Dear My Fussy Husband

Dear My Fussy Husband
Menyatakan Cinta


__ADS_3

Nadin menatap wajah lelap Gama dengan rasa lega. Selama Nadin meninggalkan Gama kurang lebih selama 3 jam bayi itu terus menangis mencari dirinya. Kepulangan Nadin juga disambut dengan tangisan Gama. Bahkan wajah bayi itu tampak sangat memerah.


Diusapnya kepala Gama dengan lembut. Seulas senyum manis menghiasi wajah Nadin. "Ternyata segampang itu kamu ambil hati Ibu, Gam," ucap Nadin terdengar tulus.


Ketakutan Nadin seketika sirna sekarang. Meski dia masih belum bisa menerima Gama sepenuhnya. Namun, selalu ada sensasi bahagia saat bersama bayi itu. Dan tentunya Nadin sangat menyukai sensasi yang Gama hadirkan.


Dalam keterdiamannya Nadin mengingat apa yang menjadi urusannya siang tadi. Wanita itu seketika kembali memikirkan apa saja yang terus berkeliaran di kepalanya.


"Akhirnya kamu memilih buat bertemu dengan saya," ujar wanita cantik dengan pakaian formal siang itu.


Nadin tersenyum lembut. "Aku pikir bisa lebih jelas dan lega kalau kita bicara secara langsung, Mbak," ucap Nadin yang langsung di angguki lawan bicaranya.


"Jelas saja, Nad," jawab wanita itu tegas. "Saya kira kamu gak akan mau ketemu saya."


Nadin terkekeh ringan. Ditatapnya wajah cantik di hadapannya dengan seksama. "Setelah selama ini aku cerita sama Mbak. Aku bisa langsung percaya kalau Mbak Nabila orang yang tepat."


"Jadi inget dulu kamu gak bales-bales pesan saya," ujar Nabila agak kesal. Pasalnya dulu saat dia mendapat nomor Nadin dari Garda Nabila langsung menghubungi Nadin. Sementara Nadin baru membalas setelah sekian minggu.


"Aku gak gampang percaya sama orang, Mbak," ujar Nadin dengan ringisan kecil. Merasa menyesal karena sempat mengabaikan Nabila.


"Gak papa, saya tahu kok," jawab Nabila enteng. "Yang penting sekarang kamu sudah bisa membuka diri kamu."


Nadin mengangguk semangat. "Berkat Mbak Nabila," ujarnya.


"Dan Garda?" tanya Nabila memancing.


"Dia tokoh utamanya," kekeh Nadin.


Nabila turut tertawa ringan. Dia tentunya ikut merasa bahagia melihat tawa Nadin. Kerap sekali Nabila mendengar isakan Nadin yang terasa begitu pilu. Suara bergetar Nadin yang selalu meminta tolong padanya turut Nabila ingat.


"Kamu masih suka melakukan itu lagi?" tanya Nabila tiba-tiba. Mata cantik itu tidak sengaja melihat punggung tangan Nadin yang terlihat membiru. "Nadin?"


Nadin menghela napas pelan. Kedua tangannya yang berada di atas meja langsung wanita itu turunkan. "Maaf," ujar Nadin pelan. Nadin merutuki dirinya sendiri yang ceroboh membuat luka di tempat terbuka.


"Untuk siapa?" tanya Nabila menyindir. "Untuk diri kamu sendiri, kan?" tanya Nabila.


Nadin menatap Nabila dengan tatapan polos. Kedua matanya mengerjab menunggu kalimat lanjutan dari wanita cantik itu. "Selalu bilang maaf dan terimakasih untuk diri kamu, Nadin," ujar Nabila.


"Kenapa aku harus ngelakuin itu?" tanya Nadin bingung.

__ADS_1


"Karena kamu sudah terlalu jauh menyakiti diri kamu. Tanpa kamu sadari," jelas Nabila. Wanita itu meraih tangan Nadin yang kembali bertengger di atas meja. Digenggamnya kedua tangan kurus itu dengan erat.


"Memendam rasa sakit itu gak baik. Mau seberapa kuat kita atau seberapa hebat kita menyembunyikan rasa sakit itu. Kita tetap butuh minimal satu orang buat berbagi, Nad. Kamu sudah terlalu jauh menyimpan rasa sakit kamu sendiri," ujar Nabila. Matanya menatap dalam mata bening Nadin yang kali ini terlihat sendu.


"Sebenarnya apa yang kamu alami gak akan terasa semenyakitkan itu kalau sejak awal kamu bisa berbagi."


