
Kini Prilly dan Lia sedang menyantap berbagai jenis makanan disalah satu kedai kecil dekat rumah sakit yang Andi rekomendasikan.
"Prill gimana toko kamu kedepannya? kamu tutup sampai kita kembali atau tetap buka tanpa kamu?" tanya Lia,
"Sepertinya Prilly ingin menghabiskan stok bunga di toko bu, nanti setelah Prilly sampai Indonesia Prilly akan cari pemasok bunga baru."
"Yasudah terserah Prilly, kamu sudah memberi kabar Dilla dan karyawan lainnya kan ?"
"Tadi Prilly sudah memberi kabar Dilla tapi belum ada jawaban." Prilly merogoh tasnya, dan mengambil ponsel yang sejak tadi diacuhkannya.
"Astaga... " pekik Prilly,
"Kenapa Prill ?" tanya Lia,
"Ponsel Prilly mati bu, pantas saja sejak sampai Malaysia Prilly tidak menerima pesan ataupun telfon dari seseorang." Prilly memperlihatkan layar ponselnya yang menghitam pada Lia,
"Kamu charger dulu ponselnya, sepertinya tadi ibu melihat stop kontak dibelakang kursi itu." Lia menunjuk kursi coklat disamping Prilly, Prilly meraih kursi itu dan menggesernya. Dan benar disana ada stop kontak.
Prilly kembali mengobrak-abrik isi tasnya, menari charger namun tidak kunjung menemukannya.
"Jangan bilang Prilly lupa bawa charger."
"Pakai charger ibu Prill," Lia mengeluarkan charger dari dalam tasnya,
"Charger Prilly beda sama punya ibu." Prilly mengacak rambutnya pelan, ceroboh sekali.
"Habiskan dulu makannya, setelah ini kamu minta tolong sekretaris ayah untuk mencarikan charger daerah sini sebelum malam semakin larut." ucap Lia dan Prilly mengangguk,
Setelah selesai makan Lia bergantian dengan sekretaris Andi untuk menjaga suaminya, sedangkan Prilly pergi mencari toko charger ditemani sekretaris ayahnya, Stefy.
Satu persatu toko mulai Stefy dan Prilly datangi, bertanya dan mencoba itu yang selalu Prilly lakukan. Sudah 4 toko Prilly datangi namun belum juga Prilly menemukan charger yang pas untuk ponselnya.
"Stefy adakah toko yang lebih besar dan lengkap dari ini ? saya sangat membutuhkan charger itu." tanya Prilly panik,
Stefy sedikit berpikir, "Ada, namun disana lebih mahal dari harga pasaran dan lokasinya pun sedikit jauh."
"Antar aku kesana." jawab Prilly cepat,
Dengan cepat Stefy melajukan mobilnya menuju toko yang ada di pusat. Selama perjalanan Prilly disuguhkan dengan keindahan Malaysia dimalam hari, Prilly kagum dengan indahnya negara tetangga ini, setidaknya keindahan ini sedikit dapat mengurangi kepanikan Prilly.
Tak butuh waktu lama kini Prilly dan Stefy sampai disalah satu pusat perbelanjaan yang lumayan besar, cepat-cepat Prilly dan Stefy masuk kedalam.
"Selamat malam. Selamat datang ke Angel Cell, boleh saya bantu?" ucap penjaga toko,
"Adakah terdapat pengecas jenama iphone di sini?" tanya Stefy dengan bahasa Malaysia nya,
"Bolehkah saya melihat telefon bimbit (handphone)?" Prilly memperlihatkan ponselnya pada penjaga toko,
"Tunggu sebentar, nampaknya kami mempunyai pengecas yang sesuai dengan telefon bimbit anda." penjaga toko itu pergi kedalam toko, keluar kembali dengan 2 kotak kecil ditangannya.
"Kami mempunyai 2 jenis," penjaga toko itu mengeluarkan masing-masing charger dan Prilly mencobanya,
"Stefy aku mau ini," Prilly menunjukkan charger pilihannya,
"Berapa banyak ini?" tanya Stefy pada penjaga toko,
__ADS_1
"87 ringgit." Stefy mengeluarkan beberapa lembar uang dan membayarkannya pada penjaga toko karna Prilly tidak mempunyai mata uang Malaysia, itupun Andi yang menyuruh Stefy membayarkan dahulu apa yang diberi Prilly.
Setelah mendapat charger yang didapatkannya Prilly cepat-cepat kembali ke apartement.
***
Dilla,
•Bos ? dimana ?
•Hari ini toko aku buka dulu ya bos,
•Bos ?
•Bos dimana ? ke toko tidak hari ini ?
•Bos jawab dong, nomornya tidak aktif.
•Bos, stok bunga mulai menipis.
•Bos,
•Prilly,
•Bos dimana ?
•Khawatir ini bos ?
•Jangan bercanda deh bos,
•Prilly dimana ? kita nyari kamu !!
Ali,
•Selamat pagi Prill,
•Selamat siang Prill, jangan lupa bunga Kesya.
•Prill ?
•Kok tidak aktif ? Prill ?
•Tidak lupa dengan Kesya kan Prill ?
•Pril ?
