Dear My Fussy Husband

Dear My Fussy Husband
Menjadi Aneh


__ADS_3

Seseorang menarik tangan Nadin sampai wanita itu berdiri. Tubuh ramping yang awalnya sedang duduk di meja makan itu terlihat pasrah. Ditatapnya si pelaku dengan wajah bingung.


"Ada apa, Mas?" tanya Nadin dengan wajah sayu. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam dan Nadin baru sempat memakan nasi.


"Kamu tidak ingat apa yang pernah saya katakan?" tanya Garda. Wajah tampan dengan balutan kemeja hitam itu terlihat menahan amarah.


"Mas bersih-bersih dulu. Kita bicara kalau Mas Dana sudah gak capek lagi," ujar Nadin mencoba menjadi orang yang waras kali ini.


Sebenarnya Nadin sudah tahu arah pembicaraan Garda. Pria tampan itu pasti akan membicarakan perselisihan antara Nadin dan Sela tadi pagi. Maka dari itu Nadin berusaha mengulur waktu.


"Nad," panggil Garda dengan tegas. Diarahkannya wajah Nadin yang semula berpaling agar menatap ke arahnya. "Saya sudah bilang kalau saya tidak suka jika kamu membangkang!" tegas Garda tajam.


Nadin menatap manik tajam Garda. "Tapi Mas--"


"Sudah saya bilang kamu jangan membuka pembicaraan dengan Sela," ujar Garda memotong pembicaraan Nadin. "Tapi kamu malah bertengkar dengan dia?"


Nadin menepis tagan Garda yang masih setia di wajahnya. Dipegangnya tagan kiri Garda dengan tatapan yang masih saling beradu. "Aku awalnya cuma mau antar makanan aja," ujar Nadin menjelaskan. "Mbak Sela yang mulai ngata-ngatain aku, Mas."


"Terus kamu balas?" tanya Garda memastikan. Anggukan kecil Nadin menyambut pertanyaan itu.


"Nad," panggil Garda terdengar frustasi. "Harusnya kamu diam saja," ucap pria itu.


"Mas mau aku diem aja setelah orang lain jelek-jelekin aku?" tanya Nadin heran. Gengamannya di tagan kiri Garda langsung dilepas begitu saja.


"Bukan begitu maksud saya," sela Garda. Kali ini pria itu ganti meraih tangan Nadin dan menggengamnya. "Mama bisa semakin tidak menyukai kamu, Nadin," tutir Garda sambil menatap dalam manik mata bening istrinya.


Nadin termenung mendengar apa yang Garda ucapkan. "Semakin gak suka sama aku?" tanyanya dengan senyum tipis. "Mama gak suka, ta, sama aku?"


Garda terlihat panik mendengar pertanyaan istrinya. Rupanya pria itu baru saja mengungkapkan kalimat yang seharusnya tidak pernah Nadin dengar. "Bukan begitu maksud saya tadi," elak Garda dengan wajah panik.


"Terus maksud Mas Dana gimana?" tanya Nadin. Matanya terlihat semakin menyimpan air mata.

__ADS_1


"Sudah tidak usah kamu pikirkan," ujar Garda akhirnya. Pria itu mengusap sudut mata istrinya yang mulai berair. "Sekarang saya minta sama kamu untuk tidak mengulangi apa yang baru saja terjadi," ujar Garda dengan tatapan yang mulai melembut.


"Aku harus diam saja kalau orang lain jelekin aku?" tanya Nadin memastikan.


"Tolong kamu mengerti dengan keadaan ini, ya, Nad," pinta Garda.


Nadin memalingkan wajahnya dari hadapan Garda. Dilepasnya kedua telapak tangan Garda yang membingkai wajah cantiknya. "Mas mandi dulu saja. Aku udah siapkan pakaiannya di dalam," ujar Nadin. "Mas Dana sudah makan?" tanya wanita itu.


"Maaf saya sudah makan di rumah makan tadi," ujar Garda.


