
Usia kehamilan Sela semakin hari semakin bertambah. Tentu saja tidak lama lagi bayi yang wanita itu kandung akan segera lahir. Dengan antusias Anita menyiapkan beberapa perlengkapan bayi untuk cucunya. Meski kehadiran bayi ini tidak diharapkan. Setidaknya sosok kecil yang akan segera lahir ini bisa mejadi obat untuk kehilangan mereka.
"Mama terlalu berlebihan. Barang-barang sebanyak ini gak mungkin dipakai semua," ujar Garda dengan nada dingin. Pria itu heran menatap banyaknya baju dan peralatan bayi yang berserakan di depan televisi.
"Berlebihan gimana, sih, Kak? Ini masih wajar kok," elak Anita dengan santai.
Wanita paruh baya itu mulai membongkar belanjaannya lagi. "Bagus 'kan Sela? Kamu suka 'kan, Dek?" tanya Anita pada anak perempuannya.
Sela yang duduk di sofa sambil bermain ponsel itu menatap peralatan bayi yang ditunjuk Anita tanpa minat. "Aku suka bayi ini ke luar dari perut aku. Setelah itu aku bisa bebas ke mana aja," ujar Sela dengan wajah fokus menatap ponsel.
"Bebas ke mana aja?" tanya Garda mengulangi ucapan adiknya.
"Kakak tahu 'kan semenjak ada dia aku gak pernah bisa pergi ke luar dengan bebas," jelas wanita hamil itu.
Garda menatap Sela dengan wajah tak suka. "Kalau bicara itu lihat lawan bicara kamu!" tegas Garda geram. Tidak habis pikir dengan kelakuan Sela yang terlalu sibuk dengan ponselnya.
"Iya," balas wanita itu acuh.
"Lagi pula setelah melahirkan kamu punya tanggung jawab untuk merawat anak kamu. Enak sekali kamu bilang bisa bebas ke mana saja," omel Garda.
Sela menatap Garda dengan tatapan tidak terima. "Aku bilang dia bukan anak aku!" elak Sela dengan teriakannya.
"Kalau gitu anak orang gila," balas Garda sinis.
"Mas," panggil Nadin bermaksud menegur suaminya.
Garda yang sejak tadi duduk berdampingan dengan Nadin tersenyum tipis pada istrinya. "Pusing menghadapi orang seperti Sela," ujar Garda mengadu pada Nadin.
Anita mulai meninggalkan barang-barang untuk cucu pertamanya itu. Wanita paruh baya itu langsung ikut duduk di sebelah Sela. Diusapnya perut buncit anaknya pelan.
__ADS_1
"Sebenarnya Mama kecewa sekali sama kamu," ujar Anita tiba-tiba. Tentu saja tatapan sinis langsung Sela luncurkan. "Tapi Mama bahagia bisa segera gendong cucu. Dari dulu Mama pengen cepat punya cucu tapi belum kesampaian," papar Anita terdengar sendu.
Nadin yang paham dengan arah pembicaraan Anita mengerjab pelan. Kedua tangannya saling mengenggam dengan perasaan resah. Nadin paling tidak suka jika masalah kehamilannya selalu diungkit.
Sela tersenyum penuh kemenangan. Wanita itu merasa senang karena bisa mengalihkan topik yang dibuat ibunya. "Iya lah. Secara mantu Mama gak bisa hamil," ujar Sela dengan santai.
"Sembarangan kamu!" bentak Garda spontan. Matanya seketika mendelik tajam dengan rahang mengeras.
"Benar 'kan kata aku. Memang istri kakak bisa hamil?" tanya Sela menantang.
Nadin dan Garda diam sejenak. Garda mengusap paha istrinya pelan. Mencoba memberikan ketenangan untuk istrinya.
"Aku bisa hamil kok, Mbak," balas Nadin dengan tenang. Bibir tipis menawan milik Nadin membentuk lengkungan manis. "Semua wanita pasti bisa hamil. Hanya berbeda waktu dan caranya saja," imbuh Nadin.
"Kamu yakin bisa hamil?" tanya Sela kembali menantang.
"Kakak gak curiga sama istri Kakak? Pernikahan kalian sudah hampir satu tahun, loh, tapi dia gak hamil-hamil," jelas Sela santai. Dibalasnya tatapan Nadin dengan wajah sombong.
