
Suara musik dari sebuah benda pipih itu terus saja mengalun merdu, suasana yang tadi sepi kini berubah menjadi sedikit lebih ramai karena suara itu. namun, seorang gadis cantik yang duduk dibawah jendela terlihat sedang tak bahagia, seolah musik yang diputarnya tak ia nikmati. Matanya terus tertuju pada pepohonan rindang yang menari-nari karena tiupan angin. Entah sudah berapa lama gadis itu disana dan entah berapa banyak pula ia menghitung pohon itu bergoyang.
Hari libur telah tiba namun gadis itu tak ada niat sedikitpun untuk pergi meninggalkan rumah, berdiam dan melamun mungkin pilihan yang tepat untuk mengisi waktu liburnya.
"Prilly...Prill..." Lia berjalan dari arah dapur dengan terus memanggil nama Prilly, namun sepertinya sang pemilik nama tak sedikitpun meresponnya.
Lia menggeleng melihat anak gadisnya itu, pantas saja tak ada sahutan darinya toh dia sedang asik melamun,
"Prilly..." Lia memanggil sekali lagi, namun hasilnya tetap sama. Dengan geramnya Lia meraih ponsel yang sedaritadi mengalun dan mematikannya.
Lia berjalan menghampiri Prilly, memanggil dan sedikit menepuk pundaknya,
"Prill... "
"Astaga," Prilly sedikit terlonjak kaget karna tepukan dipundaknya. "Ibu bikin kaget aja" Prilly mengelus dadanya pelan,
"Ibu daritadi panggil kamu tapi kamunya diam saja, ibu juga matiin musiknya tapi kamu juga masih diam saja, kamu kenapa?" tanya Lia penasaran,
Prilly menatap wajah Lia dengan tatapan sendunya, Lia yang mengerti dengan tatapan itupun beralih duduk disamping anaknya,
"Kenapa ? cerita sama ibu."
Prilly tak bersuara namun ia mendekatkan tubuhnya dan memeluk sang ibu, ada rasa nyaman yang ia rasakan, seperti ingin kembali kemasa-masa dimana ia terbebas dari sebuah masalah dan terus bermanja-manja dengan sang ibu, namun ini sebuah kehidupan, mau tak mau kita harus maju untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan dengan melewati berbagai masalah itu terlebih dahulu.
"Kenapa sayang cerita dong sama ibu, kamu diam saja begini bikin ibu penasaran."
"Jika Prilly disuruh memutar waktu, Prilly akan memilih waktu dimana Prilly belum mengenal apa itu namanya masalah."
"Prilly sedang ada masalah ? siapa orang yang membuat Prilly mempunyai masalah dan apa yang dia lakukan sampai kamu berdiam seperti ini ? apa masalah Prilly sangat besar ?" bertubi-tubu Lia bertanya,
"Masalah Prilly cukup membuat Prilly bingung sekaligus bimbang bu, masalahnya masalah hati." ucap Prilly membuat Lia tersenyum tipis, sepertinya anak gadisnya sudah mulai mengenal apa itu cinta,
"Mungkin itu lebih tepat disebut cinta bukan masalah hati Prill."
Prilly melepas pelukannya, mendongak dan menatap wajah sang ibu, "Cinta ?"
"Kamu semakin dewasa Prill, sudah waktunya kamu mengenal cinta yang sesungguhnya bukan cinta yang hanya untuk main-main." ucap Lia sambil merapikan helai-helai rambut yang menutupi wajah cantik anaknya itu.
"Apa secepat ini Prilly harus mengenal cinta dengan serius ? Prilly masih belum mengerti apa itu cinta bu, Prilly masih sedikit ragu senjak itu bu,"
"Cepat atau lambat kamu akan berhadapan dengan yang namanya cinta dan kamu juga akan mengerti apa itu cinta yang sesungguhnya." jawab Lia tersenyum,
"Memang siapa laki-laki yang membuat anak ibu sampai seperti ini, kenalin dong sama ibu." tanya Lia dengan nada menggoda membuat Prilly tersipu malu,
"Hus malah bengong, siapa Prill ? apa ibu pernah bertemu ?"