"Aku lanjutin makan kalau gitu," balas Nadin lalu berbalik untuk kembali duduk di kursinya.


"Saya tunggu di dalam, ya," ujar Garda sambil mengusap puncak kepala Nadin lembut.


Nadin menatap sesaat punggung Garda yang perlahan menjauh. Wanita itu lanjut menyuapkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya. Bersamaan dengan itu satu tetes air mata mulai luruh. Nadin menikmati makan malamnya ditemani rasa sesak yang terus menyiksa.


...


"Mas Dana," panggil Nadin pada suaminya yang sedang menikmati sarapan.


"Apa?" sahut pria itu.


Nadin datang mendekati Garda sambil membawa wadah bekal yang sudah dia cuci. "Ini bukan bekal dari aku, kan?" tanya Nadin.


Garda menatap sekilas wadah bekal itu. "Cuma wadah bekal gak usah dipermasalahkan," balas Garda enteng.


Nadin memilih duduk di samping Garda sebelum membalas ucapan pria itu. "Aku gak mau mempermasalahkan ini kok, Mas. Aku cuma tanya aja, kan, tadi?"


Garda meletakkan sendoknya ke atas piring yang masih terisi nasi. "Bukan," jawab Garda singkat.


"Terus punya siapa? Mas dapat bekal dari orang lain?" tanya Nadin menuntut.

__ADS_1


Butuh beberapa saat untuk Garda memjawab pertanyaan itu. "Itu punya Rivan," jawab Garda seadanya.


Mendengar jawaban itu membuat Nadin menatap dalam mata suaminya. Tentu saja Garda dibuat kikuk dengan tatapan Nadin.


"Kenapa menatap saya seperti itu?" tanya Garda dengan kedua alis mengernyit. "Kamu tidak percaya sama saya? Kamu mau bilang kalau saya mendapat bekal dari wanita lain?"


Nadin tersenyum tipis mendengar itu. "Aku gak ada kepikiran soal itu, loh, Mas," ujar Nadin dengan mata yang belum teralihkan dari Garda. "Padahal aku cuma mikir kenapa bekal Mas Rivan bisa ada sama kamu," jelas Nadin.


Garda langsung mengalihkan wajahnya. Pria itu kembali meraih sendok yang awalnya dia letakkan di piring. Berniat menghabiskan sarapannya.


"Kok kamu jadi aneh gini, sih, Mas?" tanya Nadin.


Garda menoleh pada Nadin dengan wajah datar. "Kamu yang aneh," tukas Garda tajam. "Pagi-pagi sudah ngajak ribut," imbuh Garda.


"Loh, Mas?" Nadin menatap Garda yang berdiri dari duduknya dengan bingung. "Mas mau berangkat sekarang?" tanya Nadin.


Garda memilih tidak menjawab pertanyaan itu. Diambilnya tas hitam yang tergeletak dia atas kursi. Hal itu membuat Nadin jadi panik.


"Mas sarapannya di habisin dulu. Bekalnya juga belum selesai aku siapin," sela Nadin saat Garda akan mulai melangkah.


"Saya sudah tidak selera," jawab Garda acuh.


Wajah Nadin seketika berubah panik. Dicekalnya tangan Garda dengan erat. "Maafin aku udah buat Mas Dana marah," ujar Nadin penuh sesal. Dia langsung tersadar dengan kesalahannya pagi ini.


"Saya berangkat sekarang," pamit Garda tanpa mau membalas ungkapan maaf dari Nadin.


Dari depan pintu kamarnya Anita menyaksikan perdebatan kecil itu. Wanita itu berdecak sambil melangkah mendekati Nadin. Kedatangan Anita membuat Nadin terperanjat kaget.


"Kamu tinggal enak-enak di rumah menikmati harta anak saya. Menurut kamu pantas mencurigai anak saya?" tanya Anita dengan tajam.


Nadin meneguk ludah dengan kasar. Wanita itu diam dengan kedua tangan yang mengepal di samping badan.

__ADS_1


__ADS_2