
Garda mengerjabkan matanya perlahan saat menangkap sebuah suara di telinganya. Pria itu menoleh ke samping untuk mencari keberadaan Nadin. Namun, wanita yang di cari sudah tidak berada di sampingnya lagi.
Kening Garda mengernyit dengan kesadaran yang belum pulih. Pria itu lantas bergegas ke kamar mandi. Kesadarannya yang mulai kembali membuat Garda dapat mendengar suara itu dengan jelas.
"Ya Allah, Nad!"
Garda berjalan tergesa mendekati Nadin. Pria itu langsung mengambil posisi di belakang istrinya. Dengan cepat Garda memijat tengkuk Nadin. Sementara wanita itu masih berusaha mengeluarkan isi perutnya.
"Sudah mendingan?" tanya Garda dengan wajah khawatir.
Nadin mengangguk lemas. Melihat itu Garda bergegas memutar kran air untuk menghilangkan bekas muntahan Nadin. Namun, apa yang dia lihat membuat kedua alisnya mengernyit. Sesuatu di wastafel cukup membuktikan apa yang baru saja gadis itu makan.
Pria dengan badan kekar itu merangkul pundak Nadin. Membimbing istrinya untuk ke luar dari kamar mandi. Setelah menuntun Nadin sampai di ranjang Garda bergegas mengambil air hangat di dapur. Sementara Nadim sudah dibuat kalang kabut melihat wajah tak bersahabat Garda.
Tak berselang lama Garda kembali dengan segelas air putih hangat. Tanpa mengeluarkan suara pria itu menyodorkan gelas yang dia pegang ke arah Nadin.
"Mas perut aku sakit," adu Nadin setelah meminum air putih pemberian Garda.
Garda kembali tak bersuara. Pria itu mengambil minyak angin dari nakas. Setelah itu Garda jongkok di hadapan Nadin. Mulai membaluri bagian perut Nadin agar terasa lebih nyaman.
"Mas jangan diem aja," pinta Nadin lirih. Wanita itu menatap Garda dengan canggung.
"Buat apa saya ngomong kalau gak didengerin," ujar Garda. Suara beratnya membuat Nadin mengulum bibir karena takut.
"Maafin aku, Mas. Aku janji gak bakal ulangin lagi," ujar Nadin.
Garda mendongak menatap istrinya. Tatapan tajam Garda sama sekali tidak bisa terelakkan. Menghunus tajam tepat pada kedua bola mata Nadin.
"Janji lagi?" tanya Garda meremehkan. "Sekarang saya tanya sama kamu. Kalau saya melarang kamu membeli makanan di luar itu buat apa?" tanya Garda menantang.
"Buat kesehatan aku," cicit Nadin.
"Saya melarang kamu beli makanan sembarangan karena saya tahu itu gak baik buat kamu! Sekarang lihat sendiri. Langsung sakit 'kan perutnya," omel Garda.
Pria itu lantas berdiri dari posisi jongkoknya. Ditatapnya kembali Nadin yang posisinya lebih rendah. "Gak cuma sekali ini, ya, kamu gak nurut sama saya. Kamu kira saya gak tahu kalau kamu suka beli makan sembarangan," ujar Garda tajam.
Nadin menunduk dalam. Wanita itu dibuat semakin tidak bersuara. Nadin pikir aksi membeli jajan yang selama ini dia lakukan tidak di ketahui Garda.
"Kalau gak mau dengerin saya siapa yang mau kamu dengerin?" tanya Garda lagi.
"Jawab kalau diajak bicara itu," tutur Garda mulai merasa geram.
"Maaf Mas aku salah," ucap Nadin dengan suara yang sangat pelan. Jujur saja Nadin benar-benar merasa takut. Wajah Garda terlihat jauh lebih garang sekarang.
"Bisanya cuma maaf dan janji. Tapi diulangi terus," sarkas Garda. Badan tegap itu masih setia berdiri di depan Nadin. Tentu saja Nadin semakin merasa terintimidasi.
"Jujur sama saya. Kamu sering beli makanan gak sehat dari luar 'kan?" tanya Garda mengintrogasi.
Nadin diam sejenak. Dengan pelan wanita itu mendongakkan kepalanya. Menatap Garda dengan tatapan memelas. "Habisnya aku bosen, Mas," jawabnya polos.
