Dear My Fussy Husband

Dear My Fussy Husband
Panggilan dari Umma


__ADS_3

Nadin terlihat sibuk menatap layar televisi. Akhir-akhir ini wanita itu suka menonton acara memasak. Nanti Nadin akan mempraktikkan apa yang sudah dia lihat.


Bahagia sekali bagi Nadin bisa memasak setiap hari untuk suaminya. Apalagi sekarang menu masakannya semakin berfariasi. Mendapat respon baik dan pujian dari Garda semakin membuat Nadin semangat.


"Wah! Masak ayam bakar!" sorak Nadin semangat. Wanita itu buru-buru mengencangkan volume televisi. Langsung menatap fokus pada layar.


Baru saja beberapa menit Nadin memperhatikan tayangan memasak itu. Suara dering ponselnya berbunyi cukup keras. Dengan agak sebal Nadik meraih ponsel miiknya. Setelah membaca nama yang tertera di sana. Nadin segera mengecilkan volume televisi.


Setelah itu digesernya tombol biru yang ada di layar. Tidak menunggu lama wajah seorang wanita yang mirip dengan Nadin terpampang jelas di sana.


"Assalamualaikum Umma," sapa Nadin.


"Wa'alaikumussalam. Lagi apa kamu?" Wanita itu tampak memicingkan matanya untuk mengamati lebih jelas wajah Nadin. "Agak kurusan kamu, Nad?" tanya Halimah.


Nadin tersenyum tipis. "Nadin lagi nonton TV. Umma lagi apa?"


"Kenapa kamu makin kurus?" tanya Halimah lagi.


"Gak tahu, perasaan sama aja kok," balas Nadin santai.


Halimah terdengar menghela napas. Wanita paruh baya yang menggenakan daster rumahan itu tampak terdiam sejenak. Tentu saja hal itu membuat Nadin bertanya-tanya.


"Ada yang mau Umma omongin?" tanya Nadin.


Halimah tampak berpikir sejenak sebelum menatap Nadin dari layar ponsel. "Kamu bicara apa sama Bu Anita?" tanya Halimah langsung pada intinya.


Nadin mengernyitkan alisnya bingung. Merasa kurang mengerti dengan maksud ibunya. "Maksud Umma gimana? Nadin gak ngerti," ucap Nadin.


"Kemarin Umma kebetulan ketemu Bu Anita di taman. Tiba-tiba beliau marah-marah sama Umma. Katanya Umma bohongin dia," jelas Bu Halimah. "Sedangkan Umma sendiri merasa gak melakukan apa-apa. Kamu pasti bicara yang tidak-tidak, kan?" lanjut Bu Halimah menuduh Nadin.


Wanita muda itu semakin dibuat bingung dengan ucapan Halimah. Otak dengan kapasitas rendah yang dia miliki mencoba mencerna apa yang dia dengar. Alhasil, sebuah kemungkinan tak sengaja lewat di kepala Nadin.


"Apa bukan Umma yang bicara aneh-aneh?" tanya Nadin lirih. Sebenarnya dia merasa sendikit sungkan juga takut. Tapi rasanya tidak terima jika disalahkan.


"Kok kamu malah nuduh Umma?" tanya Halimah tidak terima.


"Umma dulu bilang sama Mama kalau Nadin kerja di kantor, kan?" tanya Nadin. "Mungkin itu yang Mama permasalahkan," lanjut gadis itu.


Di rumahnya Halimah terdiam. Wanita itu kembali mengingat momen pertemuannya dengan Anita. Benar saja, Halimah mengatakan bahwa anak keduanya bekerja di kantor. Apa mungkin besannya mempermasalahkan hal itu?


"Memang apa salahnya dengan ucapan Umma?" tanya Halimah.


Nadin menghela napas pelan. "Nadin juga gak tahu," jawab wanita itu. Malas menjelaskan apa yang dipermasalahkan Anita. Nadin tahu akan panjang urusannnya jika sampai Halimah tau bahwa ibu mertuanya merasa tidak terima jika Nadin bukan seornag wanita karir.


"Kamu harus menjaga sikap kamu, Nad," ujar Halimah tiba-tiba setelah beberapa saat hening. "Kamu tahu 'kan, Orang tua kamu dan Garda sudah berteman dekat sejak dulu. Jangan sampai karena kelakuan buruk kamu membuat suasana jadi tidak enak," lanjut Halimah.


Awalnya Nadin menatap Halimah dengan raut tidak percaya. Bisa-bisanya Halimah berbicara seperti itu pada Nadin. Namun, sebisa mungkin Nadin mengontrol emosinya.


"Nadin akan selalu jaga sikap," jawab Nadin.


"Kata Bu Anita kamu tidak mau kuliah?" tanya Halimah lagi. "Kamu ini kenapa, sih, Nad? Dari dulu disuruh kuliah aja susah sekali," omel Halimah.


Nadin terdiam denga pandangan hampa. Rasanya sudah malas berhadapan dengan Halimah. Di setiap pembicaraan Nadin pasti akan terus dipojokkan.


