
Rosa duduk termenung pada kursi taman yang ada di belakang rumah, sejenak pikirannya kembali mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Kejadian yang berhasil membuat Rosa bersedih. Beberapa hari yang lalu saat menjemput Kesya sekolah Rosa tak sengaja mendengar percakapan antara Kesya dan teman-temannya, dimana percakapan itu membuat Rosa bersedih.
*Disebuah halte dengan cat berwarna-warni terdapat beberapa gadis-gadis kecil yang sedang duduk berjajar dengan permen ditangannya masing-masing. Semakin siang semakin berkurang pula jumlah gadis-gadis kecil itu hingga kini hanya menyisakan 4 orang gadis kecil yang sangat lucu, salah satu diantara mereka adalah Kesya.
"Besok kita beli permen lagi yuk, aku mau beli yang hello kitty." ajak gadis berambut pendek itu,
"Ayok, aku juga mau yang doraemon." balas Kesya sambil sesekali menjilati permen ditangannya.
Tin tin...
Suara sebuah klakson mobil berhasil menggetkan 4 gadis kecil itu, "Alya ayo sayang pulang." teriak wanita berhijab yang berada dikemudi stir,
"Iya mah, temen-temen aku duluan ya mamah aku sudah jemput." pamit Alya pada Kesya dan teman-temannya,
"Iya Alya, sampai ketemu besok di sekolah. Bye bye." ucap Kesya sambil melambaikan tangannya pada Alya yang sudah memasuki mobil berwarna hitam itu.
Sekarang hanya tinggal 3 gadis kecil yang sedang menunggu jemputan masing-masing.
"Mamah Alya cantik ya." icap Gisel, teman Kesya sambil menatap jalanan yang tak begitu ramai.
"Iya cantik, pakai kerudung gitu ya." balas Kesya.
"Kesya kalau mamah kamu mana, kenapa kamu selalu diantar jemput nenek kamu, memang mamah kamu kemana ?" kini giliran Yaya yang bersuara,
Mendengar pertanyaan dari Yaya raut wajah Kesya yang tadinya ceria berubah menjadi sendu, "Mamah aku ada kok, mamah aku selalu nemenin aku kemana aja seperti kalian juga, tapi mamah aku berbeda dan tidak seperti mamah kalian. Mamah aku tinggalnya di Surga." jelas Kesya dengan wajah sendunya,
"Kata kakak aku kalau oranh tinggal di Surga itu berarti orang itu sudah meninggal." ucap Gisel,
"Berarti Kesya tidak punya mamah dong, kan mamah Kesya sudah meninggal." ucap Yaya,
"Aku punya mamah ! mamah aku ada, mamah aku selalu jagaian aku!" bentak Kesya pada teman-temannya,
"Haha Kesya tidak punya mamah, mamah Kesya hantu." ledek Yaya pada Kesya, terlihat mata indah Kesya mulai berkaca-kaca. Ucapan temannya berhasil membuat hati Kesya terluka.
"Aku punya mamah!" bentak Kesya lagi dengan kesal, sedangkan wanita paruh baya yang sedari tadi mendengar percakapan 3 gadis kecil itu dari balik halte mulai meneteskan air matanya. Sungguh tak tega jika ia harus melihat cucu kesayangannya diledek teman-temannya karena mamahnya yang sudah meninggal. Dengan langkah yang terasa berat Rosa berjalan mendekati cucu Kesayangannya.
"Kesya."
"Nenek." teriak Kesya langsung berhamburan kepelukan sang nenek,
"Pulang yuk sayang," ajak Rosa pada Kesya yang masih memeluknya,
__ADS_1
"Gisel, Yaya, Kesya pulang dulu ya, bye bye. Sampai ketemu di sekolah besok." pamit Rosa pada teman-teman Kesya,
Dengan posisi yang masih memeluk Rosa, Kesya dan Rosa berjalan menghampiri mobil yang Rosa parkir dibalik halte, saat sudah memasuki mobil Rosa bertanya,
"Kesya kenapa sayang ?"
