
Garda membuka pintu kamar dengan pelan. Hari ini dia pulang jauh lebih awal dari biasanya. Matanya menelisik seisi ruangan mencari keberadaan Nadin. Tadi dia juga tidak melihat Nadin di ruang tamu maupun dapur. Jadi, Garda pikir Nadin pasti ada di sini.
Samar-samar Garda mendengar suara tangis. Ditatapnya pintu kamar mandi yang tertutup. Garda yakin asal suara itu dari dalam kamar mandi.
Didekatinya pintu putih itu. Benar saja, suara tangisan yang dia dengar semakin jelas. Dan Garda tahu itu suara istrinya.
Tanpa pikir panjang dibukanya pintu putih yang tidak terkunci. Di dalam Nadin yang sedang duduk di lantai dengan memeluk lutut menoleh. Wajah merah Nadin memandang Garda dengan raut terkejut.
Sementara mata Garda menajam melihat sebuah benda tajam yang tergeletak di dekat Nadin. Pria itu mendekati Nadin dengan wajah mengeras.
"Sudah saya bilang kamu gak butuh barang ini lagi," kata Garda tegas.
Pria itu langsung menarik tubuh Nadin ke dalam dekapannya. Tubuh bagian atas Nadin yang hanya tertutup bra itu langsung bersentuhan dengan badan kekar Garda. Saat itu juga tangis pilu Nadin kembali terdengar.
"Aku takut Mas Dana tinggalin aku," adu Nadin disela-sela tangisnya.
Garda mengusap pelan punggung polos Nadin. Memilih diam karena dia tahu saat ini istrinya hanya butuh pendengar yang baik.
"Aku gak bisa jadi menantu yang dipengenin mama Mas Dana. Aku takut Mas Dana tinggalin aku. Aku gak kuliah, aku gak kerja, aku cuma numpang hidup sama Mas Dana."
Tangis Nadin semakin mengeras seiring dengan luapan emosinya. Semantara rahang Garda mulai mengeras. Jelas dia merasa tak terima istrinya berpikir demikian.
"Aku mau terus sama Mas Dana. Aku mau sama Mas Dana selamanya," kata Nadin dengan nada yang lirih.
Gadis itu semakin mendekap tubuh Garda. Ada rasa takut kehilangan yang terus menyiksa Nadin. Dia takut dan sesak secara bersamaan. Nadin butuh sebuah pengalihan untuk ketakutannya.
"Aku cuma punya Mas Dana. Gak ada yang bisa nerima aku selain Mas Dana. Aku cuma mau sama Mas Dana. Tolong terus temenin aku, Mas," ujar Nadin dengan tangis pilu yang masih terdengar.
"Saya akan terus sama kamu Nadin," ucap Garda menenangkan.
Garda memberikan beberapa kecupan di puncak kepala Nadin. Tangannya terus mengusap lembut punggung istrinya. Mecoba memberikan rasa tenang yang Nadin butuhkan.
"Mas," panggil Nadin yang sudah mulai sedikit tenang.
"Iya," jawab Garda.
"Umma sama Abah gak pernah peduli sama aku," adu Nadin. Gadis itu sedikit menjauhkan badannya. Mendongak agar bisa memandang wajah Garda yang terasa menenangkan.
Mendapat kesempatan untuk memperbaiki posisi duduknya. Garda langsung merubah posisinya mejadi bersila. Langsung saja mengangkat Nadin agar duduk di pangkuannya dengan posisi kaki yang terbuka.
"Cerita, mas, dengerin," ujar Garda lanjut memeluk tubuh Nadin. Garda dapat menangkap sinyal bahwa Nadin siap membagi rasa sakitnya. Nadin meletakkan kepalanya di pundak Garda. Membawa wajahnya menghadap ceruk keher Garda.
"Mas Dikta itu orangnya rajin dan pinter banget. Makanya Umma sama Abah sayang banget sama Mas Dikta," ujar Nadin memulai ceritanya. Cerita yang selalu dia rasakan dan simpan sendiri.
"Abah dulu pengen jadi dokter. Tapi, karena dulu ada keterbatasan ekonomi, jadinya Abah gak bisa kuliah kedokteran," ucap Nadin dengan suara yang cukup pelan. Untung saja mulut Nadin tepat berada di dekat telingan Garda. Jadi Garda dapat mendengar dengan cukup jelas.
