
Pagi ini sepasang suami istri itu terlihat sibuk dengan aktivitas masing-masing. Karena kegiatan panjangnya tadi malam, Garda dan Nadin bangun agak terlambat. Jadilah, mereka berdua menyelesaikan kegiatannya dengan agak tergesa.
"Ya ampun! Bikin telur dadar aja kok gosong," gumam Nadin sebal. Baru ditinggal membuat susu coklat untuk Garda saja telurnya sudah hangus.
Gadis itu memilih memasak telur lagi. Untung saja sayur kangkung dan ayam goreng untuk bekal suaminya sudah siap.
"Nadin!" panggil Garda dari dalam kamar. Mendengar panggilan itu membuat Nadin segera berlari kecil ke arah kamarnya. Dia pikir pasti ada hal penting.
"Apa, Mas?" tanya Nadin saat sudah sampai di dalam kamarnya.
Garda langsung menatap Nadin dengan wajah tak bersahabat. Pria itu menunjuk ke arah ranjang. Di mana handuk basak milik Nadin tergeletak di sana.
"Kebiasaan kamu ini! Handuk basah ditaruh sembarangan," omel Garda.
Nadin menghela napas pelan. Wanita itu berjalan mendekati suaminya. "Tinggal diambil aja, kan? Kenapa harus panggil-panggil aku. Kirain ada apa," ujar Nadin. Tangannya mengambil handuk berwarna merah muda miliknya.
"Setiap hari juga saya yang ambil. Lama-lama kebiasaan," balas Garda. Pria itu langsung berbalik menuju almari. Karena agak terburu-buru jadi Nadin tidak sempat mengambilkan baju suaminya.
Sementara Nadin memilih membawa handuknya ke kamar mandi. Belum sempat niatnya terlaksana. Suara Garda kembali menghenrikan aktivitas Nadin.
"Kemeja saya yang warna putih mana?" tanya Garda. Tangan kekarnya mencoba mencari keberadaan kemeja putih itu namun nihil.
"Ada di situ, Mas. Pelan-pelan carinya," ujar Nadin.
"Cariin, Nad! Sudah mau telat ini," kata Garda sambil mengacak rambut basahnya. Pagi ini Garda ada jadwal rapat dengan beberapa petinggi di universitas tempat dia mengajar. Dan bertepatan sekali dengan mereka yang bangun kesiangan. Tentu saja hal itu menguras kesabarannya.
"Nad carikan! Sudah jam tujuh lebih, loh, ini!" ujar Garda lagi.
"Bentar Mas Dana! Ini, kan, jemur handuk dulu," jawab Nadin. Wanita itu lantas berlari kecil ke arah Garda. Mulai mengambil alih untuk mencari keberadaan kain putih itu.
Namun sayangnya barang yang dicari tidak kunjung menampakkan diri. Nadin langsung mendongak menatap Garda dengan senyum pias. Sementara Garda semakin menajamkan matanya.
"Ada apa enggak?" tanya Garda yang dibalas gelengan istrinya. "Padahal saya udah bilang kalau hari ini pakai kemeja putih," gumam Garda. Pria itu menerima sebuah kemeja abu-abu yang Nadin sodorkan.
"Pakai ini aja. Mirip dikit warnanya," ujar Nadin pelan. "Kayaknya yang putih belum ikut kesetrika, deh, Mas," kata Nadin. Mengingat kemarin hanya beberapa baju yang sempat dia setrika.
"Kan ya, udah saya bilang dari sore. Saya nanti presentasi disuruh pakai baju putih," jelas Garda. Pria itu masih setia dengan wajah tak bersahabatnya.
"Lagian kemarin juga Mas Dana yang ngajak ibadah malam. Kalau gak gitu, kan, kerjaan aku beres," balas Nadin merasa tak terima disalahkan. "Aku setrika bentar kalau gitu."
"Gak usah. Pakai ini aja," ujar Garda. Pria itu lantas memulai kembali persiapannya.
Nadin menghela napas kesal. Wanita itu langsung kembali ke dapur untuk menyelesaikan kegiatannya. Baru berjalan beberapa langkah Nadin dibuat terperanjat melihat asap yang mengepul di penggorengan.
Gadis itu refkeks memekik memanggil suaminya. Garda yang panik langsung berlari dengan kaus kaki yang baru terpakai sebelah.
"Ya Allah!" ujar Garda dengan wajah panik. Pria itu buru-buru mengambil sebuah lap meja. Membasahi dengan air keran, lalu melemparkan kain basah itu sampai menutupi wajan yang mulai mengeluarkan api.
__ADS_1
Garda menggaruk kepalanya kasar. Pandangannya lantas menatap Nadin dengan kesabaran yang semakin menipis. "Ceroboh sekali, sih, kamu!" bentak Garda.
Nadin mengulum bibirnya dengan wajah memelas. "Maaf, abisnya tadi Mas Dana panggil aku," ujar Nadin pelan.
Garda berdecak sebal. Sudah bangun kesiangan, salah kostum, dan sekarang ada adegan kebakaran kecil. Benar-benar pagi yang penuh ujian.
Selagi emosinya masih bisa dikontrol. Garda memilih kembali ke dalam kamar untuk menyekesaikan persiapannya. Sementara Nadin mulai mengurus kekacauan yang dia buat.
Gadis itu menatap kedua tangannya yang bergetar. Agak sedikit berlebihan rasanya. Dadanya serasa sesak saat mendapat bentakan dari Garda. Meski itupun karena kesalahannya sendiri.
"Saya berangkat," ucap Garda yang baru saja keluar dari kamar.
"Gak sarapan dulu mas!?" teriak Nadin. Gadis itu buru-buru mengambil wadah bekal yang sudah siap sejak tadi. Mengikuti langkah Garda yang berjalan menuju pintu keluar dengan langkah besar.
