Dear My Fussy Husband

Dear My Fussy Husband
Pulang Dulu, ya


__ADS_3

Nadin merintih dalam tidurnya. Badan rampingnya menggeliat saat merasa tidak nyaman dengan posisinya sekarang. Tubuh kecil itu masih setia meringkuk di sofa tanpa penghangat apapun.


Ditatapnya jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Wanita itu segera beranjak dari posisinya. Menyadari bahwa ia tidur terlalu lelap.


"Apa Mas Dana belum pulang juga," gumam Nadin sendu. Kaki kecilnya perlahan melangkah ke arah jendela. Mengintip dari sana apakah ada mobil Garda atau tidak. Namun, sayangnya mobil suaminya tidak kunjung kembali.


Mencoba mencari peruntungan lain. Nadin berjalan dengan langkah gontai ke kamarnya. Rasa sakit di perutnya masih juga terasa pagi ini. Bahkan kepalanya juga turut merasa nyeri.


"Mas Dana belum pulang?" tanya Nadin pada dirinya sendiri. Tidak ada yang berubah dari tatanan kamarnya. Menunjukkan ruangan ini belum dijajah sama sekali. Lantai kamar mandi juga terlihat masih kering.


Nadin mendudukkan tubuhnya di kursi meja rias. Mata beningnya yang semalaman dibuat terus mengeluarkan air mata kini kembali basah lagi. "Mas Dana benar-benar marah sama aku," lirih Nadin. "Kalau Mas Dana tinggalin aku gimana?" tanyanya dengan nada putus asa.


Tangan kurusnya menarik laci dengan kasar. Memgambil sebuah plastik berisi beberapa buah pil KB yang selama ini dia konsumsi. Matanya menatap nyalang benda itu.


"Kenapa aku harus minum kamu, sih!? Lihat 'kan suami aku jadi marah!" teriak Nadin terdengar frustasi.


Diletakkannya bungkusan plastik itu di atas meja. Sementara tangan kanannya meraih sebuah botol minyak wangi milik Garda yang terbuat dari kaca. "Coba aja kalau aku gak minum kamu pasti suami aku gak akan marah!" ujar Nadin dengan kekesalah yang memuncak.


Dengan ganas Nadin memukul bungkusan plastik yang tergeletak di atas meja itu. Suara benturan antara meja kayu dan botol kaca terdengar keras. Membuat pagi Nadin semakin ramai.


"Aku cuma takut gak bisa jadi ibu yang baik sekarang!" ujar Nadin meluapkan emosinya. "Tapi aku gak mau buat Mas Dana kecewa," lanjut Nadin dengan suara lirih.


"Tapi sekarang apa!?" tanyanya dengan suara bergetar.


"Sial!" umpat Nadin sambil melempar botol kaca itu ke sembarang arah. Suara benturan antara botol kaca dan lantai terdengar menggema. Seketika botol kaca itu hancur dengan serpihan kaca yang menyebar.


"Kamu bodoh banget!" maki Nadin. Wanita itu semakin dibuat benci dengan dirinya sendiri.


"Harusnya sejak awal aku sadar," gumamnya dengan hampa. "Aku bukan berusaha supaya gak buat Mas Dana kecewa. Aku cuma menunda rasa kecewa Mas Dana datang!"


"Kenapa aku bodoh banget!? Kenapa aku bisa ambil keputusan itu!?"


Kedua tangan Nadin gemetar hebat. Dadanya terasa sangat sesak dan menyiksa. Wanita itu meluruhkan tubuhnya ke lantai dengan keras. Kedua tangan kurusnya langsung menjambak rambutnya. Mencoba mengalihkan sesak yang dia rasa.


Namun, badannya tetap gemetar. Apa yang dia lakukan sekarang belum cukup. Dadanya sesak, perutnya serasa ditusuk ribuan kali, kepalanya pusing.


Nadin memukul kepalanya dengan ganas. Mencoba mengurangi rasa sakit yang dia punya. Namun, tetap saja tidak ada yang berkurang.


Dengan gemetar tangan itu meraih pecahan botol kaca yang tadi dia lempar. Matanya menatap penuh harap pada benda ini. Namun, lagi-lagi wajah Garda terlintas di bayangan Nadin.


"Nanti Mas Dana pasti sedih kalau aku gini lagi," gumamnya lirih.


Dengan gontai Nadin berdiri. Berjalan melewati serpihan kaca itu dengan santai. Untung saja telapak kakinya masih dilapisi sandal yang dia kenakan.

__ADS_1


Wanita itu segera mencari ponsel miliknya di sofa. Mencoba menghubungi Garda dengan harapan pria itu segera menerima panggilannya.


"Mas Dana," sapa Nadin setelah panggilannya di terima.


"Mas kok gak pulang?" tanya Nadin antusias. "Mas kemarin tidur di mana?"


Tidak ada jawaban dari lawan bicaranya. Nadin meyandarkan badannya di sandaran sofa. Memejamkan mata untuk menghalau rasa sakit yang sejak tadi dia coba tahan.


"Mas lagi di kampus? Mas udah sarapan?"


"Ada apa?" tanya Garda dingin.


Di sana Garda sedang duduk di ruangannya di rumah makan. Dihadapannya ada sebuah laptop yang terbuka juga beberapa lembar kertas. Pria itu memang berada di tempat ini sejak pergi dari rumah.