"Mungkin ada yang salah sama Mbak Nadin," ujar Sela lagi sengaja menekan kata panggilannya untuk Nadin.
"Apa mungkin?" Kini giliran Anita yang bersuara. Wanita dengan daster rumahan namun tetap terlihat mewah dengan banyak perhiasan itu mulai berpikir keras.
"Mama sudah jangan ikut-ikutan Sela," pinta Garda dengan nada suara yang mulai sedikit pelan.
Sela mengusap perutnya dengan wajah sombong. Semakin semangat membuat Nadin terpojokkan. "Dari keluarga kita jelas-jelas gak ada yang pernah susah punya anak, kan, Ma?" tanya Sela memastikan.
Anita mengangguk mesti agak ragu. "Bener ini Garda. Jangan-jangan memang ada yang salah sama Nadin," ujar Anita dengan alis mengernyit. "Seinget Mama dulu Bu Halimah waktu hamil Dikta juga agak lama. Terus jarak Dikta sama Nadin juga jauh banget, kan?" tanyanya memastikan.
Mendengar itu membuat Nadin lengsung terdiam. Dialihkan tatapannya dari semua orang yang ada di ruangan ini. Sementara Garda mencoba mencerna apa yang adik dan ibunya katakan.
__ADS_1
"Bener, kan?" tanya Sela dengan senyum tipisnya. Diamatinya wajah serius Garda yang sedang berpikir.
"Nadin dan Garda hanya belum dikasih kepercayaan. Bukanya tidak akan diberi kepeecayaan," ujar Garda dengan tegas. Mencoba membantah argumen dari ibu dan adiknya.
Anita menghela napas mendengar jawaban tegas anaknya. "Kalau gitu coba kamu periksa saja Nadin. Biar jelas dan tahu apa penyebab kalian belum diberi keturunan," kata Anita final.
Nadin langsung mendongak menatap ibu mertuanya. "Iya, Ma," jawab Nadin dengan senyuman tipis.
"Kalau misalnya dia beneran gak bisa hamil gimana, Ma?" tanya Sela memancing. Kembali diadukan tatapan tajamnya dengan mata bening Nadin yang sedikit redup.
Garda berdecak sambil menggelengkan kepalanya heran. Tidak habis pikir dengan Sela yang terus-terusan memancing amarahnya. "Ayo ke kamar saja, Nad!" ajak Garda tiba-tiba. Ditariknya tangan Nadin agar berdiri. Garda pikir lebih baik menghindar dari obrolan ini.
"Kak, kok malah ke kamar sekarang," ujar Anita heran. "Jarang-jarang loh kita berkumpul seperti ini."
Garda merangkul pinggang Nadin yang masih diam. "Mau buatin Mama cucu," balas Garda enteng. Setelahnya Garda dan Nadin benar-benar pergi dari ruang televisi itu.
Setelah kepergian mereka Sela semakin mendekatkan tubuhnya dengan Anita. "Apa yang aku omongin mungkin aja benar, kan, Ma?" tanya Sela lagi.
Anita terdiam sejenak dengan kepala yang sibuk berpikir. Jika dicerna lagi ucapan Sela ada benarnya. Dari keluarga besar mereka tidak pernah ada yang punya pengalaman susah mempunyai keturunan. Lain dengan keluarga Nadin yang Anita tahu orang tua Nadin dulu pernah mengalami kesulitan ketika di awal pernikahan.
"Mungkin juga benar, Dek. Tapi biar pasti Nadin harus segera periksa," ujar Anita.
"Kalau Nadin bener gak bisa hamil Mama gak mungkin diem aja dong?" tanya Sela lagi.
Kali ini Anita dibuat benar-benar terdiam. "Sudah, mending kamu masuk dan istirahat saja," suruh Anita pada anak kesayangannya.
Sela mendegus dengan malas. Padahal dia ingin mendapat bocoran dari ibunya tentang langkah apa yang akan dia ambil jika Nadin benar-benar tidak bisa mengandung. Pastinya Sela sangat menginginkan Nadin lenyap dari keluarga mereka.
"Kak Garda itu pintar dan punya usaha yang sudah besar. Sayang banget kalau suatu saat nanti gak ada yang nerusin," ujar Sela lagi sebelum benar-benar meninggalkan Anita sendiri.
__ADS_1