Dari Bunga Turun Ke Hati

Dari Bunga Turun Ke Hati
Duda Ganteng


__ADS_3

"Nenek bunga Kesya cantik kan?" tanya Kesya yang sedang duduk dipangkuan Rosa dengan 4 tangkai mawar ditangannya, sepertinya sekarang Kesya mulai menjadi gadis kecil pecandu bunga.


"Cantik sayang, kayak kamu cantiknya." balas Rosa yang membuat Kesya tersenyum manis.


Rosa menatap sendu pada cucu kesayangannya, sebahagia itukah ia mendapatkan bunga itu. Kesya memang selalu punya banyak waktu bersama keluarga, namun ia sedikit kurang waktu untuk mengenal dunia luar. Ali memang sering mengajak Kesya pergi ke luar saat libur tiba, namun itupun pasti sangat sebentar, karena menurut Ali dunia luar tidak baik untuk gadis sekecil Kesya. Rosa ingin sekali mengajak cucu kesayangannya pergi jalan-jalan seperti anak kecil pada umumnya yang bebas bermain kesana-kemari, namun apalah daya tubuh Rosa yang semakin menua mengakibatkannya mudah lelah.


"Nek, kata papah kak Pirlly punya banyak bunga lo." Kesya berucap dengan mata yang berbinar,


"Masa sih sayang ? sebanyak apa memang ?" tanya Rosa penasaran,


"Enggak tau nek. kemarin Kesya diajak ke toko kak Pirlly, tapi tokonya sudah tutup." ucap Kesya dengan wajah yang sedikit murung,


"Oh gitu, pasti lain kali papah ajak Kesya kok. Jadi Kesya jangan sedih ya ." hibur Rosa pada cucu kesayangannya,


Rosa sedikit menengok kearah jam dinding yang menempel dibelakangnya, jam itu menunjukan pukul 11.35 siang, itu tandanya sudah waktunya untuk Kesya tidur siang. Rosa menurunkan Kesya dari pangkuannya dan berucap, "Sayangnya nenek yuk bobok siang dulu, udah waktunya untuk Kesya bobok. Besok kan Kesya sekolah, jadi sekarang Kesya bobok dulu biar besok semangat sekolahnya." ucap Rosa yang dihadiahi anggukan oleh Kesya


Rosa menuntun tangan mungil Kesya untuk menuju kamar Kesya, kamar yang berdominasi warna biru langit lengkap dengan stiker-stiker doraemon yang tertempel disana. Deretan boneka doraemon juga tertata rapi pada rak disamping almari.


Rosa sedikit membantu Kesya menaiki ranjang dan menarik selimut lalu menyelimutikan pada Kesya sampai batas leher . Sebelum meninggalkan cucu kesayangannya, tak lupa Rosa mencium kening cucu kesayangannya. Setelah dirasa Kesya sudah mulai mengantuk Rosa meninggalkan Kesya dan benar tak butuh waktu lama kini kesya sudah terlelap.


***


Terlihat seorang laki-laki tampan sedang duduk pada kursi kebanggaannya, matanya tak pernah lepas dari laptop canggih didepannya. Setiap hari di kantor Ali menghabiskan waktunya untuk duduk dan bergulat dengan pekerjaan yang menumpuk, bahkan sesekali ia lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Tok tok tok


"Masuk." ucap Ali sedikit melirik siapa yang datang. Pintu itu terbuka menampilkan perempuan muda berrambut sedikit pirang dengan pakaian yang sedikit ketat, apalagi pada bagain pantat dan dadanya.


"Ada apa Mir ?"tanya Ali pada sekertaris sexy nya itu tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop di depannya.


"Saya cuma mau bilang ini sudah jam makan siang pak, apa bapak tidak ingin keluar untuk makan siang ?."Mira berjalan dengan centilnya kearah Ali, membuat Ali yang melihatnya sedikit risih dengan tingkah Mira.


"Terima kasih sudah mengingatkan Mir, silahkan kamu bisa keluar." ucap Ali ketika Mira semakin mendekat, hingga akhirnya Mira berjalan melenggang menuju pintu. Entah sudah berapa kali Ali mengingatkan Mira untuk berpakaian lebih sopan, namun tetap saja Mira berpakaian seperti itu. Pakaiannya memang sudah bagus , rapi, serta panjang , namun pakaian itu terlalu ketat sehingga akan terlihat jelas lekuk tubuhnya.