Garda langsung berdecak mendengar jawaban Nadin. Berarti benar dugaannya selama ini. Pria itu juga merasa apa yang dia ucapkan selama ini sia-sia. Istrinya terus saja membantah apa yang dia ucapkan.
"Pantas gak hamil-hamil. Kamu sendiri suka makan makanan gak sehat," ujar Garda dengan nada tajam.
__ADS_1
"Mas kok ngomong gitu?" tanya Nadin tidak menyangka. Gadis itu membalas tatapan tajam Garda.
"Benar 'kan kata saya?" tanya Garda balik. "Selama ini saya usahakan yang terbaik buat kamu. Tapi kamu malah merusak usaha saya."
"Usaha apa?" tanya Nadin dengan nada menantang. Wanita itu ikut dibuat geram dengan ucapan Garda. "Mas selama ini cuma egois! Mas terus-terusan suruh aku makan makanan sehat, jaga pola hidup biar aku cepat hamil," ujar Nadin dengan menggebu. Wanita itu menarik napas panjang sebelum kembali berbicara. "Tapi apa Mas Dana pernah tanya sama aku. Apa aku benar-benar udah siap hamil?"
"Kamu sendiri yang biang waktu itu," ujar Garda tegas.
"Apa? Bilang apa, Mas?" tanya Nadin menaantang. Wanita itu langsung berdiri dari posisi duduknya. "Mas selama ini minta aku buat cepat-cepat hamil. Apa sebelumnya Mas pernah mastiin ke aku? Apa aku udah benar-benar siap."
"Kamu gimana, ta?! Bukannya pembicaraan kita di alun-alun waktu itu sudah merujuk ke sana?" tanya Garda.
Nadin terdiam mengingat apa yang pernah dia katakan. Tapi jujur saja. Nadin jauh dari kata siap untuk memiliki seorang anak.
"Kamu juga menerima ajakan saya untuk melakukan program hamil. Selama ini kamu terlihat antusias bersama saya. Tapi kenapa sekarang kamu bicara seperti ini?"
Garda mengangkat dagu Nadi agar mau menatap ke arah dia. Ditatapnya mata Nadin yang mulai memerah. "Kamu benar-benar belum mau hamil?" tanya Garda dengan nada rendah.
Nadin menggeleng pelan. "Aku mau hamil. Tapi aku belum siap," ujar Nadin.
"Kenapa kamu tidak terus terang?" tanya Garda.
"Apa aku tega bilang sama Mas setelah ngelihat antusias Mas Dana buat punya anak," jawab Nadin.
"Terus apa bedanya dengan kamu bicarakan ini sekarang?" tanya Garda geram. "Tolong lain kali dipikirkan matang-matang dulu. Jangan asal mengambil keputusan seperti anak kecil!"
Nadin memicingkan matanya mendengar sebutan itu. "Aku 'kan memang masih anak kecil!" jawab Nadin dengan sedikit membentak. "Kenapa? Mas nyesel sekarang nikah sama anak kecil?"
Nadin mengusap kasar air matanya yang akan menetes. Gadis itu kembali duduk di atas ranjang. Pikirannya sangat kacau sekarang. Nadin benar-benar kesulitan menahan emosinya.
"Nad," panggil Garda pelan. Pria itu merendahkan tubuhnya sampai bertumpu dengan kedua lutut. Tangan kekarnya memegang kedua paha Nadin.
"Siap atau tidak siap kamu akan jadi orang tua. Bukannya kita dulu pernah berbicara masalah ini. Kita sudah sepakat untuk segera memiliki buah hati," ujar garda dengan nada setenang mungkin.
Sebagai seorang suami Garda tidak mau ada suatu masalah di rumah tangganya. Berbicara dengan emosi meledak-ledak sperti tadi tidak akan menemukan jalan keluar.
"Tapi aku tetap takut," cicit Nadin.
"Saya sudah pernah bilang kalau kita akan jalani ini sama-sama, Nadin," ujar Garda mencoba melunakkan hati Nadin.
Nadin menatap mata tajam Garda yang berada tepat dihadapannya. "Kenapa Mas Dana pengen banget punyak anak?" tanya Nadin. "Karena Mama 'kan?" tanyanya untuk memastikan.
Garda terdiam mendengar pertanyaan itu. Garda sendiri sebenarnya tidak masalah jika Nadin ingin menunda punya anak. Tapi Garda tidak bisa melupakan keinginan Anita begitu saja.
"Tolong kita usaha bersama, ya?" bujuk Garda dengan nada memohon.
