
"Kamu masih marah sama saya?" tanya Garda untuk yang kesekian kalinya hari ini. Pria itu terus membuntuti Nadin yang sedang memasak. Tangan kekarnya sesekali memegang beberapa bahan masakan berniat untuk membantu istrinya. Namun, sayang sekali. Tatapan sinis dari Nadin membuat gerakan Garda terhenti.
"Temani Gama di kamar saja. Nanti kalau dia bangun," ucap Nadin tanpa mengindahkan pertanyaan berulang dari Garda.
"Saya mau menemani Ibunya Gama saja," jawab Garda menolak permintaan Nadin.
Nadin memiringkan kepalanya kala mendengar panggilan yang Garda sebutkan. Seingat Nadin dia sama sekali tidak pernah menyebut panggilan itu di depan Garda. Setahu Nadin juga Garda tidak mengetahui panggilan yang dia sematkan untuk dirinya sendiri.
"Ibunya Gama kalau marah jangan lama-lama, ya," ujar Garda sambil berusaha meraih tangan Nadin.
"Apa, sih, Mas," ujar Nadin sambil mengelak sentuhan Garda.
"Sudah dong marahnya, Nad. Kamu sudah mendiamkan saya tiga hari, loh!" terang Garda. Selama tiga hari ini Garda merasa sangat keberatan dengan perubahan sikap Nadin.
Nadin selalu menjaga jarak dan interaksinya dengan Garda. Wanita itu juga terlihat lebih pendiam. Tentu saja semua itu tidak sesuai dengan kepribadian Nadin sebelumnya.
"Terserah saya," jawab Nadin dengan cuek. Namun, nada sindiran terdengar jelas di ucapannya.
Garda semakin dibuat tidak suka dengan sebutan yang Nadin ucapkan. Namun, setelah menyadari sesuatu, senyum cerah menyungging di bibir pria tampan itu. "Oh ... saya tahu sekarang," ujar Garda dengan bangga.
"Apa?" tanya Nadin acuh.Tangan kurusnya mulai beralih menumis beberapa macam bumbu yang sudah selesai dia iris.
"Ehm," deham Garda untuk sedikit menarik perhatian Nadin. Pria itu lebih dulu menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali. Ditatapnya Nadin yang masih fokus pada proses memasaknya.
"Yaudah kalau gitu Mas mau temani Gama dulu, ya," ujar Garda yang sangat terdengar kaku.
Dengan spontan Nadin menoleh pada Garda. Kedua alisnya saling mengernyit saat memandang pria itu. "Kenapa?" tanya Garda bingung dan gugup.
"Katanya mau temani Gama," jawab Nadin.
"Oh iya!" jawabnya dengan kikuk. "Duluan, ya!"
Nadin menatap kepergian Garda dengan lamat. Kedua sudut bibirnya menyunging dengan sempurna. Memamerkan keindahan wajah cantiknya yang selalu menyejukkan mata.
"Bisa peka juga," gumam Nadin.
__ADS_1
...
"Kamu masih marah sama, Mas?" tanya Garda ketika malam mulai menyapa. Pria itu selalu berusaha merubah sebutan untuk dirinya sendiri meski terdengar kaku.
"Gak usah dipaksa kalau gak biasa," ujar Nadin tanpa mempedulikan Garda yang mulai menempel pada dirinya.
Nadin sendiri sedang menggunakan perawatan wajahnya di depan meja rias. Sementara Garda berdiri dengan wajah sendu di hadapan Nadin. "Ini mau dibiasakan," jawab Garda. "Sudah dong Nadin marahnya," bujuk Garda lagi.
"Bentar lagi," jawab Nadin santai.
"Sampai kapan?" tanya Garda masih dengan wajah sendu.
"Sampai marahnya ilang," balas Nadin cuek. Wanita itu masih asyik dengan kesibukannya.
Garda menghela napas lelah. Ditatapnya sang istri yang terus mengabaikan keberadaannya. "Tahu gitu gak usah cerita aja," ujar Garda.
Seketika itu juga lirikan sinis Nadin menghantam mata tajam Garda. "Mau selingkuh terus gitu?" tanya Nadin sebal.
"Saya gak selingkuh, loh, Nad!" bantah Garda setengah kesal.
Garda berdecak sebal mendengar penuturan Nadin. Pria itu menatap Nadin yang posisinya lebih rendah. "Kamu bisa berhenti bahas itu terus tidak?" tanya Garda dengan nada tidak ramah.
"Kok kamu malah jadi marah?" tanya Nadin dengan kepala mendongak menatap Garda.
