Dari Bunga Turun Ke Hati

Dari Bunga Turun Ke Hati
Panik (2)


__ADS_3

Dilla terus saja mengotak-atik ponselnya, mencoba menghubungi seseorang namun nomor yang dihubungi tidak aktif.


Hari sudah semakin gelap, namun orang yang ditunggu pun belum juga memberi kabar. Seharian semua karyawan dibuat panik dengan menghilangnya seseorang.


"Sudah ada kabar ?" Asep bertanya pada Dilla yang masih sibuk dengan ponselnya,


"Belum, ini tidak biasanya nomornya tidak aktif, kemana sebenarnya ? aku takut." Dilla terlihat frustasi, entah sudah berapa puluh bahkan ratus kali Dilla mencoba menghubunginya namun hasilnya tetap sama,


"Pulang nanti kita cek ke rumahnya, siapa tau ada di rumah. Bagaimana ?"


"Boleh juga Sep, yakin aku khawatir banget ini. Biasanya itu kalau ada apa-apa selalu bilang, tapi sekarang jangankan memberi kabar nomor saja tidak bisa dihubungi." gerutu Dilla,


"Nanti toko tutup langsung kesana, aku mau beresin bunga dibelakang dulu." Asep berlalu meninggalkan Dilla yang masih sibuk dengan ponselnya sambil terus mencari-cari informasi.


Hari semakin gelap, toko juga sudah terliat semakin sepi, menutup toko sepertinya pilihan yang tepat. Dilla beranjak dari kasir, menghampiri pintu dan membalikke tulisan yang awalnya open menjadi close. Dilla membantu Asep dan lainya untuk membereskan toko, terlihat toko yang biasanya dipenuhi dengan bermacam-macam bunga kini hanya tinggal beberapa bunga saja yang menghiasi. Terlihat sepi.


Tok tok tok....


Pintu kaca itu diketuk, Dilla menatap heran bayangan orang itu, jelas-jelas tulisan dipintu sudah tertulis jika toko sudah tutup namun masih saja ada pembeli yang datang, apa dia tidak bisa baca?


Dengan sedikit malas Dilla membuka kan pintu, "Maaf toko sudah tut... "


"Dimana Prilly ?" tanya pembeli itu, bukan pembeli tapi lebih tepatnya Ali dengan Kesya yang berada digendongannya. Terlihat mata serta hidung Kesya yang memerah seperti habis menangis.


"Pak Ali," ucap Dilla sedikit gugup,


"Dimana Prilly ?" tanya Ali lagi,


"Maaf pak kami semua tidak tahu dimana bu bos, sejak tadi pagi bu bos tidak pergi ke toko. Saya sudah menghubunginya, mencari informasi kesana-kemari tapi tidak ada yang mengetahui dimana bu bos." keluh Dilla,


"Kak Pirlly." guman Kesya,


"Iya sayang kita cari kak Prilly," Ali mengusap punggung Kesya lembut, sejak siang Kesya duduk menunggui Prilly, namun sampai langit mulai redup Prilly tak kunjung datang. Ali yang baru pulang dari kantor disuguhkan dengan pemandangan yang sangat tak enak pun menjadi sedikit geram. Ali berpikir Prilly tidak bisa diandalkan dalam perkataannya, lagi-lagi membuat Kesya menunggu dan menangis.

__ADS_1


"Maaf pak Ali hari ini saya tidak bisa mengantarkan bunga pesanan bapak, toko sangat ramai sedangkan stok bunga mulai menipis dan bu bos pun menghilang tidak ada kabar. Maafkan saya pak." ucap Dilla merasa tak enak,


"Kemana sebenarnya Prilly ? seharian ini dia tidak menghubungi saya ?" Ali mulai ikut panik,


"Tidak menghubungi anda ? malah saya berpikiran kalau bu bos memberitahu pak Ali kemana bu bos pergi karna pak Ali kan orang spesial bu bos."


"Dia tidak memberi tahu saya, sepulang kerja Kesya kembali menangis karena bunga pesananya tidak diantarkan, saya mengira dia terlalu sibuk sampai dia lupa dengan janjinya, jadi saya putuskan untuk mengajak Kesya kesini."


"Begini pak, setelah toko tutup saya dan Asep akan pergi ke rumah bu bos, saya takut kalau ada apa-apa pak."


