
Hari ini Prilly sedang disibukkan dengan sayur dan bumbu-bumbu yang ada di dapur, sejak kemarin Prilly ingin sekali memasak hingga akhirnya pagi ini memutuskan untuk memasak. Aroma sedap mulai tercium seisi ruangan, selain cantik dan pekerja keras Prilly juga pandai memasak.
"Tambah air sedikit, tunggu mendidih dan siap deh." Prilly menutup teflon itu dan bergegas memberesi peralatan dapur,
Kini masakan Prilly sudah siap, cukup sederhana namun terlihat sangat lezat. Sayur lodeh, ayam goreng, cumi crispy, serta tempe goreng. Cepat-cepat Prilly menatanya pada piring dan membawanya kemeja makan.
"Ibu... ," Prilly berteriak memanggil sang ibu yang sedang membersihkan halaman rumah. Sekali dua kali tidak menyahut akhirnya Prilly menghampiri sang ibu dan mengajaknya sarapan bersama.
"Wah banyak sekali, sering-sering ya Prill masakin ibu." Lia menatap kagum meja makan yang sudah penuh dengan makanan, tanpa menunggu lama merekapun menyantap makanan itu dengan lahap. Bumbu-bumbu yang pas memberikan kesan lezat saat sudah mereka lahap.
Selesai sarapan Prilly dan Lia membereskan meja makan bersama, saling tolong-menolong sudah menjadi kewajiban kita semua. Setelah rapi Lia kembali melanjutkan pekerjaan rumah lainnya sedangkan Prilly kembali ke kamar untuk bersiap-siap menuju toko bunganya.
"Besok masak apa ya?" Prilly berpikir sambil memoles sedikit wajahnya. Tak butuh polesan banyak kini Prilly sudah sangat cantik, naik keatas ranjang dan bersantai sejenak sambil menunggu jam 9.
Tok tok tok
Pintu Prilly diketuk 3 kali, belum sempat Prilly menjawab Lia sudah membuka pintu dan masuk ke kamar Prilly. Prilly melihat wayah Lia yang sangat panik, mata dan hidungnya memerah seperti habis menangis. Kenapa ? bukannya saat saraoan tadi baik-baik saja ?
"Ibuk kenapa ?" Prilly dengan cepat turun dan menghampiri sang ibu, Lia menangis kemudian memeluk Prilly.
Lia melepas pelukannya, "Cepat Prilly beresin baju Prilly, ikut ibu pergi ke Malaysia." perintah Lia.
"Kenapa bu?"
"Cepat beresi barang Prilly, tutup dulu toko bunganya sampai kita balik lagi kesini atau suruh karyawan kamu habisin stok yang ada di toko. Cepat Prill, nanti ibuk jelasin dimobil." ucap Lia lalu bergegas Pergi. Pikiran Prilly kacau, apa yang terjadi ? kenapa sang ibu datang dan menangis seperti itu ? jangan-jangan....
Prilly langsung mengambil koper dan memasukkan beberapa baju dan perlengkapan lainnya disana, ingin rasanya Prilly menangis takut apa yang ia pikirkan benar-benar terjadi.
Sekarang Prilly dan Lia sudah berada didalam mobil, Lia terus saja menahan tangisnya. Lia menatap Prilly lalu meraih tangan Prilly, kemudian berucap,
"Doakan ayah baik-baik saja Prill,"
"Ayah ? ayah kenapa ?" Prilly berucap cepat, kenapa ayahnya ?
"Nanti kita lihat ibu belum tahu kepastiannya,"
Seteleh mendengar perkataan Lia Prilly langsung terisak, dalam otaknya sudah berpikiran macam-macam. Dengan tegar dan kuat Prilly menghapus air matanya, berdoa dalam hati supaya tidak terjadi sesuatu pada ayahnya.
__ADS_1
Kini mereka sudah sampai dibandara, mereka tak perlu memesan tiket karena sekretaris sang ayah sudah memesankannya tadi. Mereka datang tepat waktu, tak perlu menunggu lama waktu penerbangan pun tiba hingga akhirnya mereka terbang ke Malaysia.
***
Prilly dan Lia saling berpelukan dan menangis ketika melihat seseorang yang selalu dibanggakanya tergeletak diatas ranjang dengan peralatan medis yang melekat ditubuhnya. Mereka tidak percaya melihat itu, karena kemarin sang ayah masih menghubunginya dan ia berucap bahwa dirinya tidak apa-apa.