"Nek apa iya kalau mamah sudah meninggal itu berarti Kesya sudah tidak punya mamah?"
"Dengar kata nenek, Kesya itu punya mamah cuma Kesya dan mamah ada ditempat yang berbeda, mau mamah Kesya pergi kemanapun ataupun sudah meninggal itu tetep mamah Kesya, jadi jangan dengerin kata temen-temen ya sayang. Kesya punya mamah, hanya tempatnya saja yang berbeda."
"Kalau Kesya punya mamah baru apa Kesya masih tetep diledek temen-temen nek ?" tanya Kesya dengan tatapan sendunya,
"Sayang, punya mamah baru itu tidak gampang, cari mamah baru itu susah jadi Kesya harus sabar ya nanti kalau Allah sudah menentukan siapa mamah baru Kesya pasti Kesya punya mamah baru. Sekarang Kesya senyum dong, ingat kata nenek jangan dengerin kata mereka yang selalu menjatuhkan Kesya, kalau perkataan mereka kurang baik cuekin saja ya sayang jangan diambil hati." pesan Rosa pada cucu kesayangannya,
"Iya nek, Kesya bakal tutup telinga kalau temen-temen Kesya ngeledek lagi." ucap Kesya tersenyum membuat Rosa bernafas lega, setidaknya perkataannya bisa membuat Kesya bangkit lagi*.
"Bu... Ibu... Ibu dimana ?" teriakan Ali membuyarkan lamunan Rosa,
"Ibu disini Li." teriak Rosa dan tak lama munculah laki-laki tampan kebanggaannya.
"Kenapa sih Li ? Kesya dimana ?"
Ali menghampiri Rosa dan duduk disebelahnya, "Kesya naik ke kamar bu,"
"Ali bingung bu,"
"Bingung kenapa ? tumben-tumbenan kamu bingung langsung cari ibu, biasanya diam aja, kenapa coba? cerita sama ibu."
"Kesya minta mamah baru." ucap Ali langsung membuat Rosa kaget,
"Apa ibu bilang, cepat atau lambat Kesya pasti akan menginginkan hal itu. Terus apa yang mau kamu lakukan, apa kamu akan tetap diam saja dan membiarkan Kesya menunggu lebih lama lagi atau supaya Kesya diledek lebih parah lagi sama teman-temannya?" ucap Rosa membuat Ali menatap ibunya bingung,
"Diledek ? apa yang membuat Kesya diledek bu ?" tanya Ali tak sabaran.
"Karena Kesya selalu diantar dan dijemput neneknya, bukan mamahnya. Teman-teman Kesya mengira Kesya tidak mempunyai mamah dan itu membuat Kesya semakin terpuruk."
"Astaga, Ali harus bagaimana bu ?" Ali mengacak rambutnya pelan, semakin kesini masalah semakin rumit.
"Kamu masih nanya Li, sudah berapa kali ibu bilang kalau kamu harus cari pengganti Natalia." geram Rosa,
"Tapi siapa bu ?"
__ADS_1
"Terserah Ali. Cari yang cocok sama Ali, teman-teman Ali kan banyak masa tidak ada satupun yang bisa mencuri perhatian Ali. Oiya jangan cari yang cantik saja cari yang baik, yang mau menerima Ali apa adanya, sayang sama Kesya dan yang pasti dia tulus."
Ali berdiam sejenak, mencoba memikirkan siapa kira-kira perempuan yang cocok untuk dirinya, yang mau menerimanya dengan status dudanya.
Apa Mira ? oh tidak! setahu Ali Mira sudah memiliki calon, Mira juga bukan tipe Ali.
Danis ? Cantik sih, berhijab, tapi terlalu muda untuk berumah tangga. Ali juga tidak terlalu dekat dengan dia.
Mega ? Dia tak suka dengan anak kecil yang terlalu hiperaktif sedangkan Kesya anak yang hiperaktif.
Atau...