"Saya ikut." ucap Ali cepat,


Sambil menunggu Dilla dan lainnya beberes, Ali mengajak Kesya berkeliling toko. Menenangkan Kesya dengan bunga-bunga yang tersisa.


Tak selang beberapa menit toko sudah beres, Dilla dan Asep berboncengan menaiki sepeda motor menuju rumah Prilly sedangkan Ali mengemudiakan mobil hitamnya dibelakang Dilla.


Kini mereka sudah memasuki kawasan sebuah perumahan, rumah-rumah besar nan tinggi berderet rapi memperlihatkan bahwa pemiliknya adalah orang yang berpunya.


Asep menghentikan sepeda motornya didepan rumah besar dengar pagar besi berwarna emas. Sedankan Ali memarkirkan mobilnya dipinggir jalan. Dengan cepat Asep dan Dilla menghampiri pos satpam yang terletak di samping rumah berpagar emas itu.


"Kita tanya satpam saja," ucap Ali,


"Permisi pak, selamat malam." Asep mengetuk pelan jendela pos satpam itu, tak lama laki-laki dengan seragam satpamnya keluar menghampiri mereka


"Selamat malam mas, ada yang bisa saya bantu ?" tanya satpam ramah,


"Saya mau tanya, kira-kira mba Prilly pemilik rumah oni ada di rumah tidak ya pak ?"


"Oh mba Prilly, tadi pagi saya lihat ada mobil datang kesini jemput mba Prilly dan ibu Lia. Sekilas saya meliat mereka membawa koper dan tas, mereka terlihat sangat buru-buru. Kalau tidak salah mereka pergi ke Malaysia mas."


"Ke Malaysia ? ada apa pak ?" tanya Ali cepat,


"Kalau ada apanya saya kurang tahu pak, maaf."

__ADS_1


"Baik pak terima kasih," satpam itu mengangguk dan masuk kembali kedalam pos.


Ke Malaysia ? ada apa ? Kenapa ? kerpergian Prilly yang tanpa kabar membuat semuanya panik dan berpikiran yang tidak-tidak.


Pikiran Ali kemana-mana, tak lagi memperdulikan Kesya yang seharian mencari Prilly tapi kini pikirannya melayang kemana-mana memikirkan kemana perginya Prilly.


"Ke Malaysia ? apa ada hubunganya dengan on Andi ?" guman Dilla pelan,


"Pak Ali kita cari tahu tentang bu bos besok saja, sepertinya bu bos pergi ke Malaysia menghampiri ayahnya." jelas Dilla,


"Prilly bilang ayahnya akan pulang beberapa minggu lagi."


"Saya juga tidak tahu pak, setahu saya Prilly belum pernah pergi Ke Malaysia menghampiri ayahnya. Karena setiap beberapa bulan sekali ayahnya yang akan pulang menemui Prilly dan ibunya."


"Setahu saya juga begitu."


"Semoga tidak terjadi apa-apa pak, positif thingking aja Prily lagi sibuk atau mungkin tidam ada sinyal." ucap Dilla,


"Amin, semoga saja."


"Sekarang kita pulang dulu aja pak, kasihan anak bapak. Sudah semakin malam, kasihan kalau dia harus lama-lama tidur dalam mobil." ucap Asep,


"Beritahu saya jika kalian mengetahui kabar tentang Prilly, apapun itu." ucap Ali dengan tegas,


"Baik pak, saya akan mengabari anda."


Ali pamit dan berlalu dari tempat itu, menghampiri mobil hitamnya dan mengemudikanya pergi meninggalkan perumahan ini.


Setidaknya dia tahu dimana Prilly pergi, ya walaupun dia tidak tahu ada masalah apa.


Hati Ali sedikit lega, namun hanya sedikit. Selebihnya masih dihantui rasa penasaran dan kekhawatiran dengan menghilangnya Prilly.


"Semoga kamu baik-baik saja Prill, aku khawatir sama kamu. Aku takut kehilangan kamu." ucap Ali lemas,

__ADS_1


"Kesya kalau ketemu kak Prilly dalam mimpi bilang sama kak Prilly kalau papah khawatir, papah nyari kak Prilly, papah nunggu kabar kak Prilly." Ali berbicara sendiri sambil mengusap lembut kepala Kesya yang tertidur pulas disampingnya.


__ADS_2