
Garda membuka pintu utama rumahnya dengan pelan. Hari ini dia pulang cukup larut malam. Lampu di ruang tamu masih menyala. Mungkin istrinya sengaja membiarkan menyala agar Garda tidak kesusahan saat sampai rumah.
Pria itu lantas berjalan ke dapur. Kali ini lampu dapur sudah di matikan. Garda meletakkan beberapa bawaannya di atas meja dapur. Memilih langusng masuk ke dalam kamar. Rasanya rindu juga seharian tidak bertemu Nadin.
Garda sejak tadi masih terus memikirkan kejadian tadi pagi. Menurut Garda perlakuannya kepada Nadin sudah sangat keterlaluan. Apa lagi sampai melewatkan sarapan di rumah. Padahal dia sendiri tahu bagaimana usaha Nadin membuatkan menu sarapan untuk dia.
Dibukanya pintu kamar dengan sangat hati-hati. Takut menimbulkan suara dan membuat istrinya terbangun. Namun Garda malah dibuat terkejut dengan apa yang dia lihat di dalam.
"Nad, kok belum tidur?"
Nadin yang duduk di depan meja rias langsung menoleh. Gadis itu memamerkan senyum lebar sampai kedua matanya menyipit.
"Yeyy! Suami aku pulang!" sorak Nadin semangat.
Wanita itu berlari kecil mendekati Garda. Seperti kebiasaannya saat Garda pulang bekerja. Nadin langsung memeluk tubuh kekar itu.
"Maafin aku udah buat Mas marah," gumam Nadin di dada bidang suaminya.
Garda balas memeluk tubuh ramping istrinya. "Saya juga minta maaf sudah marah-marah," balas Garda sarat akan rasa menyesal. Pria itu mengecup puncak kepala Nadin dengan lembut. "Maaf sudah melewatkan sarapan di rumah. Saya menyesal gak makan masakan kamu tadi," ujar Garda lagi.
"Tapi bekalnya dihabisin, kan?" tanya Nadin.
Garda langsung mengangguk mantap. "Tentu saja saya habiskan. Enak sekali masakan istri saya," jawab Garda.
Nadin tersenyum dalam dekapan Garda. Baru tadi pagi dia merasa begitu menyedihkan. Dan malam ini hatinya dibuat begitu hangat oleh suaminya.
"Lain kali kalau saya marah-marah, kamu marahin saya juga, ya," ujar Garda dengan wajah datar.
Nadin mendongak menatap suaminya. Sementara tangannya masih setia melingkar di badan Garda. "Emangnya kenapa?" tanya Nadin bingung.
"Biar saya gak semakin merasa bersalah," kata Garda polos.
Nadin tertawa mendengar jawaban Garda. Gadis itu kembali memandangi wajah tampan Garda yang seharian ini sangat dia rindukan. "Aku kira Mas Dana marah banget sama aku. Sampai pulang malem gini.
"Enggak!" jawab Garda cepat. "Saya ada beberapa urusan di rumah makan. Kamu inget teman saya yang datang di acara pernikahan kita? Saya tadi mengurus beberapa hal sama dia."
Nadin mengernyitkan alis bingung. Teman Garda yang datang sangat banyak. Tentu saja Nadin tidak bisa langsung memahami siapa yang dimaksud suaminya. "Temen Mas yang datang banyak tahu," ujar Nadin.
Garda tersenyum menyadari keanehannya. "Oh iya," kata pria itu sambil terkekeh. "Temen saya yang ledekin kamu nikah sama om-om," jelas Garda. Dia sangat mengingat momen itu. Dimana Rivan dengan bangganya naik ke atas pelaminan seorang diri. Sementara Nabila memilih diam bersama tamu lain karena malu melihat kelakuan suaminya.
Nadin langsung teringat dengan sosok teman Garda itu setelah mendengar penjelasan Garda. "Oalah, inget-inget," ucap Nadin.
"Sebentar, pegel kaki saya berdiri terus." Garda mengangkat tubuh Nadin dengan mudah. Hal itu membuat Nadin memekik kaget.
"Mas Dana, ih! Bilang dulu kalau mau angkat-angkat," rengek Nadin.
Garda langsung duduk di atas ranjang dengan Nadin di atas pangkuannya. "Biarin," balas Garda santai. Pria itu mulai memfokuskan pandangannya tepat menatap wajah cantik Nadin. Wanita itu merias dirinya sangat cantik malam ini.
"Temen saya yang itu namanya Rivan. Dia teman dekat saya dari kuliah dulu. Sekarang Rivan juga menjadi dosen di kampus yang sama dengan saya," jelas Garda. Tangan kekarnya menyingkirkan beberapa helai rambut yang mengenai wajah cantik Nadin.
__ADS_1
"Sampai ngajar di kampus yang sama?" tanya Nadin heran.
Garda mengangguk membenarkan. "Saya dan Rivan juga membuka usaha bersama. Rumah makan dan penginapan yang saya bilang waktu itu," jelas Garda lagi.
Nadin mengangguk mengerti. Dalam keterdiamannya, Garda tiba-tiba mengecup bibir merah Nadin. "Kamu cantik sekali," puji Garda.
Wajah Nadin seketika semakin memerah karena malu. Gadis itu tersenyum begitu memukau di hadapan Garda. "Aku sengaja dandan buat bikin Mas seneng," ujar Nadin jujur.
"Kamu gak dandan saja saya sudah sangat senang," balas Garda. Pria iti melingkarkan tangannya di pinggang Nadin. "Termasuk pakai baju tipis seperti ini?" tanya Garda menggoda.
Nadin semakin dibuat memerah dengan ucapan Garda. "Bagus, kan?" goda Gadis itu.
Garda mengangguk setuju. "Selalu bagus," balas Pria itu.
