Dear My Fussy Husband

Dear My Fussy Husband
Menenangkan Diri


__ADS_3

Badan Nadin langsung luruh ke lantai setelah suara bantingan pintu terdengar cukup keras. Wanita itu menenggelankan wajahnya di antara kedua lututnya. Menumpahkan kesedihannya di sana.


Kata demi kata yang mereka ucapkan tadi terus terdengar di telinga Nadin. Wajah kecewa Garda juga masih terasa jelas saat menatapnya. Apalagi ucapan Garda yang sangat terlihat jelas bahwa pria itu lelah dengan apa yang ada pada diri Nadin.


"Aku emang masih kayak anak kecil," gumam Nadin di sela tangisannya.


Wanita itu buru-buru berdiri lalu berlari ke luar dari kamar. Dia harus segera mengulang pembicaraannya dengan Garda. Nadin tidak tenang terus-terusan mengingat wajah kecewa suaminya. Nadin tidak ingin Garda kecewa dan sedih seperti ini.


"Mas!" teriak Nadin di ujung pintu ke luar. Dapat dia lihat Garda yang mulai membuka pintu mobil. "Mas Dana jangan pergi dulu!" teriak Nadin.


Wanita itu menyeka air matanya yang lagi-lagi ke luar. "Mas Dana!" panggil wanita itu lalu berlari mendekati mobil putih miik Garda.


Namun, sayangnya Garda tidak mengindahkan panggilan Nadin. Mobil yang dikendarai Garda perlahan meninggalkan halaman rumahnya. Menyisakan wajah basah Nadin. Nadin terus menatap kepergian Garda dengan gurat kesedihan.


Wanita itu mendongakkan kepalanya menatap langit hitam dini hari ini. "Kenapa aku bisa sebodoh ini?" gumam Nadin dengan rasa hampa.


Langkah kakinya berjalan pelan memasuki rumah. Wanita itu duduk di salah satu sofa dengan pandangan kosong. Pertengkarannya dengan Garda kembali berputar.


"Kamu bodoh banget, sih, Nad!" maki Nadin pada dirinya sendiri. "Harusnya kamu diem aja! Kenapa kamu malah bantah suami kamu terus!"


Nadin menjambak rambutnya sendiri dengan keras. Melampiaskan rasa tak nyaman yang bersarang di dadanya. "Kenapa aku bisa kelewat batas gini," gumam Nadin frustasi.


Wanita itu kembali menangis dengan keras. Badannya bersandar pada sandaran sofa. "Emang dari dulu aku yang selalu salah!" teriak Nadin.


Mata beningnya menatap hampa. Wanita itu masih sangat mengingat saat acara kenaikan kelas ditingkat SMA beberapa tahun lalu. Wajah tegas Halimah menyambut kedatangan Nadin di depan pintu.


"Selalu saja membuat Umma malu," ujar Halimah. Wanita itu baru saja menghadiri acara pembagian raport anak keduanya. Nadin yang baru datang itu hanya menunduk dalam diam.


"Sebenarnya kamu ini mau jadi apa, Nad?" tanya Halimah dengan suara pelan namun sarat akan ketidak sukaan. "Mau jadi apa kamu kalau terus-terusan seperti ini?"

__ADS_1


Halimah menyodorkan kertas dengan tinta hitam pada anaknya. "Juara 5 dari bawah, loh! Nilai kamu rendah semua!"


Nadin mendunduk dalam. Dia tahu suaranya tidak dibutuhkan di sini. "Kalau kamu bodoh setidaknya belajar. Tapi apa pernah kamu menuruti kemauan Umma untuk belajar?" tanya Halimah dengan tatapan tajamnya.


"Gimana kehidupan kamu nanti kalau kamu terus-terusan seperti ini?" tanya Halimah dengan wajah yang sudah sangat lelah. Wanita itu benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan Nadin.


"Nad, dengerin Umma," pinta Halimah serius. Nadin langsung mengangkat kepalanya hingga berhadapan langsung dengan wajah ibunya.


"Tolong Umma minnta kerja samanya. Ini untuk masa depan kamu dam anak-anak kamu nanti," ujar Halimah mencoba mengontrol emosinya.


"Gimana dengan keturunan kamu nantinya, Nad? Kamu pikir apa yang kamu lakukan sekarang tidak akan berdampak nanti?" Mendengar pertanyaan itu membuat Nadin kembali menunduk. Setiap dimarahi Halimah Nadin jarang melakukan pembelaan. Bagi Nadin rasanya percuma berbicara karena dia tidak pernah didengarkan.


"Gimana nanti kamu mendidik anak kamu kalau hidup kamu sendiri berantakan seperti ini!" kata Halimah lagi karena Nadin tidak kunjung memberi jawaban.