•Seharian Kesya menunggu kamu Prill, kenapa tidak aktif ?
•Prill ?
Dan masih banyak lagi pesan dari lainnya.
Prilly membaca satu persatu pesan yang masuk, pertama dari Dilla dan selanjutnya milik Ali.
Seingat Prilly saat sampai di bandara Prilly sudah memberi kabar bahwa dirinya akan pergi ke Malaysia untuk beberapa waktu, Prilly juga sempat berpesan untuk menggantikannya mengantar bunga untuk Kesya.
__ADS_1
"Bukannya aku sudah mengirim pesan ke Dilla saat di bandara tadi ?" Prilly membuka aplikasi pesannya dan mengecek pesan untuk Dilla pagi tadi. Astaga Prilly !!! Dia tidak melihat jika ada tanda seru merah disamping pesan itu, pantas saja mereka mencari Prilly ternyata pesan Prilly tidak terkirim!
"Astaga," Prilly meremas selimut kesal, karena panik dirinya sampai tak tahu jika pesannya tidak terkirim, saking paniknya juga ia sampai lupa membawa charger ponselnya.
Prilly turun dari ranjang, berjalan kearah balkon dan duduk dikursi goyang. Dia mengotak-atik ponselnya kemudian mendekatkan pada daun telinganya.
"Hallo Dilla,"
"PRILLY !!!" Dilla berteriak dari ujung sana, sampai-sampai Prilly harus menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Dilla maaf," Prilly tahu jika sahabatnya itu pasti marah padanya,
"Kamu kemana ? kenapa nomor tidak aktif ? rumah kosong ? Ke Malaysia ngapain ? kenapa tidak bilang ?" tanya Dilla bertubi-tubi, sampai tak sadar jika ucapan gue-lo pun berubah menjadi aku kamu.
"Maaf Dilla. Dari mana kamu tahu kalau aku ke Malaysia ?"
"Satpam perumahan. Cepat cerita!"
"Okey Dill, tadi pagi pas aku siap-siap mau ke toko ibu dapat telfon kalai ayah masuk rumah sakit. Sekretaris ayah minta aku dan ibu untuk kesana karena disana ayah sendiri, karna ayah sakit dan tiket sudah dipesan jadi aku dan ibu langsung pergi kesana. Kami panik, kami takut ayah kenapa-kenapa, ayah disini sendiri."
"Astaga om Andi kenapa ?"
"Alhamdulillah sekarang sudah membaik Dill, doakan ayah cepat pulih."
"Amin Prill," terdengar nada suara Dilla yang sudah mulai reda,
"Sebenarnya sampai di bandara tadi aku sudah kirim pesan ke kamu, aku minta tolong buat habisin stok bunga di toko. Setelah habis kalian semua libur aja dulu sampai aku kembali ke Indonesia, aku juga minta tolong buat antar dan sampaikan maafku pada Kesya karena aku tidak bisa kesana."
"Tidak ada pesan Prilly, kami panik tau gak ! bingunga mau ngapain, itu Ali sama Kesya sampai nyamperin ke toko. Kesya seharian nangis nungguin kamu." ucap Dilla dengan nada tingginya,
"Aku panik Dill, aku udah gak bisa mikir. Saking panik dan buru-burunya aku tuh sampai tidak tahu kalau pesannya tidak terkirim, yang aku pikir cuma ayah saat itu."
"Tapi kenapa harus sampai matiin ponsel ?"
"Setelah kirim pesan aku gak pegang ponsel lagi, aku gak tau kalau pesannya tidak terkirim, aku tidak tahu kapan ponselku mati. Aku baru sadar saat makan tadi, akupun lupa tidak bawa charger, buat hidupin ponsel ini aku tuh keliling-keliling toko buat nyari charger yang pas buat ponsel aku. Dan sekarang aku baru bisa menghubungimu." jelas Prilly,
"Tapi Prill aku tuh khawatir banget, seharian gak ada kabar, di rumah sepi, kami panik. Syukur kalau kamu gak kenapa-kenapa, lain kali sepanik-paniknya kamu kamu juga harus mikirin orang lain yang nunggu kabar kamu Prill, mereka tidak kalah panik dengan kamu."
"Ahhh Dilla maaf, Prilly minta maaf." Prilly merasa tak enak,
"Sudah aku maafkan Prill. Jadi besok aku habisin stok bunga di toko ya, Oiya sampaikan salamku buat om Andi, semoga cepat sehat kembali."
"Iya Dilla nanti aku sampaikan, terima kasih ya."
"Hm... Dill ?"
"Apa Prilly ?"
"Ali udah tau aku di Malaysia ?" tanya Prilly ragu-ragu,
"Gamau ngurusin urusan rumah tangga orang, nanya sendiri Prill, hubungi dia." suruh Dilla,
"Takut Dill,"
"Dia itu khawatir sama lo Prill, Kesya seharian nangis karna nyari lo!" jelas Dilla kemudian telfonpun terputus,
__ADS_1
"Dilla!"
ingin rasanya Prilly menghubungi Ali, namun ia takut. Takut jika Ali akan marah pada dirinya, hatinya bimbang antara ya atau tidak.