Nadin menatap Garda dengan tatapan memuja. Mau dilihat dari sisi manapun wajah Garda akan tetap terlihat sempurna. Hidung mancung sempurna, mata tajam dengan alis dan bulu mata yang tebal. Rahang tegas yang dihiasi bibir merah muda. Juga rambut tebal yang selalu membuat Nadin terpesona.
"Mas Dana," panggil Nadin.
"Apa?" tanya Garda.
"Mas sekarang banyak ngomong tahu," ujar Nadin.
Garda mengernyitkan alisnya. "Memang iya?" tanya Garda memastikan.
Nadin mengangguk dengan semangat. Diusapnya bibir merah muda Garda dengan seulas senyum bahagia. "Biasanya juga kalau ngomong singkat-singkat. Sekarang cerewet sekali suami aku," ucap Nadin.
"Jadi gak bagus, ta?" tanya Garda polos.
"Katanya saya jadi cerewet," ucap suami Nadin polos.
Nadin tertawa ringan mendengar ucapan Garda. Dikecupnya bibir merah muda itu sekilas. "Bagus malahan, aku suka," jawab Nadin jujur. "Dulu aku kayak ngomong sendiri. Soalnya Mas kalau ngomong singkat-singkat. Sekarang Mas Dana lebih banyak ngomong," jelas Nadin.
"Kamu suka?" tanya Garda lagi.
Nadin mengangguk mantap. "Suka sekali suamiku," jawab Nadin. "Aplagi sekarang Mas Dana suka manis banget sama aku," ucap Nadin jujur.
"Kamu bahagia?" tanya Garda lagi.
"Lebih dari bahagia," jawab Nadin.
Garda memeluk tubuh Nadin erat. Menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Nadin. "Terimakasih sudah bahagia karena saya," ucap Garda tulus.
"Terimakasih sudah buat aku selalu bahagai," balas Nadin tak mau kalah.
Mereka berdua larut dalam kehangatan malam ini. Rasanya begitu menenangkan dan membahagiakan. Merasa bersyukur dan menerima semua yang pasangan kita miliki adalah cara terbaik untuk membangun hubungan yang bahagia.
"Oh iya! Saya ingat sesuatu," ujar Garda. Pria itu mengangkat kepalanya dengan cepat.
"Apa, Mas?" tanya Nadin penasaran.
__ADS_1
Garda tersenyum misterius. Hal itu mebuat Nadin memberengut sebal. "Apa, sih, Mas? Jangan bikin penasaran."
"Saya tadi belikan peliharaan untuk kamu," ucap Garda.
Nadin langsung kembali tersenyum lebar. Gadis itu memegang kedua pipi tirus Garda. "Beneran!? Kucing, kan, Mas!?"
"Bukan," jawab Garda yang membuat Nadin semakin penasaran.
"Terus apa?" tanya Nadin.
"Coba tebak," titah Garda yang kembali membuat Nadin memberengut.
"Mas Dana, ih, kelamaan!" decak Nadin.
Garda terkekeh ringan. Diusapnya wajah Nadin gemas. "Saya taruh di dapur."
Nadin langsung berdiri dari posisi duduknya. Sebelum benar-benar pergi melihat apa yang dibelikan suaminya, tangan Nadin langsung dicekal kuat. "Nanti saja lihatnya," kata Garda.
"Mau sekarang! Aku penasaran," ujar Nadin memelas.
"Nanti saja. Kamu urusin suamimu dulu," kata Garda dengan tatapan penuh arti.
Nadin menatap Garda dengan intens. Gadis itu terus menatap mata tajam Garda sampai sang empunya lengah. Saat cekalan tangan Garda mulai melemah, Nadin langsung berlari dengan tawa menggelegar.
"Dadaa suamiku!" teriak Nadin dengan langkah yang mulai menjauh.
Garda malah ikut tertawa melihat kelakuan Nadin. Pria itu ikut berdiri mengikuti langkah istrinya.
Saat Garda sampai di dapur lampu sudah menyala. Dia bisa melihat wajah girang Nadin yang duduk di kursi meja makan sambil mengamati apa yang dibelikan Garda.
"Kamu suka, kan?" tanya Garda. Diusapnya puncak kepala Nadin lembut.
Nadin tersenyum lebar dengan mata bening yang menyipit. Gadis itu mengamati dua ekor ikan koki yang berenang bebas di sebuah wadah kaca.
"Mas belikan ikan saja, ya. Kalu kucing belum boleh," ujar Garda.
Nadin mengangguk patuh. Gadis itu berdiri lalu kembali memeluk tubuh Garda. "Terimakasih suami tampanku," ucap Nadin tulus.
"Sama-sama istri cantikku," balas Garda.
Nadin langsung membulatkan matanya terkejut. Tidak menyangka kalimat tersebut akan terucap oleh sosok datar seperti suaminya. Sebenarnyua mulutnya sudah gatal ingin menggoda Garda sekarang. Namun niatnya ia urungkan. Lebih baik menikmati momen manis ini saja.
Garda memundurkan langkahnya sampai dekapan mereka terlepas. Pria itu sedikit menunduk sampai wajahnya sesajar dengan wajah cantik milik sitrinya.
"Happy?" tanya Garda.
"Happy!" balas Nadin semangat. Gadis itu tertawa kecil saat Garda memberikan beberapa ciuman di wajahnya.
Mereka berdua larut dalam kehangatan satu sama lain. Saling menumpahkan rasa sayang yang teramat dalam. Membagi kebahagiaan dalam suasana romantis malam ini.
__ADS_1
Nyatanya, Tuhan tidak akan memberikan sosok pasangan yang sempurna untuk manusia. Tapi, Tuhan memberikan seseorang yang bisa membuat dunia terasa sempurna jika bersamanya.