
"Nadin?"
Wanita dengan gamis dan jilbab pasmina itu menoleh. Wajah terkejutnya tidak bisa terelakkan. Mata beningnya mengerjab beberapa kali untuk memastikan sosok yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Garda ketika sudah berdiri di hadapan istrinya.
Nadin tampak gugup karena tidak menyangka akan bertemu suaminya di tempat ini. "Ee ... Itu," kata Nadin gugup.
Satu alis tebal milik Garda terangkat. Ditatapnya wajah sang istri dengan pandangan menelisik. Namun, mata Garda malah salah fokus pada sebuah kertas yang dipegang Nadin.
"Kertas apa?" tanya Garda sambil menunjuk apa yang Nadin bawa.
Wanita cantik itu menunduk untuk menatap apa yang Garda masksud. "Aku habis periksa ke dokter," cicit Nadin dengan mata yang sedikit menatap suaminya. "Kata Mama aku disuruh periksa."
"Sendiri?" tanya Garda sarat akan sindiran.
Nadin menipiskan bibirnya dengan perasaan takut. Kepalanya perlahan diangkat sampai pandangannya beradu dengan milik Garda. "Aku mau bicara sama Mas Dana. Tapi Mas sibuk terus jadi aku gak enak bilangnya," jelas Nadin. "Maafin aku, ya, Mas," cicitnya denagn wajah melas.
Garda menghela napas pelan. Pria itu menarik tangan Nadin untuk menuju bangku yang di sediakan di taman rumah sakit ini. Kini mereka berdua duduk berdampinga di sini.
"Alangkah lebih baiknya kamu ajak saya," ucap Garda memulai pembicaraan.
Nadin mengangguk pelan. Diraihnya tangan kekar suaminya untuk di gengam. "Maafin aku. Aku gak tenang kalau gak buru-buru periksa, Mas," jelas Nadin lagi. "Tapi aku gak enak ngerepotin Mas Dana lagi. Aku tahu akhir-akhir ini Mas sibuk banget."
Garda menatap Nadin dengan wajah tak suka mendengar apa yang baru saja istrinya itu sampaikan. "Kamu istri saya. Tidak ada kata merepotkan Nadin," ujar Garda dengan tegas.
"Iya maaf salah lagi," ujar Nadin dengan bibir mencebik.
Garda terkekeh ringan mendengar ucapan istrinya. Diusapnya puncak kepala Nadin dengan tangannya yang bebas. "Lain kali tidak boleh berangkat sendiri lagi," ujar Garda pelan.
"Tapi Mas Dana sekarang sibuk banget," gerutu Nadin. "Coba, deh, Mas inget-inget sesibuk apa Mas sekarang," omel Nadin dengan dahi yang mengernyit.
Lagi-lagi Garda dibuat terkekeh dengan ucapan Nadin. "Iya maaf, ya, saya terlalu sibuk sekarang," ucap Garda dengan usapan lembut di tangan Nadin.
"Sampai aku jarang dimanjain kayak dulu lagi," gerutu Nadin lagi.
"Aduh, kamu rindu saya manjakan ternyata," balas Garda. Mata tajamnya untuk kali ini bisa menyipit bersamaan dengan kedua ujung bibirnya yang terangkat.
"Emang Mas Dana gak kangen aku?" tanya Nadin.
__ADS_1
"Setiap hari kita bertemu," bakas Garda. Wajah tampannya masih sangat indah dengan hiasan senyum di sana.
"Bertemu aja gak ngapa-ngapain," ungkap Nadin dengan nada merajuk.
"Memang harusnya ngapain?" goda Garda dengan mata mengerling.
Nadin melirik ke kanan dan kiri dengan wajah serius. Mencoba mengawasi keadaan sekitar. Setelah di rasa aman barulah badan kurusnya dicondngkan ke arah Garda. "Biasalah anak muda," bisik Nadin diakhiri kecupan singkat di pipi kiri Garda.
Pria tampan itu lagi-lagi terkekeh mendengar ucapan Nadin. "Kamu ini ada-ada saja," ucap Garda dengan wajah sedikit bersemu.
Nadin otomatis tertawa lepas melihat wajah Garda. Dipegangnya pipi kiri Garda yang terasa hangat di kulit Nadin. "Mas Dana bisa salah tingkah juga ternyata," kekeh Nadin.
