
*Baru kali ini kurasakan ada yang beda...
Tadinya tak pernah, menatapnya lebih lama...
Awalnya biasa, semakin hari semakin berbeda...
Getarannya... tak lagi sama...
Can you see the secreat of my eyes,
Can you feel what I feel here inside,
Iam fall in love with you...
Haruskan ku katakana cinta,
Kuragu tuk menyatakannya
Iam fall in love with you*...
Suara merdu Prilly menggema dalam ruangan yang penuh dengan bunga ini. Ruangan yang tak terlalu besar tempatnya menyimpan berbagai macam jenis bunga sebelum dipindahkan ke toko untuk dijual. Entah setan apa yang merasuki Prilly hari ini, lagu demi lagu selalu ia lantunkan dengan suara merdunya. Mugkin jika bunga – bunga dalam ruangan ini bisa berbicara, pasti Prilly akan banyak mendapat pujian untuk suara merdunya.
"Awhhh..." pekik Prilly ketika tangannya tak sengaja terkena duri dari tangkai mawar,
"Ash, gue kenapa sih hari ini ? sepertinya gue semakin aneh, dari pagi pengen nyanyi terus , bikin tidak fokus kerja." Prilly berguman pada dirinya sendiri seraya mengelap sedikit darah yang keluar dari tangannya,
Bukan hanya pagi ini Prilly sedikit berubah, namun sejak kemarin saat selesai makan siang bersama Ali. Kemarin tiba-tiba tangannya menulis puisi yang super-super konyol dalam notesnya, sekarang giliran mulutnya yang melantunkan lagu-lagu cinta. Sepertinya kini Prilly semakin tergila-gila dengan pesona Ali.
"Apa gue superti ini gara-gara terpesona sama pesonanya Ali ? haduh gimana ini ? lo sih Pril baru kenal udah suka aja. Lo bodoh Prill, lo *****." ucap Prilly mengatai dirinya sendiri,
__ADS_1
"Tapi siapa coba yang tak tergila-gila dengan Ali, sudah tampan , badannya tegap dan kekar , cool, mapan, ya walaupun duda tapi tetep keren kok." Prilly berucap sambil berangan-angan membayangkan betapa tampannya Ali.
Saat sedang asyik membayangkan Ali, terdengar ponsel Prilly yang berdering. Dengan sedikit kesal Prilly mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang menelfon.
"Awas aja kalau yang telfon nggak penting, gue bakal mati..." ucap Prilly terhenti ketika melihat nama siapa yang menelfonnya. Kedua bola mata Prilly melotot mencoba memastikan siapa yang menelfonnya, kini jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Dengan tangan yang sedikit gemetar Prilly menggeser layar hijau dilayar ponselnya kemudian mendekatkan ketelinganya.
"Hallo"
"Hallo, Assalamualaikum Prill." suara itu terdengar jelas ditelinga Prilly, suara laki-laki tampan yang kini sedang dikaguminya,
"Waalaikumsalam Pak, ada yang bisa saya bantu ?"
"Hari ini apa kamu sudah antar bunga pesanan Kesya?" seketika ucapan Ali membuat hati Prilly down, Prilly kira Ali menelfonnya karena ada urusan dengannya, eh ternyata.
"Belum pak, ini lagi saya siapin bunganya." Prilly melihat jam tangannya, "Sekitar 1 jam lagi saya akan antar pak."
"Baik pak, nanti saya akan antar ke rumah bapak." jawab Prilly singkat,
"Kalau begitu saya tutup telfonnya. Terima kasih. Assalamualaikum."
"Sama-sama. Waalaikumsalam."
Setelah sambungan terputus kemudian Prilly meletakkan kembali ponselnya ketempat semula. Mulutnya tak berhenti menggerutu tak jelas, bahkan sekarang terlihat bibirnya yang sedikit mengerucut.
Tiba-tiba terdengar pintu dibuka, dari balik itu muncul Dilla dengan tangan berkacak pinggang, rahangnya sedikit mengeras melihat bosnya itu, sedangkan Prilly yang melihat ekspresi sahabatnya itu sedikit cengengesan.
"Kenapa lo Dil ? gitu amat wajahnya."
