Dear My Fussy Husband

Dear My Fussy Husband
Tidak Tahu Malu


__ADS_3

Nadin sedikit merapikan kemeja hitam yang dikenakan Garda. Mulai pagi ini pria itu akan kembali beraktivitas seperti biasa. Tentu saja Nadin dengan senang hati membantu suaminya menyiapkan diri.


"Saya titip Mama, ya, Nad," ujar Garda setelah Nadin memastikan penampilannya sudah baik.


"Mas Dana tenang aja," jawab Nadin.


"Kalau ada sesuatu kamu langsung hubungi saya," ujar Garda lagi. Pria itu mulai meraih tas hitamnya. "Saya berangkat dulu. Kamu enggak usah antear ke depan. Lanjutkan saya kegiatan kamu," pamit Garda.


Nadin tersenyum manis menyambut ucapan suaminya. Diraihnya tangan kanan Garda lalu dikecup singkat. "Hati-hati kerjanya," ujar Nadin dengan lembut. "Bekalnya jangan lupa di makan, ya, Mas," imbuh Nadin.


Garda mengangguk sebagai jawaban. Pria itu baru akan melangkah namun cekalan tangan Nadin membuat langkahnya terurungkan. "Kenapa, Nad?" tanya Garda.


"Aku boleh antar makanan untuk Mbak Sela?" tanya Nadin. Wanita itu belajar dari pengalamannya. Apapun yang akan dia lakukan harus sudah mendapat izin dulu dari suaminya. "Dari kemarin Mbak Sela belum ke luar kamar, Mas. Kasihan Mbak Sela," ujar Nadin degan wajah sendu. Berharap Garda akan mengizinkan keinginannya.


"Cuma antar makanan saja, ya," ujar Garda memperingati.


Tentu saja Nadin langsung mengangguk dengan semangat. "Iya suamiku," balas wanita itu ceria.


Garda tersenyum tipis mendapat respon demikian. Pria itu lanjut mengusap singkat puncak kepala Nadin. Setelahnya benar-benar berpamitan untuk berangkat mengajar.


Setelah keberangkatan suaminya Nadin melanjutkan kegiatan awalnya. Dia masih harus menyiapkan sarapan untuk ibu mertua dan kakak iparnya. Setelah itu Nadin baru bisa mengerjakan pekerjaan rumah lain.


Untuk Anita Nadin cukup menyiapkan makanan di meja. Wanita itu sudah mulai mau makan dengan sendirinya tanpa harus dilayani sampai ke kamar. Berbeda dengan adik dari Garda yang entah kenapa sangat sulit untuk makan dan ke luar kamar.


"Mbak Sela," panggil Nadin tepat di depan pintu. "Mbak Sela ini Nadin," ujar Nadin lagi.


Nadin mengetuk pintu berulang kali. Namun, tidak kunjung ada sahutan dari dalam. Rasa penasaran dan khawatir yang memuncak membuat Nadin memutar knop pintu hingga daun pintu itu terbuka.


"Mbak Sela?" Nadin menatap wanita dengan badan sedikit berisi itu yang sedang memakan roti. Wajah cantiknya terlihat begitu pucat dengan mata memerah.


"Ngapain kamu masuk kamar saya!?" sentak Sela dengan mata tajam yang menghunus Nadin.


"Aku mau anterin makan buat Mbak Sela," ujar Nadin. Ditunjukkannya sebuah nampan berisi sepiring nasi dan lauk. Nadin juga membawakan berbagai roti yang masih tersedia di dapur.


"Saya gak butuh apapun dari kamu!" kata Sela dengan tatapan nyalang.


"Tapi Mbak Sela belum makan nasi dari kemarin," ujar Nadin. Kakinya melangkah perlahan untuk lebih dekat dengan adik suaminya itu.

__ADS_1


"Kamu ngapain sih main masuk-masuk aja!?" sentak sela untuk kedua kalinya. Wanita itu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang sedang duduk di ranjang. Kedua tangannya memeluk perutnya sendiri dengan erat. Mencoba menyembunyikan sesuatu dari Nadin.


