Dear My Fussy Husband

Dear My Fussy Husband
Garda dan Gama


__ADS_3

Garda mendongak menatap daun pintu yang terbuka. Kedua alisnya naik menyaksikan kehadiran seorang wanita di sana. Senyum merekah dipamerkan untuk membius pria tampan itu.


"Aku udah bilang jangan masuk ke ruangan aku lagi," ujar Garda terlihat jengah dengan kedatangan wanita itu.


"Aku cuma mau anter makan buat kamu," balas wanita itu. Tubuh ramping dengan balutan celana bahan pas badan dan kemeja putih itu duduk di kursi yang ada di depan meja Garda.


"Kamu tahu aku selalu bawa bekal," jawab Garda tenang. Padahal jelas-jelas Garda sedang menikmati makan siangnya.


Wanita itu melirik menu makan siang Garda tanpa minat. "Itu bukan selera kamu banget," ucapnya remeh. "Kamu 'kan gak suka makanan manis," imbuhnya.


Untuk menu makan siang suaminya, Nadin memasak ayam kecap dan capcay. Tentu saja Garda akan menyantap apa saja yang Nadin masak. Pria itu jelas tahu bagaimana usaha istrinya menyiapkan semua ini.


"Ini makan punya aku aja," ucap wanita itu. Dibukanya wadah bekal yang dia bawa. "Aku masak sayur kangkung sama udang balado. Kesukaan kamu banget," lanjutnya sambil memamerkan hasil masakannya.


"Gak mau," jawab Garda lugas. "Sana ke luar aja kamu!" suruh Garda masih santai menghabiskan bekalnya.


Wanita itu meletakkan wadah bekalnya dengan sebal. Badannya langsung bersandar dengan kedua tangan yang dilipat di dada. "Kamu gak suka ya aku di sini?" tanya wanita itu.


Garda melirik sejenak lawan bicaranya. "Menurut kamu?" tanya Garda.


"Suka," jawab wanita dengan rambut dicepol itu. Leher jenjangnya sengaja dipamerkan dengan beberapa anak rambut yang ke luar.


"Kalau suka aku gak mungkin usir kamu," balas Garda enteng. "Sana ke luar," suruh Garda lagi.


"Kalau gak suka kenapa kamu suruh aku kerja di sini?" tanya wanita itu lagi.


"Katanya kamu butuh pekerjaan. Aku cuma nolong aja," jelas Garda. Jawaban itu membuat lawan bicaranya mendengkus kesal.


"Bohong!" elak wanita itu dengan nada suara yang agak dinaikkan.


Garda mengurungkan niatnya untuk membalas ucapan lawan bicaranya. Diraihnya ponsel hitam yang tiba-tiba berdering. Ditatapnya layar ponsel yang menunjukkan nama Nadin.


"Iya, ada apa, Nad?" tanya Garda begitu panggilan mulai terhubung. Sementara wanita yang masih duduk di depannya memasang wajah serius. Penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan.


"Iya-iya saya segera ke sana," ujar Garda dengan wajah panik.


"Kenapa, Gar?" tanya wanita itu penasaran.


Garda tidak mengindahkan pertanyaan itu. Tangannya buru-buru menutup bekal yang masih tersisa banyak lalu memasukkan lagi ke tasnya. Garda juga merapikan beberapa barang yang ada di meja.


"Mau ke mana?" tanya wanita itu ketika Garda sudah beranjak pergi.


"Bukan urusan kamu," tegas Garda.

__ADS_1


Pria itu langsung meninggalkan ruangannya dengan membawa sisa bekal dari Nadin. Menyisakan seorang wnaita yang duduk dengan wajah memberengut menatap kepergian Garda.


...


Garda berjalan tergesa menuju sebuah ruangan yang sudah Nadin tunjukkan. Pria itu sangat terlihat panik sekarang. Langkah kakinya mulai pelan saat mendapati keberadaan Nadin yang duduk seorang diri di sebuah kursi tunggu.


"Mas Dana," panggil Nadin dengan wajah sama paniknya.


"Tadi Mbak Sela jatuh waktu mau ke dapur," ujar Nadin. Mata beningnya tampak merah dan berkaca. "Aku lagi ngepel tadi jadi lantainya licin," ucap Nadin.


Garda duduk di samping Nadin. Ditariknya wanita itu untuk didekap. "Sela pasti baik-baik saja," ujar Garda menenangkan. Padahal dia sendiri sangat khawatir dengan keadaan adiknya.


"Mama marah banget sama aku," adu Nadin dengan isakan kecil. "Aku takut, Mas," ucap Nadin.


Garda mengusap punggung Nadin lembut. "Sekarang bagaimana keadaan Sela?" tanta Garda mengalihkan perhatian Nadin.