"Aku bener-bener mau jujur untuk saat ini, Mas," ujar Nadin dengan wajah sendu. "Aku gak bisa pura-pura lagi. Aku takut hamil dan punya anak," ujar Nadin dengan mata yang tak lepas menatap Garda.
"Nad, kamu serius?" tanya Garda.
Nadin mengangguk mantap. "Tolong ngertiin aku kali ini aja," ujar Nadin.
Garda dibuat tersenyum remeh mendengar itu. "Kamu bicara seperti itu seakan saya tidak pernah mengerti kamu," papar Garda. "Kamu benar-benar menolak untuk punya anak sekarang?" tanya Garda lagi untuk memastikan.
__ADS_1
Anggukan tegas dari Nadin menyambut pertanyaan Garda. "Beri aku sedikit waktu lagi," pintanya.
"Sampai kapan?" tanya Garda.
Nadin menggeleng ragu. "Tunggu aku benar-benar siap, Mas. Kalau aku udah siap kita bisa punya anak. Aku benar-benar takut untuk punya anak sekarang."
Garda terdiam sejenak mendengar ucapan Nadin. Pria itu kembali memilirkan beberapa hal. Pernikahannya dengan Nadin sudah masuk dalam bulan ke lima. Dia dan Nadin juga rutin melakukan hubungan suami istri. Selain itu Garda selalu memastikan Nadin mengkonsumsi susu untuk program hamil juga beragam sayur dan buah.
Pria itu memicingkan matanya. Merasa janggal dengan apa yang dia hadapi. Apalagi Nadin berbicara seolah di yang memegang kendali. "Kamu gak minum pil KB 'kan?" tanya Garda masih mencoba tenang.
Namun, sayangnya wajah Nadin membuat ketenangan Garda terusik. Apalagi Nadin yang tidak kunjung membuka suara.
"Nad!" panggil Garda.
"Maafin aku, Mas," jawab Nadin begitu lirih.
"Sejak kapan?" tanya Garda hampa.
Nadin menggeleng pelan. Air matanya menetes begitu saja. "Aku bingung, Mas. Aku takut," cicit Nadin.
"Sialan!" umpat Garda dengan wajah mengeras.
Pria itu berdiri dengan kedua tangan mengepal. "Ini yang kamu bilang kalau saya egois!?" tanya Garda.
Nadin menunduk dengan bibir bergetar. Wanita itu tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
"Ternyata selama ini saya seperti orang bodoh!" maki Garda pada dirinya sendiri. "Saya dengan semangatnya merencanakan kehamilan kamu. Tapi kamu sendiri gak mau kehamilan itu terjadi."
"Seengaknya kamu bicarakan dulu sama saya! Kita diskusikan sama-sama! Kamu pikir ini urusan kamu saja sampai kamu bisa ambil keputusan sendiri!?"
"Tapi Mas gak bisa salahin aku gitu aja," ujar Nadin membela diri.
"Hah!?" tanya Garda tidak habis pikir.
"Coba aja kalau Mas Dana dari awal pastiin ke aku dulu--"
"Pastiin apa!?" bentak Garda dengan emosi memuncak. "Sejak perbincangan kita waktu itu saya sama sekali gak menangkap keraguan kamu! Harusnya kalau kamu gak siap bilang dari awal!"
"Terus sekarang mau Mas gimana?" tanya Nadin gamblang.
Garda benar-benar merasa kacau sekarang. Otaknya rasanya sudah buntu untuk diajak berpikir. "Capek saya nghadepin kamu!" sarkas Garda sambil mengacak rambutnya dengan kasar.
"Capek!?" tanya Nadin merasa tidak terima. "Mas bohong, ya, bikang udah sayang sama aku!" tuding Nadin begitu saja.
"Nad! Jangan seperti anak kecil gini dong!" ujar Garda kesal. Sifat Nadin yang masih kekanak-kanakan sangat menganggu Garda.
"Kenapa emangnya? Nyesel nikah sama anak kecil?" tanya Nadin semakin memancing emosi suaminya.
"Jangan bawa-bawa masalah lain dulu! Kita selesaikan yang ini!" bentak Garda. Pria itu benar-benar dibuat pusing menghadapi Nadin.
"Katanya capek!" balas Nadin.
Garda berdecak keras. Pria itu memilih pergi keluar dari kamar. Pembicaraan mereka berdua akan semakin panas jika diteruskan.
__ADS_1