"Setelah ini aku ke luar kok, Mbak," ujar Nadin lembut. "Aku taruh sini, ya, makanannya. Mbak Sela jangan lupa makan."


Sela melirik sinis pada Nadin yang mulai meletakkan nampan bawaannya di nakas. Tepat di samping tubuhnya. "Cepat pergi! Saya benci sekali melihat kamu!" sinis Sela dengan tatapan tajam.


Nadin tertegun mendengar apa yang baru saja diungkapkan sela. Matanya dengan spontan menatap wanita itu.


"Apa gak terima kamu?!" tantang Sela. "Benci saya lihat wanita rendahan seperti kamu bersanding dengan kakak saya!" tegas Sela.


Hubungan Sela dan Anita tentu saja sangat dekat sebagai ibu dan anak. Sela selalu menjadi teman cerita untuk Anita meskipun mereka terhalang jarak. Jadi, Sela tahu betul bagaimana sosok istri kakaknya ini dari cerita ibunya.


Nadin masih terdiam dengan keterkejutannya. Dia sama sekali tidak pernah bertegur sapa atau berkomunikasi dengan Sela. Namun kenapa komunikasi pertamanya malah seperti ini.


"Perempuan tidak tahu malu," desis Sela mengungkapkan isi hatinya.


"Kenapa Mbak Sela bilang begitu?" tanya Nadin lirih.


"Karena kamu memang tidak tahu malu," jelas Sela tajam. "Gak sadar diri," desisnya dengan tatapan tajam yang beradu dengan mata bening Nadin.


Nadin menatap Sela dengan wajah sendunya. Dia memang bisa dibilang lemah dan tidak pintar membalas ucapan orang lain. Namun, sepertinya kali ini Nadin akan ke luar dari zona nyaman.


"Kenapa tidak terima saya bicara begitu!?" tanya Sela balik. "Sudah muak saya memendam kebencian sama kamu!" tegasnya.


Sela menatap Nadin semakin tajam. Dari awal mendengar kabar pernikahan kakaknya Sela sudah tidak setuju. Maka dari itu dirinya tidak mau pulang untuk sekedar menampakakn diri. Ditambah latar belakang Nadin yang diungkapkan oleh ibunya membuat Anita semakin tidak menyukai Nadin.


"Kamu ini cuma wanita rendahan yang menumpang hidup dengan kakak saya," ujar Sela dengan enteng. "Saya yakin kalau tidak karena terpaksa Kak Garda juga tidak mau menikah dengan kamu."


Nadin menelan ludah dengan kasar. Kedua tangannya mengepal dengan erat di samping badan. Sekuat tenaga Nadin mencoba mengelakkan apa yang dikatakan Sela. Namun, mau tidak mau kata-kata itu langsung menancap di hatinya.


"Sudah tahu tidak setara dengan Kak Garda. Masih saja bertahan dalam hubungan ini. Apa namanya kalau tidak tahu malu!?" saekas Sela dengan wajah menantang.


Bibir tipis Nadin tertarik hingga membentuk sentuman tipis. Dibalasnya wajah menantang Sela dengan wajah datarnya. "Lebih gak tahu malu aku atau Mbak Sela?" tanya Nadin tajam.


Tangan kurus Nadin menunjuk perut Sela dengan senyuman remeh. "Aku yang menikah sama laki-laki sempurna atau kamu yang hamil di luar nikah?" Suara pelan dan tenang Nadin mengalun di kamar dengan cat putih itu.


Sela membelalakkan matanya mendengar ucapan Nadin. "Sialan!" umpat wanita itu sambil menyentak selimut yang menutupi setengah dari tubuhnya. "Berani kamu bicara seperti itu sama saya!?" teriak Sela dengan amarah yang memuncak.

