Dear My Fussy Husband

Dear My Fussy Husband
Perihal Waktu


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Garda dan Nadin sudah mendengar keributan dari luar kamar. Sepasang suami istri itu saling tatap dengan raut bingung. "Ayo kita lihat, Nad," ajak Garda.


Nadin mengangguk saja dan menurut. Garda dan Nadin ke luar kamar dengan masih menggunakan baju koko dan juga mukena. Sampai di luar kamar mereka mendapati Anita dan Sela yang sedang adu mulut di ruang makan.


"Pokoknya aku mau kembali ke Belanda!" tegas Sela dengan suara meninggi. Wanita dengan rambut panjang berwarna pirang itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Mama sudah bilang tidak akan memberi kamu izin!" balas Anita dengan tegas.


"Aku gak butuh izin dari Mama! Pokoknya aku mau kembali ke sana," ujar Sela dengan suara lantang. Wanita itu langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan kedua tangan masih menyilang di depan dada.


Anita menghela napas pelan. Wanita paruh baya itu dengan sabar duduk di sebelah anak perempuannya. Sementara Nadin dan juga Garda masih menyaksikan mereka dari kejauhan.


"Lagi pula kamu mau mencari apa lagi ke sana, Dek? Kamu gak takut kejadian ini bakal terulang lagi?" tanya Anita masih mencoba bersikap lembut. Ibu dua anak itu cukup paham untuk berbicara pelan dengan Sela yang terkenal keras kepala.


Sela melirik Anita dengan malas. "Aku jelas mau lanjutin kuliah aku, lah, Ma!" jawabnya ketus. "Mama gak usah pikirin kejadian yang udah berlalu. Aku bakal lebih hati-hati," terang wanita itu. Tentu saja kata hati-hati yang Sela ucapkan mempunyai makna lain. Bukan sekedar hati-hati biasa.


Anita menggeleng dengan tegas. Diusapnya tangan sang putri dengan lembut. "Kamu bisa melanjutkan kuliah kamu di sini saja. Kalau di Belanda tidak ada yang bisa mengawasi kamu, Dek. Mama tahu pergaulan kamu sudah terlalu bebas di sana," ujar Anita panjang lebar.


Embusan napas Sela semakin terdengar keras. Wanita itu juga menepis tangan Anita dengan kasar. "Mama gak percaya sama aku?!"


"Gimana Mama mau percaya kalau pulang-pulang saja perut kamu sudah besar," jawab Anita masih mencoba sabar dan tenang. "Kamu jangan membangkang lagi. Cukup menuruti Mama dan kuliah di sini saja."


"Gak mau!" sentak Sela. "Apa kata teman-teman aku nanti kalau aku pindah ke sini, Ma!?" tanya Sela dengan emosi memuncak.


Jelas saja Sela memikirkan apa yang akan teman-temannya katakan nanti. Dulu saja dia selalu membangga-banggakan dirinya yang berhasil kuliah di Belanda. Bahkan wanita itu sempat meremehkan teman-temannya yang hanya kuliah di Indonesia. Bukankah akan banyak kata-kata negatif yang akan Sela dapat nantinya.


"Memangnya kenapa kalau kuliah di sini saja? Universitas di sini juga bagus, kok, Dek. Nanti biar Kakak yang carikan untuk kamu."


"Gak mau, Ma!" sentak sela dengan tegas. "Pokoknya aku mau balik ke Belanda!" teriaknya dengan suara keras.


Saking kerasnya suara Sela, Anita sampai terperanjat kaget. Wanita paruh baya itu mengusap dadanya. Ditatapnya anak perempuan kesayangannya itu dengan mata sendu.


Melihat perlakuan Sela yang semakin keterlaluan tentu saja membuat Garda geram. Pria itu menarik tangan Nadin menuju ruang televisi.


"Biarin aja kalau dia mau balik ke sana, Ma," ujar Garda dengan tenang.

__ADS_1


Mendengar ucapan Garda membuat Sela tersenyum bahagia. Jauh berbeda dengan ekspresi Anita yang terlihat tidak terima.


"Kamu mau berangkat kapan?" tanya Garda pada adiknya.


"Kakak serius bolehin aku balik ke Belanda lagi?" tanya Sela penuh semangat. Garda mengangguk dengan tegas. Tentu saja senyum ceria Sela semakin merekah. "Kalau gitu aku mau berangkat hari Senin!" ujar Sela.


"Gak boleh! Pokoknya Mama gak izinin!" ujar Anita. Wanita itu menatap Garda dengan tatapan tidak terimanya. "Kamu kok izinin adik kamu, sih, Kak? Kamu gak takut kejadian ini ke ulang lagi?"


"Biarin aja, Ma. Lagian Sela udah besar. Dia pasti bisa ngurus dirinya sendiri," jawab Garda dengan enteng.


