Dari Bunga Turun Ke Hati

Dari Bunga Turun Ke Hati
Flashback


__ADS_3

"Prilly... " Prilly menengok ketika ada yang memanggilnya,


"Loh, kamu... "


"Hai Prilly, lama tidak berjumpa." ucap perempuan itu dengan manisnya.


"Ica ya?" tanya Prilly antusias,


"Iya Prilly ini Ica, teman sekelas Prilly dulu"


Prilly langsung beranjak dan memeluk teman sekelasnya dulu, semenjak lulus sekolah dulu Prilly dan Ica memang tidak pernah bertemu dikarenakan Universitas yang mereka pilih berbeda.


"Sama siapa ?" tanya Prilly,


"Aku sama ibu aku, dari sana aku lihat ke arah sini kok seperti ada yang tidak asing. Aku pahami terus sejak tadi, akhirnya aku kesini eh ternyata benar kalau itu kamu." jelas Ica.


"Wah lama sekali kita tidak bertemu, padal waktu sekolah dulu sering banget kita jalan-jalan sepulang sekolah."


"Haha iya Prill, jadi kangen masa sekolah dulu. Kangen liatin kakak kelas yang ganteng-ganteng banget."


"Itu mah kerjaan kamu sama Michelle." Prilly dan Ica tertawa bersama, sedangkan Ali hanya diam tanpa ada rasa untuk gabung dalam pembicaraan mereka.


"Bedua aja Pril, anak tidak diajak ?" tanya Ica sambil menatap Ali dan Prilly bergantian, Ali yang sedang menikmati baksonya pun spontan menoleh.


"Anak ?" tanya Prilly,


"Iya anak kalian, itu suami kamu tampan banget sih Prill," ucap Ica sedikit berbisik,


"Aku belum punya a... " belum sempat Prilly mengelesaikan kalimatnya Ica sudah terlebih dahulu memotongnya.


"Aku paham Prill, yang semangat ya jangan menyerah. Mungkin belum rezeki kalian." ucap Ica membuat Ali dan Prilly bertatapan secara bergantian.

__ADS_1


Belum rezeki ? apa maksudnya ? Jelas belum rezeki karna Prilly memang belum menikah, jadi pantas saja jika Prilly belum memiliki anak.


Ali menatap Ica dengan tajam, Ali paham dengan apa yang Ica ucapkan. Ica hanya salah paham, bukan seperti itu yang sebenarnya .


"Maksudnya itu kami... " ketika Prilly ingin membenarkan ucapannya tadi agar Ica tidak berpikir yang aneh-aneh lagi-lagi Ica memotong ucapan Prilly,


"Optimis Prill, banyakin usaha dan berdoa Prill." ucap Ica lagi,


Ali meletakkan sendoknya dan berdiri tepat didepan Prilly dan Ica, dengan senyum manisnya Ali berucap,


"Maaf sebelumnya mba, saya cuma mau bilang jika anda salah paham. Maksud Prilly belum punya anak itu karna kami belum menikah, bukan karna kami belum ada sesuatu. Ya memang belum rezeki punya anak karna Prilly belum menikah," ucap Ali sopan, spontan Ica menutup mulutnya kaget.


"Aduh, maaf Prilly bukan bermaksud. Kirain itu suami kamu habisnya udah cocok banget, serasi juga." ucap Ica tak enak hati, Prilly tak heran jika Ica berasumsi jika seperti itu karena dulu temen-teman SMA Prilly sempat mengumbar gosip bahwa Prilly akan segera menikah dengan kekasihnya, Alex. Tapi dulu.


"Habis dulu dengar-dengar Prilly mau menikah, jadi aku mengira bahwa itu suami kamu. Maaf mas saya lancang dalam berbicara." Ica meminta maaf pada Ali, Ali mengangguk dengan senyuman manisnya.


"Iya Ica tidak apa-apa, aku paham kok. Gosip dulu itu hanya gosip mainan, itu tidak benar, mereka hanya bercanda." jelas Prilly,


"Apa sih Ca," Prilly tersipu malu ketika Ica menyebut Prilly dan Ali mirip.


