Dear My Fussy Husband

Dear My Fussy Husband
Tentang Mama


__ADS_3

"Garda langsung pulang, ya, Ma?" Garda mulai bersuara setelah terdiam cukup lama selama perjalanan.


Anita yang duduk di bangku penumpang langsung menoleh pada Garda. Menunjukkan tatapan tidak terima atas ucapan anaknya. "Masuk dulu dong, Kak. Masa ke rumah orang tuanya gak mampir," kata Anita dengan tegas. Seakan tidak menerima bantahan apapun.


Wanita itu langsung ke luar dari mobil. Mau tidak mau Garda harus menuruti ibunya. Pria itu berjalan dengan lemas untuk masuk ke dalam rumah.


"Pa!" panggil Garda saat mendapati ayahnya tengah bersantai sambil menyaksikan acara berita di televisi.


"Gak jadi nginep Mamamu, Kak?" tanya Dimas. Pria itu menepuk sofa kosong di sampingnya. Memberi isyarat agar Garda duduk di sana.


"Enggak," jawab Garda lirih. Pria itu menghela napas lalu menyandarkan badannya di sandaran sofa yang lumayan empuk.


Dimas melirik Garda yang tampak lelah. Pria paruh baya itu menepuk paha Garda. Matanya kembali fokus pada layar televisi. "Ada apa?" tanya Dimas. Langsung paham dengan suasana hati Garda yang kurang baik.


"Mama, Pa," adu Garda dengan sendu. Jawaban dari Garda membuat seulas senyum tipis terbit di bibir Dimas. Sebelum beliau berbicara langkah kaki istrinya terdengar mendekat, membuat fokus anak dan ayah itu teralihkan.


"Kamu makan di sini dulu, ya, Kak!" ucap Anita dengan nada memerintah.


Garda langsung menoleh ke belakang. "Gak usah, Ma. Garda mau langsung pulang aja," elak Garda.


Wanita yang tengah mengenakan daster rumahan namun tetap terlihat meriah dengan perhiasannya itu berdecak. "Cuma di suruh makan aja, kok. Mama kangen makan sama anak Mama," ucap Anita dengan wajah sendunya.


Garda lagi-lagi menghela napas dibuatnya. Pria itu mengangguk lalu langsung berdiri. "Yaudah, ayo makan!" ajak Garda.


"Bentar Mama masak dulu," sela Anita. "Orang baru jam lima juga. Kalau udah mateng Mama panggil." Setelah menyelesaikan ucapannya Anita langsung berbalik ke dapur.


Tentu saja kesabaran Garda langsung teruji. Pria itu menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke sofa. "Istri Papa, tuh!" adu Garda lagi.


Dimas terkekeh kecil melihat tingkah anak pertamanya. Beliau dapat sedikit melihat kemajuan pada Garda. Di mana pria itu terlihat lebih ekspresif.


"Telepon istri kamu biar nggak nungguin," ucap Dimas. Sebagai seorang ayah dia tahu apa yang sedang Garda pikirkan.

__ADS_1


Garda berdehem membalas ucapan Dimas. Pria itu memilih mengirim pesan singkat saja untuk Nadin.


"Papa sudah mengenal Mama kamu lebih dari separuh umur Papa," ucap Dimas membuat Garda menatap ke arahnya. Dilihatnya wajah tegas dengan mata yang sedikit sayu itu. "Saking lamanya bersama, Papa bisa tahu apa yang Mama kamu rasakan," lanjutnya.


"Kenapa Mama langsung merubah perlakuannya ke istri Garda setelah tahu latar belakangnya. Apa cuma karena istri aku gak seperti harapan Mama?" tanya Garda. Langsung menjurus pada intinya. Mencoba membuktikan ucapan Dimas bahwa pria itu tahu apa yang Anita rasakan.


Dimas menghela napas sejenak. Pria itu menekan salah satu tombol remote sampai suara dari televisi sedikit bertambah kencang. Ditolehnya sang putra yang sangat menanti-nanti jawabannya.


"Pikiran Mama kamu itu terlalu rumit. Sejak dulu Mama kamu selalu merancang kehidupan bahkan jauh sebelum hal itu akan terjadi," tutur Dimas.


"Contohnya?" tuntut Garda.


"Dari kamu masih bayi, Mama kamu sudah merancang kehidupan yang sempurna buat kamu. Sekolah dari TK sampai kuliah sudah Mama pikirkan. Bahkan mau jadi apa anaknya nanti sudah Mama rencanakan. Buktinya sekarang kamu jadi dosen sesuai keinginan Mama," jelas Dimas.


Garda dibuat menyadari satu hal. Sejak kecil dia tidak pernah diberikan hak untuk memilih. Ternyata memang karena kehidupannya sudah diatur oleh ibunya.


Menjadi seorang dosen jelas bukan keinginan Garda. Dia terpaksa mengikuti tuntutan Anita. Jujur Garda kurang menikmati profesinya. Maka dari itu Garda memilih membuka usaha bersama Rivan. Memilih bidang yang ia gemari.


"Mama kamu ingin hidup anak-anaknya sempurna. Meskipun Papa tahu cara Mama kamu terlalu memaksa," ujar Dimas lagi. Garda hanya diam mendengarkan apa yang ayahnya ucapkan.


