Dari Bunga Turun Ke Hati

Dari Bunga Turun Ke Hati
Kenapa ?


__ADS_3

Sebuah mobil mewah melaju dengan kecepatan rendah ketika sudah memasuki luasnya area perkantoran, tepat didepan sebuah pintu besar mobil itu berhenti. Cepat-cepat seorang satpam yang sedang berjaga berlari kecil menghampiri mobil itu dan membukakan pintu. Tampak seorang laki-laki tampan dengan setelan jas mewah yang melekat ditubuhnya turun dari mobil, berjalan dengan gagahnya memasuki kantor. Seperti biasa, entah berapa banyak pasang mata yang selalu menatapnya kagum. Kagum karena ketampanannya, prestasinya, serta keramahanya.


Berjalan semakin jauh, semakin banyak pula pasang mata yang menatapnya, tak hanya mata para hawa, namun para adampun ikut menatapnya. Kali ini tak seperti hari-hari sebelumnya, kali ini juga laki-laki itu tak seperti biasanya. Dengan senyum manisnya laki-laki itu berjalan dengan mengumbar senyum, senyum manis yang membuat para hawa terpesona olehnya. Anak tangga demi anak tangga laki-laki itu naiki hingga akhirnya terlihat sebuah pintu mewah ruang pribadinya.


"Astaga, pak Ali kenapa ?" tanya Mira ketika melihat sesuatu yang aneh pada atasannya itu, sebuah perban lengkap dengan plester menempel pada keningnya. Ya, perban yang menempel dikening Ali lah yang membuat banyak pasang mata itu menatapnya aneh.


Ali meraba pelan keningnya dan berucap, "Saya tidak apa-apa Mir hanya kecelakaan kecil, paling besok juga sudah baikan." jawabnya santai dan berlalu dari hadapan Mira yang masih bingung menatapnya.


Saat membuka pintu terdengar helaan nafas pelan Ali, dengan langkah sedikit berat Ali memasuki ruangannya, hari ini bukan tamu penting ataupun teman-teman yang menyambut kedatangannya, namun sebuah map-map yang tertumpuk rapi pada meja kerjanya. Setiap hari bekerja namun kenapa selalu ada map sebanyak itu, bagaimana jika Ali tidak bekerja, pasti tumpukan map-map itu akan semakin banyak daripada itu.


Ali berjalan menuju meja kerjanya, duduk pada kursi kebanggaannya dan mulai membuka satu persatu map tersebut. Lembar demi lembar Ali baca dengan seksama. Mengecek dan menandatangani adalah tugasnya.


"Kalau pekerjaan setiap hari selalu begini kapan aku bisa ajak Kesya jalan-jalan. Setiap hari bekerja, setiap hari juga banyak pekerjaan." keluh Ali,


Senin sampai sabtu ia habiskan waktu bersama pekerjaan yang menumpuk, walau kadan tak sebanyak ini.


***


Sebuah ponsel yang terletak diatas meja kasir terus itu terus berdering, membuat Prilly yang sedang berdiri diatas kursi kecil untuk menata bunga-bunganya meloncat kebawah.


"Aduh..." pekik Prilly sambil memegang lututnya ketika kedua kakinya menapak kelantai secara bersamaan.


Prilly berjalan menuju meja dan mengambil ponsel yang sedaritadi terus berdering.


"Hallo selamat siang, dengan Fresh Flowers disini, ada yang bisa saya bantu ?" ucap Prilly ketika sudah tersambung dengan penelfon,


"Selamat pagi mbak, saya dari AN Company ( dibaca Ei En Company ) ingin memesan bunga." ucap seorang laki-laki dari seberang sana,


"Apakah untuk hari apa ? dan apa jenis bunga yang dipesan pak ?" tanya Prilly dengan tangan kiri yang masih setia memegang lututnya, sepertinya meloncat dari kursi dengan kedua kaki yang menapak secara bersamaan membuat lututnya sedikit bermasalah.


"Bukan untuk hari ini tapi besok mbak. Saya ingin memesan bunga mawar 3 warna, yang penting ada mawar merah dan putihnya, untuk warna satunya terserah mbak mau warna apa, apakah bisa ?"


"Bisa banget pak, mau berapa tangkai pak?"


