
Didalam sebuah kamar yang berdominasi warna biru ini terdapat dua gadis cantik yang sedang sibuk bercerita. Satu diantara mereka terus mengoceh menceritakan sedangkan satunya diam mendengarkan. Entah sudah berapa lama mereka saling cerita, bermula saat langit masih terang dan kini langit sudah berubah menjadi gelap.
"Anjayyy..."
"Kenape..."
Dilla dan Prilly saling bertatapan, keempat bola mata itu saling bertatapan.
"Lo waras gak sih Pril ? lo gila Prill, bisa-bisanya suka sama duda beranak dalam waktu singkat gini ? lo sudah tau semua tentang dia ? sampe lo bisa terpesona selerti ini sama dia... " omel Dilla kepada Prilly,
Wajah Prilly sedikit murung, "Gue juga gak tau Dill kenapa bisa suka sama Ali Dill, ini itu masalah hati, tidak tau kenapa dan bagaimana, intinya gue ngerasa ada yang berbeda. Lo dari tadi ngomel-ngomel salahin gue! Coba lo yang ada diposisi gue, apa gue salah gue suka sama duda ? dia sendiri kan ? apa gue salah ?" walaupun wajahnya sedikit murung namun terlihat sedikit sorotan amarah pada wajah cantik Prilly.
Dilla menghela nafas pelan sambil mengusap dadanya dan berucap, "Gue bukannya salahin ataupun omelin lo Prilly, gue cuma tidak menyangka saja karna lo bisa begitu cepat suka sama cowok, mana cowoknya sudah duda lagi, dan yang gue gak nyangka lo bisa secepat ini suka , tanpa lo tau dia dulu tanpa lo tau latar belakang dia dulu. Kalau dia sudah ada calon gimana ? apa lo tau ? apa lo siap ?."
"Gue juga gak tau Dill kenapa hati gue bisa kayak gini. Sekali lagi gue bilang ini masalah hati, gue gak tau kenapa gue, gak tau bagaimana, yang jelas ini masalah hati."
"Terserah lo deh Prill, pesen gue cuma satu ikuti saja kata hati lo, sebelum lo ngambil keputusan lebih dalam lagi lo harus berpikir matang-matang, lo juga harua cari tau latar belakang dia dulu, jangan sampe lo sakit hati karna kesalahan lo sendiri." ucap Dilla pasrah, kini Dilla dibuat bingung dengan masalah Prilly. Ingin membantu, tapi apa yang harus ia lakukan untuk sahabatnya itu ?
"Gue bingung dengan kata hati gue Dill, kalau ibarat gue ada dipertigaan gue itu tidak tau harus belok kanan atau belok kiri."
"Hati jangan disamakan sama jalan, itu beda."
"Ibarat saja Dilla, gue tuh bener-bener bingung sekarang." ucap Prilly geram,
Prilly bangun dari posisi tengkuranya dan mengubah posisinya menjadi duduk bersila, sedikit bergeser dan turun dari ranjang. Berjalan pelan menuju meja rias sambil sedikit berfikir, "Lo lihat kan gimana tadi sikap Kesya ke gue, sepertinya setiap dia meluk gue itu ada sesuatu sama Kesya, tapi gue bingung sesuatu itu apa."
"Lo bisa tau?"
Prilly menghentikan langkah kakinya dan membalikkan badannya, "Gue bisa rasain, gimana pelukan biasa sama pelukan yang ada sesuatunya."
__ADS_1
"Sesuatu, Syahrini kali."
"****, lo mah gak bisa diajak serius." Prilly kembali melangkahkan kakinya,
"Biar tidak terlalu tegang Prill." balas Dilla dengan tampang konyolnya.
"Tau deh Dill." jawab Prilly singkat dan mendudukkan pantatnya pada kursi kecil dekat meja rias. Matanya menatap pantulan wajahnya dari dalam cermin. Pikirannya kembali melayang pada kejadian siang tadi saat Prilly mengantar bunga ke rumah Kesya.
"Terima kasih kak Pirlly, Kesya suka sekali sama bunganya." ucap Kesya dengan menghadiahi sebuah pelukan hangat kepada Prilly. Sama seperti hari sebelumnya, Prilly merasa sedikit aneh saat Kesya memeluknya, namun Prilly bingung dengan rasa itu.
"Sama-sama sayang." Prilly juga mengelus lembut punggung Kesya membuat Kesya semakin nyaman berada pada pelukan Prilly, mungkin jika Rosa tak menyuruh Kesya melepas pelukannya pada Prilly , entah sampai Kesya akan memeluknya.
