Dear My Fussy Husband

Dear My Fussy Husband
Mantan Kekasih Garda


__ADS_3

Garda berdiri di depan pintu kamarnya dengan tatapan lurus. Kedua mata tajamnya fokus mengamati pergerakan Nadin. Dilihatnya Nadin yang tampak menimang Gama dengan lembut.


Pria tampan itu mengulas senyum lebar. Menyadari bahwa Nadin sudah mulai bisa menerima Gama di kehidupan mereka. Untuk kesekian kalinya Garda dibuat terpukau pada Nadin.


Wanita cantik itu dapat membius Garda dalam diamnya. Entah sejak kapan Garda baru menyadari ada aura dewasa yang perlahan memancar dalam diri Nadin. Kepribadian yang sangat bertolak belakang dengan wanita yang dia temui di awal pernikahan.


Garda melangkahkan kakinya dengan pelan. Dilihatnya Nadin yang mulai meletakkan Gama ke dalam tempat tidur khusus. Setelah membiarkan Gama dalam posisi ternyamannya. Nadin masih terus menatap bayi itu dalam.


"Ternyata segampang itu kamu ambil hati Ibu, Gam," ucap Nadin terdengar tulus.


Dari posisinya Garda masih bisa mendengar ucapan Nadin. Suara lembut yang terdengar tulus itu membuat Garda memaku. Harus Garda akui dia begitu beruntung bisa memiliki wanita berhati luas dan tulus seperti Nadin.


Bukankah sangat berat menerima kehadiran seorang anak secara terpaksa? Namun, Nadin terus berusaha untuk menerima keinginan Garda. Sampai apa yang Nadin ucapkan mampu membuat Garda terpaku.


Masih dilihatnya wajah Nadin yang tampak merenung. Sangat cantik tentunya. Ternyata melihat pasangan secara diam-diam seperti ini bisa membuat kita menyadari seberapa beruntung kita bisa mendapatkan dia sebagai pasangan.


Garda melangkahkan kakinya perlahan. Sementara Nadin sama sekali belum menyadari keberadaan pria itu. "Nadin!" panggilnya ketika sudah berada di samping istrinya.


Nadin seketika menoleh menatap Garda yang berdiri di sampingnya. "Kamu mikirin apa?" tanya Garda.


"Mikirin suami aku, lah," jawab Nadin. Wanita itu langsung berdiri dan memeluk tubuh Garda dengan cepat. "Kangen banget pacaran sama, Mas Dana," ucap Nadin.


Garda terkekeh mendengar ucapan istrinya. Dikecupnya puncak kepala Nadin penuh sayang. "Maafin saya, ya, Nad," ucap Garda tiba-tiba. Rasa bersalah yang berusaha ia sembunyikan nyatanya selalu memberontak untuk ke luar.


"Untuk?" tanya Nadin bingung.


Garda menatap mata bening istrinya. Bola mata indah dengan tatapan lembut nan hangat itu ternyata sangat menenangkan. "Saya sangat menyayangi kamu," ujar Garda tanpa membalas pertanyaan Nadin. Entah, hanya kalimat itu yang bisa Garda ucapkan.


"Mas?"


"Saya cinta sama kamu, Nad!" ujar Garda lagi. Setelah berusaha meyakinkan dirinya sendiri Garda tahu perasaannya untuk Nadin.


"Mas Dana!"


"Saya benar-benar sayang dan cinta sama kamu!" tegas Garda sambil terus menatap manik indah milik istrinya.


"MAS DANA!" teriak Nadin saking sebalnya. "Mas kenapa, sih?"


"Saya sedang menyatakan cinta untuk istri saya? Kenapa? Masalah buat kamu?" tanya Garda sebal. Pasalnya Nadin tidak segera merespon pernyataan cinta yang dia ungkapkan.


Nadin mendongak menatap Garda dengan tatapan aneh. "Ada maunya, ya?"


"Ada!" jawab Garda tegas dan kelewat kesal.

__ADS_1


"Tuh! Udah curiga aku," rajuk Nadin. "Cepet bilang mau apa suami?"


"Saya mau kamu tetap di samping saya. Menemani saya apapun yang terjadi."


"Mas ... kenapa, sih?"


Garda memegang kedua pundak Nadin. "Sebentar, jangan di sini. Nanti anak kita bangun," ujar Garda. Pria itu lantas menarik Nadin menuju sebuah sofa di dekat meja rias.


"Duduk dulu," ajak Garda.


Nadin pun hanya menuruti ucapan suaminya. Wanita itu dengan patuh duduk di samping Garda meski dengan raut wajah bingung. "Mas mau bicara serius?" tanya Nadin penasaran.