"Nadin juga punya alasan Umma," bantah Nadin. Suara wanita itu terdengar lirih dengan wajah sendu.


Halimah tampak menatap remeh pada Nadin. "Alasan malas, kan?" tuding Halimah. "Dari kecil aja kamu memang malas belajar. Bisanya cuma ganggu Umma di dapur," sambung Halimah dengan wajah heran. Seakan tidak habis pikir dengan pikiran anaknya.


Mata bening Nadin mulai berkaca-kaca. Gadis itu meluruskan pandangannnya pada mata Halimah. "Kenapa dari dulu Umma selalu salahin aku tanpa mau cari tahu dulu," gumam Nadin.

__ADS_1


"Apa yang mau dicari tahu? Sudah jelas semua," balas Halimah ketus.


"Umma gak pernah sayang sama aku, ya?" tuding Nadin. Sosok Halimah yang selalu menghakimi dia membuat Nadin berpikir demikian. Suaranya sudah mulai bergetar. Dengan sekuat tenaga Nadin menahan air matanya.


"Bicara apa kamu itu, Nad!" sentak Halimah. Wajah cantik dengan raut menenangkan itu menatap Nadin dengan alis menyatu.


"Bicara fakta," jawab Nadin dengan wajah sendunya. "Dari dulu aku gak pernah ngerasain kasih sayang Umma," cicit Nadin.


Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya. "Ngawur sekali bicaramu!" sentak Halimah dengan mata menajam. "Bisa sebesar ini kalau bukan karena kasih sayang Umma karena apa?" tanya Halimah lagi.


Nadin mulai menghapus air matanya dengan kasar. Gadis itu mengalihkan layar ponsel agar tidak menghadap ke arahnya. "Tapi Nadin gak dapet kayak yang Mas Dikta dapat," adu Nadin dengan suara serak.


"Maksud kamu gimana, ya!?" tanya Halimah. "Kamu pikir selama ini Umma dan Abah pilih kasih?" tanya Halimah menegaskan.


"Kalian emang selalu pilih kasih," jawab Nadin sendu.


"Kok sekarang kamu berani bicara seperti ini sama Umma!" balas Halimah tak terima. Harga dirinya sebagai orang tua tergores oleh ucapan Nadin. Mana ada orang tua yang mau disebut pilih kasih.


"Umma dan Abah berusaha semaksimal mungkin memberikan yang terbaik untuk kalian berdua! Bisa-bisanya kamu bilang orang tuamu pilih kasih," ujar Halimah dengan tatapan tajamnya. "Coba sini lihat wajah kamu! Jangan meghindar, ya, Nad!" tantang Halimah karena layar ponselnya hanya menunjukkan tembok putih.


"Umma aku capek," rengek Nadin lengkap dengan suara tangisnya.


"Umma juga capek sama kelakuan kamu selama ini," balas Halimah terdengar seperti mengeluarkan kegeramannnya.


"Umma," sela Nadin. Wanita itu merasa terganggu dengan ucapan Halimah. "Kok Umma bilang gitu?"


"Kamu pikir selama ini Umma gak capek, Nad? Setiap hari Umma makan hati sama kelakuan kamu. Umma dan Abah cuma pengen kamu sekolah yang pintar! Tapi setiap hari kamu selalu membantah kita," ujar wanita itu mengeluarkan apa yang selama ini dia pendam.


"Terserah kamu mau menganggap Umma mu seperti apa," lanjut Halimah dengan nada pasrah.


Dalam keheningannya Nadin membekap mulutnya sendiri. Gadis itu meredam isakan yang terus saja keluar. Ada rasa sesak saat mendengar kata demi kata yang Halimah ucapkan.


"Kamu gak menunda punya anak 'kan, Nad?"


Mendengar pertanyaan itu membuat fokus Nadin kembali. Wanita itu mengusap kasar wajah cantik yang penuh air mata itu. Kembali di arahkan kamera ponsek ke wajahnya. "Enggak kok Umma. Nadin dan Mas Dana sedang berjuang," jawab Nadin dengan senyum yang dipamerkan.


Melihat wajah merah dengan mata sembab itu tentu saja membuat Halimah terdiam. "Umma terlalu menyakiti kamu?" tanya Halimah. Nada suaranya kali ini terdengar lebih tenang.


Nadin menggeleng pelan. "Enggak," jawabnya singkat.


"Umma harap kamu segera mengandung, Nad," ujar Halimah dengan jeda. "Alasan Bu Anita semangat menjodohkan anaknya semata-mata agar segera mempunyai cucu. Umma gak mau kamu diperlakukan dengan buruk karena belum juga mengandung," lanjut Halimah dengan wajah seriusnya.


Nadin hanya mengangguk mendengar ucapan ibunya. Dia sudah sangat paham posisinya sekarang. Tanpa harus diberi tahu Nadin juga sudah mengerti. Satu-sartunya cara agar bisa kembali mengambil hati Anita adalah segera mengandung anak Garda.