"Tuh, Ma, dengerin Kak Garda! Aku bisa ngurus diri aku sendiri," imbuh Sela dengan bangga. Merasa senang juga karena dibela kakak laki-lakinya.


Garda mengangguk membenarkan ucapan Sela. "Karena kamu sudah bisa mengurus diri kamu sendiri saya dan Mama tidak akan ikut campur, ya."


"Hah!? Maksud Kakak?"


"Urus diri kamu sendiri. Termasuk biaya keberangkatan, biaya kuliah, dan biaya hidup kamu. Saya dan Mama tidak akan memberikan kamu sepeserpun," terang Garda dengan gamblang.


"Gak bisa gitu dong!" teriak Sela dengan emosi yang mulai terkumpul lagi.


"Ya gak gitu juga, Kak!"


"Kuliah di sini saja, atau kuliah di Belanda tapi saya dan Mama tidak akan mau menanggung biaya kamu. Silahkan dipilih Tuan Puteri," ujar Garda dengan menekankan setiap katanya.


Sela berdecak sebal dengan kedua kaki di hentakkan. Selalu saja seperti itu jika keinginannya tidak terpenuhi. Sekarang Garda akan mencoba tegas dengan adiknya. Dimana dulu saat Dimas masih hidup pria itu sealu memanjakan Sela selaku anak perempuan kesayangannya.


Garda melepas genggamann tangannya dari Nadin. Pria itu mendekati Anita lalu merangkul bahunya. "Mama masuk ke kamar saja. Nanti Nadin dan Garda bawa Gama ke kamar Mama."


...


"Kalau Garda punya anak pasti bakal mirip banget sama dia," ujar Anita sambil terus mengamati wajah Gama. Bayi itu berada di pangkuan Nadin sambil diberi susu. Tadi saat mencoba dialihkan ke gendongan Anita, Gama malah menanggis dengan sangat kencang.


Nadin tersenyum tipis mendengar ucapan ibu mertuanya. "Pasti nanti bakal cantik dan ganteng, ya, Ma," balas Nadin mencoba menanggapi ucapan Anita dengan antusias.


"Iya, kan? Mama jadi penasaran sama anaknya Garda nanti," ujar Anita lagi dengan nada yang mulai terdengar tidak biasa.

__ADS_1


Nadin yang mulai bisa menangkap arah pembicaraan ibu mertuanya kembali tersenyum tipis. Kali ini memilih tidak mengeluarkan suara.


"Kamu penasaran enggak sama wajah anak Garda nanti?" tanya Anita. Sebutan yang digunakan seolah-olah anak Garda bukan anak Nadin saja.


"Iya, Ma," jawab Nadin singkat.


"Makanya, Nad," ujar Anita dengan jeda. Di jeda inilah Nadin mulai menarik napas panjang untuk menyiapkan hatinya. "Kamu kapan hamil? Kamu beneran gak mandul?" tanya Anita beruntun.


"Enggak, Ma. Nadin sehat gak ada masalah apapun," jawab Nadin mencoba tenang. "Mama 'kan sudah Nadin kasih lihat hasilnya."


"Tapi kok gak hamil-hamil, sih?" tanya Anita dengan nada menyebalkan. "Apa selama ini kamu gak jaga makan? Makanya kesuburan kamu terganggu?"


"Aku sama Mas Dana sudah sangat menjaga pola makan, Ma," jawab Nadin dengan sabar.


"Masa?" tanya Anita menantang. "Kalau Garda Mama percaya karena anak Mama memang sangat menjaga makanannya dari dulu," terang Anita sambil menatap Nadin sekilas.


Lagi-lagi Nadin cukup dibuat menghela napasnya. Hatinya sudah merasa tidak nyaman dengan topik yang terus dibicarakan Anita.


"Kamu udah coba konsultasi ke dokter?" tanya Anita lagi. Belum mau menyudahi aksi gencarnya meminta cucu.


"Sudah beberapa kali, Ma," jawab Nadin singkat.


"Dokter apa?" tanya Anita.


"Dokter mata," jawab Nadin datar. Anita langsung melirik Nadin sinis. Setelahnya dibalas dengan kekehan ringan oleh menantunya. "Ya dokter kandungan, lah, Ma. Lagian Mama ada-ada aja tanyanya."


"Huh!" dengkus Anita dengan wajah sebal. "Tapi kok lama, ya," ujarnya lagi yang masih belum puas.


"Sabar, Ma. Setiap orang pasti punya waktunya masing-masing."


"Berarti emang waktu kamu yang lama?" tanya Anita. Nadin terdiam mendengar pertanyaan itu.


"Kalau gak sama kamu pasti Garda udah punya anak," ucapnya lagi.


"Ma?" panggil Nadin yang heran dengan ucapan Anita.

__ADS_1


"Siapa tahu kalau dengan wanita lain waktunya akan lebih cepat," imbuh Anita dengan sangat santai.


__ADS_2