"Mas bekalnya," kata Nadin saat sudah ada di depan pintu.
Garda menerima wadah bekal pemberian Nadin. Matanya menyorot mata bening yang memandang teduh ke arahnya.
"Saya paling gak suka kalau pagi-pagi ada keributan kayak gini," ujar Garda dengan wajah datar.
"Iya, Mas, maaf," ucap Nadin dengan nada penuh penyesalan. Nadin lantas mencium punggung tangan Garda lembut.
"Saya berangkat," pamit Garda lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Nadin menatap punggung suaminya hampa. Gadis itu memegang keningnya yang terasa dingin pagi ini. Padahal biasanya Garda akan mengecup singkat keningnya.
...
Garda menatap tajam pria dewasa yang baru saja memasuki ruangannya. Rivan langsung memasang senyum untuk mencairkan suasana.
"Langsung digosipin lo, Gar, gara-gara salah kostum," ujar Rivan. Pria itu lantas duduk di depan Garda. Posisi mereka menjadi berhadapan dengan meja kerja Garda sebagai batasan.
"Untung aja presentasi lo mantep, Gar! Kalau gak bagus, malu gue temenan sama lo," canda Rivan.
Garda tetap memasang wajah datar. Pria itu memilih membuka bekal dari istrinya. Dia sampai melewatkan makan siang karena harus mengurus beberapa dokumen penting.
"Istri lo selalu bawain bekal, ya, Gar," ucap Rivan sarat akan rasa iri. "Bini gue boro-boro bawain bekal. Masak aja gak pernah," lanjut pria itu.
"Bersyukur ada yang mau sama lo," ujar Garda tepat menusuk jantung temannya.
"Sadis banget, tuh, mulut," ketus Rivan. "Tapi, ya, gue bisa maklumin Nabila, lah," gumam Rivan membuat Garda memasang wajah penuh tanya.
"Sibuk bener dia sekarang! Pagi sampai sore praktek. Malemnya kadang masih ada yang konsul. Heran gue, laku banget dia," ucap Rivan panjang lebar.
"Praktek apa? Dukun?" tanya Garda.
Rivan menendang kaki Garda dari bawah meja. "Enak aja lo!" sentak pria itu.
__ADS_1
"Dokter ya?" tanya Garda memastikan. Dia sedikit mengingat foto yang dijadikan profil di aplikasi pesan singkat oleh Rivan. Dimana pria itu tampil gagah dengan jas hitam sementara istrinya tampak menawan dengan jas putih.
Rivan menggeleng sebagai jawaban. Pria itu mengambil ponsel dari saku celananya. "Apa, sih, itu yang biasa dengerin curhatan orang?" tanya Rivan bingung.
Garda mengigit dada ayam yang Nadin bawakan. Pria itu ikut terdiam mencoba memahami maksud Rivan. "Psikolog?" tanya Garda ragu.
"Nah, Iya! Psikolog kayaknya," jawab Rivan.
Garda tiba-tiba menatap Rivan dengan wajah serius. "Beneran istri lo psikolog?" tanya Garda memastikan.
"Bener, lah!" jawab Rivan gemas. "Ngapain lo nanya-naya?" tanya pria itu.
"Gak papa," jswab Garda cuek.
Garda terdiam sejenak. Menikmati bekal yang Nadin bawakan membuat Garda memikirkan istri cantiknya. Jujur sejak tadi dia merasa tidak tenang. Garda akui pagi ini dia sangat kelewatan pada Nadin.
Hanya karena masalah sepele dia terus-terusan memarahi Nadin. Bahkan berakhir membentak wanitanya.
Garda juga takut kalau perlakuannya tadi membuat Nadin terluka. Ada rasa khawatir yang Garda pendam. Bagaimana kalau lagi-lagi Nadin merasa sendiri dan tertekan. Bagaimana kalau istrinya akan kembali menyakiti dirinya lagi.
"Van," panggil Garda.
"Apa?" tanya Rivan dengan wajah penasaran. "Mau tanya caranya minta ke istri lagi?" tuding Rivan.
"Gak lah! Udah pinter gue," jawab Garda dengan wajah angkuh.
"Serius!? Spill kronologisnya dong, Kak!" ledek Rivan membuat Garda dibuat berdecak sebal.
"Gue mau tanya serius ini!" kata Garda sebal.
"Apa buruan," tagih Rivan.
Garda menatap wajah sahabatnya dengan raut serius. Tentu saja hal itu semakin membuat Rivan penasaran. "Buruan, woi!" titah Rivan mulai merasa gemas.
"Lo pernah marahin istri lo enggak?" tanya Garda.
Rivan langsung mengernyit heran mendengar pertanyaan Garda. "Abis marahin Nadin, nih, pasti," tuduh Rivan yang sayangnya tepat sasaran.
Garda mengangguk pasrah. Wajah seriusnya perlahan mengendur. Pria itu memasang wajah melas di hadapan Rivan. "Gimana ya enaknya?" tanya Garda ambigu.
"Enak gimana, nih?" goda Rivan.
"Minta maafnya," jawab Garda malas.
"Ya tinggal bilang maaf gitu! Beres!" balas Rivan dengan wajah santai.
"Gitu doang?" tanya Garda polos.
__ADS_1
Rivan menghela napas kasar. Kali ini giliran Rivan yang menatap temannya dengan wajah serius. "Sini biar Nadin jadi istri kedua gue. Kasian punya suami goblok gini," ujar Rivan yang tentu saja hanya candaan. Bagaimana mungkin dia bisa menduakan Nabila. Sedangkan cintanya seratus persen untuk wanita cantik itu.
"Gue bunuh lo!" sentak Garda dengan wajah garang.