Mira memang centil tapi tidak kesemua orang, tapi untuk masalah pekerjaan Ali bisa mengacungkan 4 jempol untuknya bahkan lebih. Dia sekerteris yang disiplin, rajin, dan tentu professional. Sebisa mungkin Ali harus bisa mempertahankan Mira, ya walaupun ia kadang merasa risih dibuatnya.


Saking sibuknya dengan pekerjaan, Ali sampai lupa jika ini sudah jam makan siang. Tanpa membereskan pekerjaannya Ali berjalan keluar untuk sekedar mengisi perutnya. Kakinya terus berjalan menyusuri trotoar sekitar kantornya. Ali memang biasa berjalan kaki untuk pergi ke resto mini dekat kantornya.


Ali mulai memasuki resto mini ini, diedarkan pandangannya keisi resto ini untuk mencari tempat kosong. Tapi sepertinya ia tak menemukan meja kosong.


"Hah, hari apa ini ? tumben sekali tidak ada meja kosong." guman Ali sambil memperhatikan sekelilingnya. Hingga matanya tertuju pada kursi kosong samping perempuan itu duduk.

__ADS_1


Ali berjalan mendekati perempuan itu, berniat meminta izin agar ia bisa duduk di sampingnya. Ali sedikit menghilangkan rasa gengsinya demi perut.


"Permisi mbak ? apa saya boleh duduk disini sebentar?" tanya Ali pada perempuan yang sedang menikmati sepiring salad didepannya.


"Boleh kok ma..."ucap perempuan itu tergantung saat melihat siapa laki-laki yang mengajaknya berbicara.


"Pak Ali."


"Prilly" ucap Ali dan Prilly bersamaan..


"Loh pak Ali ngapain disini?" tanya Prilly seraya mengelap mulutnya dengan selembar tissue, berjaga-jaga jika mulutnya belepotan.


"Saya mau makan, tapi pas datang ternyata penuh padahal tidam biasanya penuh seperti ini." ucap Ali menarik kursi didepannya dan mendaratkan pantatnya disana. Merogoh ponsel canggihnya dari saku celananya dan meletakkan dimeja.


Prilly sedikit malu setelah mendengar jawaban Ali, ya pasti Ali ingin makan lah. Ini kan resto jadi siapapun yang datang ke resto ini pasti ingin makan bukan ingin berenang. Sungguh bodoh pertanyaan Prilly.


"Oh iya hehehe. Hari ini rame karena ada itu..." Prilly menunjuk segerombolan anak muda yang berapa di sudut resto, sekumpulan anak muda itu sepertinya sedang merayakan ulang tahun.


"Wah sudah tau resto mini masa dibuat ngerayain ulang tahun, ada – ada aja tuh mereka sepetro tidak ada tempat lain." Ali berucap seraya menggeleng-gelengkan kepalanya,


"Mungkin sedang tidak punya uang pak, lebih baik merayakan ditempat kecil daripada tidak merayakan sama sekali pak. Hahaha," ucap Prilly dengan sedikit tawa yang menggema,


Ali mengangkat tangan kanannya sambil berucap, "Oh iya Prill, hari ini kamu sudah antar bunga untuk Kesya belum ? jangan sampai lupa ya soalnya saya tidak mau melihat Kesya sedih." ucap Ali mewanti-wanti, sepertinya Ali tidak suka dengan hal-hal yang akan membuat Kesya bersedih.


"Bagus kalau begitu, makasih ya Prill. Kesya suka bunga mawar kuning karena mawar kuning itu bunga kesukaan Almahrumah istri saya, namun tak hanya bunga, semua barang yang berwarna kuning pasti ia suka dan sekarang sifat itu menurun pada anaknya, Kesya." ucap Ali dengan wajah sendunya,


"Sama-sama pak. Oh begitu. Maaf pak saya tidak tau kalau istri bapak sudah tidak ada." ucap Prilly merasa bersalah karena sudah mengungkit sedikit kenangan sang istri.


"Tidak apa-apa."


Tak selang beberapa menit setelah Ali mengangkat tangannya, datanglah seorang laki-laki dengan nampan yang sedikit besar ditangannya. Pelayan itu menghampiri Ali dan meletakkan satu piring steak lengkap dengan kentang goreng serta jus jeruk didepannya. "Selamat makan pak Ali." ucap pelayan itu sebelum meninggalkan meja Ali.