"Tapi dari awal aku gak punya siapa-siapa," ujar Nadin. Matanya mulai tampak memerah. Tangannya yang setia dalam genggaman Nabila terasa lemas. Sama sekali tidak membalas genggaman erat itu.


"Sekarang kamu sudah punya Garda," ujar Nabila. "Kamu juga punya saya."


Nadin mengangguk dengan pelan. "Aku sekarang gak sendiri," ujarnya.


"Kamu hebat sudah mau berbagi sama suami kamu dan saya. Tapi ... Jangan mulai di pendam lagi, ya, sekarang," ujar Nabila lembut. "Kalau sedih dan tertekan bisa cari Garda atau saya. Kita cerita sama-sama. Gak boleh gambar-gambar di badan lagi."


"Lupain semua hal menyakitkan yang bawa kamu ke tempat ini sekarang. Minta maaf sama diri kamu sendiri karena kurang mengerti dan perhatian selama ini," ucap Nabila membuat setetes air mata jatuh melewati pipi Nadin.


"Mbak," lirih Nadin.


Nabila tersenyum hangat. Wanita itu berpindah duduk di samping Nadin. Di bawanya tubuh kurus itu ke dalam dekapan hangatnya.


"Banyak yang buat kamu tertekan dan sedih. Jadi, gak papa juga banyak air mata yang ke luar. Tapi janji, setelah ini gak boleh ada air mata lagi." Nadin mengangguk dalam dekapan Nabila.


Siang itu mereka berdua bercerita banyak hal di dalam ruang kerja Nabila. Banyak kesedihan dan segala macam batu yang tertahan di hati Nadin terungkap.


Wanita cantik dengan aura dewasa yang sangat kentara itu mulai melepas dekapannya. Diusapnya wajah Nadin yang penuh air mata. Nabia mulai menatap dalam mata Nadin. Tangan kanannya terangkat untuk mengusap puncak kepala wanita muda itu.


"Nadin hebat sekali mampu bertahan sampai detik ini. Nadin hebat sekali bisa melewati semua ini sendiri. Nadin sangat-sangat hebat karena mau menerima semua hal yang jauh dari keinginan dia. Nadin ... Kamu kuat sekali," ujar Nabila diakhiri linangan air mata yang lolos dari perlindungannya.


"Kok Mbak Nabila malah ikutan nangis?" kekeh Nadin.


"Saya benar-benar bangga sama kamu," ungkap Nabila tulus.


"Terimakasih," balas Nadin.


Tatapan mata Nabila seketika berubah entah karena apa. Wanita itu menatap Nadin begitu serius. "Kamu harus jadi wanita yang kuat dan berani," ujar Nabila dengan tegas.


Nadin mengernyitkan matanya mendengar ucapan itu. "Maksud, Mbak?"


"Lakukan apa yang saya katakan tadi!"

__ADS_1


"Tapi ... aku gak yakin, Mbak," jawab Nadin lirih.


Nabila berdecak kecil demi mengekspresikan kekesalannya. "Nadin," panggil Nabila gemas.


"Mbak," balas Nadin ikutan gemas.


"Kamu percaya sama saya?" tanya Nabila.


Mau tidak mau Nadin mengangguk mesti masih ragu. "Nanti aku coba."


"Nadin!"


Nadin seketika menoleh menatap Garda yang berdiri di sampingnya. "Kamu mikirin apa?" tanya Garda.


"Mikirin suami aku, lah," jawab Nadin. Wanita itu langsung berdiri dan memeluk tubuh Garda dengan cepat. "Kangen banget pacaran sama, Mas Dana," ucap Nadin.


Garda terkekeh mendengar ucapan istrinya. Dikecupnya puncak kepala Nadin penuh sayang. "Maafin saya, ya, Nad," ucap Garda tiba-tiba.


"Untuk?" tanya Nadin bingung.


"Saya sangat menyayangi kamu," ujar Garda tanpa membalas pertanyaan Nadin.


"Mas?"


"Saya cinta sama kamu, Nad!"


"Mas Dana!"


"Saya benar-benar sayang dan cinta sama kamu!"


"MAS DANA!" teriak Nadin saking sebalnya. "Mas kenapa, sih?"


"Saya sedang menyatakan cinta untuk istri saya? Kenapa? Masalah buat kamu?"


Nadin mendongak menatap Garda dengan tatapan aneh. "Ada maunya, ya?"


"Ada!" jawab Garda tegas.


"Tuh! Udah curiga aku," rajuk Nadin. "Cepet bilang mau apa suami?"

__ADS_1


"Saya mau kamu tetap di samping saya. Menemani saya apapun yang terjadi."


"Mas ... kenapa, sih?"


__ADS_2