
"Kamu serius mau ke luarin aku?"
"Apa yang saya katakan kurang jelas?" tanya Garda tanpa mau menatap lawan bicaranya. "Hari ini terakhir kamu bekerja di rumah makan saya," tegas Garda.
Wanita berbadan ramping itu mendengkus kesal. "Tapi kenapa? Kenapa kamu tiba-tiba pecat aku? Bukannya kamu dulu yang tawarin aku kerja di sini?"
Garda menatap wanita di depannya tanpa minat. "Saya sudah tidak membutuhkan kamu lagi," jawab Garda sarkas.
"Gak mungkin," elak wanita itu. "Aku butuh alasan yang jelas!"
"Alasan saya sudah jelas!" tegas Garda.
Wanita itu mendekati Garda yang duduk di kursi kebesarannya. Badan rampingnya berdiri di sebelah Garda dengan jarak dekat. "Aku gak mau berhenti kerja di sini, Gar," ucapnya memelas.
Garda menepis tangan wanita itu yang menyentuh bahunya. "Sudahlah! Kamu bisa kerja di tempat lain. Dengan gelar sarjana yang kamu miliki gak susah dapat pekerjaan!"
"Bukan itu masalahnya!" ujar lawan bicara Garda dengan suara yang lebih keras. "Aku tahu ada sesuatu yang buat kamu ke luarin aku. Aku butuh alasan yang jelas!" ucapnya lagi yakin.
"Tidak ada! Saya memang sedang tidak membutuhkan karyawan lagi," jelas Garda yang mulai jengah meladeni wanita itu.
"Istri kamu, kan, yang suruh?" tuduhnya. "Kenapa? Istri kamu udah tahu hubungan kita?"
Garda langsung melirik wanita itu sinis. "Kenapa bawa-bawa istri saya?" tanya Garda heran. "Lagi pula hubungan apa yang kamu maksud," desisnya pelan.
Wanita itu menatap Garda dengan tajam. "Karena ini semua pasti gara-gara dia," tuding wnaita itu penuh keyakinan. "Aku tahu meskipun kamu selalu bersikap seolah-olah gak suka aku di sini. Tapi ... sebenarnya kamu suka, kan, bisa sama-sama aku lagi?"
"Bicara apa kamu ini!?" sentak Garda. Lagi-lagi tangan kekarnya menepis tangan yang mulai menyentuh bahunya.
"Kamu yang menyarankan aku kerja di sini waktu aku ngeluh gak pun--"
"Itu karena saya kasihan," potong Garda cepat.
"Yakin?" tanya wanita itu dengan nada menantang. "Aku masih ingat jelas gimana binar mata kamu yang berubah waktu lihat aku. Aku tahu isi hati kamu, Gar!"
"Jangan bicara sembarangan!"
"Aku tahu kamu masih berharap sama hubungan--"
"HANA!" bentak Garda. Pria itu berdiri dengan gerakan kasar. Ditatapnya wajah cantik itu dengan rahang mengeras. "Tolong jangan terlalu percaya diri," sarkas Garda.
Wanita yang dipanggil Hana itu terkekeh ringan. Dibalasnya tatapan tajam itu dengan mata bulat indah miliknya. "Aku tahu di sini masih dan akan terus ada aku." Jari telunjuknya menunjuk dada Garda dengan senyuman manis.
__ADS_1
"Kamu sadar Garda? Selama ini kamu masih bicara aku-kamu sama aku! Itu udah jelas buktiin kalau aku masih di sini!" tegas Hana lagi-lagi sambil menunjuk dada Garda. "Dari dulu cuma sama aku kamu mau bicara aku-kamu!"
"Sangat percaya diri," desis Garda.
"Kalau bukan karena itu terus karena apa?" tuntut Hana. "Karena apa?"
Garda diam mendapat pertanyaan itu. Jujur, dia sendiri bingung dengan perasaannya. Dia kira kehadiran Nadin akan membuat dia bisa merasakan cinta dengan wanita lain. Namun, pertemuannya dengan Hana membuat semua itu goyah.
"Gak bisa jawab, kan?" tanya Hana dengan senyuman manisnya. "Aku tahu hati kamu masih buat aku," tegas Hana semakin membuat Garda menatap tidak suka ke arahnya.
"Berhenti bicara sembarangan!"
"Apa yang aku bicarakan benar, Gar!" ujar Hana.
Garda memilih kembali duduk untuk meredam emosinya. "Kamu bisa ke luar sekarang, Hana," titah Garda.
"Aku gak akan mau ke luar kalau belum dapat alasan yang jelas!"
"Selalu keras kepala," decak Garda.
"Bahkan kamu masih ingat gimana watak aku," ujar Hana dengan tersenyum bangga.
Mata bulat milik wanita itu menatap Garda begitu dalam. Berusaha masuk untuk kembali menguasai pujaan hatinya. "Aku yakin aku masih ada di hati kamu. Perjalanan panjang kita gak bisa dilupain gitu aja, Gar!"