Mendengar kalimat itu tentu saja membuat Nadin terluka. Bagaimana bisa seornag ibu tega mengatakan hal seperti ini. Tapi tetap saja, Nadin perlahan sudah kebal menerima kata-kata menyakitkan dari ibunya.


"Nadin! Umma gak akan pernah capek buat nasehatin kamu. Kamu nanti bakal jadi seornag ibu. Kamu lihat Umma sekarang. Jadi ibu itu gak gampang, Nad! Ibu itu sekolah pertama untuk anak," tutur Halimah serius.


"Setidaknya nurut sama orang tua kamu. Belajar yang rajin dan jadi orang pintar. Bawa bekal sebanyak-banya untuk kehidupan kamu nanti. Suatu saat nanti kamu pasti akan merasakan apa yang Umma rasakan," jelas Halimah dengan gamblang.


"Umma," sela Nadin dengan suara bergetar.


"Jangan buat Umma merasa gagal menjadi orang tua karena kamu," tegas Halimah tanpa mempedulikan panggilan Nadin.


"Lihat Dikta. Dia selalu buat Umma dan Abah bangga." Ucapan itu yang mengakhiri obrolan sepihak di sore hari itu.


"Aku bodoh, aku bisa apa?" tanya Nadin pada dirinya sendiri. "Aku takut punya anak. Aku gak mau anak aku punya ibu kayak aku," rengek Nadin.


Dalam cahaya lampu yang temaram Nadin terus-terusan merutuki dirinya sendiri. Kepercayaan diri wanita itu sudah hilang sejak dulu. Semua angan-angan dan harapan pada dirinya sendiri sudah mati sejak dulu. Kata demi kata yang selalu dia telan sendiri selama bertahun-tahu sudah cukup membuat mental dan kepercayaan dirinya hangus.

__ADS_1


Nadin kembali menatap dengan tatapan hampa. "Benar kata Mas Dana," gumam Nadin di antara ramainya isi kepalanya. "Aku emang kayak anak kecil, aku egois. Apa emang aku seberantakan ini?"


...


Cahaya minimalis dari beberapa lampu jalanan menemani suasa dini hari Garda. Pria itu mengendari mobilnya dengan pelan. Membiarkan kaca jendelanya terbuka lebar. Pria itu menikmati hawa dingin yang menusuk setiap inci dari tubuhnya.


"Baru kali ini saya merasa benar-benar kecewa," gumam Garda dengan wajah putus asa.


"Kenapa kamu lakuin ini sama saya, Nad?" tanya Garda entah pada siapa. Pastinya hanya Nadin yang punya jawaban atas pertanyaan itu.


Garda melirik ponsel miliknya. Pria itu sempat mengambil ponsel yang tergeletak di depan televisi dengan kunci mobilnya. Diraihnya ponsel yang menunjukkan nama Nadin di layar.


"Mas Dana kemana?" tanya Nadin saat setelah Garda menjawab panggilan itu. "Mas pulang dulu. Kita bicarakan lagi, ya?" bujuk Nadin. Garda tetap tenang dalam keterdiamannya.


"Aku nyesel udah balas ucapan Mas Dana. Aku nyesel balas bentak Mas Dana. Tolong pulang dulu, Mas," pinta Nadin memelas.


Wanita itu tidur meringkuk di sofa depan televisi. Kepalanya serasa ingin pecah sekarang. Nadin tidak bisa tenang. Dia terus dibuat memikirkan suaminya.


"Mas," panggil Nadin dengan suara pelan.


"Saya mau menenangkan pikiran dulu," jawab Garda singkat.


Nadin menghela napas mendengar itu. Satu tangannya menekan bagian perutnya yang kembali merasakan sakit. "Mas mau kemana?" tanya Nadin. "Mas pulang aja. Aku gak bakal ajak Mas bicara dulu nanti."


Garda kembali diam. Enggan membalas ucapan Nadin. Pria itu terlanjur merasa malas akibat pertengkaran tadi. Apalagi fakta yang baru saja terkuak.


"Mas masih mau di luar?" tanya Nadin karena Garda tidak kunjung menjawab.


Nadin menatap layar ponselnya. Ternyata Garda sudah mematikan panggilan itu. Mendengar respon singkat dari Garda membuat Nadin semakin sadar. Pria itu benar-benar dibuat kecewa olehnya.

__ADS_1


Dalam dinginnya malam yang terus memeluk tubuhnya. Nadin kembali menitihkan air mata. Kekecewaan Garda bukan perkara sepele untuk Nadin.


"Gimana kalau Mas Dana tinggali aku, ya?"


__ADS_2