Prilly menatap aneh kepergian pelayan itu, "Bukannya pak Ali belum pesan ya?" tanya Prilly dengan sedikit bingung, pasalnya sejam datang Ali langsung mengajaknya berbicara dan tidak langsung memesan makanan, apa iya pesan lewat telepati ?


"Haha memang saya belum pesan, semua pelayan disini sudah hafal dengan saya. Jadi, tiap saya datang mereka akan membuatkan makan siang untuk saya dan jika saya mengangkat tangan seperti tadi itu tandanya saya menginginkan makanan itu untuk segera diantar kemeja saya." jelas Ali,


"Bisa gitu ya?"


"Nyatanya bisa, mungkin karena saya adalah pelanggan setia resto ini jadi semua karyawan sudah tau selera saya. Kalau kamu , sering juga makan disini ?" Ali berucap sambil sesekali memasukkan potongan steak kedalam mutulnya,


Tak jauh beda dengan Ali, Prilly juga sesekali memasukkan salad sayur itu kemulutnya, "Saya jarang kesini, kebetulan tadi perut saya sudah mulao demo minta makan jadi saya putuskan untuk mampir sebentar deh."

__ADS_1


"Oh gitu."


Setelah jawaban singkat Ali, tak ada lagi suara dari mereka berdua, yang ada hanyalah suara-suara sendok yang beradu dengan piring. Kini mereka lebih fokus pada makanannya sendiri-sendiri, sepertinya bukan pertanyaan-pertanyaan lagi yang mereka butuhkan melainkan makanan untuk mengisi perut kosong mereka.


Setelah tak ada makanan yang tersisa dari piring mereka, Ali pamit untuk kembali ke kantor dan Prillypun juga kembali ke toko.


Pertemuan singkat yang berhasil membuat jantung Prilly berdebar-debar. Bertatap muka secara langsung dengan duda ganteng membuat jantungnya ingin copot dari tempatnya. Ditambah obrolan-obrolan singkat yang membuat Prilly semakin berdebar, sepertinya Prilly mulai terpesona dengan ketampanan Ali. Tapi, apakah Prilly pantas mencintai Ali ? dan apakah Ali juga mencintai Prilly ?


Pada dasarnya mencintai itu boleh. Kita mempunyai hak untuk mencintai ataupun mengagumi seseorang. Tapi ingat jika kita mencintai seseorang yang tidak mencintai kita, bersiap-siaplah jika hati kalian akan terluka.


***


*Aku mengagumimu, sejak pertama aku melihatmu...


Berawal dari tatapan singkat denganmu...


Aku tak tahu, apakah aku pantas mengagumimu...


Mengagumi laki-laki tampan dalam waktu sekejap...


Diam,


Mungkinkah aku harus mengagumimu dalam diam,


Menyimpan rasa ini dalam-dalam...


Memendam semua kekaguman ini dalam hati...


Aku takut akan terluka,


Jika aku mengungkapkannya...


Namun akupun takut akan terluka,


Jika aku tak mengungkapkannya*...


"Astaga, puisi apa ini ? Jelek sekali, terus kenapa lagi gue malah nulis seperti ini ? Alay dan tidak bermutu." Prilly merutuki dirinya yang tiba-tiba menuliskan puisi amburadul kedalam notes kecilnya,


Sejak pulang dari makan siang tadi Prilly kembali ke toko. Bukannya membantu Dilla yang sedikit kuwalahan mengurus toko, Prilly malah pergi keruang pribadinya. Berdiam diri sambil sesekali berkhayal.


"Kok gue jadi aneh seperti ini sih, gara-gara ketampanan pak Ali gue jadi seperti ini, mana duda lagi. Duda ganteng beranak satu." Prilly mengacak pelan rambutnya dan masuk ke kamar mandi, mencuci muka mungkin bisa membuat dirinya lebih baik.

__ADS_1


Keluar dengan wajah terlihat segar dan penampilan yang lebih rapi. Rambut yang sedikit acak-acakan kini sudah berubah menjadi rapi. Bukannya keluar dan pergi ke toko membantu Dilla, Prilly malah duduk kembali dikursi santai yang menghadap jendela dan melamun lagi.


Melamun, berkhayal dan berimajinasi, itulah yang dilakukan Prilly sekarang.


__ADS_2