"Prilly, sepertinya dia gadis yang baik, sopan, dari bola matanya saja sudah terlihat, apalagi Kesya juga sudah cukup mengenalnya." ucap Rosa tiba-tiba membuat Ali menghentikan pemikirannya tadi,
"Prilly ?"
"Iya Prilly, ibu suka sama semua tingkah dia. Dia sopan, terlihat tulus dengan Kesya, dia ramah, ibu suka." tiba-tiba sebuah senyuman terukir diwajah Rosa,
"Tapi apa dia mau?" tanya Ali ragu,
"Kamu selalu tegas dalam urusan keluarga, dalam pekerjaan, tapi soal cinta, kenapa kamu harus ragu-ragu seperti ini ?"
"Karna Ali tidak mau menyakiti hati perempuan bu," jawab Ali cepat,
"Ibu tau maksud Ali, tapi cobalah berpikir lebih masalah percintaan, pikirkan kebahagiaan Kesya." tiba-tiba Rosa beranjak dari duduk manisnya dan pergi meninggalkan Ali, sepertinya Ali butuh waktu sendiri untuk berpikir.
"Bu, Ali harus gimana ?" teriak Ali mencoba menghentikan langkah ibunya namun sayang Rosa tak sedikitpun merespon ucapan Ali dan tetap melangkahkan kakinya hingga akhirnya menghilang dibalik pintu.
"Ya Allah aku harus bagaimana sekarang, Kesya dan ibu ingin aku mencari istri baru, namun hati ini sangat sulit untuk menerimanya. Ya Allah berikanlah petunjuk untuk hambamu." batin Ali,
Mencari dan melupakan adalah hal yang sama-sama sulit untuk dipilih, keduanya sangat penting. Namun apalah daya, pilihan itu harus tetap dipilih.
Ali berdiri dari duduknya berjalan masuk kedalam rumah dan menyambar kunci mobil yang terletak diatas laci, tanpa pamit Ali menuju garasi dimana mobil merah itu terparkir.
Dengan kecepatan sedang Ali mengemudikan mobilnya menuju jalan raya, bukan belok kanan menuju kantor ataupun belok kiri menuju toko bunga Prilly, melainkn tetap lurus kedepan melewati perumahan yang cukup luas kemudian melewati sebuah tanah yang lapang.
Disinilah Ali, berhenti disebuah tanah lapang yang dipenuhi dengan gundukan tanah yang dilengkapi dengan batu nisan diatasnya, mencurahkan kebimbangannya pada mending sang istri mungkin pilihan yang tepat. Dengan mengucap Bismillah Ali melangkahkan kakinya melewati gundukan demi gundukan, hingga akhirnya Ali berhenti disebuah gundukan dengan batu nisan bertuliskan "Natania Putri".
Ali berjongkok menghadap barat kemudian mengelus batu nisan yang semakin tua itu,
"Hallo sayang aku datang lagi untukmu. Mungkin kedatanganku kali ini tidak seperti kedatanganku sebelumnya, tak ada bunga mawar untukmu, namun kali ini aku membawa cerita untukmu. Jujur, aku sangat berat menyampaikan ini tapi aku harus menyampaikanya. Kesya anak kita ingin sekali punya mamah baru dan ibu juga selalu mendesakku untuk menuruti kemuan Kesya itu, sayang disini aku ingin minta izin untuk hal itu, jangan pernah berpikir jika aku akan melupakanmu, melupakan kenangan-kenangan manis kita, aku akan sisakan ruang untukmu dihatiku. Izinkan aku untuk membahagiakan peri kecil kita. Siapapun nanti orangnya akan aku bawa kesini untuk bertemu kamu." tanpa sadar saat Ali berbicara setetes cairan bening keluar dari ujung matanya. Seperti tega tak tega mengucapkan itu, sebenarnya Ali tak mau menyakiti hati istrinya yang kini sudah bahagia disana.
__ADS_1
"I love you sayang, bahagia disana, doaku akan selalu menyertaimu."