"Karena Abah gak bisa jadi dokter. Abah mau anak-anaknya bisa jadi dokter sesuai impiannya dulu. Makanya sejak kecil aku sama Mas Dikta selalu dituntut buat jadi pinter. Setiap hari harus selalu belajar dan belajar."
"Tapi aku gak bisa, Mas," ujar Nadin lirih. "Aku gak suka belajar. Aku gak mau belajar. Dari dulu Umma sama Abah paksa aku terus. Tapi aku gak mau, aku maunya masak sama main aja." Gadis itu berbicara dengan semangat. Seakan hanya mempunyai satu kesempatan ini untuk berbicara.
"Sedangkan Mas Dikta nurut banget sama mereka. Makanya Umma sama Abah sanyang banget sama Mas Dikta. Mas Dikta itu kayak jadi raja di rumah aku. Apapun yang Mas Dikta mau selalu ada. Apapun yang Mas Dikta butuhin selalu ada. Umma sama Abah terlalu fokus sama Mas Dikta. Sampai rasanya aku gak dapet apapun dari mereka."
"Aku suka masak mas dari dulu. Aku suka bantu Umma di dapur, tapi malah dimarahin," adu Nadin seperti anak kecil.
Garda bersikap menjadi pendengar yang baik. Pria itu terus mengusap punggung Nadin tanpa menyela ucapan istrinya.
"Mas tahu gak kenapa dulu kita pindah?" tanya Nadin.
"Enggak," jawab Garda singkat.
"Kita pindah biar Umma sama Abah bisa terus dampingin Mas Dikta yang keterima kuliah di sana. Segitunya banget sama anak kesayangannya. Padahal aku udah nangis-nangis gak mau pindah. Tapi Umma sama Abah gak peduli. Sementara itu sampai sana aku harus tinggal sama nenek aku."
__ADS_1
"Kenapa harus tinggal sama nenek?" tanya Garda.
"Aku, kan, hitungannya pindah sekolah. Tapi sekolah yang masih deket rumah gak sesuai sama keinginan Abah. Jadinya aku disuruh sekolah di daerahnya nenek yang sesuai sama keinginan Abah."
"Aku bener-bener ngeras dibuang. Aku ngerasa gak dianggep. Apalagi Umma sama Abah jarang main ke sana. Aku ngerasa semakin jauh sama keluarga aku. Aku selalu nyimpen dan rasain cerita aku sendiri karena mereka gak ada waktu buat aku.
Nadin teridiam sejenak. Wanita itu menarik napas panjang sebelum memulai ceeita yang baru.
"Ini yang ngebuat mental aku bener-bener rusak, Mas," ujar Nadin setelahnya.
"Apa?" tanya Garda tetap dengan suara yang tenang.
"Ada tetangganya nenek yang seumuran sama Mas Dikta," kata Nadin terjeda. "Dari awal aku kerumah nenek orang itu udah suka deket-deket sama aku. Awalnya aku gak mikir aneh-aneh. Umurku waktu itu baru 10 tahun. Jadi aku gak ada bayangan buruk apapun."
"Dia apain kamu!?" tanya Garda yang sudah yakin ada sesuatu yang terjadi.
"Waktu itu aku diajak bareng pas pulang sekolah. Aku mau aja karena posisinya lagi sendiri. Eh, bukannya dipulangin ke rumah malah dibawa ke rumah dia."
"Aku diajak masuk sama dia. Di rumah gak ada siapa-siapa. Katanya disuruh nemenin dia sebentar soalnya orang tuanya lagi pergi. Awalnya biasa aja, Mas. Tapi lama-lama dia pegang aku."
"Pegang kamu!?" tanya Garda tak terima.
"Dia pegang tangan aku awalnya. Tapi abis itu jadi ngerambat kemana-mana. Aku udah ngelawan tapi katanya dia cuma mau periksa aku aja. Katanya buat tugas kuliah." Wajah Garda sudah mulai menengang mendengar suara Nadin.
"Aku percaya aja karena bener-bener tabu sama hal kayak gitu. Umma sama Abah juga gak pernah bilang atau ajarin aku soal hal-hal kayak gitu. Sampai akhirnya dia pegang dada aku sampai di remes."
"Bangsat sialan!" umpat Garsa yang mulai terbawa suasana. Sementara Nadin saja terlihat tenang tanpa air mata di wajahnya.
"Terus dia apain kamu lagi!?" tanya Garda yang langsung terbawa emosi.