Dengan wajah sedikit cemberut Kesya melepas pelukannya pada Prilly, "Ih nenek, Kesya kan lagi peluk kak Pirlly." kesal Kesya sambil menghentakkan kakinya pelan.
Rosa menggeleng pelan melihat tingkah cucunya itu, dan berucap "Kesya kan baru pulang sekolah, belum mandi masih bau keringet masa peluknya lama-lama, kan kasihan kak Prilly sayang kebauan sama keringat Kesya. Kesya kan belum ganti baju, belum mandi juga ." memang setelah pulang sekolah tadi Kesya tak langsung mandi ataupun ganti baju, melainkan duduk di ruang tamu sambil menunggu kedatangan Prilly .
"Bau , tapi sedikit kok sayang. Sekarang Kesya mandi dulu terus makan dan belajar ya. Kak Prilly mau pulang dulu, kasihan nih temen kak Prilly udah lama nunggu." ucap Prilly sambil menunjuk Dilla yang sedaritadi diam dan memperhatikan disebelahnya*.
"*Oh gitu ya, yaudah Kesya habis ini mandi kok."
"Nah gitu dong kan pinter, ya sudah kak Prilly pamit ya sayang."
"Iya kak, tapi Kesya mau cium kak Pirlly boleh ?" tanya Kesya sedikit takut-takut.
Dengan senyum manisnya Prilly berucap, "Boleh dong sayang," Prilly sedikit menundukkan badannya dan mendekatkan pipi kanannya pada Kesya.
Muach...
Sebuah kecupan hangatpun mendarat halus pada pipi kanan Prilly. Setelah Kesya melepas ciumannya, Prilly kembali berdiri tegak seperti posisi semula*.
__ADS_1
Bukkk...
Sebuah boneka berbentuk kepala doraemon mendarat halus tepat pada kepala Prilly, membuat Prilly yang sedang melamun terlonjak kaget.
"Akhhh sakit." Prilly berteriak kaget seraya mengelus dadanya. Prilly menatap tajam kearah Dilla yang sedang tertawa puas diatas ranjang. Rahang Prilly mengeras, tangannya mengepal, serta matanya melotot, diambilnya boneka kepala doraemon itu dan dilemparnya kembali kearah Dilla. Dilla yang sedang asyik tertawa terbahak-bahak tak sadar jika Prilly akan melempar boneka itu kearahnya, lemparan Prilly membuat Dilla yang sedang tertawa dengan posisi duduk bersila membuatnya terjengkang kebelakang dan kepalanya sedikit terbentur kepala ranjang.
Kini giliran Prilly yang tertawa puas melihat Dilla, "Hahaha, makanya jangan macem-macem sama gue, sekarang makan tuh bantal." Prilly tertawa puas sambil memegangi perutnya,
Sahabat bukanlah dia yang selalu ada disaat kita senang, tapi mereka yang selalu ada disaat suka maupun duka. Mereka yang mau diajak gila-gilaan bersama, tertawa bersama, bahkan menangis bersama.
"**** lo Prill, sahabat terkejam tau gak lo, tertawa diatas penderitaan orang lain !" Dilla bangkit sambil mengusap-usap kepalanya yang terbentur tadi,
"Lah ngaca lu, noh kaca gede. Lo bilang gue kejam ? gue juga bakal bilang lo sahabat yang amat-amat kejam tau gak! Satu sama Dil, lo ketawain gue, gue juga ketawain lo" Prilly berjalan kearah Dilla yang sedang duduk bersandar pada ranjang Prilly.
"Sakit ya?" tanya Prilly kepada Dilla yang dari tadi menusap kepalanya.
"Sakit kampret, lo sih balas dendam nggak liat-liat." kesal Dilla membuat Prilly sedikit merasa bersalah. Andai saja Dilla tak memulai duluan pasti Prilly juga tidak akan berulah.
"Maafin gue ya Dill, kan gue tadi kesel. Habis lo sih ngagetin gue juga."
"Iya gue maafin, gue juga maaf dah." ucap Dilla merasa bersalah juga,
"Intinya saling memaafkan aja." kata Prilly dengan senyum manisnya,
"Kita itu selalu berulah, nanti ujung-ujungnya saling maaf-maafan ya. Lucu juga kita ya." balas Dilla cengengesan.
"Itulah yang namanya sahabat." balas Prilly yang diakhiri pelukan hangat dengan Dilla.
Itulah sahabat, selalu bersama, tertawa bersama, menangis bersama, saling berulah satu sama lain namun pada akhirnya saling bermaafan. Lucu memang, namun itulah sahabat.
__ADS_1