
Ali baru saja selesai membacakan dongeng putri salju kepada Kesya, masih terlihat jelas mata Kesya yang sembab serta hidung yang memerah karena efek dari menangis tadi.
"Selamat tidur anak papah, mimpi indah ya sayang." Ali mencium lembut kening Kesya dan pergi meninggalkan Kesya yang sudah tertidur pulas,
Badannya letih, lesu, serta pikirannya kacau. Seharian dihadapkan dengan tumpukan-tumpukan map yang harus diselesaiakan hari ini juga membuat Ali sedikit pusing, ditambah menghilangnya Prilly yang tanpa kabar membuat pikiran Ali semakin beetambah.
"Kemana Prilly ? satupun pesanku tidak ada yang dibalas." cemas Ali, Ali merasakan kepanikan yang luar biasa. Kini orang yang spesial baginya menghilang tanpa kabar. Satu yang Ali takutkan yaitu jika Ali harus kehilangan orang yang dicintainya untuk kedua kalinya.
Ali menarik selimut sampai batas dadanya, mengecek ponselnya, namun tetap sama belum juga ada balasan darinya.
Pikiran dan badannya kini sudah sangat lelah, Ali meletakkan ponselnya asal kemudian mulai memejamkan matanya.
Ting...
Ponsel Ali berbunyi, dengan cepat Ali membuka mata dan meraih ponselnya, mengecek siapa pengirim pesannya.
Dilla ?
Ali membuka pesan Dilla dengan sedikit kecewa, pikirnya Prilly lah yang mengirim pesan namun pikirannya salah.
Dilla,
Pak Prilly sudah menghubungi saya dan dia sudah menceritakan semuanya sama saya, saya hanya ingin menyampaikan maaf untuk Prilly karena sudah membuat Kesya kembali menangis.
Terima kasih,
Kenapa harus Dilla ? kenapa Prilly tidak menghubungiku sendiri ? apa aku sudah tidak penting ?
Hati Ali sedikit lega namun hatinya juga sedikit kesal, apa sulitnya meminta maaf secara langsung ?
Ali mencari kontak Prilly, ibu jarinya ingin memencet layar bersimbol telephone, namun hatinya takut-takut.
Ali menghela nafas pelan, meyakinkan ibu jari dan hatinya untuk kompak menghubungi Prilly,
"Hallo Li," terdengar suara Prilly yang sedikit gugup,
"Hallo Prill, ku kira kamu tidak akan menerima telfonku." ucap Ali langsung,
"Maaf Li, aku tahu aku salah."
"Apa salahnya untuk meminta maaf langsung? apa aku sudah tidak ada tempatnya dihatimu ?"
"Aku panik Li, ayahku masuk rumah sakit. Pagi-pagi kami mendapat kabar kalau ayah masuk rumah sakit, dia disana sendirian. Aku panik, aku takut ayah kenapa-kenapa." ucap Prilly sedikit terisak,
"Apa ?" Ali sedikit terkejut mendengar ucapan Prilly,
"Bagaimana keadaan ayah kamu sekarang ?"
"Alhamdulillah ayah sudah baikan, mungkin besok atau lusa sudah boleh pulang."
__ADS_1
"Alhamdulillah."
"Prill... "
"Iya Li ada apa ?"
"Aku minta maaf Prill, aku tadi tidak bermaksud. Jujur aku panik kamu seharian tidak ada kabar, seisi toko mencari kamu Prill."
"Sebenarnya aku sudah mengirim pesan kepada Dilla saat aku sampai di bandara, tapi aku gak tahu kalau ternyata tidak terkirim."
"Kenapa tidak dicek Prill,"
"Aku sudah gak mikir apa-apa lagi Li, ibu manangis selama dipesawat, pikiranku kemana-mana, baru maghrib tadi aku buka ponselku dan saat itu juga aku tahu kalau ponselku ternyata mati."
"Aku takut kehilangan kamu," ucap Ali pelan,
"Apa Li?"
Ali yang sadar dengan apa yang ia ucapkan pun menjadi gugup,
"Eh enggak Prill, gak apa-apa."
