
"Anak siapa itu, Nadin?" pertanyaan dari Halimah langsung menyambut Nadin.
Padahal baru saja wanita itu duduk di sofa rumah orang tuanya. Gama sendiri memang berada di gendongan Nadin, sesuai dengan perintah Garda.
Nadin melirik Garda penuh harap. Meminta bantuan untuk menjawab pertanyaan dari Ummanya. Garda yang paham dengan kode Nadin langsung menegakkan badannya bersiap untuk berbicara.
"Mohon maaf sebelumnya Umma. Apa Abah ada di rumah?" tanya Garda dengan hati-hati.
"Ada Nak Garda, mau Umma panggilkan," tawar Halimah dengan suara lembuat. Mendengar itu Nadin jadi mendengkus pelan.
"Boleh kalau tidak merepotkan, Umma," jswab Garda sopan.
"Sebentar, ya, Umam panggilkan dulu," pamit Halimah.
Setelah kepergian Halimah Nadin menatap Garda dengan serius. "Mas Dana," panggil Nadin.
"Apa?" jawab Garda dengan kepala menghadap Nadin.
"Pokoknya Mas Dana yang bilang sama Umma dan Abah. Aku gak mau ikut ngomong," ujar Nadin dengan menggebu.
"Kenapa bagitu?" tanya Garda yang tidak terima dengan usul Nadin.
Nadin berdecak gemas. "Ini, kan, keputusan Mas Dana. Aku gak tahu apa-apa, lah," jawab Nadin.
"Tapi kalau saya kesusahan kamu bantu bicara, ya?" pinta Garda. Nadin rasanya ingin tertawa melihat wajah memelas Garda. Terlihat sekali pria itu sangat tegang sekarang.
"Takut, kan, Mas Dana sama Umma dan Abah," ledek Nadin. "Giliran ngomong sama aku aja gak mau dibantah."
Mulut Garda yang terbuka ingin membalas ucapan Nadin kembali mengatup. Kedatangan Halimah dan Abraham kembali membuat Garda tegang. Pria itu menunduk sopan pada Abraham.
"Bagaimana kabarnya, Bah?" tanya Garda sambil mencium tangan pria paruh baya itu.
"Alhamdulillah sehat, Nak. Kamu sendiri bagaimana kabarnya? Apa kondisi ibu kamu sudah membaik?" tanya Abraham beruntut.
Garda tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Abraham. Jika dilihat-lihat wajah tua itu sangat mirip dengan wajah istrinya. "Alhamdulillah kabar saya dan Nadin sangat baik, Bah. Kondisi Mama juga sudah kembali stabil," jawab Garda.
__ADS_1
Mendengar nama anaknya di sebut Abraham jadi mengalihkan fokusnya pada Nadin. Namun, bayi yang ada dalam gendongan putrinya membuat Abraham mengernyit. "Loh, kamu bawa anak siapa, Nad?" tanya pria itu.
"Umam tadi juga tanya itu, Bah. Tapi Nadin belum jawab," ujar Halimah mengimbuhi.
"Nadin," panggil Abraham menuntut jawaban.
Nadin yang merasa terintimidasi dengan tatapan menuntut kedua orang tuanya menyenggol kaki Garda dengan kakinya. Wanita itu jadi bingung sendiri mendapati Garda yang sejak tadi terlihat tegang. Memangnya semenakutkan ini berhadapan dengan mertua?
"Jadi begini Abah, Umma," ujar Garda membuka pembicaraan. Abraham dan Halimah langsung fokus menatap Garda.
"Maksud Garda dan Nadin datang ke sini ingin memperkenakkan Gama kepada Abah dan Umma," ujar Garda masih dengan wajah tegang.
"Gama?" tanya Abraham dan Halimah bersamaan.
"Bayi yang digendong Nadin," ujar Garda memperjelas. "Bayi yang Garda dan Nadin angkat sebagai anak angkat kami."
"Anak angkat!?" tanya sepasang suami istri itu dengan wajah terkejut.
"Anak angkat gimana maksud kamu, Nak?" tanya Halimah menuntut.
Kedua orang tua Nadin masih berusaha menerima penjelasan dari menantunya. Ditatapnya wajah Garda dan Nadin dengan serius. Mencoba mencari kebohongan dari wajah suami istri itu.
"Apa benar yang dikatakan suamimu, Nadin?" tanya Abraham pada putrinya.
Nadin mengangguk pelan menanggapi jawaban itu. "Benar, Bah."
