
1 menit berlalu,
2 menit,
Dan tiba-tiba saja ......
"Lo berdua ngapain sih, daritadi gue perhatiin lirik-lirik manja, tatap-tatapan syahdu, aneh lo berdua."ucap Kevin spontan membuat Ali dan Prilly saling gelagapan, sedangkan Alex diam dan menatap tak suka kearah Ali.
"Egh...enggak kok, apaan sih Vin."ucap Ali terlihat gugup sedangkan Prilly menunguk., padahal mati-matian ia berusaha bersikap senormal mungkin namun rasa gugup ini masih ada.
"Lah gugup, Aneh banget lo Li. Sumpah dah lo berdua aneh banget, seaneh hubungan kita, eaaaa"
"Eh maaf, aku mau ketoilet bentar."pamit Prilly lalu pergi meninggalkan tiga pria itu dan mengelilingi ruangan ini untuk mencari toilet, sungguh sulit memang karena ruangan ini yang terlalu luas dan sangat ramai. Setelah cukup lama akhirnya Prilly menemukan toilet, dengan tergesa-gesa Prilly masuk kedalam dan menutup pintu.
Prilly berdiri sambil bersandar pada tembok, menatap dirinya dari pantulan cermin didepannya.
"Ash lo bodoh Prill, lo *****, lo ****** banget Prill, bisa-bisanya lo natap Ali. Bodoh banget lo Prill, lo malu-maluin Prill."gerutu Prilly pada dirinya sendiri.
"Ok, lupakan kejadian tadi Prill, anggap lo enggak pernah lakuin hal itu, enggak pernah ngalamin kejadian itu, tenang Prill tenang."Prilly menarik nafas panjang lalu menghembuskan pelan, kini yang harus ia lakukan adalah menenangkan dirinya dan menetralkan hatinya.
Dengan mengucap Bismillah Prilly keluar kamar mandi dan kembali kemeja dimana Ali, Alex, dan Kevin berada. Dari jauh terlihat seperti ada yang kurang dalam meja itu, kira-kira apa ? semakin dekat Prilly melangkah semakin jelas pula yang ia lihat. Dan benar, dia menghilang, kemana dia ? Prilly mengedarkan pandangannya mencari sosok itu, sosok yang berhasil membuat jantungnya bertetak kencang saat disampingnya.
"Maaf lama."ucap Prilly membuat Alex dan Kevin yang sedang bercengkrama menoleh bersamaan.
"Kirain nyasar Prill, lama amat."
"Hhe iya Vin, tadi emang lama nyari toiletnya."jelas Prilly dengan sedikit kekehan.
"Loh Ali kemana ?"tanya Prilly,"Tadi dia dapat telfon dari seseorang eh habis itu dia pamit pulang dengan wajah panik-panik gimana gitu,"
"Panik ? panik gimana ?"
"Ya kamu bayangin aja deh Prill, gimana kira-kira wajah panik itu. Udah sini duduk lagi, habisin makanannya."suruh Alex sambil menepuk kursi disampingnya.
Prilly mulai bergerak dan menempelkan pantatnya pada kursi, duduk terdiam tanpa menggubris obrolan dua laki-laki itu, pikirannya kembali melayang, mencoba mencernya ucapan Kevin barusan. Telfon ? Seseorang ? Panik ? siapa yang terlfon, dan siapa seseorang itu ? dan kenapa dia panik ? Ash kenapa hati ini tiba- tiba tak tenang.
Ting
Ting
Ting
Ponsel Prilly berbunyi bertanda ada sebuah pesan untuknya, dengan cepat Prilly meraih ponselnya dan mengecek pesan apa dan siapa pengirimnya.
__ADS_1
Ibu
Prill acaranya sudah selesai belum ? cepet pulang ya sayang, ini sudah malam lo Prill. Hati-hati dijalan, ibu tunggu.
Oh, ternyata sang ibu, Prilly kira Ali.
"Lex, Vin, aku pamit pulang duluan ya, ibu tadi kirim pesan suruh aku pulang karena ini sudah terlalu malam."
"Yaudah aku anterin kamu pulang."jawab Alex cepat,
"Eh enggak usah, aku bi..."
"Enggak ada penolakan."ucap Alex cepat,"Bro gue duluan ya."pamitnya pada Kevin.
"Iya, hati-hati ya Prill, awas lo digigit monster."canda Kevin membuat Prilly tersenyum tipis.
"Suek lo, ayo Prill."
Dengan mobil sport berwarna hitam Alex mengantar Prilly sampai rumah dengan selamat tanpa ada luka ataupun lecet sedikitpun ditubuhnya.
"Makasih ya Lex."ucap Prilly setelah turun dari mobil.
"Iya sama-sama, salam ya buat ibu dari Alex."ucapnya dengan tampang sok imutnya.
"Iya iya nanti aku salamin, yaudah kamu hati-hati."ucap Prilly dengan lambaian tangan dan perlahan mobil itu menghilang dari hadapannya
***
Aroma harum mulai tercium semerbak ketika kaki jenjangnya melangkah memasuki sebuah ruangan, kehadirannya disambut oleh puluhan jenis bunga yang ada. Satu persatu tangkai mawar ia ambil dari tempatnya dan memindahkannya pada keranjang ditangan kirinya.
Dalam pikirannya terlintas sebuah ide, Prilly merogoh ponsel dikantong celananya lalu membuka aplikasi kamera. Berfoto dengan berbagai jenis bunga cantik ini sepertinya hal yang bagus.
