Dear My Fussy Husband

Dear My Fussy Husband
Mintanya Gimana?


__ADS_3

Garda menikmati makan siangnya di kantin. Pria itu sudah duduk sejak tadi. Sementara rekannya masih sibuk mengantri makanan.


"Enak banget yang dibekali istri." Rivan salah satu rekan Garda duduk di hadapan pria itu.


Garda tidak mempedulikan ucapan temannya. Lebih baik dia menyelesaikan makan siang dengan cepat. Setelah itu bisa lanjut melakukan hal-hal yang lebih produktif.


"Istri lo pasti perhatian banget, ya, Gar?" tanya Rivan basa-basi.


"Iya," jawab Garda seadanya.


Rivan terlihat menghela napas pelan. "Beda sama istri gue. Boro-boro masakin, tiap di rumah aja masih sibuk sama kerjaannya," ucap Rivan dengan sendu.


Rivan dan Garda sudah berteman cukup lama. Rivan jugalah yang menjadi rekan Garda membangun bisnis rumah makan dan penginapan.


"Nadin selalu masakin gue. Apapun yang gue minta selalu dia buatin." Tanpa Garda sadari bibirnya membentuk sebuah lengkungan lebar.


Rivan yang mendapati pria datar itu tersenyum terheran sendiri. Bisa dibilang Garda adalah pria dengan bibir kaku. Senyumannya terbilang sangat langka mahal.


"Dia ceria gitu, ya, orangnya?" tanya Rivan memancing. Pria itu juga sempat bertemu Nadin di acara resepsi Garda dulu. Jadi sedikit ada gambaran tentang istri temannya ini.


Dengan semangat Garda menganggukkan kepalanya. Senyum lebarnya juga belum luntur sejak tadi. "Nadin itu ceria banget. Meskipun gue kesannya cuek ke dia, tapi Nadin gak pernah balas cuek," ucap Garda dengan bangga.


"Kesannya cuek," sindir Rivan sinis. "Lo emang cuek Pak Dosen," ujarnya memakai.


Senyum Garda seketika tenggelam setelah mendengar suara Rivan. Pria itu melirik Rivan dengan tajam. Lanjut memakan santapannya dengan agak canggung.


"Baru lihat seorang Garda jatuh cinta," ucap Rivan meledek.


"Diem Lo," sentak Garda. Sebenarnya dia malu sekarang. Tapi bersiap santai saja agar tidak terlalu kelihatan.


"Emang susah buat gak jatuh cinta. Secara Nadin, kan, cantik banget, ya?" Rivan sengaja berkata demikian. Penasaran dengan respon manusia yang terkenal datar dan dingin ini.


Garda cukup memamerkan tatapan tajamnya. Kedua mata Garda tak henti menghunuskan tatapan tajam tepat ke kedua mata Rivan. Membuat Rivan mengalah dengan mengalihkan pandangan.


"Anjir, serem amat Lo, Gar," ucap Rivan sambil memakan makanannya. "Lucu juga ngelihat temen seperjuangan gue jatuh cinta," lanjutnya untuk mencairkan suasana.


"Emang gue udah cinta sama Nadin?" tanya Garda polos.


Rivan langsung memandang Garda dengan wajah terkejut. "Serius Lo nanya gitu?"


Garda mengangguk yakin. "Gue gak tahu gimana rasanya cinta," ucap Garda dengan wajah datarnya.

__ADS_1


Rivan lagi-lagi dibuat terheran-heran dengan Garda. "Lo ada ngerasain deg-degan waktu Deket Nadin?" tanya Rivan mulai mengulik dari sudut pandang Garda.


Garda agak berpikir sejenak. Setelahnya pria itu mengangguk agak tak yakin. "Kadag-kadang."


"Kok kadang-kadang?" tanya Rivan belum terima dengan jawaban Garda.


"Kalau malem, apalagi dia cuma pakai celana pendek," jawab Garda dengan wajah lempeng.


Rivan yang mendengar itu langsung memukul meja pelan. "Anjir Lo," umpatnya dengan nada sangat lirih.


"Biasa aja rasanya. Makanya bingung," jawab Garda serius. "Gak tahu udah mulai suka belum," jelasnya lagi.


"Gak yakin kalau belum ada rasa. Lagian, kan, kalian juga udah sebulanan nikahnya," ujar Rivan yakin.


Garda terdiam sejenak. Mulai mengingat-ingat beberapa momen bersama istrinya itu. "Gue seneng kalau Nadin perhatian sama gue," kata Garda sambil mengawang. "Kalau dia ngomong pakai nada manjanya," lanjut Garda kembali dengan senyum tak sengajanya.


"Apalagi kalau Nadin cium tangan gue," ucap Garda lagi.


Rivan lagi-lagi dibuat heran dengan Garda. Pria itu memang kadang-kadang sulit ditebak. Lihat tingkahnya sekarang. Senyum-senyum lalu kembali ke waja datarnya.


"Lo udah suka sama dia bego!" ujar Rivan gemas.


"Tau, lah! Pinter doang Lo, kalau soal cinta gak paham," maki Rivan gemas.