"Saya mau tiap warna bunga mawar 50 tangkai, dan saya juga mau minta tolong untuk merangkainya disini, untuk vas kami sudah sediakan. Apa bisa mbak ?"


"Bisa pak, besok kami akan merangkai bunga-bunga pesanan bapak. Apakah ada tambahan yang lain ?"


"Tidak, cukup itu dulu. Nanti siang saya akan transfer DPnya terlebih dahulu."


"Baik pak," ucap Prilly sambil mencatat pesanan pada nota kecil yang tersedia dimeja itu.


"Kalau begitu saya ucapkan terima kasih banyak."


"Sama-sama pak," ucap Prilly bersamaan dengan terputusnya sambungan telepon. Prilly menarik sebuah kursi berwarna biru dan mendudukinya, meluruskan kakinya dan memijat lututnya perlahan.

__ADS_1


"Bu bos kenapa ?" tanya Dilla yang baru saja dari kamar mandi,


"Sakit lulutnya." jawab Prilly singkat tanpa melirik Dilla sedikitpun,


"Kok bisa ? jatuh ? kesleo ? apa gimana ?"


"Bukan, tadi ada telfon terus aku loncat deh dari kursi, eh tiba-tiba lututnya sakit banget. Nyeri-nyeri gimana gitu." keluh Prilly dengan wajah sedikit meringis,


Dilla mengalihkan pandangannya pada kursi kecil yang terletak disebelah rak bunga, memang itu kursi kecil tapi tingginya lumayan, tak salah jika bosnya itu kesakitan setelah meloncat dari kursi itu,


"Lagian bu bos ada-ada aja sih, kursinya memang kecil tapi tingginya lumayan." ucap Dilla dengan sedikit tawa membuat Prilly menatapnya tajam, "Oh udah berani ketawain bosnya, bagus. Inikah yang dinamakan sahabat, menertawakan sahabatnya yang sedang menderita." ucap Prilly dengan nada sedikit marah,


Dilla menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya kemudian berkata pelan, "Maaf bercanda."


Prilly tak menjawab melainkan mengalihkan pandangannya kearah lain, membuat Dilla terlihat sendu. Tiba-tiba saja Dilla maju beberapa langkah dan dengan spontan memeluk sahabat sekaligus bosnya itu dari samping, "Bercanda bos, jangan marah ih." ucap Dilla tepat pada telinga Prilly, membuat Prilly tersenyum geli. Niatnya bercanda malah dianggap serius oleh sahabatnya itu.


"Hahaha" tawa Prilly menggema membuat Dilla cepat-cepat melepas pelukannya, menatap tajam sahabatnya itu,


"Kenapa ketawa?"


"Dilla lucu ih, diajak bercanda malah dianggap serius." ucap Prilly dengan tawanya,


"Ih kesel, udah tau Dilla itu baperan dan selalu pake hati tapi masih aja dibercandain." kesal Dilla,


"Ih jijik ah suaranya." teriak Dilla dan berlari pergi meninggalkan Prilly. Prilly hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat tingkah lucu sahabatnya itu.


Dengan menahan nyeri pada lututnya Prilly berdiri dan berjalan masuk kedalam sebuah ruangan, ruangan yang tak terlalu luas dengan berbagai jenis bunga didalamnya. Prilly mulai melangkahkan kedua kakinya untuk meyusuri barisan-barisan rak yang tertata rapi, hingga akhirnya langkahnya terhenti tepat pada bunga-bunga mawar itu terletak.


"Untung masih banyak bunga mawarnya." Prilly bernafas lega. Dengan tangan cantiknya Prilly mulai memilih-milih bunga mawar dengan kualitas yang bagus.


Cukup lama Prilly berada dalam ruangan ini, langit yang tadinya masih terang dan cerah kini sudah berubah menjadi gelap gulita, suara yang tadi sedikit berisik sekarang sudah semakin sepi. Terlalu sibuk dengan bunga-bunganya membuat Prilly lupa akan waktu.


Sebuah pintu kaca menimbulkan suara dencitan ketika pintu itu didorong, menampakkan Dilla dengan sebuah masker yang menutupi mulut serta hidungnya.


"Sttt sttt, cewek..." ucap Dilla tanpa masuk ke dalam ruangan, membuat Prilly yang sedang sibuk dengan bunga-bunganya menoleh kearah asal suara.


"Apa?"