"Ih ibu apa sih, kepo banget." jawab Prilly tersipu malu lalu beranjak meninggalkan sang ibu yang masih tersenyum.
__ADS_1
***
Suara musik terdengar memenuhi sebuah ruangan yang dipenuhi dengan kelap-kelip lampu, banyak bunga tertata rapi pada meja serta sudut-sudut ruangan, bahkan banyak juga warna-warni balon yang tertempel rapi pada dinding.
Disebuah meja terdapat seorang laki-laki tampan yang tak asing bagi para tamu, kemeja biru yang dipadukan dengan jas hitam membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih tampan dari biasanya. Duduk seorang diri dengan segelas jus jeruk didepannya, membuat para hawa terpesona melihatnya. Mata laki-laki itu melirik kanan kiri mengamati banyaknya tamu yang bersuka ria.
"Bro..." sebuah tepukan mendarat dipundaknya membuatnya menoleh keasal suara.
"Loh Kevin." ucap Ali sedikit kaget ketika melihat siapa yang menepuk pundaknya, pasalnya entah sudah berapa bulan lamanya ia tak bertemu dengan sahabatnya itu.
"Apa kabar lo Li ? sendirian aja lo ?" ucap Kevin sambil menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Ali.
"Alhamdulillah baik bro, iya nih gue sendirian."
"Dan lo juga masih sendiri, hahaha" goda Kevin tertawa renyah,
"Lagi cari yang tepat gue bro biar gak nyakitin hati cewek." jawab Ali dengan senyum manisnya membuat Kevin menaikkan sebelah alisnya,
"Wah pak bos nyarinya yang kaya gimana nih ? coba lirik kanan kiri bro, banyak cewek yang cantik-cantik tuh yang bodynya kaya gitar spanyol juga banyak, masa tidak ada satupun yang menarik perhatian." Kevin menunjuk cewek-cewek yang ada disekitarnya membuat Ali menggeleng pelan, ternyata sahabatnya itu tak berubah, masih saja seperti dulu, selalu melihat perempuan dari paras cantiknya saja.
"Lo dari dulu tidak berubah bro, yang lo lihat hanya fisiknya saja. Cobalah mengenal perempuan dari hatinya, cantik tidak menjamin bro, percuma kan cantik parasnya tapi buruk hatinya."
"Waduh pak bos kata-katanya ngena banget ih." ucap Kevin dengan diiringi tawa,
"Hahaha, Eh lo datang sama siapa ? sama cewek yang mana lo ?"
"Wah parah nih, bilangnya bentar tapi lama gini paling keasikan sama ceweknya."ucap Kevin lagi,
"Oh gitu, eh gimana pekerjaan lo ? masih seperti dulu atau lo sudah pindah dimana gitu ?"
"Gue masih ditempat yang dulu kok,"
Ali dan Kevin mulai bercerita dan saling bertukar cerita, bahkan tak jarang mereka mengingat kejadian lampau yang membuat mereka tertawa bersama. Malam yang indah, bertemu sahabat lama dan bercerita.
Malam semakin larut namun para tamu semakin banyak berdatangan, mereka berdansa bersama, bernyanyi bersama, bahkan ada yang bergosip ria. Ali dan Kevin pun masih tetap ditempat yang sama dan dengan tema pembicaraan yang sama, entah sudah berapa lama mereka bercerita namun teman Kevin belum juga menampakkan batang hidungnya.
Drrrttt
Drrrttt
Drrrttt
Ponsel Kevin bergetar diatas meja, diraihnya ponsel itu dan digeser tombol berwarna hijau.
"Hallo."
"..."
__ADS_1
"Gue ada dimeja deket panggung, masuk aja nanti dari pintu masuk kelihatan kok." ucap Kevin singkat lalu mengakhiri panggilannya,
"Kurang ajar nih, ditungguin dari tadi malah enak-enakan berduaan sama cewek ." geram Kevin,
"Siapa ? temen lo ?" tanya Ali yang dihadiahi anggukan oleh Kevin.
