
Disebuah ruang keluarga tampaklah gadis kecil yang sedang duduk meringkuk sambil bersandar didada seorang perempuan, seperti bayi yang sedang meringkuk dipelukan sang ibu. Dengan penuh kasih sayang perempuan itu mengelus lembut kening gadis kecil itu membuat gadis kecil itu semakin nyaman didekapannya. Sedangkan seorang laki-laki disampingnya menatap bahagia gadis itu.
Pemandangan ini yang ia dampakan sejak dulu, melihat anaknya bahagia dan mendapat kasih sayang yang cukup.
Ya, Kesya lah gadis kecil itu, tadi saat Ali dan Prilly menghampiri Kesya di kamarnya mereka dibuat terkejut oleh keadaan Kesya. Dengan posisi duduk Kesya sedang meminum segelas air putih yang tersedia. Wajah yang tadi terlihat pucat telah berubah, sepertinya Prilly adalah obat paling mujarab untuk Kesya, eh bukan, maksudnya perhatiannya atau mungkin obat dari dr. Hendrick.
"Kesya beneran udah sembuh? Bobok dikamar aja yuk sayang, disini dingin"Prilly bertanya pada Kesya yang masih nyaman dalam dekapannya, "Sudah."jawabnya singkat.
Tiba-tiba sebuah tangan kekar terulur untuk memegang kening Kesya,"Masih panas kok."ujar Ali membuat Kesya melirik.
"Kesya sudah sembuh kok, Kesya sudah minum obat, Kesya udah diperiksa om dokter."kekeh Kesya membuat Prilly tersenyum.
"Iya Kesya sudah sembuh, tapi Kesya harus tetap makan yang banyak terus obatnya jangan lupa diminum biar Kesya sehat, kuat, dan enggak sakit lagi kayak gini."ucap Prilly yang dihadiahi anggukan oleh Kesya.
Suasanya kembali sunyi, yang terdengar hanyalah suara dari benda pipih didepan mereka yang sedang menampilkan acara musik. Tak ada yang bicara dan tak ada yang memulai pembicaraan.
Ting ting ting...
Ponsel Prilly berdering, dengan posisinya yang mendekap Kesya membuat Prilly sedikit kesusahan Prilly merogoh ponsel yang ada disaku jakenya. Dia melihat siapa penelfonnya dan kemudian mengangkatnya,
"Hallo"
"..."
"Lagi di rumah temen, gimana emang ?"
"..."
"Em bisa, tapi aku harus minta izin dulu sama ibu."
"..."
"Jadi kamu sekarang lagi dirumah?"
"..."
"Yaudah kalau ibu udah kasih izin, kita berangkat."
"..."
"Ok, sampai ketemu."
__ADS_1
Prilly mematikan ponselnya dan kembali mengantonginya,
"Siapa Prill? Kayaknya penting gitu,"Ali bertanya ketika melihat sedikit perbedaan diraut wajahnya,
"Alex,"jawab Prilly sedikit ragu.
"Oh, pasti dia nyariin kamu ya?"
"Iya, dia ngajak pergi."
"Oh kalau kamu memang mau pergi silahkan saja, eh bukan bermaksud ngusir ya, aku cumn gak mau aja karna kamu kelamaan disini entar Alex marah sama kamu,"ucap Ali tak enak hati.
"Kenapa harus marah ?"Prilly sedikit bingung dengan ucapan Ali. "Ya aku gak mau ngerusak hubungan kalian aja, jangan sampai dia ngira kalau kita ada sesuatu."ceplos Ali membuat Prilly sedikit tersenyum.
"Dia temen aku, aku dan Alex hanya masa lalu dan enggak mungkin jadi masa depan."
"Kenapa?"
"Alex mantan aku dan kita sekarang sahabatan, aku anggap Alex kakak aku, teman aku, sahabat aku dan sebaliknya."jelas Prilly membuat Ali tersenyum dalam hati, penjelasan Ali membuat hatinya sedikit tenang.
"Kirain pacar kamu,"
Prilly beralih menatap Kesya yang sejak adi diam mendengarkan dipelukan Prilly, tangan Prilly terulur untuk mengusap lembut kepala Kesya."Sayang pindah kamar yuk, kak Prilly mau pamit pulang dulu."ucap Prilly perlahan membuat Kesya langsung mendongakkan kepalanya. Tatapan sendu Prilly terima dari Kesya, Prilly tau arti tatapan itu. Tak tega sebenarnya, namun bagaimana lagi Prilly harus pergi, tak enak juga jika harus terlalu lama disini.
"Kak Pirlly disini aja."pinta Kesya menatap Prilly tajam.
"Maaf ya sayang, kak Prilly harus pulang, enggak enak sama tetangga kalau kak Prilly kelamaan disini. Kak Prilly juga masih ada kerjaan."
