
"Mama mau menginap di sini."
Garda dan Nadin saling tatap setelah mendengar ucapan Anita. Wanita paruh baya itu tiba-tiba saja datang saat Garda akan berangkat mendatangi acara yang dia maksud tadi pagi. Akhirnya pria itu memilih tinggal di rumah untuk menemani istrinya.
"Terus papa sama siapa?" tanya Garda. Pria itu menatap Anita yang sedang duduk di sofa sambil terus menatap sekeliling.
"Mama cuma sehari aja, kok, Kak. Gak usah pikirin papa," jawab ibu Garda.
Untuk beberapa saat mereka bertiga terdiam. Nadin yang duduk di samping Garda merasa terintimidasi dengan tatapan Anita. Wanita paruh baya itu benar-benar menunjukkan ketidak sukaannya pada Nadin secara gamblang. Nadin merasa sangat miris mendapat perlakuan itu. Dirinya dibuat merasa tidak pantas bersanding dengan suaminya.
"Kesibukan kamu di rumah apa aja, Nad?" tanya Anita. Wajah tua yang biasanya terlihat ramah itu hilang. Anita menatap datar pada Nadin.
"Cuma beres-beres rumah sama masak, Ma," jawab Nadin dengan suara lembut. Dia akan tetap berusaha menghormati dan menjadi menantu yang baik.
"Bahkan kamu sendiri menyadari kalau semua yang kamu lakuin itu 'cuma'," kata Anita dengan menakan kata terakhir.
"Mama!" sela Garda. Pria itu meremas tangan Nadin yang dia genggam. Berusaha menunjukkan bahwa ada dia yang selalu ada untuk Nadin.
"Mama bercanda, kok, Kak," ujar Anita dengan senyum tipis di wajahnya. Wanita tua itu kembali menatap wajah Nadin yang terlihat gugup. "Kamu gak mau kuliah lagi?" tanya Anita.
Nadin terlihat semakin gugup dibuatnya. Wanita dengan badan kurus itu sedikit mengulum bibir sebelum menjawab pertanyaan Ibu Mertuanya. "Nadin tidak akan kuliah lagi, Ma," jawab Nadin tegas.
Garda langsung menoleh pada istrinya dengan wajah terkejut. Tidak menyangka Nadin akan menjawab dengan begitu tegas. Untuk alasan dibalik istrinya tidak ingin kembali kuliah Garda sudah tahu. Jadi, dia tidak terlalu dibuat bingung.
"Loh, kok tidak akan gimana? Pendidikan itu penting, loh, Nad! Apalagi suami kamu juga orang yang berpendidkan. Harusnya kamu punya tekad buat mengimbangi suami kamu," ujar Anita panjang lebar. Beliau dibuat bingung dengan jawaban menantunya.
"Garda gak suka Mama bicara seperti itu sama istri Garda!" ucap Garda menyela Anita yang akan kembali membuka mulut. Pria itu sampai dibuat bingung menanggapi ucapan ibunya. Bagaimana tidak? Setiap ada kesempatan selalu perihal pendidikan yang wanita itu bicarakan.
"Sekarang kamu berani bentak Mama, ya, Kak?" sindir Anita. Wanita dengan hijab biru tua itu menatap remeh pada Nadin. "Kamu bentak ibu kamu karena bela dia?"
Garda mengusap wajahnya dengan kasar. "Mama kenaa, sih? Ini bukan Mama yang Garda kenal," ujar Garda pelan. Mencoba mengurai emosi yang hampir meledak.
Anita melengoskan wajah mendengar ucapan anak pertamanya. Dia selalu merasa benci dan terima melihat Nadin bersanding dengan anak kebanggaannya.
"Mama mau istirahat," ujar Anita dengan tatapan ke depan. Enggan menatap anak dan menantunya.
Nadin terperanjat mendengar ucapan Anita. Pasalnya dia belum membersihkan kamar tamu. "Nadin bersihkan kamarnya sebentar, ya, Ma," ucap Nadin meminta izin.