Keduanya kembali menikmati santapannya saat Garda tidak membalas. Diam-diam Garda memikirkan banyak hal. Mumpung obrolannya dengan Rivan agak menguntungkan manusia buta akan cinta seperti Garda. Garda ingin mengulik banyak hal dari Rivan.


"Istri Lo kalau ngelamun gitu biasanya mikirin apa?" tanya Garda tiba-tiba.


"Mana gue tahu," balas Rivan. "Cewe susah ditebak, bro," lanjutnya lagi.


Garda mengangguk-angguk saja. Benar kata Rivan, wanita memang sulit ditebak. Mungkin cara satu-satunya hanya membiarkan Nadin berdamai dengan keadaan dan bercerita sendiri dengan dia.


"Van," panggil Garda.


"Curiga gue kalau Lo manggil duluan," ujar Rivan dengan senyum kecil. "Penting, nih, pasti," ledeknya.


"Diem-diem aja, ya, Lo," ucap Garda memperingati.


"Santai, buruan apa? Penasaran gue," kata Rivan dengan wajah penasaran yang tidak bisa disembunyikan.


Garda diam sejenak. Pria itu memandang Rivan agak ragu. Wajahnya entah kenapa terasa panas secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Apa, sih, anjir bikin penasaran?" tanga Rivan menuntut.


Sebelum menanyakan maksudnya Garda berdehem sejenak. Pria itu memilih meneguk air putih yang juga dibawakan istrinya. Setelah dirasa siap, barulah Garda membuka mulut. "Dulu lo minta sama istri lo gimana?" tanya Garda dengan suara yang mirip seperti bisikan.


Rivan mengernyit mendengar pertanyaan Garda. Otaknya yang termasuk pintar mencoba mencerna dengan seksama. Setelah paham dengan maksud Garda tawa kerasnya malah menggelegar.


Garda yang sudah menduga hal ini akan terjadi hanya mendegus malas. Pria itu membiarkan Rivan berdamai dengan tawanya. Meski tatapan tajamnya tak kunjung usai.


"Asli lo belum gituan dari dulu?" tanya Rivan setelah tawanya selesia.


Garda memilih tidak menjawab. Pria itu hanya menatap datar ke arah temannya. Hal itu sudah cukup membuat nyali Rivan menciut.


Rivan mencoba sekuat tenaga untuk menghentikan tawanya. Meskipun agak susah karena bagi Rivan pertanyaan dan wajah pasrah Garda sangat lucu. "Kalau gue gak minta, sih, kayaknya," jawab Rivan setekah tawanya reda. Meskipun agak tak yakin. Hal itu disambut tatapan Garda yang menuntut.


"Kayak awalnya cuma ngobrol, terus lama-lama gituan aja. Ngalir aja, sih, Bro," jelas Rivan yang merasa sedikit bingung. Lagian malu juga menceritakan malam pertamanya secara gamblang.


"Btw, iman lo kuat banget," puji Rivan meski sarat akan ledekan. "Cowok, mah, jangan kebanyakan gengsi. Cewek kalau disuruh peka namanya mustahil," ujar Rivan dengan wajah sombong. Kali ini dia berhasil merasa lebih baik dari Garda.


"Pusing gue sebenernya," keluh Garda. Pria itu mulai memberesi wadah bekalnya.


"Gas aja makanya!" balas Rivan menyemangati.


"Lo kira gampang!?" sentak Garda dengan wajah sinis.


"Gampang, lah! Makanya jadi cowo jangan cemen. Sekarang giliran udah ada istrinya bingung, kan, lo?"


Garda memilih diam tidak merespon ucapan Rivan. Pria itu membawa tas bekal bergambar tayo yang di bawakan Nadin. Melangkah penuh percaya diri meninggalkan Rivan.


Keberadaan Garda tidak disia-siakan mahasiswi di sini. Meskipun sudah mengetahui status baru Garda. Mereka tidak pernah berhenti mengagumi sosok mempesona itu. Apalagi melihat Garda yang selalu mau membawa bekal dari istrinya. Bukankah hal itu menunjukkan sosok Garda yang manis dan penyayang.


Garda membuka ponsel saat mendengar ada suara notifikasi. Dibukanya sebuah pesan dari Nadin. Wajahnya tetap datar saat membaca pesan itu.


****NADIN**** :


Mas Dana, aku ke rumah Umma. Mau tidur di sini dulu, kangen sama suasana di sini. Aku udah masak buat, Mas, nanti kalau mau makan diangetin dulu, ya! Mas gak usah ke sini gak papa. Aku cuma sehari aja kok. Aku gak marah sama, mas Dana, loh! Aku malah seneng banget karena Mas Dana peluk aku tadi hihihi.


Makasih, ya, suami cerewetkuuuuu. I love you sayang


Mau tak mau bibir Garda melengkung dengan sempurna. Wajahnyua seketika merah padam. Dia berdehem sejenak untuk menetralkan perasaan membuncah di hatinya.


"Astaga gemas sekali," gumam Garda dengan senyum yang belum pudar. Garda lantas memasukkan ponsel ke saku celana tanpa membalas pesan itu.

__ADS_1


__ADS_2