Nadin menyeka air matanya dengan kemeja Garda. "Mbak Sela harus caesar sekarang. Tapi kata dokter gak bahaya kok gak ada masalah. HPL Mbak Sela juga tinggal satu minggu lagi," jelas Nadin.


"Tuh, kata dokter aja gak papa," terang Garda dengan rasa lega yang juga dia rasakan. Meskipun dia sering memarahi adiknya itu. Namun, Garda tentu sangat menyayangi wanita itu.


"Tapi mama marahin aku. Aku kan gak tahu Mas kalau Mbak Sela bakal lewat waktu aku ngepel," adu Nadin lagi.


Garda mendorong badan Nadin pelan sampai dekapan mereka terlepas. Diusapnya kedua pipi wanitanya yang basah. "Kamu gak salah. Sudah jangan dipikirkan lagi," ucap Garda dengan lembut.


"Sekarang Mama di mana?" tanya Garda.


"Ke mushola, dari Mbak Sela masuk Mama belum ke sini lagi," ujar Nadin.


Garda mengangguk paham. Kini mereka berdua duduk bersisihan di koridor rumah sakit yang agak sepi. Garda menoleh menatap istrinya yang terlihat melamun.


"Sudah saya bilang jangan dipikirkan lagi," ujar Garda memperingati.


Nadin balas menatap Garda dengan bibir mencebik. "Mas gak tahu Mama tadi marah banget sama aku," adu Nadin lagi. Mata beningnya kembali berkaca-kaca mengingat kemarahan Anita tadi.


Garda mengenggam tangan Nadin begitu erat. "Mama pasti panik sekali tadi," kata Garda. "Jangan terlalu dipikirkan, Nadin. Apalagi menyalahkan diri kamu."


...


Wajah berseri Anita dengan mata sembab menjadi pemandangan yang mengharukan. Wanita paruh baya itu menggendong cucu pertamanya yang masih terlihat merah.


"Masya Allah cucu Nenek," ujar Anita lembut.


Nadin berjinjit untuk mengintip bayi yang ada di gendongan ibu mertuanya. Hal itu membuat Garda tertawa ringan. "Ngapain, sih, kamu?" tanya Garda heran.

__ADS_1


"Mau lihat," jawab Nadin.


"Yaudah sana deketin. Kalau lihat dari sini gak akan kelihatan," ujar Garda. Pria itu sudah tidak penasaran dengan wajah keponakan barunya. Karena Garda sendiri yang mengadzani dan menyaksikan wajah bayi itu.


"Takut, Mas," rengek Nadin.


Garda tersenyum pasrah. Pria itu mendekati Anita yang duduk di samping Sela yang sedang tertidur. Direndahkannya tubuhnya sampai sejajar dengan Anita.


"Boleh Garda gendong sebentar?" pinta Garda.


Anita menatap anak pertamanya itu sejank. "Hati-hati, ya, Kak," ujar Anita sebelum menyerahkan bayi mungil itu ke gendongan Garda.


Garda langsung membawa bayi itu ke sofa. Melihat itu Nadin langsung tersenyum lebar. Wajahnya terlihat bersemangat ingin menyaksikan keponakannya.


"Waw bule!" ujar Nadin takjub.


"Anak Belanda asli ini," canda Garda. Keduanya kantas terkekeh ringan.


"Jangan berisik! Nanti kebangun," ucap Anita memperingati.


Nadin langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Matanya langsung fokus menatap bayi yang ada dalam gendongan Garda. Senyum manis Nadin terlihat begitu saja ketika menatap bayi itu.


"Lucu banget, ya, Mas. Ganteng lagi," ucap Nadin.


Garda mengangguk setuju. "Semoga bayi ini benar-benar bisa menjadi obat untuk kita semua, ya, Nad," ucap Garda pelan.


Nadin menganguk dengan senyum di wajahnya. "Aamiin," ucapnya tulus.


"Adik udah ada namanya belum, Mas?" tanya Nadin penasaran.


"Belum, kamu mau kasih nama?" tawar Garda yang peka dengan keinginan Nadin.


"Boleh?" tanya Nadin memastikan. Garda mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan istrinya.


"Gama aja, ya, Mas. Lucu sekali, kan?" ucap Nadin terdengar sangat antusias.


"Gama?" ulang Garda dengan kening mengernyit. Memikirkan apakah nama itu cocok untuk bayi ini.


"Gamaliel. Nanti panggilnya Gama biat sama kayak mas Dana," ucap Nadin semangat. "Garda dan Gama," ucap Nadin lagi memperjelas.


Garda mengangguk dengan senyum di wajahnya. "Boleh," balas Garda setuju.


"Yeyy!" sorak Nadin semangat.

__ADS_1


Wanita itu mengusap pelan pipi merah itu. Tentu saja sebelum masuk ke ruangan ini Nadin sudah memastikan tangannya steril. "Hallo adik Gama! Ini Tante Nadin," sapa Nadin ceria.


__ADS_2