Anita langsung melirik sinis pada Nadin yang terlihat tersenyum lembut ke arahnya. "Ngapain aja dari tadi," sarkas wanita paruh baya itu.
__ADS_1
Nadin tetap mengulas senyum lembut mendengar ucapan Anita. Bohong jika Nadin bilang sedang baik-baik saja. Nyatanya ada rasa sesak yang segera ingin dia luapkan.
Wanita dengan piyama panjang dan hijab instan itu segera berlalu meninggalkan ruang tamu. Nadin segera berjalan menuju kamar tamu yang bersebelahan dengan kamarnya dan Garda. Dengan cekatan dia mulai membersihkan sekaligus merapikan kamar itu. Tidak mau membuat Anita semakin tidak menyukainya karena bekerja terlalu lama.
Sementara di ruang tamu sepasang ibu dan anak itu diam dengan isi kepalanya sendiri. Garda masih merasa bingung dengan perubahan yang ada pada ibunya.
"Kamu marah sama Mama karena ucapan Mama ke Nadin?" tanya Anita memecah hening.
Garda langsung menoleh ke arah ibunya. Kedua pasang mata tajam itu saling bertatapan. "Gak seharusnya Mama terus-terusan mempermasalahkan pendidikan istri Garda," ucap Garda. Berusaha berbicara sepelan mungkin agar Anita mengerti.
"Gimana Mama gak permasalahin kalau istri kamu aja cuma lulusan SMA! Sedangkan kamu dosen, Kak!" tegas Anita.
"Mau sekeras apapun Mama permasalahin ini gak akan berubah, Ma," balas Garda. Mata tajamnya menatap dalam wajah ibunya. "Tolong berhenti buat bicarakan hal ini."
"Ini semua bisa berubah kalau istri kamu mau kuliah! Lagian kenapa dia bisa putus kuliah!? Orang tuanya aja kaya! Kakaknya dokter! Masa adiknya gak berpendidikan," tutur Anita penuh emosi.
Garda menelan ludah kasar. Tidak tahu harus menanggapi bagaimana lagi. Anita adalah seorang wanita yang keras kepala dan gigih. Beliau akan terus-terusan mendesak lawan agar bisa memenuhi keinginannya. Sama seperti saat wanita itu menjodohkan Garda. Namun, naasnya sekarang beliau merasa tidak puas dengan apa yang dia tanam.
"Pokoknya Mama mau istri kamu kuliah lagi! Mama mau punya menantu yang berkelas seperti teman-teman arisan Mama!" ujar Anita tegas.
Garda menggerakkan bola matanya dengan perasaan bimbang. Kembali ke dunia pendidikan bukan hal mudah untuk Nadin. Istrinya sudah terlalu takut dan trauma dengan segala tekanan yang dia dapat saat berada di bangku perkuliahan. Garda takut Nadin akan kembali hikang kendali jika memilih jalan ini.
"Garda dan Nadin sedang program hamil," tutur Garda tiba-tiba.
Anita tentu saja langsung menatap penuh pada anaknya. Wajahnya terlihat sedikit berbinar. "Beneran, Kak?" tanya Anita menuntut.
Garda mengangguk meski merasa sedikit ragu. Karena apa yang dia bicarakan bukanlah sebuah fakta. "Makanya Garda larang Nadin buat kuliah. Biar Nadin bisa fokus jaga kesehatan dia selama program hamil dan untuk kehamilannya nanti," jelas Garda.
Ibu dari Garda itu tentu saja merasa sedikit tenang. "Berarti sebentar lagi Mama punya cucu, ya, Kak?" tanya Anita.
Garda tersenyum tipis. "Mama doa kan saja," balas Garda tenang.
"Gak papa gak kuliah lagi kalau memang Nadin sedang program hamil," ujar Anita yang mulai luluh.