"Pesan Umma cuma satu. Jaga nama baik Abah. Jaga kelakuan kamu, jangan buat orang tua kamu lagi-lagi merasa malu," ujar Halimah lagi.


"Iya," jawab Nadin singkat.


Merasa tidak ada yang mau dibicarakan lagi Halimah segera menutup panggilan. "Umma matikan. Assalamualaikum," pamitnya.


"Wa'alaikumussalam."


Nadin menghempaskan ponselnya begitu saja. Gadis itu lengsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangis kesedihannya terdengar memilukan di ruangan ini.


Dengan tangis yang belum mereda Nadin mulai mendongakkan kepalanya. Mata beningnya yang sekarang terus-terusan mengeluarkan air mata itu menelisik seisi ruangan.


"Sesak benget," rancau Nadin dengan suara bergetar.


Kedua tangannya mengepal erat. Dengan gerakan yang cepat satu pukulan menghantam dadanya sendiri. Karena belum merasa puas Nadin kembali memukul bagian badan yang lain.

__ADS_1


Wanita itu terus meraung. Meluapkan rasa sesak yang entah kenapa bisa semenyiksa ini. "Mas Dana," rengek Nadin.


Rambut hitamnya yang menjuntai panjang tak luput dari tangan Nadin. Berulang kali wanita itu menjambak rambutnya sendiri dengan keras.


"Tolong, aku gak mau ngerasain ini lagi," rancau Nadin dengan lemah.


Untuk yang terakhir. Nadin menarik rambut panjangnya sampai beberapa helai rambut tertinggal di tangannya. Badan rampingnya bergetar dengan air mata yang masih ke luar.


"Aku gak boleh bikin Mas Dana sedih," gumam Nadin saat menyadari tindakannya hanya akan membuat Garda terluka.


Tangan kanan Nadin perlahan menjulur untuk meraih ponselnya. Sekarang hanya Garda yang ada di pikiran Nadin. Suaminya pasti akan sedih kalau Nadin tidak kunjung ke luar dari kubangan hitam ini.


"Hei! Ada apa Nadin?"


Nadin mengusap air matanya dengan kasar. Wanita itu menggigit bibir dalamnya untuk meredam suara.


"Nadin," panggil Garda dengan pelan. "Ada apa? Ada masalah di rumah? Kamu baik-baik aja 'kan?" tanya Garda beruntun. Pria itu merasa sangat kawatir dengan keadaan istrinya.


"Tadi Umma telepon, Mas," adu Nadin.


Mendengar suara serak Nadin langsung membuat Garda paham. Wanitanya sedang menagis kali ini. "Nanti kita cerita di rumah, ya?" tawar Garda lembut.


"Iya," jawab Nadin pelan. "Aku tadi keinget Mas Dana aja."


Garda terdiak sejenak. Pria itu langsung memikirkan apa yang dilakukan Nadin tadi. Apakah wanita itu melakukan hal berbahaya lagi atau tidak.


"Sebelum Umma telepon kamu lagi apa?" tanya Garda mencoba mengalihkan perhatian.


"Nonton acara masak," jawab Nadin lugu.


"Wah! Ada resep apa, Nad?" respon Garda antusias.


Di depan layar televisi Nadin menyungingkan senyum. Gadis itu memfokuskan pandangannya pada layar. "Tadi masak ayam bakar, sekarang sayur asem," jawab Nadin ikut antusias.


"Ayam bakar kayaknya enak, Nad. Saya sudah lama, loh, gak makan ayam bakar," ujar Garda.


"Mas mau aku buatin!?" tanya Nadin dengan semangat.


"Tentu saja mau," jawab Garda.


"Kalau gitu aku buat ayam bakar ya hari ini," ujar Nadin final.


"Iya, tapi kalau sekiranya kamu merasa keberatan. Masak yang mudah-mudah saja. Ayam bakarnya nanti kita beli," tutur Garda.


"Tapi aku mau coba," kata Nadin.


"Yasudah," jawab Garda pasrah.


"Kalau gitu habis ini aku ke pasar, ya, Mas? Mau belanja sekalian jalan-jalan," izin Nadin penuh dengan harapan.


"Tidak boleh! Kamu mau ilang nanti?" ucap Garda dengan tegas. Sejak kejadian di alun-alum beberapa waktu lalu Garda belum kembali percaya pada Nadin.


"Aku nanti hati-hati kok!" ujar Nadin yakin.


Garda menimbang beberapa saat. Bukannya lebih baik jika Nadin sibuk dengan urusannya dan melupakan sejenak apa yang bersarang di kepala wanita itu.


"Hati-hati tapi, ya!" ucap Garda. "Kamu nanti naik taxi online saja. Pakai baju yang tertutup. Tidak usah dandan nanti malah digoda cowok."


"Iya suamiku," jawab Nadin dengan nada manja.

__ADS_1


"Ingat kalau mau menyebrang lihat kanan-kiri. Kalau sudah selesai belanja langsung pulang dan kabari saya. Hati-hati, ya, Nad. Saya benar-benar khawatir melepas kamu."


__ADS_2