"Mas Dana tolong maafin aku," lirih Nadin. Kembali tidak ada jawaban setelah itu.


"Kalau Mas gak mau maafin aku sekarang gak papa! Tapi pulang, ya, nanti Mas! Aku janji gak akan ngajak Mas Dana bicara. Aku nanti bakal sembunyi supaya Mas gak ketemu aku," ujar Nadin membujuk suaminya.


"Pulang dulu, ya, Mas," bujuknya lagi. "Jangan tinggalin aku."


Garda mengerjabkan matanya dengan perasaan yang tak karuan. Dia jelas tidak tega mendengar suara Nadin yang jelas terdengar tidak baik-baik saja. Istri kecilnya itu pasti terus-terusan menangis.


"Aku tahu Mas Dana kecewa banget sama aku. Aku sadar aku udah terlalu bodoh ambil keputusan sebesar itu," jelas Nadin.


"Iya," balas Garda dengan suara dinginnya.


Wajah Nadin langsung tersenyum ceria. Gadis itu segera menegakkan tubuhnya. Mengusap air mata yang masih tersisa dengan semangat. "Nanti mau aku masakin apa? Mas Dana pengen makan apa?" tanya Nadin antusias.


Garda terdiam sejenak. Ada sebuah desiran yang menyapa hatinya. "Terserah," jawab Garda singkat.


Setelah itu Garda mematikan sambungan telepon. Menaruh kasar ponsel miliknya ke atas meja. Kedua tangannya mengusap wajah dengan kasar.


"Cukup lupakan soal ini dan jalani seperti biasa Garda," gumam Garda mencoba meyakinkan dirinya.


Suara ketukan pintu membuat Garda menoleh. Pintu kayu itu langsung terbuka begitu Garda memberi jawaban.


Seorang wanita dengan celana panjang hitam dan kemeja putih itu memasuki ruangan. Ditangannya ada sebuah nampan berisi sepiring nasi lengkap dengan lauk juga segelas air putih.


"Kamu belum sarapan 'kan, Gar?" tanya wanita itu.


Garda menatap wanita dengan rambut hitam yang disanggul itu. "Kamu gak perlu antar ke sini," kata Garda.


Wanita itu tersenyum hangat. Meletakkan sepiring nasi dan juga segelas air putih di meja Garda. "Udang asam manis dan sayur kangkung kesukaan kamu," ujarnya.

__ADS_1


"Garda," panggil wanita dengan badan tinggi itu. Garda mendongakkan kepalanya menunggu ucapan wanita itu selanjutnya.


"Aku masih menunggu penjelasan kamu," ujar wanita itu.


"Penjelasan apa?" tanya Garda. Tangannya mulai merapikan beberapa kertas juga laptop yang ada di mejanya.


Wanita dengan wajah cantik dan anggun itu menatap Garda dalam. "Soal pernikahan kamu," jelasnya.


"Apa yang perlu dijelasin?" tanya Garda.


"Kenapa kamu menikah sedangkan kita sendiri belum selesai?" tanya wanita itu balik.


Garda menatap wanita di depannya dengan tajam. "Kita udah selesai!" tegas Garda.


"Belum, Gar!" elak wanita itu. "Kita berdua sama-sama gak mau hubungan kita selesai! Aku tahu kamu terpaksa lepasin aku."


Mata tajam Garda menatap dalam bola mata yang terus berusaha mengambil alih perhatian Garda itu. "Sekarang aku udah punya istri. Kamu harus sadar kalau kita benar-benar udah selesai."


"Tapi Gar--"


"Ke luar! Kerjakan pekerjaan kamu!" tegas Garda.


"Garda!"


"Saya atasan kamu di sini!" tegas Garda lagi.


Wanita itu berdecak sebal. Kaki jenjangnya melangkah anggun meninggalkan ruangan Garda. Menyisakan Garda yang menatap punggung itu lamat.


...


Nadin mengenggam sebutir obat di tangannya. Wanita itu tidak mungkin menyambut Garda dengan badan yang kurang sehat seperti ini. Jadi, Nadin bertekat meminum obat itu setelah berhasil menelan satu lembar roti tawar.


Namun bukannya merasa nyaman. Perut wanita itu malah semakin meronta. Kakinya berlari tergesa ke arah wastafel. Kembali mengeluarkan makanan yang berhasil masuk ke dalam perutnya.


"Kok sakit banget, ya," gumam Nadin sambil menekan perutnya.


"Mas Dana nanti bisa tambah marah kalau aku sakit gini," ujarnya dengan wajah panik.


Nadin berjalan pelan dengan badan lemas. Wanita itu memilih mengambil air hangat. Mungkin air hangat bisa meredakan rasa mualnya.


"Kamu gak boleh sakit gini, Nad," ucap Nadin pada dirinya sendiri.


Badannya yang terduduk lemas di meja makan terasa begitu tidak nyaman. Bahkan Nadin bisa merasakan suhu badannya yang tidak normal. "Aku harus belanja terus masakin suami aku. Mas Dana pasti seneng aku masakin!" ujarnya semangat. Mencoba memberi ungkapan positif agar tubuhnya mau bekerja sama.

__ADS_1


Nadin memijat pelipisnya pelan. Wanita itu memilih berjalan ke kamarnnya. Mungkin badannya perlu istriahat sejenak. Dia yakin akan segera membaik setelah tidur.


__ADS_2