"Jangan pacaran lama-lama Pril, buruan sebar undangan biar kita semua bisa temu kangen." ucap Ica sambil menyenggol pelan lengan Prilly,


"Apasih Ca, temu kangen tidak harus nunggu aku sebar undangan kan ?"


"Sekalian Pril, eh bye the way aku harus pamit kasihan ibu aku udah nunggu lama. Prill besok-besok kita harus jalan bareng, okey ?"


"Okey Ca, ajak lainnya biar ramai."


"Siap Prill, eh mas aku minta maaf soal tadi. Maaf aku tidak bermaksud dan aku sekalian mau pamit juga, Maaf ya mas sekali lagi." ucap Ica kepada Ali, Ali hanya membalas dengan senyuman.


Setelah berpamitan Ica langsung menghampiri sang ibu, sedangkan Prilly duduk kembali didepan Ali. Ali menatap bola mata Prilly, Prilly yang merasa aneh pun ikut menatap bola mata Ali.

__ADS_1


"Kenapa ?" Prilly mengerutkan dahinya,


"Anaknya mana?" goda Ali menirukan perkataan Ica tadi. Prilly yang mendengar perkataan Ali spontan memukul pelan tangan Ali.


"Apasih," ucap Prilly kesal.


"Boleh tanya?" tanya Ali,


"Apa ?"


"Memang dulu kamu sudah sempat mau menikah ? dengan siapa ? Alex ?" tanya Ali bertubi-tubi,


"Bukan siapa-siapa, itu hanya masa lalu. Jangan dibahas lagi."


"Katanya harus saling terbuka, boleh dong tau ? Aku sebagai calon masa depan kamu aku juga berhak tau masa lalu kamu. Siapa tau masa lalu kamu itu datang lagi, jadi aku sebagai masa depan bisa menyelamatkanmu dari masa lalu itu." jelas Ali,


"Okey aku bakal cerita, tapi tentang yang Ica ucapkan tadi ya. Sedikit saja." Ali mengangguk.


"Dulu Aku dan Alex memang sudah sangat dekat, kami sudah mempunyai rencana untuk bertunangan. Saat keluarga Alex bertamu dirumahku, ada salah satu teman aku yang tahu karna kebetulan teman aku juga teman Alex. Dia itu orangnya cepet banget kalau maslah gosip-gosip, jadi setelah dia tahu bahwa keluargaku dan Alex bertemu dia bilang sama lainnya kalau aku dan Alex akan segera menikah dalam waktu dekat. Namanya gosip ya pasti cepat banget tersebarnya, jadinya begitulah semua mengira aku dan Alex akan menikah. Tapi lambat laun masalah demi masalah datang, dari yang kecil sampai yang besar hingga akhirnya aku dan Alex memutuskan untuk sendiri-sendiri dengan janji kalau kita harus menjadi sahabat tanpa harus membahas masalalu dulu."


"Masalah apa ?" tanya Ali penasaran.


"Cukup aku dan Alex yang tahu, itu masalah kami berdua. Jadi maaf, aku tidak bisa memberitahumu. Tolong pahami aku." ucap Prilly tersenyum.


Ali mengangguk dan tersenyum, mencoba memahami masalalu Prilly walaupun pikirannya dilanda banyak pertanyaan.


"Sudah yuk, balik kerja." Prilly meraih tas kecilnya dan berdiri, disusul Ali.


Setelah membayar Ali terlebih dahulu mengangarkan Prilly ke toko bunganya, baru kemudian Ali kembali ke kantor. Sejak perjalanan pulang mereka terus bercanda, namun tidak dengan Ali, sesekali dia berpikir sesekali juga dia membalas candaan Prilly.


Apa urusannya dengan Ali ? itu masalah mereka, itu keputusan mereka, itu masa lalu mereka, dirinya tidak perlu tahu. Ali hanya harus memahami Prilly tanpa harus membebani Prilly dengan masa lalunya.

__ADS_1


__ADS_2