
"Kak Pirlly ayo tangkap." teriak Kesya melemparkan bola karet kearah Prilly, dengan gaya kuda-kuda Prilly bersiap untuk menangkap bola itu, namun karna kesya melempar bola itu terlalu rendah membuat bola itu lolos dari tangkapan Prilly dan menggelinding jauh kebelakang.
Tawa Kesya seketika pecah ketika melihat Prilly yang berlari-lari kecil kesusahan mengejar bola itu, "Ayo kak Pirlly lari yang cepat, kejar bolanya kak jangan sampai jauh."
Hap...
"Yeay ketangkap bolanya." pekik Prilly kegirangan ketika berhasil mendapatkan bola itu membuat dua gadis itu tertawa girang bersama,
Dua gadis berbeda umur itu sejak tadi sangat asyik bermain bola bersama bahkan tertawa bersama. Kebahagian terpancar dari wajah kedua gadis itu. Satu bulan lebih mereka saling mengenal, membuat mereka semakin dekat dan akrab layaknya kakak adik. Kesya yang sangat gembira mendapat teman baru untuk bermain, dan Prilly yang bahagia bisa menemani Kesya bermain sekaligus bisa bertemu duda ganteng yang telah mencuri perhatiannya akhir-akhir ini.
Satu bulan lebih Prilly menyimpan rasa itu, menyimpannya dalam hati. Bukan tak ada niat untuk mengungkapkannya tapi belum waktunya. Hatinya belum yakin untuk hal itu. Melihat, menyapa, bahkan berbincang sudah cukup membuat hati Prilly senang.
Dari balik pintu bercat putih terdapat dua pasang mata yang sedang memperhatikan Prilly dan Kesya, masing-masing bibir mereka tertarik membentuk sebuah senyuman manis saat melihat pemandangan yang sangat indah didepannya.
"Lihat itu, peri kecilmu sangat bahagia bermain dengan Prilly. Apakah kamu masih mau menunda mencarikan sosok ibu baru untuk Kesya ? apakah kamu tega membuat Kesya menunggu lebih lama lagi?"ucap Rosa membuat senyuman manis dibibir Ali memudar. Sebenarnya Ali ingin mencarikan sosok ibu baru untuk Kesya, namun bagaimana lagi hatinya belum siap untuk itu.
"Secepatnya aku akan memberikan ibu baru untuk Kesya,"jawab Ali pelan.
"Ali jangan egois, pikirkan juga kebahagiaan Kesya . Kesya masih kecil, dia butuh sosok ibu Li!"ucap Rosa ketus lalu pergi meninggalkan Ali. Mencari istri bukanlah hal yang mudah , tak semudah membalikkan terlapak tangan. Ali harus mencari perempuan dengan bibit, bobot, bebet yang baik serta yang benar-benar mau menerimanya apa adanya.
Ali membalikkan badannya berniat untuk pergi meninggalkan tempat itu, namun baru saja kakinya ingin melangkah sebuah teriakan menghentikan langkah Ali.
"Papah..."teriak Kesya ketika melihat papahnya, tangan Kesya melambai-lambai setelah Ali membalikkan badannya. "Sini temenin Kesya sama kak Pirlly main."sambung Kesya dengan tangan yang terus melambai. Dengan langkah gagahnya Ali berjalan mendekati Kesya dan Prilly. Dapat terlihat aura kebahagiaan pada wajah anak kesayangannya itu. Hati Ali seketika tergoyah, apakah dirinya tega membuat anaknya kehilangan kebahagiaan.
"Papah kenapa kok mukanya sedih ?" tanya Kesya ketika melihat wajah Ali yang sedikit tertekuk,
Ali sedikit tergagap mendengar ucapan Kesya, sebisa mungkin Ali menetralkan pikirannya dan tersenyum manis pada Kesya,"Masa sih muka papah sedih, orang seneng gini kok."Ali mencoba berkata sesantai mungkin, gadis kecil seperti Kesya belum waktunya untuk tau masalah dewasa.
"Tapi muka papah sedih gitu tadi, kenapa pah ?" lagi-lagi Kesya menimpalkan pertanyaan untuk Ali, sepertinya sangat sulit untuk Ali menyembunyikan masalah ini.