"Aku minta maaf Li, aku tidak bermaksud membuat semua khawatir. Oiya aku dengar dari Dilla jika Kesya menangis karna aku tidak datang, aku benar-benar minfa maaf Li, aku tidak bermaksud membuat Kesya menangis, maaf Li." ucap Prilly merasa bersalah,
"Awalnya aku udah emosi karna disaat aku capek pulang kerja aku malah disuguhkan dengan pemandangan seperti itu, aku kesal karna aku paling tidak suka melihat putri saya menangis."
"Maaf Li,"
"Maaf Li, aku tidak bermaksud."
"Aku itu sayang sama kamu, aku takut kamu pergi, aku nyaman sama kamu Prill." ucap Ali lantang,
"Aku hanya butuh satu kabar dari kamu, itu sudah cukup membuat aku lega Prill. Tapi, karna keadaan seperti ini aku juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan kamu, aku yang minta maaf, maaf sudah sempat berprasangka buruk sama kamu Prill,"
"Aku yang minta maaf Li, aku yang salah. Terima kasih sudah mengerti aku."
"Aku sayang kamu Li,"
"Aku cinta kamu Prill,"
Semakin malam suasana semakin indah, ya walaupun mereka sama-sama punya rasa berslaah namun dengan saling memahami akhirnya merekapun bisa saling memaafkan.
Berawal dari kebimbangan untuk menghubungi Prilly karna Ali yang takut amarahnya akan melonjak karna menghilangnya Prilly dan karna Kesya, namun ternyata sebaliknya. Malam ini menjadi saksi karena pertama kalinya untuk mereka bisa mengungkapkan jika mereka bener-benar saling menyayangi dan benar-benar saling mencintai.
***
"Selamat pagi ayah." sapa Prilly pada Andi yang masih terbaring diranjang rumah sakit,
"Selamat pagi anak ayah yang cantik,"
__ADS_1
"Ayah, hari ini Prilly bawakan bubur ayam untuk ayah. Spesial Prilly yang masak." ucap Prilly sambil memperlihatkan kotak makan kecil ditangannya,
"Terima kasih sayang, nanti ayah makan."
"Oiya yah kata ibu, sore nanti kalau infus ayah sudah habis ayah sudah boleh pulang." ucap Prilly sambil meletakan kotak makanya diatas meja,
"Alhamdulillah," Andi tersenyum senang mendengar kabar baik yang disampaikan anak semata wayangnya,
"Prilly sayang banget sa
aayah," Prilly mendekatkan tubuhnya dan memeluk erat sang ayah, dengan senang hati Andi menerima pelukan Prilly. Pelukan yang sudah lama dirindukannya.
"Ayah juga sayang sama Prilly,"
Disaat mereka sedang menikmati pelukan tiba-tiba seorang dokter masuk dan meminta izin untuk memeriksa keadaan Andi, mau tak mau Andi dan Prilly pun harus melepas pelukanya.
Dokter itu mulai memeriksa dan mencatat semua hasil pemeriksaan Andi, dari hasil pemeriksaan semakin hari keadaan Andi semakin membaik.
"Alhamdulillah keadaan pak Andi semakin membaik, pak Andi hari ini sudah boleh pulang ya." ucap dokter itu,
"Terima kasih dokter,"
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu." dokter itu tersenyum kemudian pergi meninggalkan kamar Andi.
"Asik ayah sudah boleh pulang, ayah harus sembuh terus kita jalan-jalan." ucap Prilly kegirangan, layaknya anak kecil yang mendapatkan permen.
"Siap tuan putri." ucap Andi seraya mencoel pelan pipi Prilly,
Tok tok tok
Terdengar suara pintu yang diketok, selang beberapa detik pintu itu kembali terbuka menampakkan Lia dengan senyum manisnya,
"Masuk bu," suruh Prilly ketika Lia tetap saja berdiri didepan pintu, bukannya menjawab Lia malah menampakan barisan gigi putihnya.
"Kenapa kamu?" Andi bertanya,
"Prill,"
"Apa ibu ?"
"Lihat ibu datang sama siapa," ucap Lia membuat Andi dan Prilly bertatapan,
"Siapa ?"
Lia melebarkan pintunya, kemudian menggeser sedikit langkahnya kearah kanan,
"Ibu.... " ucap Prilly terkejut,
"Untuk Prilly," ucap Lia tersenyum,
__ADS_1
"Ahh Prilly suka." Prilly berlari menghampiri Lia,