Dear My Fussy Husband

Dear My Fussy Husband
Tentang Sela


__ADS_3

"Ayo makan dong sayang. Kamu bisa sakit kalau gak mau makan begini," bujuk Anita pada anak perempuannya.


Wanita dengan perut buncit itu masih setia dengan mulut tertutup. Sama sekali tidak mengindahkan kemauan ibunya.


"Kalau kamu gak mau makan kasihan bayi yang kamu kandung Sela," ungkap Anita sendu. "Bayi ini bisa kenapa-kenapa kalau kamu gak mau makan."


"Biarin aja! Biar bayi ini mati sekalian," balas Sela dengan garang.


Anita meletakkan sepiring nasi di atas nakas. Jujur saja dirinya sudah sangat lelah membujuk Sela untuk makan. Putrinya terlalu keras kepala melebihi dirinya sendiri.


"Mau bagaimana pun kamu harus menjaga bayi yang kamu kandung Sela," ujar Anita dengan lembut.


"Dia itu penghancur hidup aku!" kata Sela dengan tegas. "Kalau dia gak ada papa pasti gak bakal pergi," ujar Sela dengan air mata yang mulai memgembun.


Garda yang baru pulang dari rumah makan memasuki kamar itu. Badan tegap yang dibalut kemeja lengan panjang itu melangkah dengan tegas. Ini kali pertama Garda berhadapan dengan adiknya setelah wanita itu pulang dari Belanda.


"Kamu nyalahin bayi yang kamu kandung?" tanya Garda dengan wajah datar. "Dia sama sekali gak salah. Kamu harus sadar kalau di sini kamu yang salah Sela," ujar Garda penuh penekanan.


Pria itu menunjuk perut buncit Sela. "Bahkan dia gak tahu kenapa bisa hadir di dunia ini," ujar Garda.


"Kak, jangan begitu sama adik kamu," pinta Anita memelas. Mau bagaimanapun keadaan Sela Anita tetap akan menjadikan wanita itu putri kesayangannya.


"Mama jangan bela Sela terus. Biarin dia sadar sama kesalahan dia," ucap Garda.


Sela mendongak menatap Garda dengan mata berkaca-kaca. "Kakak kira aku mau kayak gini?" tantang wanita itu.


Dibalasnya tatapan adiknya dengan tajam. "Kalau gak mau kayak gini kamu gak bakal lakukan perbuatan dosa itu. Harusnya kamu tahu akibat dari apa yang kamu lakukan."


Anita berdiri dari duduknya. Dipegangnya tangan kiri Garda. Mata yang terlihat lelah itu menatap Garda memohon. "Sudah Kak jangan buat adik kamu semakin sedih. Mama takut ada apa-apa dengan adik kau," lirih Anita tepat di samping telinga Garda.

__ADS_1


"Mama gak bisa terus manjakan dia," balas Garda.


"Mama takut kehilangan lagi, Kak," lirih Anita sendu.


Garda mengusap wajahnya kasar dengan tangan kanannya. Ditatapnya Sela dengan kedua rahang yang mulai mengeras. "Sekarang apa yang mau kamu lakuin sama anak kamu?"


"Dia bukan anak aku," elak Sela terlihat malas dengan pertanyaan Garda.


"Cuma orang gila yang gak mau mengakui anaknya," sindir Garda dengan sinis.


"Kak, tolong," lirih Anita lagi.


Garda menghela napas kasar. Pria itu memilih menarik sebuah kursi lalu duduk di sana. Sekarang mereka bertiga duduk dengan emosi yang sama-sama di tahan.


"Kakak tanya sama kamu. Apa yang mau kamu lakuin sama bayi yang kamu kandung?" tanya Garda mencoba lebih tenang.


Sela menggeleng mendengar pertanyaan itu. Jujur saja dia sendiri bingung dengan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. "Aku juga gak tahu. Aku bingung," ucap Sela.


"Beneran gila kalau kamu berani lakuin itu," sarkas Garda.


"Aku bingung, Kak. Aku takut sama yang terjadi," ujar Sela tak mau kalah.


"Harusnya kamu berpikir dari awal akibat perbuatan kamu Sela!" balas Garda tegas.


Anita mengusap punggung Garda lembut. "Tolong jangan pakai emosi, Kak."


Sela memainkan jemarinya dengan wajah menunduk. "Waktu aku tahu aku hamil aku udah mau gugurin dia. Tapi pacar aku gak bolehin. Dia bilang mau tanggung jawab," jelas Wanita itu menceritakan kisah beberapa bulan lalu. "Tapi semenjak anak ini semakin besar dia malah pergi gak tahu kemana."


"Bodohnya kamu percaya sama omongan laki-laki itu," maki Garda. "Lagi pula Kakak bener-bener gak habis pikir kamu bisa pulang dengan santainya dalam keadaan hamil besar. Apa kamu gak ingat Papa punya riwayat jantung?!"

__ADS_1


Garda menatap heran pada Sela yang masih menunduk. Sementara Anita sudah mulai terisak di sebelahnya. "Kamu gak mikirin gimana perasaan orang tua kamu lihat anak kesayangannya jadi begini?"


"Sudah, Kak," sela Anita membuat Garda mengurungkan niat untuk mengeluarkan emosinya lagi. "Yang harus kita pikirkan sekarang bagaimana dengan anak yang Sela kandung," ucap Anita lirih.


Garda menatap Sela dengan tajam. "Coba bisa mikir solusinya gak kamu?" tanya Garda menantang. Sela hanya menggeleng pelan.


"Mama juga bingung harus gimana, Kak," ucap Anita. "Pokoknya Mama gak mau orang lain tahu soal kehamilan Sela," jelas Anita.


Tentu saja Anita akan menyembunyikan satu fakta ini. Jika orang lain mengetahui tentang aib keluarganya hidup Anita bisa benar-benar hancur. Reputasi baik yang dia bangun sejak dulu bisa musnah.


Garda mengusap wajahnya dengan kasar. Sekarang tanggung jawab keluarga ini ada di tangannya. Tentu saja hal ini terasa berat untuk pria itu.


Pria itu berdiri dari duduknya. Membuat Anita dan Sela fokus menatap Garda. "Jadi manusia pintar untuk kali ini. Makan, jangan egois dengan anak kamu!" tegas Garda.


Garda mengusap pundak Anita pelan. "Biar Garda pikirkan lagi solusinya," ucap Garda.


Anita mengangguk setuju. "Dua bulan lagi Sela akan melahirkan, Kak," ucap Anita yang diangguki Garda.


Setelah itu Garda berbalik untuk meningglkan dua wanita di kamar itu. Langkah kaki Garda terhenti saat mendapati Nadin di meja makan. Wanita itu tengah menikmati makanannya seorang diri.


"Belakangan ini kamu makan terlambat terus," ujar Garda yang mulai duduk di samping istrinya.


"Belakangan ini Mas Dana makan di luar terus," balas Nadin yang masih fokus dengan santapannya.


"Kamu keberatan?" tanya Garda.


"Menurut Mas Dana?" tanya Nadin balik.


Garda menatap wajah Nadin lamat. "Kamu marah sama saya?"

__ADS_1


"Apa Mas Dana buat salah sampai aku bisa marah?"


Garda tertegun dengan ucapan Nadin. Apalagi melihat wanita itu yang tidak menatap wajahnya. "Kalau ada masalah bilang. Jangan diam seperti ini," ucap Garda tegas. "Jangan membuat saya semakin pusing."


__ADS_2