Nadin mengembuskan napas kasar. Hal itu sontak saja mebuat Garda merinding karena embusan napas Nadin tepat mengenai lehernya. Apalagi posisi mereka sangat intim. Tapi, Garda masih waras untuk tidak melakukan hal lain.
"Karena aku semakin ngerasa kalau perlakuan dia ke aku gak bener. Aku ngelawan lagi, aku bilang aku sehat gak usah diperiksa lagi. Tapi kata dia yang atas emang sehat, gak tahu yang bawah."
"Tapi aku gak mau, Mas. Aku ngelawan dan mungkin itu yang buat dia marah," ujar Nadin setelahnya.
"Dia apain kamu!?"
"Dia mau coba buat cium bibir aku. Tapi aku teriak-teriak karena ngerasa ini udah gak bener," ucapan Nadin terhenti. Gadis itu dibuat kembali pada kejadian 10 tahun lalu. Tanpa dia sadari kedua tangannya meremas kemeja Garda dengan kuat.
"Akhirnya dia lepasin aku dan saat itu juga aku bisa pergi," lanjut Nadin.
"Orang tua kamu tahu soal itu, kan?" Gelengan dari Nadin membuat Garda terdiam.
"Aku gak bilang sama siapa-siapa soal ini. Aku malu dan takut. Aku juga bingung mau cerita sama siapa karena Umma pun gak pernah peduli sama aku sejak dulu. Aku gak punya tempat buat cerita."
"Setelah kejadian itu aku cuma bisa nangis terus. Aku gak mau sekolah berhari-hari. Sampai nenek bilang sama Umma dan Abah." Nadin menjeda ucapannya. Gadis itu merubah posisi tangannya menjadi memeluk Garda.
"Aku nangis waktu Umma dan Abah nemuin aku. Aku bilang kalau aku mau ikut mereka aja. Belum sempet aku cerita kalau aku dilecehin sama tetangga nenek. Mereka udah marahin aku. Katanya ini cuma akal-akalan aku aja karena emang awalnya aku gak mau ikut nenek."
"Terus mau gak mau aku harus tetap tinggal di sana sampai lulus SD," ucap Nadin dengan suara lemas.
"Dan kamu selalu ketemu sama orang biadab itu?" tanya Garda yang langsung diangguki Nadin.
"Aku selalu ngerasa takut dan gak tenang. Tapi lagi-lagi aku gak bisa apa-apa selain nyimpen semuanya sendiri," jelas Nadin dengan suara yang masih pelan. Terlalu susah sebenarnya menceritakan kisah yang selalu dia coba lupakan.
"Tapi untungnya dia gak deket-deket sama aku lagi. sampai aku lulus SD dan gak tinggal sama nenek lagi," lanjut Nadin setelahnya.
Gadis itu lagi-lagi menghela napas kasar sebelum melanjutkan ceritanya. "Aku kira setelah gak ketemu dia lagi aku bisa tenang di rumah orang tua aku. Ternyata enggak, Mas," ucap Nadin terjeda. "Selama aku SMP dan SMA aku selalu ditekan buat belajar. Aku dituntut untuk jadi pinter. Padahal mereka dari dulu tahu kalau aku gak bisa sama kayak anak pertamanya," lanjut Nadin lagi.
"Setiap hari aku dimarahin karena nilai aku gak pernah bagus. Aku selalu dibanding-bandingin sama Mas Dikta yang jadi mahasiswa berprestasi di sana," adu Gadis itu. Air mata Nadin menetes dengan sendirinya. Dia paling benci mengingat momen dimana setiap hari selalu mendapat bentakan dan luapan emosi dari orang tuanya.
__ADS_1
"Aku capek aku pengen udahan aja rasanya," ujar Nadin seakan mulai putus asa saat itu." Aku selalu dipaksa buat ikutin kemauan mereka padahal itu jauh dari kemampuan aku. Ditambah aku yang masih kebayang-bayang sama kejadian dulu."
"Sampai aku gak bisa kontrol diri aku sendiri, Mas," ujar Nadin membuat Garda mulai paham. Ini awal mula Nadin menyakiti dirinya sendiri. "Awalnya aku cuma pukul kepala aku sendiri atau tarik rambut aku sampai rontok. Cuma cara itu yang bisa aku jadiin pelampiasan. Rasanya sesek banget sampai mau mati rasanya," jelas Gadis itu.
"Tapi lama-lama aku gak puas," ujar Nadin setelahnya. Tentu saja membuat Garda penasaran.