"Mau pulang apa tidur disini ?" tanya Dilla tanpa merubah posisinya.


Prilly beranjak dari duduknya dan menghampiri Dilla, "Pulanglah, masa iya tidur sini."


Dilla memperlihatkan layar ponselnya kearah Prilly, seketika Prilly melongo ketika melihat jam yang tertera pada layar ponsel Dilla, 20.15 wib.


"Haduh itu jam bener apa eror ?" tanya Prilly tak percaya dengan jam yang tertera pada ponsel Dilla.

__ADS_1


"Ya benerlah bos, makanya saya tanya, bos mau pulang apa tidur disini ?" ucap Dilla geram.


"Pulanglah, kayaknya tadi masih cerah langitnya masa udah jam segitu sih."


"Iya lah, orang bos daritadi ngurusin bunga terus sambil melamun ya pasti tidak tau waktu lah."


"*****..."


"Yuk ah pulang, besok mau antar sama rangkai bunga di AN Company." ucap Prilly pada Dilla yang masih berada dipintu dan mendorong keluar dari ruangan itu.


"Ya ayo pulang." balas Dilla.


Sebelum pulang, seperti biasa Prilly bersih-bersih terlebih dahulu dan tak lupa memoles wajah cantiknya dengan sedikit bedak supaya terlihat lebih fresh dan cantik.


Malam ini tak seperti malam-malam sebelumnya, malam ini Dilla dan Prilly pulang ke rumah masing-masing. Dilla tak mengiap lagi di rumah Prilly ataupun sebaliknya.


***


Malam yang sepi, suara jangkrik yang biasanya terdengar nyaring saat malam kini kalah oleh suara tangisan anak kecil. Sejak sore tadi gadis kecil itu terus menangis membuat sang nenek kuwalahan mendiamkannya.


"Kesya sayang diam ya, jangan nangis lagi." bujuk sang nenek pada cucu kesayangannya. Bukannya diam namun Kesya masih tetap menangis, entah sudah berapa banyak cara Rosa lakukan untuk membuat sang cucu berhenti menangis, namun apalah daya, caranya itu tak pernah berhasil.


"Sayang udah dong nangisnya, malu ih udah besar tapi nangis terus."


"Ke-Kesya se-seb-el." ucap Kesya sambil sesegukan, menangis terlalu lama membuat mata serta hidungnya memerah.


"Iya Kesya sebel, tapi Kesya udahan ya nangisnya, bentar lagi papah pulang lo. Nanti papah pikir nenek yang bikin Kesya nangis gimana ? nanti kalau nenek kena marah sama papah gimana ? Kesya mau ?" jcap Rosa sambil terus membelai rambut panjang Kesya yang dikuncir seperti ekor kuda.


Tak lama setelah Rosa berucap, terdengar suara sebuah mobil memasuki pekarangan rumah. Kesya hafal betul dengan suara mobil itu, dengan air mata yang terus mengalir Kesya berlari kearah pintu dengan diikuti Rosa dibelakangnya. Saat Kesya ingin membuka pintu, pintu terlebih dulu dibuka oleh Ali, langsung saja Kesya berhambur kedalam pelukan Ali.


Kepulangannya disambut oleh gadis kecilnya dengan tangis, Ali membalas pelukan Kesya sambil menatap bingung kearah Rosa. Rosa yang ditatap hanya menggelengkan kepalanya menatap Ali dan Kesya.


"Kesya kenapa kok nangis sayang ? coba cerita sama papah." ucap Ali pada Kesya yang masih memeluknya erat, dapat Ali rasakan pundaknya basah karena air mata Kesya.


"Kesya sayang, kenapa...?" tanya Ali, namun lagi-lagi Kesya tak menjawab.


Dengan sekali gerakan Ali menggendong Kesya dan membawanya masuk kedalam kamar yang dipenuhi berbagai macam aksesoris berbau doraemonnya. Ali menurunkan Kesya pada tepi ranjang, dapat terlihat mata serta hidungnya yang memerah. Seketika Ali merasa geram, kira-kira siapa yang membuat gadis kesayangannya bisa seperti ini.


"Pah, Ke-Kesya Ke-Kesal..." adu Kesya dengan suara paraunya,


"Kesal sama siapa sayang ? coba cerita sama papah"


"Sama... "


.

__ADS_1


__ADS_2