"Biasa saja," elak Garda.
"Mana coba lihat hasil tes nya," pinta Garda dengan wajah yang masih bersemu.
"Alah, mengalihkan pembicaraan, nih," goda Nadin. Meski begitu Nadin tetap menyodorkan amplop putih yang masih setia dia pegang.
Wajah Garda seketika berubah menjadi serius setelah membuka lembaran itu. Dibacanya dengan teliti apa saja yang tertera di sana. Pria itu langsung menoleh pada Nadin dengan wajah datar.
"Aman, gak ada masalah," ucap Nadin.
"Allah tahu kalau aku belum siap," ucap Nadin spontan.
Lirikan sinis Garda langsung menghunus mata Nadin tajam. Tentu saja Nadin menjadi panik karena sadar sudah salah berbicara. "Maksud aku gak gitu suamiku," sela Nadin sebelum Garda marah.
"Iya," balas Garda singkat.
Bibir Nadin seketika mencebik kesal. Badannya perlahan semakin mendekat dengan Garda. Dilingkarkannya tangan kanannya di lengan kekar Garda.
"Aku gak suka anak kecil," ujar Nadin pelan.
Garda sedikit memiringkan kepalanya untuk menatap Nadin. "Kenapa?"
"Soalnya anak kecil itu nyebelin. Sukanya cuma nangis," ujar Nadin dengan wajah kesal. "Kayak Raka, dia bisanya cuma nangis terus aku langsung di marahin Umma."
"Itu karena kamu yang buat dia nangis," balas Garda.
"Enggak," elak Nadin tegas. "Mereka itu memang suka cari perhatian aja, Mas," ujar Wanita itu dengan wajah yang sangat serius.
__ADS_1
"Kamu aja yang terlalu berburuk sangka sama mereka," bantah Garda lagi.
Nadin menatap Garda dengan wajah merengut. "Pokoknya aku gak suka sama anak kecil," tegas wanita itu lagi.
"Terus kalau punya anak gimana?" tanya Garda tidak habis pikir.
"Makanya aku belum siap punya anak Mas Dana," ujar Nadin gemas. "Nanti kalau nakal kayak Raka aku gak mau," rengek Nadin lagi.
"Tidak akan nakal kalau ayahnya saya," ujar Garda percaya diri.
Nadin seketika tertawa mendengar ucapan Garda. "Bener, sih, ayahnya aja cerewet sama galak kayak gini," canda wanita itu.
"Tapi kamu suka," imbuh Garda semakin percaya diri.
Mereka berdua sama-sama tertawa ringan kali ini. Menikmati kedekatan mereka yang sudah jarang sekali terbangun. Meski raga mereka selalu dekat namun sering kali rindu masih memikat.
"Oh, iya suamiku," ujar Nadin membiat Gerda menoleh.
"Apa?" tanya Garda.
"Mas Dana ngapain di rumah sakit?" tanya Nadin ketika mengingat apa yang ingin dia ketahui sejak tadi.
Garda terdiam untuk beberapa saat setelah mendengar pertanyaan itu. Mata tajamnya entah mengapa bergerak ke berbagai arah. Tentu saja hal aneh itu membuat Nadin mengernyit.
"Mas?" panggil Nadin lagi.
"Itu ... apa namanya," ucap Garda seperti sedang gugup.
"Apa?" tanya Nadin menuntut.
"Ada karyawan di rumah makan yang sedang dirawat. Jadi saya menjenguk," ujar Garda cepat.
"Kok Mas kayak gugup gini? Gak kayak biasa," ucap Nadin tanpa mengalihkan tatapannya dari Garda. Gelagat aneh dari Garda tentunya dapat Nadin baca.
Garda mengalihkan pandangannya. "Biasa saja," balas pria itu acuh. "Ayo kita makan siang saja. Saya sudah lapar," ajak Garda.
Nadin semakin dibuat bingung dengan tingkah Garda. "Mas ngajak makan siang jam 10?" tanya Nadin heran.
Untuk kedua kalinya Garda mengalihkan pandangannya dari Nadin. "Iya tidak apa-apa saya sudah lapar," ujar Garda.
__ADS_1
Pria itu langsung berdiri dengan menarik tangan Nadin. "Kita makan di rumah makan saja, ya, yang sudah terjamin bersih," ucap Garda bersamaan dengan merangkul pinggang Nadin mesra.