"Kamu pikir mudah bagi saya untuk bicara terus terang sama kamu soal kesalahan saya sendiri?" tanya Garda tanpa mengindahkan pertanyaan Nadin. "Saya bicarakan sama kamu supa nantinya tidak ada masalah di rumah tangga kita. Tapi sekarang kamu malah marah terus sama saya."
"Aku wajar kan marah?" tanya Nadin agak menyentak. Tentu saja dia merasa tidak terima karena merasa disalahkan.
"Tapi kamu terlalu berlebihan--"
"Berlebihan gimana?" potong Nadin cepat. Wanita itu langsung berdiri hingga berhadapan sempurna dengan Garda. "Bagian mana yang menurut kamu berlebihan?"
Garda menghela napas kasar. Merasa kesal karena ucapannya dipotong. Kekesalan Garda juga semakin memuncak karena Nadin sengaja merubah panggilannya.
"Kamu gak sadar sudah mendiamkan suami kamu terlalu lama?" tanya Garda gamblang. "Saya ada di dekat kamu tapi kamu gak pernah menganggap saya. Saya bicara diabaikan. Menurut kamu sopan seperti itu?"
__ADS_1
"Mas Dana dekat sama perempuan lain aja boleh. Masa aku cuma diemin kamu aja gak boleh?" tanya Nadin dengan kesal.
Garda menggacak rambutnya dengan kasar. "Terserah, Nad, capek saya sama kamu!"
Garda langsung berbalik dari hadapan Nadin. Merasa emosinya yang semakin memuncak akan berdampak berbahaya jika obrolan ini di teruskan.
"Capekan mana sama aku?" tanya Nadin datar. Wanita itu mencekal tangan kekar Garda dengan kulit dinginnya.
"Mas kira aku nggak capek?" tanya Nadin lagi setelah Garda kembali menoleh ke arahnya.
Garda menatap Nadin yang terus melayangkan tatapan dalam. Kedua bola mata bening itu tampak memerah dengan genangan air mata yang hampir meluap.
"Aku capek banget, Mas!" ungkap Nadin dengan nada meninggi. "Pikiran aku selalu ramai. Kepala aku gak bisa diem!" teriak Nadin dengan butiran air mata yang mulai luruh.
"Nad," panggil Garda pelan. Sebelah tangannya yang bebas terangkat menyentuh pipi kurus Nadin.
Dengan pandangan yang mulai mengabur karena terhalang air mata Nadin menatap dalam mata pasangannya. "Kamu pikir setelah apa yang aku denger dari kamu aku tetap bisa biasa aja, Mas?" tanya Nadin dengan suara bergetar.
"Aku coba bilang sama diri aku sendiri kalau ini gak masalah! Aku coba yakinin diri aku kalau apa yang kamu lakuin gak akan berdampak apa-apa. Aku selalu bilang sama diri aku kalau kamu gak akan pernah tinggalin aku! Tapi Mereka gak percaya!" ungkap Nadin dengan terus menatap Garda.
Rasa sesak yang beberapa hari ini dia tahan akhirnya meluap. Kini Nadin sudah tidak sekuat dulu lagi. Dimana dulu dia bisa menyembunyikan perasaannya begitu lama. Sekarang rasanya dadanya begitu mudah sesak dan akhirnya meledak seperti sekarang.
"Aku coba lupain apa yang pernah kamu omongin ke aku tapi gak bisa! Aku tetep ngerasa takut! Aku tetap ngerasa gelisah! Aku hampir kehilangan rasa percaya aku ke kamu!"
Mendengar semua yang Nadin ucapkan cukup membuat Garda terdiam. Pria itu masih setia memandangi wajah cantik Nadin yang sekarang basah. Diusapnya kedua pipi kurus itu dengan telapak tangannya yang dingin.
"Maafkan saya," lirih Garda. "Saya kembali menyakiti kamu, Nad," ucap Garda yang masih setia menghapus air mata istrinya.
"Mas," panggil Nadin. "Aku selalu takut percaya sama orang. Aku takut mereka bakal tingglin aku."
"Maafkan saya," ucap Garda lagi. Pria itu menarik Nadin ke dalam dekapannya. Menggunakan kedua tangannya untuk memeluk erat tubuh kurus Nadin.
"Nad ... saya tidak berpikir kamu akan memikirkan ini begitu dalam," ujar Garda.
"Maaf," balas Nadin lirih. "Aku sendiri gak mau mikirin ini, Mas. Aku capek, tapi kepala aku gak mau diem."
__ADS_1