
Acara aqiqah Gama berlangsung dengan lancar. Kalimat pro dan kontra tentunya juga lancar terucap dari mulut para tamu undangan yang sebagian besar termasuk tetangga mereka. Keputusan pasangan muda itu untuk mengadopsi anak tentunya membuat mereka gempar. Dugaan-dugaan bahwa Nadin mandul selalu mereka bisikkan.
Nadin sedang mengganti popok Gama dengan hati-hati. Baru dua hari lalu Nadin mau dan bisa mengganti popok Gama. Itupun karena paksaan dari Anita. Padahal dari awal mereka bilang Nadin hanya akan menjadi ibu angkat secara hukum. Tidak dengan mengurus bayi mungil ini.
Setelah selesai mengganti popok Gama. Nadin berniat membuat susu untuk anaknya. Sebelum itu Nadin berniat membawa Gama kepada suaminya.
Saat kaki jenjangnya melangkah samar-samar Nadin dapat mendengar suara Garda. Mata wanita itu menyipit. Menyadari suara Garda berasal dari arah ruangan kosong di dekat dapur yang biasa digunakan untuk mencuci.
"Aku lagi sibuk sama urusan kampus."
Kalimat pertama dari Garda semakin membuat Nadin heran. "Aku," gumam Nadin. Sejak kapan Garda menyebut dirinya sendiri dengan sebutan 'aku'.
"Aku udah bilang kalau gak ada hal penting jangan telepon," ucap Garda lagi terlihat menahan kesal. "Istri aku udah masak," ujarnya lagi.
Nadin masih ingin mendengar apa saja yang sedang Garda bicarakan. Namun, sayangnya Gama sudah mulai mengeliat tidak nyaman. Dengan terpaksa Nadin mengembalikan Gama ke kamar lebih dulu.
"Loh! Nadin," panggil Garda dengan wajah terkejut.
Nadin yang sedang menyeduh susu formula untuk Gama menoleh sekilas. "Habis telfonan sama siapa?" tanya Nadin gamang.
"Kamu denger, Nad?" tanya Garda. Pria itu lantas berdiri di samping Nadin. Mengamati wajah serius Nadin yang sedikit muram.
"Orang beruntung mana yang bisa denger Mas Dana nyebut dirinya sendiri 'aku'?" sarkas Nadin. Wanita itu berbalik sambil membawa botol berisi susu milik anaknya.
"Nad," sela Garda. Pria itu buru-buru mengikuti lankah kecil Nadin.
Sampai di kamar pun Nadin langsung menggendong Gama dengan hati-hati. Diberikannya susu formula itu pada bayi tampan yang mulai melunakkan hatinya. "Dihabiskan, ya, Gama. Biar cepat besar," ujar Nadin dengan mata berbinar menatap Gama yang lahap meminum susunya.
Garda ikut duduk di samping Nadin dengan perasaan gusar. Istrinya sudah pintar mendiamkan Garda. Jauh berbeda dengan Nadin yang dulu. Di mana wanita itu selalu manja dan enggan berjauhan dengannya.
"Mas Dana mau bicara?" tanya Nadin yang sebenarnya adalah sebuah perintah. Wanita itu meletakkan Gama yang terlelap di rajang khusus bayi. Ranjang pesanan Garda baru sampai beberapa hari lalu.
"Saya tadi telepon sama teman dekat saya semasa kuliah," ujar Garda mulai menjelaskan.
__ADS_1
"Sedekat apa?" tuntut Nadin.
"Cuma teman dekat biasa, Nad. Kita sering ngerjain tugas bareng," jelas Garda. Dibalasnya tatapan Nadin yang masih setia menatap ke arahnya.
"Kalau gitu Mas Dana belum anggap aku dekat sama, Mas, ya?"
"Maksud kamu gimana? Kamu jelas-jelas istri saya," ujar Garda bingung.
"Sama istrinya kok masih saya-saya," omel Nadin sarat akan sindiran.
Menyadari apa yang Nadin ucapkan Garda terkekeh ringan. "Kamu maunya saya bicara aku-kamu?" tanya Garda meledek.
"Masak istri kalah sama teman dekat," ujar Nadin lagi.