"Papah tidak sedih, tapi papah ngantuk sayang. Papah ngantuk karna dari tadi Kesya main sama kak Prilly, papahnya dicuekin jadi ngantuk deh." bohong Ali dengan wajah manyunnya.
"Ya sudah sekarang papah main sama Kesya dan kak Pirlly biar tidak ngantuk. Ok ?" Kesya berucap sambil mengacungkan ibu jarinya,
"Ok sayang."
__ADS_1
Disebuah halaman rumah yang tak terlalu besar, terdapat tiga orang yang sedang bermain bersama. Tampak bahagia layaknya sebuah keluarga.
Mereka saling melempar bola satu sama lain. Tertawa bersama jika salah satu dari mereka tak bisa menangkap bola. Inilah yang Ali mau, melihat gadis kecilnya selalu bahagia.
Dengan tingkah lucunya Kesya berlari mengejar Prilly yang membawa bola, sedangkan Prilly terus berlari menghindari Kesya yang ingin merebut bola darinya. Hati Ali sedikit bergetar ketika melihat pemandangan didepannya, peri kecilnya kini tampak tertawa bahagia bersama orang lain yang tak ada hubungan darah dengannya.
"Kak Pirlly setoppp, Kesya mau ambil bolanya." dengan semangat Kesya berlari mengerjar Prilly, Prilly yang sempat menoleh dapat melihat bulir-bulir keringat yang membasahi kening Kesya. Sepertinya Kesya sangat semangat bermain hingga melupakan rasa lelahnya.
Prilly berhenti, merentangkan kedua tangannya mencoba menghalangi Kesya, namun Kesya malah berlari menghamburkan badannya kedalam pelukan Prilly, membuat Prilly terpental beberapa langkah kebelakang.
"Aduh..." pekik Prilly ketika pantat mulusnya menyentuh rerumpulan yang tumbuh disekitar tanah.
"Kesya hati-hati, lihat itu kak Prilly sampe terpental begitu." tegur Ali pada Kesya.
Kesya melepas pelukannya pada Prilly, berdiri dan menunduk takut, sedangkan Ali berjalan melewati Kesya dan mengulurkan tangan membantu Prilly bangun,
"Jangan marahi Kesya, biasa anak kecil."ucap Prilly pelan pada Ali, membuat Ali menatap lekat mata Prilly. Prilly yang merasa salah tingkah dengan tatapan Ali akhirnya mengalihkan pandangannya. Dengan pikiran kacau Prilly berjalan mendekati Kesya yang masih setia menundukkan kepalanya, memperhatikan tanah seolah-olah tanah lebih menarik untuk dipandang.
Prilly menyentuh dagu Kesya yang mengangkatnya pelan, wajahnya yang cantik memerah, mata indahnya berkaca-kaca.
"Maaf kak Pirlly, gara-gara Kesya kak Pirlly jatuh." ucap Kesya dengan takut-takut,
Bukannya marah atau membentak, Prilly malah tersenyum manis kepada Kesya, membuat Ali menatap bingung pada Prilly.
"Kenapa minta maaf, Kesya kan tidak salah." ucap Prilly dengan tangan yang terulur untuk menyingkirkan helai-helai rambut Kesya yang berterbangan karena hembusan angin.
Dengan siku kanannya Prilly menyenggol Ali, memberikan isyarat agar Ali meminta maaf pada Kesya. Ali menghela nafas pelan, mendekatkan diri pada Kesya dan berucap,
"Sayang maafin papah ya, bukan maksud papah mau marahin Kesya tapi papah cuma mau kasih tau Kesya aja, lain kali hati-hati jangan sampai sikap Kesya membuat orang lain terluka ya sayang."
"Tuh, papah tidak marah sama Kesya, jadi Kesya nggak tidak perlu takut-takut lagi ya sayang." ucap Prilly,
"Sekarang senyum dong." sambung Prilly yang membuat Kesya kembali tersenyum,
Kesya kembali tersenyum dan memandang Ali Prilly yang berjongkok didepannya, matanya berbinar seperti sedang memancarkan kebahagiaan. Ternyata sangat mudah membuat senyuman itu terpacar pada bibir Kesya, gadis cantik dengan senyum indahnya itu.