"Kenapa kenapa, bu bos itu yang kenapa ? katanya mau ambil bunga, tapi lamanya minta ampun. Saya sampe kuwalahan tau tidak bos, diluar banyak banyak pelanggan. Nah bu bos malah asyik disini, terus mana bunganya ? dapat berapa banyak bos dari tadi ? sekeranjang ? atau berapa puluh keranjang ?" omel Dilla kepada bosnya, sepertinya hanya Dilla yang berani memaki-maki bosnya sendiri tanpa ada rasa takut.
__ADS_1
"Tuh..." tunjuk Prilly pada beberapa bunga yang ada diatas meja.
"Astaga bu bos, tidak salah itu ?." Dilla menepuk jidatnya, rahang Dilla terlihat semakin mengeras melihat tingkah bosnya itu, mana bisa berjam-jam hanya mendapatkan beberapa tangkai bunga saja. Bosnya itu memang sedikit aneh akhir-akhir ini.
"Bu bos ngapain aja sih, dari tadi masa cuma dapat segitu sih. Mending tadi saya aja yang ambil dan rapiin bunganya, pasti sudah dapet banyak. Astaga punya bos gini amat, kalau bukan sahabat sekaligus bos saya udah saya lempar pake gunting bos bos." saat Dilla sedang asyik marah samar-samar terdengar kekehan kecil yang keluar dari mulut Prilly, bukannya marah ataupun dendam kepada sahabatnya itu, namun ia malah tertawa geli. Sahabatnya itu memang sangat lucu jika sedang marah.
"Udah lah jangan marah-marah, nanti cantiknya luntur loh." hibur Prilly seraya mencolek dagu sahabatnya itu,
Dilla menepis tangan Prilly, "Siapa yang gak marah kalau bosnya gini coba, kadang teladang, kadang rajin, kadang juga males-malesan." jawab Dilla ketus,
"Saya pake gue lo aja ya biar enak." ucap Prilly. Sapaan "Aku" ,"Kamu" selalu Dilla dan Prilly gunakan saat bekerja, dan diluar itu "Gue","Lo".
"Gue ngerasa ada yang aneh dari diri gue Dill, semenjak saat itu gue seperti orang yang bener-benar konyol tau tidak."
"Semenjak saat itu ? saat apa ?" tanya Dilla penasaran.
"Iya saat itu, waktu dimana gue bertemu dia, saat dimana gue kenal dia."
"Dia ? Dia siapa ? kalau ngomong yang jelas dong, jangan bertele-tele seperti ini, dikira gue cenayang kali yang tau apa aja. Buruan jangan bikin penasaran orang dosa tau gak!" lagi-lagi Dilla dilanda rasa semakin penasaran dan bertanya-tanya karena ucapan Prilly.
"Kata siapa bikin penasaran orang dosa? itumah akal-akalan lo aja Dilla."
"Kata oranglah, masa iya kata batu! kalau gue tidak dikasih tau gue juga tidak akan bicara seperi ini."
"Gini aja, nanti toko ditutup lebih awal aja dan nanti malam lo harus tidur di rumah gue, Okey ? Gue akan cerita semuanya sama lo, dari awal sampe akhir pokoknya gue ceritain sama lo. Soal baju tidak usah bingung, pakai saja baju gue aja seperti biasa. Dan sekarang waktunya bekerja, jadi tidak baik untuk bercerita. Karna waktu itu sangat berharga, ingat itu !" ucap Prilly melenggang pergi meninggalkan Dilla dalam ruangan yang dipenuhi bunga-bunga ini.
"Lu yang buang-buang waktu tau gak! Dasar bos amnesia, untung bos gue lu, kalau tidak gue terkam lu Pril Prill !" teriak Dilla yang sedikit didengar oleh Prilly membuat Prilly sedikit tertawa dalam jalannya.
Dilla meraih gunting dan merapikan kembali bunga-bunga yang sempat Prilly rapikan beberapa. Satu per satu bunga itu mulai rapi dengan tangan lihainya , tak seperti Prilly yang melakukannya dengan waktu lama dengan hasil yang sedikit, tapi Dilla malah sebaliknya.
__ADS_1