Garda mengangguk tegas. Digenggamnya kedua tangan Nadin dengan kedua bola mata yang setia mengunci manik indah milik Nadin.


"Kamu tahu saya sudah menyayangi kamu, kan?" tanya Garda.


Nadin mengernyitkan dahinya bingung. "Aku tahu karena Mas Dana bilang. Selebihnya cuma Mas Dana yang tahu."


Garda berdecak mendengar jawaban Nadin. Jawaban istrinya terdengar tidak yakin. "Saya benar-benar sudah menyayangi kamu, Nad."


Nadin tersenyum lebar hingga kedua matanya menyipit. "Iya aku tahu kok," jawab Nadin dengan lembut. "Aku tahu suami aku sangat menyayangi istrinya," lanjut wanita itu.


Mendengar jawaban Nadin membuat Garda sedikit tenang. Pria itu mengulum bibirnya perlahan. Ada rasa gugup yang melanda dirinya. Ditatapnya wajah Nadin dengan ragu-ragu.


"Saya mau jujur sama kamu," ucap Garda.


"Soal?" tanya Nadin sedikit was-was. Dari gelagat Garda Nadin bisa menebak kalau ini bukan uruysan sepele.


Garda menyentuh tangan Nadin yang berada di pipinya. Menekan tangan itu agar selelu berada di wajahnya yang mulai memanas.


"Saya mau bicarakan ini sekarang karena tidak mau kamu mendengar cerita ini dari orang lain," terang Garda.


"Mas bisa langsung cerita aja," ujar Nadin yang mulai penasaran dengan apa yang Garda maskud.


Garda menghela napas pelan. Ditatapnya mata Nadin semakin dalam. "Kamu ingat sama orang yang nolongin kamu waktu di alun-alun?"


Nadin langsung mengangguk yakin. "Mbak Hana?"


"Iya ... dia Hana," jawab Garda. "Mantan kekasih saya," lanjut pria itu.


Nadin seketika menarik paksa tangan kanannya yamg semula berada di wajah Garda. "Mas serius?"


Anggukan Garda menjawab semua kebingungan Nadin selama ini. Pantas saja Hana dan kedua orang tuanya tampak terkejut dengan kehadiran Garda waktu itu. Wajah kecewa Hana juga masih jelas menjadi kebingungan Nadin beberapa waktu lalu.

__ADS_1


"Boleh saya bercerita?" tanya Garda degan suara pelan. "Tapi saya mohon jangan marah dengan saya."


"Tergantung," jawab Nadin berusaha terdengar cuek.


Garda menipiskan bibirnya mendengar respon dari Nadin. Pria itu terus berusaha menggenggam tangan istrinya mesti Nadin terus berusaha memberontak.


"Saya dan Hana berpacaran cukup lama. Seingat saya saat saya masih SMA sampai ...," ucap Garda menggantung. Pria itu menatap Nadin yang mulai menatapnya dengan sinis.


"Sampai?" tuntut Nadin.


"2 tahun sebelum pertemuan kita."


"Hah!?"


Nadin mengerjabkan matanya dengan cepat. "Dua tahun," gumam Nadin. Seingat Nadin saat dia dan Garda menikah usia Garda 28 tahun. Dua tahun lalu berarti usia suaminya baru 26 tahun.


Dengan tatapan sinisnya Nadin melirik Garda. "Sembilan tahun?"


"Sepuluh," lirih Garda.


"Sepuluh!?" teriak Nadin saking terkejutnya. "Udah ngapain aja pacaran sampai sepuluh tahun?" sindir wanita itu.


Garda meringis kecil mendengar respon Nadin. Baru kai ini dia menghadapi Nadin dalam versi cemburu. "Gak ngapa-ngapain kok," jawab Garda.


"Ngak ngapa-ngapain kok pacaran," sindir Nadin lagi.


Lagi-lagi Garda dibuat meringis lagi. "Kita hanya saling memberi semangat saja kok," ujar Garda mencoba meyakinkan istrinya.


Nadin melirik Garda dengan mata menyipit. "Pantas saja dulu Mas Dana gak mau respon aku. Ternyata udah punya pacar," ucapnya lagi masih dengan nada menyindir.


Garda menghela napas pelan. Diraihnya wajah Nadin dengan perlahan. Pria itu berusaha membuat Nadin menatap ke arahnya. "Nanti dulu cemburunya," ujar Garda.


"Sangat percaya diri," elak Nadin.


"Nad," panggil Garda pelan.


"Apa?"


"Ada yang lebih penting dari ini," ujar Garda lagi.


"Apa lagi?"


"Maaf," lirih Garda sebelum memulai inti dari pembicaraannya. "Maaf karena saya sudah mencoba membawa orang lain masuk ke dalam rumah kita."

__ADS_1


__ADS_2