Garda tersenyum lebar. Ditariknya Nadin ke dalam dekapannya. Saat itu wajahnya berubah menjadi sangat lega. Diusapnya punggung Nadin lembut.
"Saya usahakan, ya," ujar Garda.
Wanita itu merebahkan kepalanya di dada bidang Garda. Menumpahkan rasa lelah yang belakangan ini dia pendam sendiri. "Mas Dana," panggil Nadin dengan suara tertahan.
"Apa?" respon Garda. Tangan kekarnya masih setia mengusap punggung itu.
"Jangan pernah tinggalin aku, ya," ujar Nadin terdengar begitu tulus.
"Kenapa tiba-tiba bicara begitu?" tanya Garda heran. Pria itu menjauhkan badannya dari Nadin. Sekarang Garda bisa melihat wajah cantik istrinya dengan bebas. "Nadin," tuntut Garda.
"Aku punya banyak kekurangan, Mas," ujar Nadin pelan. "Aku jauh dari kata sempurna untuk jadi pendamping, Mas Dana," lanjut wanita itu dengan wajah sendu.
Garda berdecak sebal. Ditatapnya mata bening Nadin dengan tajam. "Kamu pasti memikirkan ucapan orang-orang tadi, kan?" tuding Garda. Pria itu jelas ikut mendengar gunjingan beberapa ibu-ibu untuk Nadin.
"Aku sebenarnya gak mau mikirin apa yang aku denger, Mas. Rasanya sakit banget," ucap Nadin. Mata beningnya menatap Garda dengan berkaca-kaca. "Tapi aku selalu dibuat kepikiran."
"Nadin, kamu punya cara sendiri untuk terlihat sempurna," ujar Garda yakin. "Ada banyak hal istimewa dari diri kamu yang gak ada sama orang lain."
__ADS_1
Gama memegang kedua pundak Nadin dengan tatapan serius. "Kamu istri saya dan itu artinya kamu pantas menjadi pasangan saya. Jangan berpikir macam-macam."
Nadin menunduk dalam. Kepalanya yang sejak tadi ramai mulai sedikit mereda. Garda memang satu-satunya tempat yang bisa membuat Nadin merasa nyaman dan diinginkan.
"Saya tidak akan meninggakkan kamu," tegas Garda membuat Nadin mendongak.
Bibir tipis wanita itu tertarik sempurna. Memamerkan senyuman manis yang tampak memukau. "Janji, ya?" tuntut Nadin dengan mengulurkan jari kelingkingnya.
Garda terkekeh melihat kelakuan Nadin. Meski begitu kelingking besarnya terulur untuk disatukan dengan kelingking kecil Nadin. "Saya janji akan selalu bersama kamu."
"Terimakasih, ya, Mas," ujar Nadin tulus.
"Mas," panggil Nadin lagi. Garda memfokuskan pandangannya pada Nadin. Menatap manik bening yang selalu menemani hari-harinya.
"Mas harus tahu kalau cuma Mas Dana yang bisa buat aku nyaman dan aku percaya," ujar Nadin. "Umma, Abah, Kak Dikta. Kenangan buruk yang mereka kasih ke aku buat aku gak percaya lagi sama mereka."
"Mas Dana satu-satunya tempat aku untuk pulang. Jadi tolong ... Jangan pernah tinggalin aku," ujar Nadin lagi.
"Nad ... Jangan hanya saya," ucap Garda. Diusapnya pipi Nadin yang mulai basah.
"Enggak," sela Nadin. "Memang cuma Mas Dana yang aku punya. Rasa percaya aku sama mereka udah hilang."
Garda kembali menarik Nadin ke dalam dekapannya. "Tegur saya kalau saya menyakiti kamu," ujar Garda. Pria itu menyadari perannya sangat besar dalam dunia Nadin.
"Aku boleh tegur Mas Dana?" ujar Nadin.
"Tentu saja," jawab Garda yakin.
"Aku tahu ora beruntung tadi bukan sekedar teman dekat Mas Dana. Jadi ... aku mohon jangan pernah berurusan lagi sama dia," ujar Nadin.
"Maksud kamu?"
"Orang yang Mas telepon tadi," terang Nadin. "Aku tahu dia bukan sekedar teman dekat biasa."
__ADS_1