"Selamat siang bu Lia, bu Prilly." seorang wanita berhijab datang menghampiri Prilly dan Lia,
"Kenapa suami saya ? kemarin dia masih baik-baik saja." tanya Lia cepat,
"Saya akan jelaskan kepada ibu, kemarin di kantor selepas sholat ashar pak Andi mengeluh sakit pada bagian perutnya bu, saya yang panik ingin berbuat apa hingga dalam pikiran saya memutuskan untuk membawa pak Andi ke rumah sakit. Saya meminta bantuan satpam karena pak Andi sudah tidak kuat berdiri. Setelah dipriksa dokter bilang pak Andi hanya telat makan, mungkin butuh beberapa kantong infus dan vitamin untuk memulihkan tubuhnya."
"Astaga ayah." Prilly berucap,
"Dan maaf saya sudah membuat ibu menjadi panik, pak Andi sendiri yang meminta saya untuk menghubungi ibu, dan pak Andi juga yang meminta saya untuk berucap seperti tadi. Maafkan saya bu."
"Tidak apa-apa, bukan salah kamu." Lia tersenyum simpul,
Hanya telat makan, Alhamdulillah hanya penyakit ringan. Prilly dan Lia duduk berjejer menunggu Andi siuman, sedangkan perempuan berhijab itu sudah pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Amin bu, tadi Prilly sempat berpikiran aneh-aneh tentang ayah. Prilly khawatir jika ayah kenapa-kenapa, tapi Alhamdulillah penyakit ayah tidak parah."
"Ibu juga berpikiran yang aneh-aneh Prill, semoga ayah cepat sembuh Prill."
"Amin bu."
Samar-samar dari dalam ruangan terdengar suara yang memanggil dokter, dengan cepat Prilly dan Lia masuk untuk mengeceknya.
Laki-laki yang tadi berbaring lesu kini sudah terlihat sedikit segar dan duduk bersandar pada kepala ranjang. Lia dan Prilly yang melihat langsung berhamburan memeluk pria itu.
"Ayah sudah baikan ? apa yang sakit ?"
"Mas tidak apa-apa kan ?"
Prilly dan Lia bertanya secara bersamaan, Andi yang melihat raut kekhawatiran dari istri dan anaknya pun tersenyum simpul.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, hanya karena sibuk aku harus melewatkan jam makan siangku." ucap Andi,
"Yah, kami sudah berpikiran yang macam-macam tentang ayah, kemarin ayah masih baik-baik saja tapi tiba-tiba kami dapat kabar kalau ayah masuk rumah sakit. Prilly sama Ibu takut ayah kenapa-kenapa, untungnya penyakit ayah tidak terlalu parah. Sekarang Prilly sedikit lega bisa melihat ayah tersenyum." jelas Prilly,
"Maaf sayang, maaf istriku, ayah saat itu benar-benar lemas. Ayah disini tidak ada keluarga, jadi ayah meminta sekretaris ayah untuk memesan tiket dan menghubungi kalian jika ayah masuk rumah sakit."
"Kami panik mas," kini giliran Lia bersuara,
"Maaf sayang, maaf jika ayah sudah membuat kalian khawatir. Setidaknya dengan penyakit ayah ini ayah bisa bertemu kembali dengan istri dan anak ayah."
"Prilly tidak setuju, yang Prilly mau ayah itu sehat. Prilly bisa kok langsung kesini, Prilly bisa kok bayar tiket sendiri, asal ayah sehat tidak sakit seperti ini." jawab Prilly cepat,
"Sudah lama ayah tidak mendengar cerewetnya Prilly, ayah rindu itu." Andi meraih tangan Prilly dan menciumnya pelan,
"Ayah, Prilly tidak bercanda."
"Ayah juga tidak bercanda sayang."
"Sudah-sudah, sekarang mas istirahat dulu biar cepat sembuh." lerai Lia,
"Tinggalah beberapa hari disini, ayah rindu kalian, ayah rindu kebersamaan kita yang dulu, ayah rindu bercanda gurau dengan kalian, bisa?" pinya Andi,
"Dengan senang hati Prilly dan ibu kabulkan, tapi dengan satu syarat." Prilly menatap tajam sang ayah,
"Apa ?"
"Ayah harus sehat, ayah harus sembuh, setelah itu ayah harus ajak Prilly dan ibu keliling Malaysia, kita jalan-jalan dan satu lagi," Prilly menghentikan ucapannya membuat Andi mengerutkan keningnya,
"Banyak banget Prill,"
"Gamau tau, itu yang harus ayah lakukan karena ayah sudah membuat Prilly dan ibu panik." Lia dan Andi tertawa melihat cerewetnya Prilly,
"Satu laginya apa ?" tanya Andi.
"Ayah harus nambah koleksi doraemon Prilly! tidak mau tau!"
"Siap ayah kabulkan permintaan anak ayah."
__ADS_1
Dalam ruangan itu terdengar tawa nyaring dari orang didalamnya, ruangan yang awalnya berisi raut kekhawatiran sekarang berubah menjadi raut kebahagiaan.