Dear My Fussy Husband

Dear My Fussy Husband
Minggu yang Cerah


__ADS_3

Hari minggu dengan cuaca cerah merupakan kombinasi yang sempurna. Waktu berlibur bisa terasa lebih segar dan semangat. Apa lagi minggu yang cerah dihabiskan bersama orang terkasih.


"Tutorial mengupas kentang yang baik dan benar," ujar Nadin dengan nada yang dibuat-buat seperti seorang pembawa acara memasak.


Garda langsung mengamati bagaimana cara Nadin mengupas kentang. Pria itu ingin membantu istrinya memasak. Tapi kata Nadin, hasil kupasan Garda terlalu tebal.


Wanita itu memandang wajah Garda setelah selesai mengupas satu buah kentang dengan sempurna. "Bagaimana saudara Gardana, apakah sudah paham?" tanya Nadin.


"Sama saja seperti cara saya," jawab Garda santai.


Nadin menepuk keningnya heran. "Bapak ngupasnya sangat tebal sekali," ujar Nadin sambil menunjukkan kulit kentang yang Garda hasilkan. "Apakah ini terlihat normal?"


Garda meringis sambil menggaruk tengkuknya. Mau mengakui kesalahannya tapi malu. "Saya bantu yang lain saja," ucap Garda akhirnya.


Nadin langsung memasang raut berpikir. Telunjuknya mengetuk dagu pelan. "Bantu habisin aja deh Mas kalau udah matang," canda Nadin.


Garda jadi mendegus mendengar ucapan istrinya. "Saya kasih makan Lula dan Lilu saja, ya?" tawar Garda karena merasa canggung kalau tidak melakukan sesuatu. Sementara istrinya tengah sibuk menyiapakn sarapan.


Nadin terkekeh mendengar ucapan Garda. Dia tidak menyangka Garda akan ikut memanggil ikan peliharaan Nadin dengan nama yang sudah wanita itu siapkan.


Nadin langsung mengangguk dengan senyum cerah andalannya. Gadis itu menatap wajah tegas Garda. Dirapikannya rambut lebat suaminya dengan tangan kiri yang tidak kotor. "Lain kali aku kasih tugas yang gampang, ya," ujar Nadin.


Garda mengangguk mendengar ucapan istrinya. "Saya kalau kamu minta potong-potong jago," ujar Garda percaya diri.


Nadin tersenyum saja karena percaya dengan suaminya. "Aku bikin perkedel sebentar. Nanti kalau udah tinggal sarapan ya cintaku," ujar Nadin yang terdengar begitu manis di telinga Garda.


Garda langusng mengecup kening Nadin. Setelahnya pria itu berlalu meninggalkan dapur. Sesuai ucapannya tadi yang akan memberi maka Lula dan Lilu.


Nadin tersenyum hangat melihat kepergian Garda. Rasanya begitu membahagiakan bisa merasakan kehangatan Garda sekarang. Suaminya benar-benar terasa sedekat nadi dengan dirinya.


...


Garda awalnya sedang membaca buku ditemani kue coklat dan teh hangat bersama istrinya. Namun, beberapa saat lalu Nadin berpamitan ingin ke kamar mandi. Tinggallah Garda duduk di teras seorang diri.


Pria itu melihat jam di ponselnya saat menyadari Nadin cukup lama meninggalkan dia. Tanpa menunggu lama Garda masuk ke dalam rumah. Tidak mempedulikan setoples biskuit coklat dan teh hangat miliknya.


"Nadin!" panggil Garda dari ruang tamu. Karena tidak mendapat balasan, pria itu langsung berlari kecil. Tentu saja masih dengan memanggil nama istrinya.

__ADS_1


Sampai di dapur pun tidak ada. Garda menebak istrinya pasti ada di dalam kamar. Pria itu langsung saja berlari kecil ke arah kamar. Takut terjadi sesuatu karena Nadin pergi lumayan lama.


"Nad!" panggi Garda saat memasuki kamar.


"Apa, Mas!?" teriak Nadin dari dalam kamar mandi.


"Kamu ngapain? Lama sekali," balas Garda.


Tidak ada balasan lagi setelahnya. Garda memilih duduk di meja rias Nadin. Karena bosan pria itu mengamati beberapa macam alat kecantikan yang terasa asing baginya.


"Banyak sekali barang perempuan," gumam Garda heran.


Tidak butuh menunggu lama. Suara dari pintu yang dibuka mulai terdengar. Setelahnya sorang wanita cantik muncul dengan tampilan yang berbeda.


"Kamu kok mandi lagi?" tanya Garda. pria itu dapat melihat baju Nadin yang sudah berubah. Padahal tadi pagi sebelum subuh istrinya sudah mandi.


"Aku datang bulan. Makanya bersih-bersih lagi," bisik Nadin.


Mendengar ucapan Nadin membuat ekspresi wajah Garda berubah tanpa pria itu sadari. Melihat perubahan di wajah suaminya membuat Nadin mengernyit bingung. Wanita langsung menundukkan badan agar bisa langsung berhadapan dengan wajah tampan Garda.


Garda masih terdiam untuk beberapa saat. Pria itu mendongak saat tangan kurus istrinya mengusap lembut rambut tebal miliknya.


"Mas kok langsung diem gitu waktu denger aku datang bulan?" tanya Nadin dengan mata yang menatap lamat suaminya.