Hana tertawa remeh mendengar pengakuan Garda. "Kamu yakin sudah bisa menerima dia?" tanya Hana. Lagi-lagi Garda harus dibuat bungkam.
"Kamu itu laki-laki pengecut yang gak bisa tegas sama hati kamu sendiri," tukas Hana yang sangat paham dengan sifat Garda. "Dan bodohnya aku masih berharap sama kamu."
...
"Heran Mama sama kamu!"
Garda yang baru saja memasuki rumah mengernyitkan dahinya. Pria itu langsung berpikir negatif. Pasti ada perselisihan antara ibu dan istrinya lagi.
Benar saja dugaan Garda. Di depan televisi Anita dan Nadin tampak saling pandang dengan emosi masing-masing. Anita terlihat marah dengan mata tajam yang menghunus lawan bicaranya.
"Tapi Nadin 'kan sudah izin sama Mama," ujar Nadin masih terlihat tenang.
"Memangnya kamu bilang sama Mama mau ke luar berapa lama!?" tanya Anita menyentak.
"Nadin cuma ke luar tiga jam aja 'kan, Ma?" balas Nadin bertanya. Pasalnya dia hanya meninggalkan rumah sekitar 3 jam saja. Tapi, Anita sudah menyambutnya dengan wajah menyeramkan.
__ADS_1
"Tiga jam itu lama!" sentak Anita. "Kamu tahu sendiri sekarang Gama lengket banget sama kamu! Kamu tinggal dia jadi rewel! Mama lagi yang repot!" omel Anita bersungut-sunggut.
Nadin menatap Anita dengan tatapan lesu. Sudah lelah dan bingung dengan isi kepala Anita. Rasanya apa yang dilakukan Nadin selalu salah di mata wanita paruh baya itu.
"Memang seharusnya gitu, kan, Ma?" tanya Nadin tenang. "Bukannya dulu Mama bilang Nadin hanya jadi orang tua angkat Gama secara hukum saja. Perihal mengurus Gama itu urusan Mama."
"Kamu gak ikhlas urus Gama!?" bentak Anita. Amarahnya semakin tersulut mendengar ucapan Nadin.
"Mama," sela Garda pada akhirnya. Awalanya dia hanya ingin diam saja. Membiarkan dua wanita itu menyelesaikan perselisishannya. Namun, melihat emosi Anita yang kian memuncak membuat Garda turun tangan.
"Istri kamu itu, Kak," adu Anita membuat Garda langsung melirik Nadin.
"Aku gak salah, Mas," ujar Nadin membela diri. "Aku cuma pergi 3 jam aja. Tapi sampai rumah Mama langsung marahin aku," adu Nadin.
"Gimana Mama gak marah kalau selama istri kamu pergi Gama nangis terus! Pusing kepala Mama!"
Garda menghela napas pelan. Pria itu mengusap punggung ibunya lembut. "Mama masuk ke kamar dulu. Tenangin diri Mama," ujar Garda.
"Bilangin, tuh, istri kamu, Kak," ujar Anita sinis sebelum melengos meninggalkan mereka.
Setelah kepergian Anita, Nadin langsung menatap Garda dengan mata berkaca-kaca. "Mas ... Aku cuma pergi sebentar aja tadi. Tapi Mama langsung marahin aku," ujar Nadin dengan suara tertahan. Tampak sekali air mata wanita itu siap meluncur deras.
Garda tersenyum tipis. Didekatinya Nadin lalu langsung mendekap tubuh kurus itu. "Sudah tidak papa," ujar Garda menenangkan. "Mama pasti hanya khawatir dengan kamu dan Gama."
Nadin balas memeluk Garda. Tangis Nadin menguar tanpa suara. Dengan penuh kasih sayang Garda mengusap punggung istrinya. "Nangis saja gak papa suapaya lega. Tapi setelah ini gak boleh nangis lagi, ya. Nanti cantiknya hilang."
Nadin mengangangguk dalam dekapan Garda. Setelahnya dia mulai menangis dengan isakan yang dapat Garda dengar. Pria itu masih setia mengusap lembut punggung Nadin.
"Drama," ujar Sela yang baru saja ke luar dari kamarnya. "Lebay gitu aja nangis!"
"Heh! Diam kamu!" bentak Garda. Pria itu langsung menarik Nadin untuk meninggalkan ruang televisi menuju kamarnya. Sebelum benar-benar pergi Nadin menatap Sela dengan wajah merah dan mata berair.
"Apa!?" sentak Sela.
"Kasihan, iri gak punya suami," ledek Nadin membuat wajah Sela memerah menahan emosi.
"Sialan Lo!"
Nadin dan Garda langsung tertawa melihat kemarahan Sela. Sepasang suami istri itu langsung berlari kecil menuju kamarnya.
"Iseng banget kamu, Nad," kekeh Garda.
__ADS_1
"Seru tahu ngeledek Mbak Sela, Mas."