__ADS_1


Wanita itu berdiri dengan agak kesusahan. Badannya seketika langsung berhadapan dengan Nadin. "Mbak Sela juga berani merendahkan saya," ujar Nadin dengan tenang.


"Mulut kamu itu tidak pantas berbicara dengan saya!" teriak Sela. Tangannya langsung mendorong badan Nadin dengan keras. Hal itu membuat tubuh Nadin sedikit kehilangan keseimbangan.


"Terus cuma kamu yang pantas jelekin saya?" tanya Nadin setelah berhasil berdiri dengan tegak lagi. "Apa yang saya katakan benar, kan? Mbak Sela lebih gak tahu malu sudah hamil di luar nikah!"


"Emang dasar tidak tahu diri!" maki Sela semakin dibuat emosi. Didorongnya badan Nadin semakin keras hingga tubuh ramping itu berbenturan dengan lantai.


"Bicara apa kamu Nadin!?"


Tubuh Nadin seketika menegang mendengar suara itu. Tubuhnya yang masih duduk mengenaskan di lantai perlahan menoleh ke sumber suara. Anita dengan wajah marahnya menatap nyalang pada dirinya.


"Berani sekali kamu berbicara sembarangan dengan anak saya," tukas Anita. Kakinya perlahan melangkah mendekati dua wanita itu.


Nadin menggigit bibir bawahnya gugup. Perlahan wanita itu berdiri hingga sejajar dengan dua wanita di hadapannya. Kepala Nadin seketika menunduk membuat Sela tertawa remeh.


"Coba ulangi kata-kata kamu tadi!" titah Anita dengan tajam.


Nadin masih diam dengan kepala sedikit menunduk. Kedua tangannya saling meremas satu sama lain. Jujur Nadin merasa takut jika dihadapkan dengan Anita karena urusannya akan semakin panjang.


"Saya dan Garda sudah berusaha memperbaiki mental anak saya dan kamu malah berbicara sembarangan," ujar Anita penuh amarah. "Kamu pikir kamu disini siapa bisa berbicara seenaknya dengan anak saya?"


"Mbak Sela dulu yang jelekin Nadin, Ma," balas Nadin. Kepalanya diangkat hingga berhadapan dengan Anita.


"Apa yang Sela ucapkan sama kamu memang benar! Jadi buat apa kamu marah!?" tanya Anita dengan nada sedikit tinggi.


Dada Nadin sekerika terasa seperti dihantam dengan keras. Sesak sekali rasanya mendengar apa yang Anita katakan. Kepalanya kali ini tidak msu menunduk. Dirinya tetap menatap Anita dengan mata berkaca-kaca. "Lalu apa yang Nadin katakan bukan sebuah kebenaran?" tanya Nadin dengan gamang. "Mbak Sela hamil di luar nikah, kan?" tanyanya dengan mata melirik pada Sela.


Anita dan Sela sama-sama diam. Namun, tak selang beberapa lama senyum Anita kembali menyapa. "Dari pada kamu yang tidak bisa hamil," ujarnya sinis. Mendengar apa yang dikatakan ibunya membuat Sela ikut tersenyum.


Entah kenapa nasib buruk menimpa Nadin untuk kesekian kalinya. Wanita itu dibuat mati kutu dengan ucapan Anita. Apa yang bisa Nadin gunakan untuk membalas kalimat itu?


"Dengar saya," titah Anita dengan suara yang mulai tenang. "Kamu di sini bukan siapa-siapa. Jangan pernah gunakan mulut kamu untuk berbicara sembarangan apalagi dengan anak perempuan saya," tegas Anita.


"Cukup jadi istri anak saya dan beri dia keturunan. Jangan coba-coba ikut campur urusan kita," imbuh Anita.


Seketika air mata Nadin menetes mendengar itu. Dirinya kembali tertampar oleh kenyataan. Lagi-lagi Nadin dibuat sadar tentang posisinya yang sebenarnya.

__ADS_1


"Saya tidak akan pernah semarah ini kalau kamu tidak mengusik anak kesayangan saya."


__ADS_2