Sekarang Garda dapat menghela napas lega. Pria itu tinggal berbicara dengan istrinya dan mengatur jadwal untuk melakukan program hamil.
"Mama gak sabar gendong cucu. Capek diomongin temen-temen sama tetangga," keluh Anita dengan wajah sendu.
Tak selang lama terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Nadin tersenyum lembut dengan wajah yang tampak basah dengan keringat. "Kamarnya sudah Nadin bersihkan, Ma," ujar Nadin.
__ADS_1
Anita mendongak menatap Nadin. Wanita paruh baya yang selalu mengenakan banyak perhiasan itu langsung berdiri. "Terimakasih," ucap Anita singkat. Tanpa banyak basa-basi wanita itu berlalu meninggalkan anak dan menantunya.
Setelah kepergian Anita Garda langsung berdiri mendekati Nadin. Diusapnya wajah berkeringat Nadin dengan kedua tangannya. Seulas senyum lembut menghiasi wajah cantik Nadin.
"Masih cantik, gak?" tanya Nadin.
Garda balas tersenyum hangat. "Selalu cantik," ucap Garda. Pria itu beralih mengusap kepala Nadin yang tertutup hijab. "Kamu gak boleh sedih, ya, Nad," ujar Garda.
"Emang kenapa?" tanya Nadin menggoda. Wajah cantiknya masih setia mengulas sebuah senyum.
"Nanti saya ikut sedih," ujar Garda dengan wajah yang tiba-tiba sendu.
Melihat itu membuat tawa Nadin pecah. "Lucu banget, sih, suami aku!" ujar Nadin. Wajahnya terlihat begitu bahagia.
"Kamu gak usah pikirin omongan Mama. Nanti biar saya bilang sama Mama lagi, ya," ucap Garda. Dia benar-benar khawatir dengan keadaan Nadin. Garda tahu Nadin terbiasa menyimpan rasa sakitnya sendiri.
"Jagan, Mas! Udah Mas Dana diem aja. Kasihan Mama kalau Mas Dana belain aku terus. Mama pasti ngerasa tersinggung, Mas," jelas Nadin.
Garda langsung memeluk tubuh kurus Nadin. Merasa begitu tersanjung dengan ucapan istrinya. "Kamu gak marah sama Mama?" tanya Garda.
Dalam pelukan suaminya Nadin menggeleng. "Wajar seorang ibu menginginkan yang terbaik untuk anaknya," ujar Nadin.
Baru beberapa detik mereka berdua larut dalam suasana yang hangat. Panggilan melengking dari kamar tamu membuat mereka saling pandang. Garda langsung menggandeng tangan Nadin untuk berjalan menuju asal suara.
"Ada apa, Ma?" tanya Garda begitu sampai di sana.
Anita sudah memasang wajah tidak bersahabat. Wanita itu menunjuk ujung kasur yang tampak berdebu. Juga mengangkat bantal yang terdapat sebuah noda.
"Kamu gak ikhlas siapkan kamar ini untuk Mama?" tuduh Anita.
Nadin langsung menatap ibu mertuanya dengan gugup. Padahal dia sudah membersihkan tempat ini dengan teliti. Nadin yakin dia sudah memastikan tempat ini bersih sebelum dia tinggal.
"Apa kamu gak suka Mama menginap di rumah anak Mama?" tuding Anita karena Nadin tak kunjung mengeluarkan suara.
Garda mendekati ujung kasur yang terdapat debu. Mengibaskan debu itu dengan tangan kanannya. Setelah itu memgambil bantal yang terdapat noda.
"Tolong ambilkan sarung bantal yang baru, ya, sayang," pinta Garda dengan saura lembut.
"Gak usah, Kak!" sela Anita membuat Nadin mengurungkan niatnya untuk mengambil sarung bantal.
__ADS_1
"Antarkan Mama pulang saja! Buat apa menginap di sini kalau tidak disambut dengan baik!"