"Biarlah kaya lo gak pernah sama cewek aja."
"Iya juga sih, hahaha."
"Makin rame ya bro," Ali mengamati sekitar, terlihat semakin banyak tamu yang berdatangan. Saat mengedarkan pandangannya tak sengaja mata Ali menangkap sesuatu dipojok sana, sesuatu yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Disana, terlihat seseorang yang tidak asing dimatanya atau bahkan dihidupnya. Seketika wajahnya mengingatkan dengan sesorang yang ada di rumah.
Gaun hitam yang menempel ditubuhnya dengan rambut yang terurai lurus membuatnya terlihat lebih cantik, apalagi senyum manis yang terukir dibibirnya, seolah dia sedang berbahagia malam ini.
"Bro..." teriak Kevin memanggil sesorang, mungkin itu temannya yang baru saja menelfonnya tadi. Dengan senyum pria itu datang menghampiri meja dimana Ali dan Kevin duduk, tak lupa pria itu juga mengajak perempuan disampingnya. Semakin dekat langkah mereka semakin cepat juga jantung Ali berdetak, ada apa ini ?
Ali menundukkan sedikit kepalanya, berharap perempuan itu tidak melihatnya ada disini, namun sial Kevin terlebih dahulu mengenalkan dirinya pada temannya itu sehingga mau tak mau Ali harus mendongak dan mengenalkan diri.
"Bro kenalin ini temen gue, Lex kenalin ini sahabat gue." ucap Kevin sambil menepuk pelan lengan Ali. Perlahan Ali mendongak dan menatap sepasang pria dan wanita didepannya.
"Ali..." ucap Ali pelan dengan mata tertuju pada perempuan itu, seketika mata mereka saling berpandang namun tak bertahan lama karena Alex langsung mengajaknya bicara.
"Gue Alex dan ini Prilly." ucap Alex dan memperkenalkan Prilly pada Ali.
"Kita sudah kenal kok." ucap Prilly dengan senyum tipisnya, namun tidak ada yang meresponnya.
Alex menyeret kursi disamping Ali dan mengisyarakan agar Prilly duduk disana. "Sorry ya Vin lama, tadi didepan ketemu Rena sama Dino dulu."
"Alah alasan aja lu, bilang aja kalian berdua mau pacaran kan ? ngaku aja deh." ucap Kevin yang dihadiahi tepukan dilengannya.
"Siapa dia ?" hati Ali betanya-tanya. Ali memilih diam dan mencerna beberapa ucapan Kevin tadi, "Wah parah nih, bilangnya bentar tapi lama gini paling keasikan sama ceweknya kali.","Kurang ajar nih, ditungguin dari tadi malah enak-enakan berduaan sama cewek ."
"Apa mungkin itu kekasih Prilly ? dilihat dari penampilannya mereka sangat cocok, sama-sama menggunakan pakaian dengan warna hitam membuatnya terlihat serasi." hati Ali terus bertanya-tanya.
"Eh Li lo kenapa diam aja lo, tadi aja ngomong mulu." tanya Kevin ketika melihat sahabatnya itu mendadak menjadi pendiam.
Mata Prilly melirik kearah laki-laki yang ada disampingnya, wajahnya terlihat tak bersemangat, kira-kira kenapa dengan laki-laki itu ?
"Udah Prill jangan diliatin Alinya paling dia diam karena nahan kentut." canda Kevin membuat Prilly salah tingkah dan mengalihkan pandangannya.
"Aduh Kevin lihat lagi, kan malu ketahuan."Batin Prilly.
Detik berganti menit, lama kelamaan Ali mulai terlihat biasa bahkan kadang Ali juga bergabung dalam pembicaraan mereka walaupun terkesan singkat. Sedangkan Prilly lebih memilih untuk diam dan mendengarkan tiga laki-laki disekitarnya yang sedang membahas tentang bisnis, sesekali juga Prilly melirik kearah laki-laki yang sama, hingga akhirnya tatapan itu bertemu lagi,
1 menit berlalu,
2 menit,
__ADS_1
Dan tiba-tiba saja .....