Cekrek
Cekrek
Satu persatu foto telah tersimpan dimemori ponselnya, jari mungilnya menggeser satu persatu foto dan memilih salah satu foto terbaiknya untuk diupload diakun instagram miliknya.
Love is the only flower that grows and blossoms without the aid of the seasons.
( Cinta adalah satu-satunya bunga yang dapat tumbuh dah berbunga tanpa bantuan musim )
Itulah caption yang Prilly tulis kemudian memasukkan kembali ponsel kedalam kantong celananya.
__ADS_1
"Bu bos ceria sangat deh pagi ini, kenapa nih mencurigakan pake banget."ucap Dilla yang baru datang.
"Ish ngagetin aja sih, kayak jin aja tiba-tiba nongol disini. Mau ngapain ?"
"Lah mau ambil bunga lah bu bos masa iya mau senam zumba, haduh gini nih kalau udah kenal cinta , yang diinget cuma cintanya yang lainnya mah dilupain."
"Apalo"ucap Prilly sambil melotot membuah Dilla terkekeh geli melihat tingkah bos sekaligus sahabatnya itu.
"Tadi siapa yang suruh Dilla buat bungkusin bunga ? yang suruh Dilla buat nunggu dikasir, yang suruh Dilla buat..."
"Stop, nih bungkusin."Prilly memotong ucapan Dilla dan menyerahkan keranajang yang dipegangnya dan pergi berlalu dari hadapan Dilla membuat Dilla kembali terkekeh, "Gini nih kalau orang lagi kasmaran, yang salah siapa yang disalahin siapa."Dilla melangkah meninggalkan ruangan ini, sekarang dia harus cepat melaksanakn perintah bosnya itu kalau tidak mungkin dia akan digantung dipohon toge kali. Efek cinta mungkin yang membuat Prilly semakin labil dibuatnya.
***
Bulan sudah berganti matahari namun laki-laki itu belum juga memejamkan matanya, semalaman berjaga membuat ia rela menahan kantuk, ia tak peduli dengan kantung mata yang menghitam, yang ia pentingkan adalah kesehatan putrinya.
Sejak tadi malam suhu tubuh Kesya sangat panas, tubuhnya menggigil dan terus saja merancau menyebut nama Ali bahkan nama sesorang. Pulang dari acara tadi malam Ali sangat panik Karena saat Ali pergi Kesya masih sehat bahkan sangat ceria. Obat dan antibiotik yang diberikan dr. Hendrick belum juga bereaksi dalam tubuh Kesya membuat Ali semakin khawatir.
"Dingin..."Kesya terus saja merancau kedinginan membuat Ali tak tega melihatnya, jaket, kaos kaki, pakaian tebal serta selimut bulu telah Kesya gunakan namun sepertinya tak mempan untuk tubuh Kesya. Ingin rasanya Ali membawa Kesya ke rumah sakit agar Kesya mendapatkan perawatan khusus namun apalah daya Kesya tidak mau, Kesya selalu berkata, "Kesya enggak mau ke rumah sakit, rumah sakit serem."
"Sayang kita ke rumah sakit ya biar cepat sembuh, nanti kalau sudah sembuh papah ajak jalan-jalan deh kemanapun sesuka Kesya."bujuk Ali, namun hasilnya masih tetap sama.
"Li kamu kasih Kesya makan dulu,biar ibu telfon dr. Hendrick."Rosa datang membawa nampan berisi bubur serta segelas susu hangat untuk Kesya.
Rosa menyerahkan nampan itu pada Ali dan pergi berlalu dari kamar Kesya, "Iya bu."
"Kesya makan dulu yuk, lihat nenek bikin bubur sama susu buat Kesya, pasti Kesya laper kan dari tadi malam belum makan."ucap Ali sambil mengarahkan sendok berisi bubur kemulut Kesya.
"Enggak."ucap Kesya dengan suara paraunya membuat Ali kembali menghela nafas pasrah. Sekeras apapun usahanya jika Kesya berkata "Enggak" pasti akan nihil hasilnya.
Tiba-tiba terdengar suara derap langkah yang semakin keras, tak lama Rosa kembali lagi dan berucap"Li, ada yang nyari diluar."ucap Rosa membuat Ali mengerutkan dahinya.
"Siapa bu ? penting enggak, kalau enggak bilang aja Ali lagi sibuk."jawab Ali kembali menatap wajah pucat Kesya.
"Temui dulu biar ibu yang jaga Kesya."
"Tapi bu..."
"Temui dulu."ucap Rosa lagi membuat Ali menghela nafas. Siapa yang datang ? sepenting apakah untuk Ali, batin Ali berbicara.
Dengan rasa malas Ali berjalan menuruni anak tangga, semain jauh ia melangkah semakin penasaran pula pikirannya.
Tangan Ali terulur memegang gagang pintu berwarna emas itu, lalu menariknya dengan pelan,"Selamat pagi sayang."ucap perempuan itu dengan ceria ketika pintu sudah terbuka membuat Ali terperangah, apa maksudnya ? sayang ?
__ADS_1
Ali makin kuat menarik gagang pintu itu membuat pintu terbuka lebar dan menampakkan seoraang perempuan yang memanggilnya dengan sebutan sayang itu. Dia ? apa maksudnya memanggil Ali denga sebutan sayang.
"Loh kamu..."