"Waktu itu ada pelajaran prakarya disuruh buat kerajinan dari barang bekas. Aku buat dari bekas plastik sabun cucii. Kan, aku butuh silet buat tugas itu. Waktu lagi ngerjain tugasnya di kamar. Tangan aku gak sengaja kena. Tapi aku gak ngerasain sakit. Malah ada rasa tenang yang buat aku terus-terusan sayat badan aku setelah itu," jelas Nadin.
Garda dibuat terdiam seiring dengan penjelasan Nadin. Ternyata kehidupan Nadin sangat memilukan. Gadis itu terluka karena orang terdekatnya.
"Mulai saat itu kamu nyakitin diri kamu sendiri?" tanya Garda dengan tangan yang mengusap belakang kepala istrinya.
"Aku gak nyakitin diri aku sendiri!" sentak Nadin seakan tak terima dengan ucapan Garda.
"Aku baik sama diri aku. Mereka semua yang jahat sama aku. Aku bantu diri aku buat gak mati," lanjut Nadin dengan menggebu. "Aku gak nyakitin diri aku, Mas. Aku gak jahat! Mereka yang jahat sama aku."
"Iya-iya maaf, ya, saya gak bermaksud nyalahin kamu," ujar Garda menenangkan dengan suara lembutnya.
Pria itu mengecup puncak kepala Nadin beberapa kali. Hatinya merasa teriris kala mendapati badan Nadin yang mulai bergetar.
"Maafkan saya, ya," ujar Garda pelan. Dia jadi merasa bersalah karena menyinggung perasaan Nadin.
"Hari ini boleh nangis sepuasnya. Tapi setelah ini tidak boleh nangis lagi," ucap Garda tegas.
Nadin langsung memeluk leher Garda erat. Menumpahkan rasa sakit karena kembali membuka luka yang berusaha dia pendam. Meski begitu Nadin dapat merasa lega dan tenang. Seakan batu besar yang terus menghimpit dadanya hilang begitu saja.
"Ke luar dulu, ya, saya gak sadar dari tadi duduk di kamar mandi."
Wajah Garda mengernyit menahan rasa gelinya. Pria itu lantas berdiri dengan Nadin yang masih ada di pangkuannya.
"Untung lantainya abis aku sikat," kata Nadin yang sekarang berada di gendongan Garda.
Garda tersenyum tipis mendengar ucapan Nadin. Setidaknya perhatian Nadin sudah sedikit teralihkan sekarang.
"Mas Dana," panggil Nadin dengan suara serak.
Garda meletakkan Nadin di atas ranjang. Pria itu lantas berjalan mengambil baju untuk Nadin. Menyodorkan baju itu pada istrinya yang tampak lesu dengan wajah merah.
"Apa?" tanya Garda.
"Terimakasih sudah sabar dengerin cerita aku," ujar Nadin setelah mengenakan baju yang diambilkan Garda.
"Sudah seharusnya," jawab Garda. Pria itu mengusap puncak kepala Nadin lembut. "Sekarang gak boleh mendam cerita sendiri. Gak boleh gambar-gambar dibadan lagi," ujar Garda dengan tatapan dalam.
Nadin tersenyum mendengar istilah yang Garda gunakan. "Kalau aku pengen gambar gimana?" tanya Nadin.
Garda terdiam sejenak. Memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Nadin. "Cari saya aja," ujar Garda. "Nanti saya peluk biar tenang."
Nadin tersenyum bahagia setelahnya. Gadis itu langsung memeluk tubuh Garda yang berdiri di hadapannya. "Mas Dana," panggil Nadin.
"Apa?"
"Hari ini makan di luar boleh?" tanya Nadin. Sejujurnya dia sedang tidak ingin memasak. Lagi pula sejak menikah dengan Garda, Nadin belum pernah merasakan makan diluar.
"Boleh," jawab Garda lugas. "Malam ini kita ngedate," ujar Garda yang disusul tawa riang istrinya.
"Terimakasih banyak suamiku," ucap Nadin dengan lembut.
""Sama-sama," jawab Garda dengan senyuman tulus di wajahnya.
"Pasti kamu terlalu memikirkan ucapan Mama kemarin, ya?" tanya Garda saat Nadin sudah jauh lebih tenang.
__ADS_1
Nadin mengangguk samar. "Maafin aku, ya, Mas," ujar Nadin.
"Saya yang harusnya minta maaf, Nadin," bakas Garda. "Kamu tidak perlu takut untuk saya tinggalakan. Saya akan selalu ada menemani kamu."