Dimas menepuk paha Gard lagi. Hal itu membuat Garda menatap penuh pada ayahnya. Mata sayu milik Dimas beradu dengan mata tajam Garda. "Sekarang Mama kamu sedang kecewa," ujar Dimas membuat dahi Garda mengernyit. "Anak yang sejak kecil selalu dia pikirkan masa depannya. Harus menikah dengan seorang gadis biasa. Itu yang selalu Mama kamu sesali," lanjut Dimas.


Tentu saja Garda tidak terima dengan ucapam ayahnya "Tapi Mama sendiri yang jodohin kita!" tutur Garda dengan wajah mengeras.


"Iya! Justru itu yang buat Mama kecewa. Karena dia merasa gagal membuat kehidupan kamu sempurna," ujar Dimas dengan suara lembut. Pria paruh baya itu tersenyum hangat. Mencoba memahami raut wajah Garda yang terlihat masam.


"Tapi Garda sudah merasa sangat bahagia, Pa. Garda sudah merasa hidup Garda lebih dari sempurna sekarang," jelas Garda. Ditatapnya wajah Dimas dengan sendu.


"Papa bilang pikiran mama kamu itu rumit, Kak. Apa yang menurut kita cukup belum tentu terlihat baik di mata Mama kamu," imbuh Dimas. Mendengar itu membuat Garda menghela napas lelah.


"Mama sudah terpengaruh dengan standar kehidupan teman-temannya. Bahkan Papa sendiri kewalahan, Kak." Dimas menatp Garda dengan wajah tenang. Pria paruh baya bermata sendu itu jelas lebih dibuat pusing dengan sifat istrinya.

__ADS_1


"Asal kamu tahu. Selama ini Mama menekan juga karena Mama ditekan," imbuh Dimas. Hal itu membiat Garda berdecak. Dari dulu dia tidak suka ibunya mengikuti arisan bersama wanita sosialita itu.


"Papa kenapa gak larang Mama ikut arisan-arisan itu aja, sih! Bikin ribet aja," ujar Garda saking bingungnya menghadapi segala tuntutan dari Anita.


Dimas tersenyum tipis mendengar pertanyaan Garda. Pria itu kembali menatap televisi. "Bahagianya istri papa ada di sana," jawab Dimas dengan suara lembutnya. "Papa sibuk kerja. Anak-anaknya sibuk pendidikan. Papa gak mau menutup mata gitu aja. Ada banyak kebahagiaan yang Mama dapat di sana," imbuh Dimas dengan bibir yang tetap mengulas senyum tipis.


"Bucin!" tukas Garda dengan decakan kecil. Garda memang sejak kecil selalu disuguhi kemesraan kedua orang tuanya. Jadi dai tidak heran mendengar jawaban Dimas.


"Kamu sama!" bals Dimas tak mau kalah. Beliau sudah cukup paham bagaimana perasaan Garda pada Nadin.


"Papa cuma minta sama kamu, Kak. Mau sekesel apa kamu sama sifat Mama. Jangan pernah buat Mama sakit hati apalagi buat Mama nangis. Surga kamu tetap ada pada Mama," ucap Dimas tiba-tiba.


Garda sedikit menoleh pada Dimas. Dia mengangguk tanpa suara. Pria itu langsung berdiri dari duduknya. Berniat memeriksa ke dapur. Waktu sudah berjalan cukup lama tapi Anita tidak kunjung selesai memasak.


"Ini juga istri papa masak apa, sih, lama banget," gumam Garda sambil berlalu.


"Bantuin sana kamu!" titah Dimas. Pria paruh baya itu menekan salah satu tombol di remote sampai layar televisi berubah hitam. Mengingat sebentar lagi waktu magrib akan datang. Pria itu mau menyiapkan diri untuk pergi ke masjid.


Sementara Garda yang baru sampai di dapur memicingkan matanya. Pria itu semakin mendekati Anita yang sedang berdiri di depan kompor. Wanita paruh baya itu terlihat sedang memasukkan banyak daging ke dalam wajan besar yang terdapat bumbu di dalamnya.


"Ya Allah, Mama! Pantesan lama orang masak rendang sewajan," ujar Garda heran.


Anita sedikit melirik pada Garda yang berdiri di sampingnya. "Ini, kan, makanan kesukaan kamu, Kak," jawab Anita santai.


"Tapi, kan, Garda mau cepet-cepet pulang, Ma. Kasihan istri Garda sendirian di rumah," ujar Garda memprotes. Pasalnya masakan Anita pasti tidak akan matang dalam waktu singkat. Apalagi wanita itu memasak dalam porsi yang banyak.


"Makanya cepet punya anak biar gak sendiri," jawab Anita masih dengan nada santainya. Wanita itu mulai mengaduk daging di dalam wajan. Tidak mempedulikan tatapan tak terima Garda.


"Pa! Istrimu ini, loh!" adu Garda saat Dimas datang dengan baju kokonya.


"Ikut Papa ke masjid dulu saja," ajak Dimas.

__ADS_1


"Tuh, sana ikut Papamu," suruh Anita.


Garda menghela napas jengah. Pria itu langsung berjalan dengan langkah lemas mengikuti ayahnya.


__ADS_2