"Tapi kenapa? Apa alasan kalian mengambil keputusan ini?" tanya Halimah menuntut. Ditatapnya wajah cantik Nadin dan bayi di gendongannya dengan bergantian. "Apa kamu tidak bisa hamil, Nad?" tuding Halimah.
"Nadin bisa mengandung, Umma," jawab Garda cepat.
"Lalu apa alasan kalian mengambil keputusan ini?" tanya Abraham. Ditatapnya mata tajam Garda yang meredup. Menunggu jawaban dari kepala keluarga itu. "Seharusnya kamu tahu kalau ini bukan perkara gampang. Tidak cukup alasan kecil untuk memutuskan perkara ini."
Garda terdiam dengan isi kepala berkecamuk. Kalimat yang sudah dia tata rapi sejak di rumah sirna seketika. Ada rasa sungkan yang luar biasa saat Garda akan mengucapkan alasan palsu itu.
Diliriknya Nadin yang juga menatap ke arahnya. Wanita itu perlahan menganggukkan kepalanya meski agak ragu. Menyadari kerisauan yang suaminya rasakan.
__ADS_1
Garda yang mendapat dukungan serta persetujuan dari Nadin perlahan memberanikan diri membuka suara. "Usia pernikahan Garda dan Nadin sudah hampir menginjak satu tahun," ujar Garda pelan. "Kami berdua sudah sama-sama berusaha untuk mendapat buah hati. Namun, kenyataannya Nadin belum mengandung," jelas Garda lagi.
"Lalu?" tuntut Abraham.
Garda kembali menatap Nadin. "Kami sudah sama-sama menginginkan buah hati, Bah. Kenyataan bahwa Nadin belum bisa mengandung membuat kami memutuskan untuk mengangkat Gama menjadi anak kami."
"Apa kamu rasa itu alasan yang kuat?" tanya Abraham. "Lagi pula usia pernikahan kalian masih sangat muda. Kalian masih memiliki banyak waktu," ujar Abraham menggebu.
Abraham menggelengkan kepala heran. "Lalu bagaimana kalau Nadin akhirnya hamil? Bagaimana dengan anak yang sudah kalian adopsi?"
Gama mati kutu mendengar pertanyaan itu. Sejak awal dirinya tidak terlalu berekspetasi tentang tentangan dari orang tua Nadin. Jadi, tidak banyak jawaban yang Garda siapkan.
"Kamu bisa menjawab, Nad?" tanya Abraham pada Nadin. Melihat keterdiaman Garda membuat Nadin jadi sasarannya.
"Kalian tidak ada jawaban, kan?" tanya Abraham lagi. "Makanya dari awal libatkan orang tua. Kalau ada apa-apa kalian mau ke mana kalau bukan ke orang tua?"
"Nadin," panggil Abraham dengan tajam. "Lihat Abah!" suruh pria itu ketika Nadin masih menunduk. "Apa kamu lupa dengan orang tua kamu sampai tidak melibatkan kami?" tanya Abraham.
"Bukan begitu, Bah," elak Nadin.
"Lalu bagaimana!?"
Halimah mengusap punggung suaminya pelan. Wanita itu tentu saja turut terbawa emosi, namun sebisa mungkin meredakan emosi Abraham lebih dulu. Sebenarnya Abraham terkenal sebagai seorang yang sabar. Bisa dihitung jari berapa kali amarah Abraham meluap. Termasuk kali ini.
"Maafkan Garda dan Nadin karena tidak meminta persetujuan Abah dan Umma sebelumnya," ujar Garda penuh sesal.
Abraham menatap anak dan menantunya bergantian. Pria paruh baya itu mengembuskan napas berat. Setelahnya memilih beranjak dari duduknya dan meninggalkan tiga orang di sana.
"Kalian tahu dimana letak kesalahan kalian?" tanya Halimah ketika Abraham sudah pergi.
"Maaf, Umma," jawab sepasang suami istri itu bersamaan.
"Jangan mebuat kesalahan lagi. Rawat anak kalian dengan baik. Jagan buat Umma dan Abah merasa dikecewakan lagi," ujar Halimah dengan mata berkaca menatap anak perempuannya. "Ini pilihan kamu, Nadin. Umma harap kamu tidak kembali membuat semua orang kecewa."
Garda menatap Nadin setelah ucapan Halimah selesai. Diusapnya paha sang istri lembut. "Maafkan saya," lirih Garda dengan suara sangat pelan. Nadin yang bisa mendengar suara itu mengangguk dengan senyum tipis.
__ADS_1
"