"Kenapa? Inikan rumah Kesya bukan rumah tetangga."jelas KEsya membuat Ali menepok jidat, anak sekecil Kesya belum mengerti arti dari ucapan Prilly.
"Iya sayang ini rumah Kesya, tapi kak Prilly harus pulang sayang. janji besok kak Prilly kesini lagi bawa bunga buat Kesya, ya ya? Mau warna apa ? merah ? kuning ? putih ? atau semuanya ?"mohon Prilly agar Kesya mengizinkannya pulang.
"Janji kak Pirlly besok kesini lagi main sama Kesya?"ucap Kesya mengacungkan jari kelingkingnya, dengan senyuman Prilly menautkan jari kelingkingnya ke jari Kesya,"Janji besok kak Prilly kesini, oiya Kesya mau bunga warna apa?"
"Kuning aja kak,"
"Ok,"
"Sekarang Kesya pindah ke kamar ya sayang, bobok dikamar lebih enak."Kesya melepaskan pelukannya pada Prilly dan mengangguk."Tapi gendong"pinta Kesya.
"Yuk sini papah gendong,"Ali mengulurkan tangannya berniat untuk menggendong Kesya, namun Kesya malah menghindar.
__ADS_1
"Ayo sini papah gendong."Kesya menggeleng,"Gedong kak Pirlly boleh ?"pintanya dengan nada memohon membuat Ali dan Prilly saling menatap. Kuatkan Prilly menggendong Kesya ?
"Ya kak Pirlly ?", "Em..Iya sa..sayang."jawab Prilly sedikit gugup.
"Gendong papah aja yuk, kasihan nanti kak Prillynya keberatan terus capek gimana ?"
"Udah gak papa, yuk sayang."Prilly meraih tubuh Kesya dan mulai mengangkatnya, memang berat tapi Prilly harus kuat. Naik tangga harus Prilly lakukan untuk sampai ke kamar Kesya. Dengan sigap Ali membantu Prilly dan mendampingi Prilly, takut-takut jika Prilly oleng saat Kesya bergerak.
"Pelan-pelan aja Prill,"ucap Ali lembut seraya memegang lengan Prilly.
Deg. Lagi-lagi darah ini seperti berhenti mengalir, jantungnya berdetak tak karuan membuat Prilly tersenyum dalam hati. Tubuhnya gemetar, karena Ali ? entah.
"Loh Kesya kenapa digendog kak Prilly?"tanya Rosa ketika melihat Prilly menggedong Kesya dengan Ali yang menjaganya dari samping.
"Biasa bu, Kesyanya lagi manja. Manjanya enggak sama Ali tapi sama Prilly."jelas Ali.
"Kalian cocok kaya sebuah keluarga."ceplos Rosa dan berlalu pergi. "Ibu apa sih,"Ali terlihat salah tingkah setelah mendengar ucapan Rosa, begitupun Prilly.
"Udah jangan dengerin kata-kata ibu, yuk ke kamar kasihan kamu keberatan."Ali kembali membantu Prilly untuk menaiki anak tangga. Jangkah demi jangkah Prilly melewati anak tanga itu, hinga kini pintu kamar Kesyapun sudah terlihat didepan mata.
Ali membuka pintu itu, dan mempersilahkan Prilly masuk. Dengan perlahan Prilly menurunkan KEsya dan merebahkannya. Astaga, tidur dia. Sepanjang perjalanan Kesya diam tak berkutik Prilly kira ia mengerti dengan keadaan, tapi ternyata dia tertidur pulas.
"Tidur dia."kekeh Prilly.
"***** dia,"Ali meraih selimut dan menyelimutkan pada Kesya."Maaf ya, karena Kesya banyak waktu kamu yang terbung, dan karna Kesya juga kamu..."
"Enggak, bukan karna Kesya. Ini Karenaku, ini kemauanku, jadi jangan pernah salahkan Kesya."potong Prilly.
"Terima kasih sudah ada untuk Kesya, terima kasih banyak."
"Sama-sama, aku senang bisa bersama Kesya. Dia lucu, dia menggemaskan, dia pintar, membuat aku selalu ingin bersamanya."
"Terima kasih."ucap Ali lagi.
"Maaf,"Ali mengulurkan tangannya dan mengusap keringat yang menetes dikening Prilly. Karena Kesya Prilly jadi kacapekan. Bulir-bulir keringat menetes dari dahi Prilly, membuat Ali yang melihatnya tak enak hati. Sedangkan Prilly ? seperti biasa, pasti jantungnya tak karuan jadinya karena sikap Ali.
"Makasih."senyum Prilly.
"Ali..."Rosa menyelonong masuk ke kamar Kesya dan melihat Ali Prilly yang sedang seperti itu, sontak membuat Rosa kaget dan tersenyum penuh kemenangan.
"Ups, maaf ganggu."senyum Rosa dan berlalu pergi membuat mereka kembali salah tingkah.
__ADS_1