__ADS_1
Ali menatap bangga pada Prilly, orang yang belum lama dikenalnya namun sudah berhasil membuat Kesya nyaman dan menurut. Matanya menatap lekat wajah cantik Prilly, sekilas mata cantiknya mengingatkan pada mata sang istri. Mata indah yang bisa membuatnya nyaman.
"Pak..." Prilly melambaikan tangan kanannya tepat pada wajah Ali, wajah tampan yang sedari tadi menatap lekat wajahnya. Sepertinya Ali terlalu asyik dengan kegiatannya itu, membuat Ali tak sadar dengan sahutan Prilly, "Pak Ali, hey pak..." ucap Prilly lagi dan lagi,
Dengan tingkah jahilnya Kesya mendorong pelan bahu sang papah, membuat Ali yang sedang berjongkok terjengkang kebelakang. Tawa Kesya pecah melihat ekspresi lucu papahnya, sedangkan Ali menatap dua perempuan cantik didepannya dengan bingung.
"Papah, kak Pirlly cantik ya?" ucap Kesya spontan membuat Kesya mendapat tatapan dari dua orang didepannya.
Kini Ali merasa salah tingkah, tangannya terulur untuk menggaruk rambutnya yang tak gatal, "Kesya apa sih ?"j awab Ali gugup,
"Abis papah dari tadi lihatin kak Pirlly terus, sampai-sampai dipanggil tidak nyaut."
Lagi-lagi Ali dibuat gugup oleh ucapan Kesya, "Papah enggak liatin kak Prilly kok, orang papah tadi lihat burung terbang." elak Ali dengan gugup dan mencoba berdiri,
Dalam hati Prilly bertanya-tanya, apakah iya Ali hanya melihat seekor burung terbang ? padahal jelas-jelas tatapan Ali padanya tadi membuatnya grogi. Dalam hati ingin sekali Prilly mendengar Ali mengaku bahwa dirinya tadi memang menatap Prilly bukan seekor burung.
"Hahaha." seketika tawa Kesya pecah melihat wajah lucu papahnya itu, sedangkan Prilly hanya menatap ayah anak itu dengan hati yang masih bertanya-tanya.
"Kesya ketawanya" tegur Ali tak suka melihat tawa Kesya yang berlebihan. Seketika tawa Kesya berhenti setelah teguran Ali.
"Kesya ayok masuk, Kesya udah kelamaan main di luar." ucap Ali yang dihadiahi anggukan oleh Kesya, "Ayuk Prill." sambung Ali pada Prilly,
Prilly meraih tangan mungil Kesya dan berjalan beriringan masuk ke dalam rumah, sedangkan Ali lebih memilih berjalan dibelakang membuntuti 2 gadis cantik didepannya. Ali berjalan dengan prikiran yang kacau, sepertinya sekarang ia mulai mengagumi mata indah Prilly. Mata dengan warna merah kecoklatan yang membuatnya mengingat mendiang sang istri. Mata cantik yang membuat siapapun merasa nyaman menatapnya. Tatapannya teduh.
Mata Prilly seperti mata Natalia, indah dan selalu menarik perhatiannya. Hampir sebulan mengenal Prilly, Ali baru tahu jika Prilly adalah salah satu wanita yang memiliki mata indah seperti mending sang istri. Mata yang membuatnya mengingat semua kejadian-kejadian manis bersama sang istrinya dulu.
Jika Ali diberi satu permintaan, mungkin ia akan memilih untuk memutar waktu. Mengulang kembali kenangan-kenangan manis bersama istrinya, melakukan apapun untuk membuat sang istri bertahan sampai sekarang, tapi kenapa harus ada kata "Jika".
Brakkk...
Sesuatu yang keras menabrak pintu kaca yang terpasang rapi pada tempatnya, membuat dua gadis cantik yang berjalan beriringan didepan menghentikan langkahnya. Saling bertatapan sebelum membalikkan badannya untuk melihat apa yang menabrak pintu kaca itu. dengan bersamaan Kesya dan Prilly membalikkan badannya kearah belakang, dan betapa terkejutnya ketika melihat apa yang ada dibelakangnya.
Apa yang terjadi ? batin Prilly.
.
__ADS_1