Garda tersenyum dengan hangat menanggapi pertanyaan Nadin. "Gak kok, saya papa," jawab Garda dengan senyum tipis di wajahnya.


Pria itu lantas berdiri dari duduknya. Tangan kekarnya merangkul pundak Nadin dan membimbing istrinya untuk kembali ke luar kamar.


Namun, Nadin masih merasa janggal dengan keanehan Garda. Wanita itu memilih berhenti berjalan dan langsung memposisikan badan menghadap penuhnya pada Garda.


"Aku tahu Mas pasti mikirin sesuatu," tuduh Nadin dengan wajah serius.


"Gak ada kok, Nad," elak Garda berusaha meyakinkan istrinya. "Temani saya baca buku lagi, yuk!" ajak Garda berharap setelah ini fokus Nadin akan teralihkan. Pria itu kembali merangkul bahu Nadin. Namun, wanitanya malah menepis tangan Garda.


Nadin menatap dalam manik tajam milik suaminya. Gadis itu menangkap sebuah kekecewaan yang berusaha Garda sembunyikan. Entah kenapa pikiran Nadin langsung merujuk pada satu hal. "Mas kecewa karena aku datang bulan?" tanya Nadin dengan suara pelan. Sebenarnya dia juga merasa kurang yakin dengan isi kepalanya.


"Enggak, Nad. Memangnya apa yang membuat saya kecewa hanya karena kamu datang bulan," ujar Garda yakin. Pria itu meraih tangan kanan Nadin lalu digenggam dengan erat. "Sudah gak usah mikir macem-macem," sambung Garda dengan senyum menenangkan.

__ADS_1


Nadin mengikuti langkah Garda. Wanita itu memilih diam dengan kepala yang mulai ramai. Nadin cukup dapat memahami suaminya. Nadin tahu Garda merasa kecewa karena harapannya belum terwujud.


"Saya suka sekali baca buku ini," ujar Garda saat mereka berdua mulai duduk di kursi teras. Ditunjukkannya sebuah buku bersampul hitam pada Nadin. "Kamu mau coba baca?" tawar Garda.


Gelengan dari Nadin menyambut tawaran pria itu. Garda langsung melayangkan tatapan tanya. "Aku gak suka baca buku, Mas. Bosen," balas wanita itu.


Garda tersenyum maklum. Dia cukup paham kalau sejak dulu Nadin paling malas membaca apalagi belajar. "Kamu lebih suka nonton?" tebak Garda tepat sasaran. Dibuktikan dengan anggukan semangat Nadin.


"Suka banget, Mas! Dulu aku sering nonton ke bioskop sama temen-temen," jawab Nadin dengan wajah berseri.


"Gimana kalau habis ini kita nonton?" tawar Garda lagi. Pria itu berusaha membuat Nadin lupa tentan kejadian di kamar tadi.


Awalnya Nadin sangat senang mendapat tawaran dari Garda. Namun, mengingat ucapan pria itu tadi pagi membuat Nadin agak lemas. "Tadi, kan, katanya nanti sore Mas Dana ada acara," balas Nadin agak kecewa.


Garda langsung meringis menyadari kebodohannya. Sedikit merasa bersalah karena sudah terlanjur memberi Nadin harapan. "Kalau nontonnya di rumah saja bagaimana?" tawar Garda lagi mencoba memberi alternatif.


Tentu saja Nadin menyambut tawaran Garda dengan senyum bahagia. "Aku mau nonton film korea, ya," ujar Nadin dengan wajah yang berbinar bahagia.


Garda mengangguk mengiyakan ucapan Nadin. Pria itu lantas mengambil dua buku yang dia bawa dan setoples biskuit coklat. "Kamu bawa cangkir saja, ya, yang ringan," canda Garda.


Nadin terkekeh kecil mendengar itu. Diambilnya cangkir kosong yang sengaja Garda sisihkan untuk dia bawa. Setelah itu Nadin masuk ke dalam rumah diikuti langkah suaminya.


Setelah sampai di dapur Garda meletakkan toples kaca yang dia bawa. Bertepatan dengan suara dering dari ponselnya. Pria itu mengambil ponsel dari saku celana. Tanpa menunggu lama digesernya tombol hijau yang menghiasi layar ponsel.


"Wa'alaikumussalam, Ma," jawab Garda tenang. Mendengar suara Garda membuat Nadin yang awalnya menyiapkan beberapa camilan unruk menonton menoleh.


"Mama," ucap Nadin tanpa suara. Garda mengangguk dengan ponsel yang masih setia di telinganya.


"Garda dan Nadin ada acara," ucap Garda menanggapi lawan bicaranya.


Helaan napas Garda membuat Nadin semakin penasaran dengan apa yang dibicarakan ibu mertuanya. Apalagi melihat Garda yang langsung pergi meninggalkan dapur dengan wajah yang terlihat mengeras.


"Apa Mama tanya soal kehamilan aku, ya," gumam Nadin penasaran.


Wanita itu tahu Anita sangat mengidam-idamkan sosok cucu di kehidupannya. Nadin juga tahu dirinya dijodohkan dengan Garda dengan harapan agar wanita paruh baya itu segera menggendong seorang cucu.


Nadin cukup peka dengan suasana hati ibu mertuanya. Beliau terlihat memandang Nadin dengan cara berbeda sejak mengetahui latar belakang Nadin. Wanita itu ingin kembali memgambil hati ibu mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2