian nanggung juga sudah sampai dapur.


"Sana Prill, malah tidur disini." lagi-lagi ayah mengusirku,


"Prilly temani ayah." jawabku sambil sesekali memejamkan mata,


"Sudah sana kembali ke kamar." suruh Ayah dan aku hanya diam tidak menjawab.


Aku menegakkan tubuhku, berniat untuk mengambil segelas air untuk ku minum, rasanya sangat haus sekali.


Baru berdiri tiba-tiba ada seseorang yang menutup mataku dari belakang, aku berontak melepaskan tangan ini dari wajahku namun sayang, tangan ini terlalu kuat untuk aku.


"Lepasin, ayah jangan bercanda deh sama Prilly. Lepasin yah." aku terus memberontak,


"Ini siapa sih, tolong lepasin."


"Ayah... ayah dimana... ini siapa sih?" aku berteriak mencari ayah,


Perlahan tiba-tiba tangan ini mulai terbuka, aku mendengus kesal karena itu.


"Siapa sih, bik... " ucapanku terpotong ketika melihat sesuatu di depanku, aku menutup mulut tidak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang.


"Kalian." ucapku dengan mata berkaca-kaca,


"Selamat ulang tahun anak ayah." ucap ayah dengan kue berbentuk doraemon ditangannya,


"Selamat ulang tahun anak ibu." ucap ibu yang muncul dari belakangku,


Tanggal berapa ini, apa hari ini aku ulang tahun. Sungguh aku sangat lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunku.


"Ditiup dong lilinnya." suruh ayah padaku, aku masih terdiam tidak percaya dengan apa yang terjadi sekarang. Aku sangat bahagia mendapat kejutan ini, walaupun dengan cara yang tidak biasa.


Aku mendekat pada ayah dan meniup lilin itu, sungguh rasanya sangat bahagia sekali.

__ADS_1


"Ayah ibu." aku menatap ayah secara bergantian,


"Maafkan ayah dan ibu Prill, karena kami sudah memberikan kejutan dengan cara yang kurang mengenakkan."


"Ya habis kamu menggagalkan acara ayah dan ibu." ucap ayah sedikit mencibir,


"Terima kasih ayah dan ibu sudah ingat ulang tahun Prilly, bisa bersama seperti ini saja Prilly sudah bahagia yah. Prilly tidak butuh kue ulang tahun, Prilly tidak butuh kado, Prilly hanya butuh ayah dan ibu. Prilly ingin kita bisa selalu bersama." tak terasa air mata mulai menetes membasahi pipiku,


"Sama-sama sayang, Bismillah kita akan selalu berkumpul bersama." ibu memelukku, aku menangis dalam pelukan ibu. Sungguh aku bersyukur diberi orang tua yang sangat sayang padaku, sungguh aku sayang mereka.


"Ayah berdoa semoga Prilly menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya, jadi anak sholeha, makin sukses usahanya, dilancarkan rezekinya, dipermudahkan segala urusannya, dan pastinya semoga Prilly cepat berkeluarga." sungguh aku terharu dengan doa ayah, namun seketika aku menatap ayah tajam ketika ayah berdoa agar aku cepat berkeluarga.


"Ayah... Prilly sayang ayah." kini aku beralih memeluk ayahku, ayah yang selalu memanjakan aku.


"Terima kasih atas doa ayah dan ibu, Bismillah Prilly akan lebih baik kedepannya, Prilly akan berusaha sekuat mungkin untuk membahagiakan ayah dan ibu. Prilly ingin ayah dan ibu bangga memiliki Prilly."


"Kami sudah bangga memiliki kamu Prill, kamu anak yang hebat."


Aku tidak menyangka jika kedatangan kami ke Malaysia akan seperti ini. Banyak sekali kebahagiaan yang terjadi disini, salah satunya bisa merayakan ulang tahun bersama dengan ayah dan ibu. Mengingat 2 tahun berturut-turut aku hanya bisa merayakan bersama ibu, berdua.


Bagiku ini adalah ulang tahun terindahku, dengan usia yang genap 23 tahun aku bisa merayakan bersama keluargaku, memiliki usaha yang semakin maju, memiliki orang spesial dalam hidupku, dan pastinya aku dikelilingi orang-orang yanh baik.


"Cepat nikah Prill, biar ayah cepat punya cucu." ucap ayahku,


"Ahh ayah ganggu momen spesial Prilly."


"Haha... iya Prill, ibu juga setuju." balas ibu membela ayah,


"Tanpa ayah dan ibu minta pun kalau sudah waktunya pasti Prilly akan menikah. Tunggu saja, jodoh Prilly masih ada di tangan Allah." jawabku dengan senyuman,


"Lebih cepat lebih baik Prill." balas Ayah,


Kita sebagai manusia hanya bisa merencanakan, soal menentukan itu tugas Allah. Jadi jalani saja apa yang ada, jangan terlalu berharap, karena Allah tau yang terbaik untuk kita.


"Kita ikuti saja alur Allah, Allah punya rencana yang indah untuk Prilly." ucapku,


"Bismillah ya Prill."


"Potong kue nya Prill." pinta ayah,

__ADS_1


"Aaa... jangan, sayang doraemonnya kalau dipotong." ucapku membuat ayah dan ibu tertawa bersamaan.


__ADS_2